T O H

T O H
Kembalilah Dek


__ADS_3

Malam ini Dava begitu sangat tertekan betapa tidak seharusnya iya sudah mendapatkan malam pertama yang di damba-dambakan setiap orang seusai menikah. Tetapi berbeda dengan Dava setelah seminggu menikah belum sekalipun Dava dapat menyentuh sang istri Sari.


Semua ini ikhwal tragedi saat peperangan Sari menjadi salah satu korban pemerkosaan oleh Adi Yaksa saat itu keperawanan yang selalu ia jaga khusus untuk Dava harus direnggut paksa hilang membekaskan trauma.


Dava tak bisa berkutik saat dua hari yang lalu dokter desa menyatakan Sari telah hamil dengan kehamilan yang sangat mustahil karena usia kandungan bertumbuh cepat. Perut Sari membesar begitu cepat layaknya sudah hamil tujuh bulan saja.


Sudah barang tentu bayi di dalam perut Sari adalah bayi dari Adi Yaksa. Sialnya lagi bayi setan tersebut dapat merasuki inangnya alias sang pemilik kandungan. Sering sekali Sari kerasukan hebat terkadang ingin mrngakhiri hidup seketika. Dan terkadang brutal dengan bertenaga layaknya seratus kuda tak terkendali.


Dava tak dapat berkutik melihat sang istri dalam pasungan di atas ranjang. Walau dalam hatinya merasa sangat sedih dan tak ingin membuat Sari terpasung tapi ini demi kebaikan Sari apa mau dikata.


Malam ini Dava seperti biasa setelah memandikan dan menyuapi Sari. Iya duduk melamun menatap wajah Sari terus menerus semalaman. Walau Sari hanya menatap kosong dari matanya hanya pandangan hampa Dava masih terus menatap penuh kasih dan sayangnya. Terus menjaga tak pernah tidur berharap dari mulut Sari terlontar namanya sekali saja pertanda kejiwaan Sari pulih kembali.


“Dek ribuan setan dan siluman serta jin sudah aku bunuh tanpa ampun bahkan tak jarang mereka kumusnahkan aku mampu berbuat banyak akan itu, tetapi kali ini denganmu aku tak mampu berkutik menangispun tak bisa, menjerit pun tak kuasa,” terlontar dari mulut Dava yang terasa begitu penat dan lelah menggema dikamar yang di buat sederhana dari bahan seadanya seminggu kemarin.


“Dek kini hanya kau milikku satu-satunya sembuh ya sayang,” ucap Dava sekali lagi seraya membelai menyisir rambut Sari yang tergerai sebahu sedikit acak-acakan.


“Assallamualaikum,” sebuah ucapan salam dari suara seseorang yang sangat ia kenal kembali mengunjunginya setelah seminggu tak bertemu dan setelah sebulan berjuang bersama dalam perang.

__ADS_1


“Waalaikumsalam,” jawab Dava menoleh kearah belakang sosok sang kakak yakni Jaka datang menggendong Wahyu putranya mereka tersenyum pada Dava sebuah senyum yang Dava pun tahu kalau senyum itu sangat di paksakan.


“Loh Mas,” teriak Dava berlari ke arah Jaka seraya memeluk erat sang kakak hendak mengadu tentang keadaannya sekarang.


“Sudah-sudah Dek kita sama, keadaan kita sama. Entah sampai kapan kondisi kita akan terus seperti ini. Kemenangan ini begitu membekaskan luka mendirikan kebenaran memang pahit Dek tapi yakinlah dan bersabarlah semua akan kembali seperti dahulu,” celetuk Jaka sangat bijak.


“Om, om,” oceh Wahyu seraya meraih pundak Dava meminta gendong. Dava menyahut kemauan sang keponakan untuk menggendongnya lalu berjalan kearah ranjang dimana Sari terpasung tak bergerak di atasnya.


“Lihat Dek ini Wahyu keponakan kita bicaralah Dek dia datang mengunjungimu ingin bercanda dengan mu bangunlah sadarlah Sariku, Mas Sari Mas?,” ucap Dava kembali menetes air matanya jatuh kepipi melihat sang Istri tak berdaya.


“Dek Dava sudahlah tenanglah,” ujar Jaka menepuk pundak Dava mencoba menenangkannya kembali.


“Kak Putri sama siapa Mas di rumah kalau Mas dan Wahyu kemari?,” tanya Dava memastikan.


“Kakakmu Putri banyak yang menunggu di sana ada para ibu-ibu tetangga yang aku mintai tolong dan ada Ki Datuk panglima kumbang berjaga di sana. Ada pula keluarga Pakde kita Haji Gian sekeluarga datang menengok,” jawab Jaka.


“Loh Pakde Gian sekeluarga selamat Mas benarkah apa yang kau katakan?,” kata Dava dengan rasa penasaran bercampur bahagia karena ada keluarga dari golongan tua yang masih selamat.

__ADS_1


“Benar Dek saat kejadian mereka tengah berkunjung ke Serang kerumah Pakde Sumadi sebenarnya mereka sudah pulang tapi saat itu tak bisa masuk ke Jombang akibat terhalang tembok kabut di sisi kertosono saat itu. Alhasil mereka menginap di rumah Haji Madun salah satu pemimpin Laskar Mataraman yang membantu kita waktu itu,” terang Jaka.


“Allhamdulillah Mas dari keluarga kita masih ada yang selamat tapi orangtuaku dan orangtuamu sudah tiada Mas. Mengingat kepergiab mereka aku merasa bersalah tak dapat melindungi mereka saat-saat terakhir mereka,” ucap Dava menampakkan wajah keputusasaan.


“Dek Dava hidup, mati, jodoh itu sudah ketetapan Sang Kuasa. Saat itu sudah di luar kendali kita, karena terlalu banyaknya setan datang secara tiba-tiba kita tak mampu mengendalikan situasi. Semua sudah berlalu lebih baik kita haturkan Alfatihah untuk mereka ya,” ucap Jaka memantapkan hati Dava agar tak berlarut-larut dalam kesedihan.


“Aku tak mampu sekuat dirimu Mas, aku tak mampu setegar dirimu Mas,” jelas Dava mulai pesimis.


“Dek memang kita berkorban banyak dan kehilangan begitu banyak orang yang kita kasihi demi membayar kedamaian kali ini. Tapi yakinlah hujan pasti reda dan panas tak selamanya terik pasti ada saatny redup semua pasti akan indah pada waktunya,” kata Jaka kembali menenangkan Dava.


“Ya sudah aku pamit tak bisa lama-lama kau tahu kakakmu Putri sama kondisinya dengan istrimu Sari. Jaga dia baik-baik sampai ada solusi bagaimana caranya menangani bayi setan tersebut. Karena bayi itu begitu kuat sudah berkali-kali aku tembus untuk menghancurkannya namun Allah berkehendak lain entah ada cerita apa di kemudian hari semoga saja tidak sampai fatal di kemudian hari,” ucap Jaka meraih Wahyu kembali menggendongnya mengajaknya pulang.


“Aku pamit Dek jaga dirimu baik-baik terus waspada Assallamualaikum,” kata Jaka berlalu pergi menghilang dengan cepat.


“Waalaikumsalam,” jawab salam dari Dava menatap bekas ayang-ayang Jaka yang kembali lenyap dari kamarnya.


Setelah Jaka Pamit setelah beberapa menit Dava memiliki semangat oleh kata-kata Jaka. Kini kembali sepi kamar kembali sepi seperti tiada berpenghuni. Dava kembali duduk diatas kursi plastik warna biru di samping ranjang kembali menatap Sari yang terus melamun menatap kosong entah apa yang ia lihat.

__ADS_1


“Dek kembalilah Dek aku ingin Sari yang dulu yang selalu manja saat bertemu. Dek kembalilah Dek aku butuh kamu, aku butuh Sari yang dahulu yang selalu merengek dan menangis saat aku hendak pergi berperang. Dek kembalilah Dek istriku aku ingin Sariku yang selalu menyambutku dengan pelukan dan kecupan manis saat aku pulang Dek kembalilah?,” ucap Dava terus memandangi Sari.


__ADS_2