T O H

T O H
Punggawa 5 Kota


__ADS_3

Petapa tanpa nama berjalan perlahan menuju Petapa Effendi dan Haji Rusdi yang terbengong-bengong dengan kedatangan petapa tanpa nama. Meninggalkan Wahyu yang seakan terduduk lemas tak berdaya setelah pundaknya di sentuh petapa tanpa nama.


“Assalamualaikum guru,” ujar Petapa Effendik seraya sungkem memberi hormat.


“Waalaikumsalam warahmatulahi wabarakatuh, apa kabar Effendik murid kesayanganku?,” ucap Petapa tanpa nama.


Seraya mengentakkan tongkat putih di genggamannya dengan teriakan Allahuakbar. Sekali bentakan di atas ujung langit kota Jombang seakan menghentikan keseluruhan aktivitas perang yang ada di bawahnya. Ribuan pasukan kegelapan yang semula meraung-raung, membunuh dan tak bisa di hancurkan kini berlari kocar-kacir ketakutan mendengar satu lengkingan benturan antara tongkat dan atap langit dari petapa tanpa nama.


Walaupun mereka berlarian sampai ujung dunia tetap mereka tersapu badai pasir dahsyat yang di timbulkan dari arah bentakan tongkat. Dimana pusatnya dari ujung tongkat petapa tanpa nama membuat sebuah tornado pasir panas terus berjalan menyapu keseluruhan pasukan hitam dari neraka yang katanya tak bisa mati.


Wahyu dan Haji Rusdi yang melihat langsung kedahsyatan ilmu dari petapa tanpa nama yang dahulu hanya mereka dengar sebagai dongeng semata. Tengah terkejut dengan mata terbelalak dan mulut menganga tak mampu berucap sepatah kata saking takjubnya.


Petapa tanpa nama mulai terduduk dan meletakkan tongkatnya bersila di depan Petapa Effendik seraya berkata, “Mana muridmu yang selalu berinkarnasi itu Fen?,” ucap petapa tanpa nama.


Tiba-tiba dari arah belakang berpindah tempat begitu cepat Wahyu datang sambil ikut bersila di samping Petapa Effendik, “Saya, saya Eyang sendiko dawuh Eyang guru (Saya menyampaikan hormat pada guru),” jawab Wahyu.


“hahaha, lucu sekali kau tak pernah berubah satria, sama seperti bapakmu. Bapak pertamamu Raja Kusuma Wardani dari Negari Melayu ribuan tahun dahulu persis, azan sana sudah masuk waktu subuh aku rindu berjamaah bersama kalian para murid dan generasiku,” tegas Petapa Tanpa Nama.


“Eh Iya bukankah itu Rusdi salah satu murid Yai Hasyim?,” tanya Petapa Tanpa Nama melirik ke arah Haji Rusdi.


“Siap Eyang Petapa menunggu perintahmu,” ucap Haji Rusdi yang mendekat dengan cara sama seperti Wahyu.


“Kau termasuk manusia paling kuat di generasi ini turunlah ke bawah beritahu pada semuanya kita berjamaah Shalat subuh dahulu. Urusan perang, urusan menang atau kalah nanti setelah Shalat subuh kita lanjutkan. Setelah itu kau bantu mereka yang berjuang di bawah. Kau juga wahyu setelah azan dan berjamaah di sini bersamaku turunlah ke bawah bantu bapakmu yang sekarang aku mau bernostalgia dahulu sama murid kesayanganku satu ini,” ujar Petapa Tanpa Nama seraya mengusap-usap rambut Petapa Effendik tanda begitu rindu ribuan tahun tak bertemu.


“Baik Eyang Petapa,” teriak Haji Rusdi dan Wahyu serempak.


Wahyu pun memulai mengumandangkan azan dengan lantang diujung langit atas kota Jombang.


***


اَللهُ اَكْبَر، اَللهُ اَكْبَر، اَللهُ اَكْبَر، اَللهُ اَكْبَر


Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar


أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّاللهُ ، أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّاللهُ

__ADS_1


Asyhadu allaa ilaaha illallah, Asyhadu allaa ilaaha illallah


اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ ، اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ


Asyhadu anna muhammadar rosuulullah, Asyhadu anna muhammadar rosuulullah


حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ ، حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ


Hayya ‘alash shalaah, Hayya ‘alash shalaah


حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ ، حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ


Hayya ‘alal falaah, Hayya ‘alal falaah


ااَلصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ ، اَلصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ


Ash-Shalaatu khairum-minannaum, Ash-Shalaatu khairum-minannaum


للهُ اَكْبَر، اَللهُ اَكْبَر لاَ إِلَهَ إِلاَّالله


***


Di bawah langit tepatnya di medan tempur sebelah timur kota Jombang para pejuang kota sudah berada di tepian alas Wonosalam. Mereka sudah dapat memukul mundur para setan dan siluman dari dalam kota.


“Jaka kau dengar itu bukanya itu suara azan subuh?,” ucap Mbah Raji sambil terus melontarkan kertas mantra yang diambil dari tas kecil yang iya selempangkan di pinggangnya.


Sementara Jaka yang berdiri di atas ratusan tumpukan mayat para siluman terus melontarkan panah cakra dari tangannya berhenti sejenak, “Benar katamu Mbah ada azan subuh siapakah yang melantunkan azan semerdu ini ya Mbah. Tidak mungkin azan berasal dari kota karena kota kita sudahlah hancur dan luluh lantak berkalang tanah.”


Gus Bari yang bertarung di sisi lain segera mendekat berbarengan dengan Dava yang ikut mendekat ke arah Jaka.


“Mas ada azan subuh terdengar dari langit,” teriak Dava sambil terus melontarkan api hijau bergalanya.


“Semua divisi, semua punggawa, semua pejuang berhentilah sejenak,” teriak Jaka berkoar begitu keras sampai menggema ke ujung-ujung hutan.


Lalu area hutan Wonosalam yang semula bagaikan ladang bom ledakan dimana-mana teriakan dimana-mana tiba-tiba hening seketika terdiam menyeluruh. Dan hanya terdengar suara-suara teriakan dan jeritan para setan ataupun siluman yang melarikan diri menuju lembah neraka.

__ADS_1


“Assalamualaikum Mas Jaka,” terdengar ucapan salam dari arah berlawanan.


Mereka adalah kelompok Pemuda Majapahit yang datang menghampiri Jaka setelah ikut berperang dari sisi yang lain. Di gawangi oleh Haji Rusdi dan Haji Rusman.


“Waalaikumsalam, loh Pemuda Majapahit juga ikut membantu Alhamdulillah,” ucap Jaka menyambut jabatan tangan Haji Rusdi.


“Assalamualaikum Mas bukan hanya dari Mojokerto Mas saudaramu dari Wong Kadiri juga ada bersamamu,” Haji Hadi tak mau kalah dari para Pemuda Majapahit datang memberi salam pada Jaka.


“Eh, eh, sudah berkumpul ya salam dari telatah atau bumi Mataraman Mas Jaka kami juga bersamamu,” ucap Abah Madun pun memberi salam.


“Kami juga tak mau ketinggalan Mas Jaka, kami sudah ***** habis para tengkorak dari sisi utara loh, hehe...,” celetuk Abah Sihaji juga ikut mendekat bersama lima puluh pasukannya dari laskar L.A.


“Alhamdilah semua sudah hadir mari kita laksanakan Shalat subuh berjamaah ucap Haji Rusdi. Kita menjadi makmum ya semua...?,” ucap Haji Rusdi.


“Loh lalu imamnya siapa, dan yang azan tadi siapa dong?,” celoteh Dava penasaran.


“Yang azan tadi keponakanmu Wahyu dan yang jadi imam Sang Petapa Tanpa Nama seorang guru dari maha guru kalian. Dan tadi yang membuat seluruh pasukan tak bisa mati ribuan pasukan kegelapan dari Adi Yaksa musnah ya beliau dan aku kemari menyampaikan permintaan beliau untuk menyampaikan pada semua yang di bawah berhenti sejenak melaksanakan Shalat subuh bersama ,” kata Haji Rusdi.


“Baik mari kita berjajar di tanah lapang sebelah sana, kalaupun tanah lapang itu sudah tergenang darah atau basah karena air ambil daun atau alas seadanya Gusti Allah pasti memaklumi keadaan kita untuk berwudu kalau ada air kita wudu kalau tidak ada cari debu yang bersih di sela-sela pepohonan alas ini untuk bertayamum mari kita laksanakan niat baik ini perang kita lanjutkan setelah Shalat,” teriak Jaka mengomandoi seluruh punggawa pejuang lima kota yang berjumlah ratusan punggawa.


Setelah selesai menggelar alas satu persatu dan mencari tempat dan membentuk barisan bersaf-saf Haji Rusdi menghampiri Jaka seraya berbisik, “Jaka sambungkan batinmu dengan anakmu Wahyu bahwa kita sudah siap melaksanakan perintah Allah dari Shalat Fardu subuh dua rakaat.”


Sejenak Jaka memejamkan matanya menghubungi Wahyu dari hati ke hati, “Nak, anakku Wahyu kami yang di bawah sudah siap akan Shalat Subuh berjamaah cepatlah kau kumandangkan komat.”


Wahyu yang mendengar kata hati Jaka lantas menyegerakan Komat. Lafaz komat pun nyaring terdengar dari atas langit Jombang seakan menyibak mendung merambat halus ke bawah di bawa angin subuh.


Dengan hikmat seluruh punggawa pejuang lima kota melaksanakan subuh berjamaah dengan imam berpusat di atas langit kota Jombang.


Dengan dua kalimat salam Shalat Subuh di akhiri. Seketika dari arah belakang barisan punggawa berlarian ruh-ruh putih berjubah putih-putih membawa pedang tajam dan bersorban putih. Berlarian di sela-sela barisan para punggawa begitu banyak jumlahnya setiap ruh berkumandang takbir, tahmid dan tasbih terus-menerus.


Di depan mereka berlari sebagai pemimpin utama ialah Wahyu yang sudah berubah wujud menjadi Satria Langit berlari melewati Jaka.


Pas di samping Jala Satria Langit berucap, “Ayah aku anakmu Wahyu mari bersamaku menolong ibu dan tante Sari. Jangan sia-siakan pertarungan Om Hasan Jaelani dan istrinya Nyi Nurma yang terus bertarung di pusat kerajaan Adi Yaksa. Mari kita bantu mereka.”


Wahyu dalam sosok Satria Langit terus melesat maju dan Jaka mulai dapat tersenyum seraya mengomandoi seluruh punggawa lima kota dengan pekikan takbir yang menggetarkan semangat.

__ADS_1


“Mari Haji Rusdi dan semua pemimpin lima kota ikut bersamaku, Allahuakbar..., Allahuakbar..., Allahuakbar...!!,” teriak Jaka membahana seraya berlari di ikuti ratusan punggawa lima kota di belakangnya mengikuti Satria Langit dan ribuan pasukan malaikat subuh.


__ADS_2