
Naga Baru kelinting tampak terus berkoar menyemburkan lidah api dari mulutnya terus memusnahkan para babi yang mulai berdatangan memasuki area perkampungan desa Mbadas selatan.
Di sela-sela antara para santri yang terus berjuang di depan pondok pesantren Haji Hadi tepatnya dari arah belakang mereka terlihat berlari beberapa sosok layaknya santri memakai peci putih, baju Koko putih dan bersarung putih namun wajah mereka semua sama.
Yah mereka adalah pasukan macan putih yang datang dari negeri Pasundan. Mereka datang tentu bukan tanpa sebab, karena seseorang memanggilnya untuk datang yang tidak lain, tidak bukan adalah Gus Pendik yang pernah menimba ilmu di tanah para jawara Banten.
Dengan rapalan-rapalan sakti dari mulutnya yang ia peroleh dari sang guru di tanah merah Banten Gus Pendik memanggil beberapa Jin Islam yang dapat berubah wujud menjadi sesosok Harimau Putih.
Dalam kegelapan dari belakang Gus Pendik berdiri tidak jauh dari area tempur para santri depan pondok pesantren Haji Hadi. Beberapa Sosok melesat dari samping kanan dan kiri Gus Pendik berlari lalu berubah menjadi sosok harimau putih yang begitu besar seukuran banteng jantan.
“Assallamualaikum Gus,” ucap sesosok agak tua berambut putih berjenggot putih memakai sorban putih serta berjubah putih, terlihat sosok tersebut menggenggam tongkat putih di tangan kanan dan tasbih berwarna putih di tangan kiri nampak berdiri disamping kanan Gus Pendik
“Waalaikumsalam Kakek, kenapa Kakek Maung lama sekali datangnya?,” ucap Gus Pendik.
“Maaf Gus Pendik aku tengah menghadiri rapat forum siluman macan di tanah Pasundan saat Gus Pendik memanggil,” ucap Sosok tersebut yang tidak lain adalah siluman harimau putih dari tanah Pasundan Maung Bodas.
“Baiklah kalau begitu tidak mengapa, sekarang tolong bantu aku membinasakan siluman babi menjijikkan itu,” ucap Gus Pendik.
“Mari Gus Pendik kita hancurkan Angkara murka di bumi Allah ini,” ucap Maung Bodas.
“Mari Kakek Maung,” ucap Gus Pendik berlari di sisi Ki Maung Bodas yang telah berubah menjadi sesosok Macan Putih yang lebih besar dari beberapa sosok macan putih sebelumnya.
***
Di area persawahan depan hutan bambu desa Mbadas selatan kabut masih tebal namun hujan mulai reda tersisa rintik-rintik menggenangi beberapa sudut. Para santri masih terlihat berjuang mati-matian di area ini mereka tak memedulikan apapun kecuali kata hidup atau mati. Banyak yang telah gugur jua terlihat bergelimpangan mayat-mayat para siluman babi dan puluhan mayat santri bergelimpangan.
Hahaha... Hahaha...
Tawa panglima siluman babi yang merasa sudah diatas angin menyeringai jumawa. Merasa dirinya telah menguasai desa di tandai ratusan pasukannya yang telah meringsek masuk perkampungan.
Ia tak tau dan tak menyadari bahwa di atas desa ada seekor Naga besar Baru kelinting yang ditunggangi Gus Bagus diatasnya tengah melahap dan menghanguskan pasukannya.
Ia tak menyadari bahwa ada pasukan macan putih dari Ki Maung Bodas bersama Gus Pendik datang menghancurkan pasukannya dari arah desa.
Sementara itu Panglima Siluman babi tengah menikmati kemenangan kecil dari pertarungannya dengan Gus Tato dan Haji Hadi yang tengah di cekik Panglima siluman babi.
__ADS_1
“Sebentar lagi kalian berdua akan melihat pemusnahan masal warga desa kalian yang sangat kalian lindungi,” ucap Panglima Siluman babi sembari terus mencengkeram leher Haji Hadi di tangan kanannya dan leher Gus Tato di tangan kirinya.
Argh...
Suara Haji Hadi dan Gus Tato yang tengah kesakitan, karena lehernya tercekik kuku-kuku panjang dari Panglima siluman babi. Aku sudah Menag wahai manusia kali ini kalian yang akan tamat terima ini.
Tubuh Haji Hadi dan Gus Tato yang sudah tidak memiliki daya lemas tak berdaya di lontarkan ke atas hingga melambung setinggi di atas kepala Panglima siluman babi. Dengan cakarnya yang tajam siap di hujamkan pada perut kedua pemimpin terakhir desa Mbadas selatan itu.
Tiba-tiba sekelebat sosok berbentuk api menangkap kedua tubuh pemimpin terakhir desa Mbadas selatan tersebut yang tidak lain adalah Ustad Jaka yang tengah dalam Mode Api amarah.
“Masih belum, kau belum menang siluman,” ucap Jaka sambil melesat jauh begitu cepat menuju arah pondok.
“Gus Bari...!,” teriak Jaka
“Tenang Dik Jaka hanya babi ini,” ucap Gus Bari yang baru datang masih tengah berdiri di atas pucuk-pucuk daun padi diikuti Mbah Raji dan Dava di samping kanan dan kirinya yang tengah berjongkok diatas tanaman padi pula layaknya sebuah ilmu meringankan tubuh dapat berdiri diatas rimbunnya padi disawah.
“Loh Gus kok kembali asal jadi sosok manusia tadi kan tengah dalam mode Api surah Al Ikhlas,” ucap Mbah Raji melihat Gus Bari yang sudah kembali berubah wujud menjadi manusia.
“Bensinnya habis kali Mbah,” celetuk Dava yang merubah posisinya dari jongkok di atas tanaman padi menjadi layaknya duduk bersila sambil mengupil dari lubang hidungnya.
“Oh, ternyata yang datang para anggota T O H. Kebetulan aku tak capek-capek mencari kalian yang sulit ditemui itu. Ternyata kalian datang sendiri menemuiku, pasukan ku serang mereka bertiga...!!,” seru Panglima siluman babi namun tiada satu ekor babi pun yang datang dan menyerang Gus Bari, Mbah Raji dan Dava.
“Hahay, dia belum tahu saat dia sibuk, dengan Gus Tato dan Haji Hadi kita sudah meluluhlantakkan pasukannya yah Dava,” ujar Mbah Raji mengejek Panglima babi.
“Iya ya Mbah dasar Siluman,” celetuk Dava.
Panglima babi nampak kebingungan dan tak tau lagi harus bagaimana, karena ia harus melawan sendirian tiga punggawa T O H sekaligus. Karena ia tahu satu orang T O H saja sudah dapat membunuhnya apa lagi tiga.
“Sudah Dava jangan duduk saja giliranmu kau kan yang paling muda. Tunjukkan hasil latihan mu bersama Guru kita Haji Kasturi beberapa hari yang lalu sehingga kau sampai langsung dipromosikan beliau langsung masuk ring satu organisasi,” ucap Gus Bari.
“Ia, ia Gus, aku juga,” ucap Dava seraya berdiri lalu menghilang.
Panglima siluman babi nampak linglung mencari keberadaan Dava yang menghilang sambil memutar-mutar pandangan seraya bersiap dengan kuda-kudanya.
Bruk...
__ADS_1
Tubuh Sang Panglima babi jatuh berkalang tanah lalu hangus perlahan menjadi abu, “Sudah,” ucap Dava yang sudah berada di depan bekas tergeletaknya tubuh Panglima siluman babi.
“Iya kah?, Cepat kali Dav,” ujar Gus Bari terheran-heran
“Istimewa ini anak tidak percuma jadi keponakan Jaka,” celetuk Mbah Raji.
“Ya sudah ayo menyusul Jaka ke dalam desa,” ucap Gus Bari yang secepat kilat kembali melesat merubah diri kembali menjadi mode Api surah Al Ikhlas di ikuti Mbah Raji dan Dava yang bagai kilat ikut melesat.
Jaka yang tengah melesat ke dalam pondok pesantren Haji Hadi sudah sampai di aula tengah tempat orang-orang desa tengah berkumpul.
“Abah...!?,” teriak Umi Kalsum berlari kearah Jaka yang tengah menurunkan tubuh Haji Hadi dan Gus Tato di atas tikar di tengah-tengah warga yang sedang melafazkan Surah Yasin.
“Umi,” Jaka memeluk Umi Kalsum layaknya Uminya sendiri.
“Maaf Umi Jaka datang terlambat, Jaka harus bertempur dahulu melawan segerombolan dukun di daerah Jombang kota, baru dapat kemari dan maaf Jaka tak bisa menyelamatkan saudara yang lain,” ucap Jaka melepaskan perlahan pelukan Umi Kalsum seraya menghapus air matanya.
“Jaka lambat sekali kau?,” ucap Gus Bagus yang turun dari atas punggung Naga Baru kelinting.
“Hahaha, maaf Masku tadi agak alot musuhku,” ucap Jaka.
“Tenang Mas Brow, sabar tadi memang agak susah dikalahkan musuhnya,” ucap Dava yang datang bersama Gus Bari dan Mbah Raji.
“Sudah berkumpul toh,” celetuk Gus Pendik ikut masuk ke dalam aula tengah pondok.
“Umi hari sudah semakin terang kita belum Sholat subuh jua mari kita bersama-sama menunaikannya. Gus Bagus tolong jadi imam ya Masku...?,” teriak Jaka.
“Ok siap, para warga berhubung waktunya mepet untuk mengambil wudu sudah tak keburu dikarenakan tempat wudu dan masjid bangunannya di belakang aula ini agak jauh jadi tayamum saja ya,” teriak Gus Bagus.
“Bagaimana dengan siluman babinya Mas?,” ucap salah satu warga yang masih ketakutan.
“Wes nang Neroko (Sudah ke Neraka),” ucap Mbah Raji.
Hari itu dimana menjelang pagi benar pertempuran desa Mbadas area selatan telah berhasil dimenangkan bangsa manusia. Semua ini hannyalah teguran dari sang kuasa bahkan babi pun yang selama ini dianggap sebagai wabah pengganggu berhak untuk hidup karena ia juga mahluk Allah yang selama ini selalu di musnahkan keberadaannya.
“Halah Gus Bagus sudah cepat pergi mengimami malah mengoceh tutup bab udah jam berapa ini belum up,” teriak Author.
__ADS_1
“Siap Pak Dalang,” ujar Gus Bagus memulai mengimami warga di aula tengah pondok pesantren Haji Hadi.