
Dalang Linglung Vs Wayang Gemblung
Toktok...
Toktok...
Tok...
“Assalamualaikum,” terdengar ketukan dan salam dari balik pintu depan rumah Dalang Author.
“Waallaikumsalam, siapa...?, Siapa lagi malam-malam ganggu. Tidak tau sudah hampir tengah malam nih mana inspirasi buat update bab Novel T O H belum ada lagi,” gerutu Dalang Author berjalan ke arah pintu.
“Ya sebentar, sabar,” ucap Dalang Author membuka pintu depan rumahnya.
“Lah kagak ada orang, jangan-jangan hantu lagi,” ucap Dalang Author merasa merinding.
“Eh bentar, kalau hantu mana ada pakai salam. Hem..., dari baunya ini wayang gemblong Si Jaka ini mampir kemari. Jaka keluar loh jangan resek sudah keluar...!,” teriak Dalang Author.
“Hehehe..., tau saja ente Lang. Kalau ane yang datang,” ucap Jaka tiba-tiba muncul di belakang Dalang Author.
“Astagfirullah haladzim, kalau ane kaget terus pingsan gimana ngagetin orang saja ente Jaka. Ada apa kemari bukanya perang malah kemari,” ucap Dalang Author.
“Begini Lang maksud ane kemari supaya tokoh Jaka jangan di mampusin masak tokoh utama mati kan kagak seru Lang,” ucap Jaka.
“Ah elo Jak, serah Ane dong mau Jaka mampus, mau Jaka tepar. Terserah Dalang dong, dong, memang ente kira gampang jadi Dalang Author harus mikir cari inspirasi belum kalau rokok dan kopi habis. Eh ngomong-ngomong bagi rokok dong,” ucap Dalang Author.
“Ah elo Lang mana ada jagoan merokok nurunin harga pasaran saja loh Lang. Sudah balik lah Lang pokoknya awas Jaka ditulis mati ane datengin tuh si pocong dan koleganya,” ucap Jaka.
“Lah mainnya jelek nih anak ah kagak suka ah buyar saja kalau begitu udahan ya novelnya langsung tamat saja kalau begitu curang ente Jaka. Sudah tahu Dalang Author belum nikah masak di mampusin hantu perjaka ane bagaimana dong,” ucap Dalang Author.
“Tahu, Bodo amat ya derita loh Lang, Dalang Linglung dasar sudah pamit, Assalamualaikum,” ucap Jaka kembali menghilang.
“Yah, yah, Jak..., Woi Jaka, yah dia kabur ah kagak asyik nih wayang gemblung si Jaka. Ah..., ane buat mampus juga nih lama-lama Jaka,” gerutu Author kembali kedalam rumah untuk menyelesaikan tulisannya.
__ADS_1
***
“Dava kau sudah siap nak?,” ucap Haji Kardi berdiri di samping Dava yang tengah memandang luas seluruh desa Dukuhan Banjar Kerep.
Mereka berdua tengah berada di atas atab rumah. Tengah berdiri beriringan menantu datangnya musuh dari arah kali Brantas. Ya kali ini Dava tengah bersiap menghadapi siluman-siluman kalap. Sebuah sosok siluman air yang selalu menenggelamkan seseorang yang tengah kehilangan fokus saat menaiki perahu atau seseorang yang tengah melamun di pinggiran sungai.
“Abah kali ini akan menjadi malam yang sangat panjang dan sangat sulit, jadi terimakasih kali ini Abah mau menemani ku berperang,” ucap Dava tersenyum lebar pada Abah Kardi.
“Nak seperti kata Pakdemu Abah Wachid dan seperti kata gurumu Abah Kasturi. Bahwa T O H generasi pertama dan generasi kedua harus bahu membahu menghadapi musuh kali ini, karena musuh kali ini menyerang secara bersamaan serempak di setiap desa,” ujar Abah Kardi.
“Benar sekali kata Abah, bahwa malam ini di ujung Mojowarno tepatnya di desa Mojokembang Kangmasku Jaka juga tengah berjuang. Di hutan Wonosalam Gus Lukman juga tengah bertarung. Di desa Mbadas Utara Gus Bari dan Mbah Raji juga tengah menghadapi musuh berat begitu juga desa yang lain,” ucap Dava menerangkan.
“Nak, Anakku Dava mari kita perangi kejahatan dan kebatilan segenap jiwa dan raga kita agar di masa depan anak cucu kita tak lagi berperang antara hidup dan mati seperti layaknya kita saat ini,” ujar Abah Kardi.
“Benar Abah, mari kita berangkat Abah,” ucap Dava mengajak Abah Kardi agar lekas berlari.
“Dava kali ini musuhmu begitu berat jadi lekaslah berubah menjadi sinar Naga Bergala,” ucap Abah Kardi meminta Dava untuk merubah mode manusia menuju mode sinar hijau mode Naga Bergala.
“Baik Abah,” ucap Dava dengan diam sejenak muncullah sinar hijau dari dalam tubuh Dava menyelimuti seluruh sendi tubuh Dava sebuah sinar terang dan berkobar layaknya api.
“Baik Abah Dava berjanji berperang sampai tetes darah terakhir dan Dava berjanji atak akan kalah malam ini karena ada Dik Sari yang menungguku untuk pulang kembali,” ucap Dava ikut melesat menyusul Abah Kardi.
Di dalam rumah Abah Kardi Umi Emi dan Sari tengah mengaji mengamalkan surah Yasin dan tahlil di ruang tengah.
Mereka berdoa agar Abah Kardi dan Dava di selamatkan malam ini dan agar kebatilan selalu dapat di kalahkan dengan mudah dan Abah Kardi serta Dava pulang kembali dengan selamat.
Sedangkan di ujung Barat agak jauh melewati persawahan yakni di tengah kali Brantas siluman-siluman air kalap tengah berjajar rapi berwujud sosok seperti manusia tetapi dari air begitu banyak muncul di permukaan kali.
“Panglima sudah saatnya kita bergerak, karena panglima sosok ghoib Sarpala sang anak turunan setengah siluman setengah manusia sudah memberi komando kepada kita. Agar meratakan desa dimana Dava dan si tua Kardi berbasis tinggal di sana,” ucap salah satu kalap kepada panglimanya.
“Benar yang kau katakan prajurit. Mari malam ini kita bersenang-senang bahwa memakan Dava atau si tua Kardi sama seperti tidak makan tiga tahun rasa kenyangnya belum jua hilang,” ucap panglima Kalap.
“Aku setuju Panglima mari kita buat banjir seluruh desa di sekitar kali Brantas ini, dengan air yang kita buat siapa yang tanpa sengaja atau dengan sengaja meminumnya pasti akan tersedak dan mati lalu akan berubah menjadi siluman seperti kita untuk mengabdi selamanya menjadi siluman Kalap,” ujar salah satu prajurit kalap.
__ADS_1
“Segera laksanakan prajurit buat tsunami besar yang belum pernah ada dalam sejarah bahwa bukan laut saja yang bisa membuat tsunami tapi kali atau sungai juga dapat berbuat demikian lekas laksanakan,” ucap Panglima Kalap.
“Baik Panglima,” jawab serempak ratusan prajurit siluman air kalap menjadi satu membuat gelombang besar mengarah ke Dukuhan Banjar Kerep. Layaknya tsunami yang hendak menenggelamkan apapun yang ada di bawahnya.
“Dava kau siap Nak?,” ucap Abah Kardi terus melesat berlari menuju arah gelombang tsunami dari kali Brantas yang dibuat dari gabungan siluman Kalap.
“Siap Abah kita maju Abah, Bismillah,” ucap Dava terus melesat ke depan tanpa takut dan ragu lagi kali ini.
“Dava kita mulai Allahuakbar,” ucap Abah Kardi melayangkan pukulan ghoib menepis tsunami yang terbentuk secara ghoib pula.
“Ayo Abah Allahuakbar...,” teriak Dava menggandengkan kedua telapak tangan dengan telapak menghadap muka agar dapat mengeluarkan gelombang senar hijau secara luas menangkis tsunami.
Duar...
Pukulan Dava dan Haji Kardi membuyarkan tsunami dari siluman Kalap dan menyurutkan kembali air bah besar yang ditimbulkan.
“Kurang ajar kau si tua Kardi kau selalu menghalangiku kali ini mati lah kau,” ucap panglima Kalap meluncurkan air serupa pedang-pedang yang terbentuk dari air namun sama tajamnya layaknya pedang sungguhan.
Dava berhasil menghindar namun Haji Kardi ter tembus satu pedang air yang diluncurkan panglima Kalap.
Huk..., Uhuk..., Huek...,
Abah Kardi memuntahkan darah segar dari mulutnya dengan pedang air menembus dadanya pas di dada kiri dimana jantungnya berada.
“Abah...!!,” teriak Dava berlari menyongsong Abah Kardi yang tengah melayang tak berdaya terpental kebelakang.
...misi tembusan dari dalang ya...
Jangan lupa dukung karya Dalang Author terbaru berjudul
***Rudi & Rindu
__ADS_1
Terimakasih 😊👍***