
“Ayo Mas...!?,” ucap Dava seraya berdiri dan mulai mengubah dirinya ke dalam mode api hijau yang sangat besar seketika meluncur lurus ke depan menuju ke arah gerombolan para setan durjana.
Huwaaa...,
Teriak Jaka saat mode super api amarahnya aktif kembali kali ini lebih besar dari biasanya nyala apinya pun berwarna hitam bukan merah ataupun kuning.
“Ayo Nak...?!,” ucap Jaka seraya melirik Wahyu yang hanya tersenyum bangga melihat sang Ayah yang kembali pulih seperti semula bahkan jauh lebih kuat.
Slap...,
Dengan sekali bentakan kaki kanan melesatlah jaka ke atas jauh ke langit lalu turun kembali begitu cepat menukik ke bawah bagaikan meteor jatuh dari langit yang terkena atmosfer dengan nyala api membara.
Duar...,
Terdengar suara ledakan jatuhnya Jaka pas di tengah-tengah kerumunan prajurit siluman. Pas tepat jatuh di depan Adi Yaksa. Terlihat Jaka berdiri begitu gagahnya menantang sang raja kegelapan Adi Yaksa dengan mode super api amarah dan sungging bibir tipisnya sealur dengan kumis tipisnya.
“Yah, bagaimana lagi ya kan Mbah Raji aku kan sudah di plot menjadi pemimpin mau tak mau harus turun gelanggang iya kan Mbah, Mbah Raji halo how are you Mbah...?,” teriak Wahyu mencari Mbah Raji yang ternyata berada di samping Altar dimana ketiga tubuh Dewi T O H di baringkan sedang merebus air dengan kayu seadanya dan batu yang ia tumpuk sebagai wadah sebuah bejana kecil berisi air.
“Woi Mbah yang lain perang si Embah malah merebus air gimana Mbah ini?,” teriak Wahyu.
“Eh Nak Wahyu, lah katanya Mbah di suruh menjaga ibumu dan tantemu enggak ngapa-ngapain ya sepet loh mata ini. Bikin kopi aku tole wkwkwk...,” celetuk Mbah Raji.
__ADS_1
“Ah sudahlah...!!,” kata Wahyu kembali mengubah dirinya menjadi sesosok petapa tampan berjubah hitam-hitam dan bersinar emas.
Wahyu kembali melesat turun ke bawah menuju Adi Yaksa yang telah berseteru dengan Jaka. Seketika di belakang Wahyu puluhan prajurit berjubah hitam-hitam berbendera hitam bertuliskan kalimat syahadat ikut melesat mengikuti Wahyu di belakangnya berjajar rapi. Meninggalkan Mbah Raji dan Gus Bari yang memang ditugaskan menjaga para dara T O H.
“Ini Gus kopi hitam,” kata Mbah Raji mengulurkan segelas kopi hitam pada Gus Bari yang tengah fokus mengamati jalannya peperangan.
“Lah Mbah kok bisa bikin kopi ini gelas dari mana?,” tanya Gus Bari heran menerima segelas kopi dari Mbah Raji.
“Namanya juga novel aksi bercampur komedi Gus, hahaha...., sudah kita minum kopi sambil liat perang, hehe...,” ujar Mbah Raji
“Serius Mbah ini gelas dari mana?, jangan-jangan bekas setan atau siluman kan bahaya Mbah bekas darah atau perasan daging manusia barangkali,” tanya Gus Bari sekali lagi.
“Ah Kau ini Gus, kayak tidak tahu saja tasku kan mirip kantung ajaib Doraemon apa saja ada,” jelas Mbah Raji sambil menepuk tas selempang satu yang di selempangkan di pundaknya.
Sementara itu di area bawah altar singgasana meninggalkan Mbah Raji dan Gus Bari yang tengah asyik dengan kopi hitam panasnya. Pertempuran sengit tengah terjadi. Deru dan debu beterbangan bercampur petir dan suara gelegar benturan-benturan beberapa kekuatan.
Duaar...,
Kali ini suara ledakan berasal dari perpaduan kepalan tangan Jaka dan Adi Yaksa. Seketika mereka saling memandang tajam satu sama lain lalu kembali mundur beberapa langkah. Jual beli serangan terus terjadi di antara kedua kesatria besar sekaligus tokoh utama dalam perang kali ini.
Adi Yaksa kali ini mengeluarkan sosok pendamping ular besar berwarna hijau bertanduk dua melilit di tubuhnya. Lalu dengan sekali perintah si ular terbang lurus ke arah Jaka. Begitu pun Jaka tak mau kalah dari sisinya keluarlah sosok naga kembar namun tak berbentuk naga utuh hanya cahaya yang berbentuk naga. Makhluk naga seperti ini belum pernah sama sekali di keluarkan Jaka karena efeknya sangat besar dia panglima para naga.
__ADS_1
Sejurus dengan ular hijau bertanduk dua dari Adi Yaksa. Naga kembar melesat menerima serangan dari naga hijau. Dengan sekali lahap ular hijau besar di telan mentah-mentah oleh si naga kembar dan kembali menghilang seusai melahap ular hijau karena jurus ini hanya berfungsi begitu singkatnya.
“Tidak kusangkal kehebatanmu Jaka memang kau sanggatlah kuat tapi coba yang ini apa kau mampu mengalahkannya,” teriak Adi Yaksa merapal sebuah mantra sakti seketika di belakang Adi Yaksa keluar Buto ijo besar nan beringas.
Jaka tak mau kalah ia diam sejenak memejamkan mata dan mulai berkonsentrasi. Tiba-tiba sebuah senjata gada besar jatuh dari langit bersama sebuah sosok besar serupa manusia setengah kera dialah dewa dari segala kera yaitu Dewa Hanoman yang perkasa turun mengambil gadanya. Dengan gesit mengentakkan pukulan pas di atas kepala Buto Ijo. Buto Ijo seketika hancur bagai kaca yang pecah.
Dewa Hanoman berpamitan pada Jaka dan kembali ke atas langit melesat cepat lalu menghilang di sela-sela awan.
“Ayo keluarkan lagi pendamping, senjata, kodam, ajian atau kesaktianmu hai raja demit. Kali ini aku tak akan lagi mengampuni setan yang telah memperkosa istriku sampai akhirat pun akan aku kejar Kau Adi Yaksa,” teriak Jaka yang sudah sangat marah pada Adi Yaksa.
Kini terlihat Adi Yaksa tampak bingung kehilangan akal menghadapi Jaka yang semakin kuat saja.
“Baiklah kalau kau tak menyerang biar aku yang menyerang kali ini. Aku sudah muak dengan perang ini, Dava...!!,” teriak Jaka memanggil Dava.
“Wahyu...!!,” Jaka kembali berteriak memanggil Wahyu.
“Siap Kakanda,” teriak Dava melesat lari begitu cepat sehingga Adi Yaksa pun tak melihatnya bahwa kali ini ruh setengah siluman, setengah manusia yang selama ini di rahasiakan dan disembunyikan dari bawahannya telah di genggam oleh Dava yang beberapa saat melewati tubuh aslinya.
“Wahyu giliranmu...!!,” teriak Dava melemparkan ruh dari Adi Yaksa ke atas.
“Baik Om,” tanpa di duga Wahyu sudah di depan ruh Adi Yaksa dan sekejap mata ruh tertebas oleh pedang Wahyu.
__ADS_1
Karena pedang Wahyu adalah salah satu pedang neraka pemusnah ruh jadi seketika ruh Adi Yaksa perlahan terbakar menuju neraka paling dasar.
“Kenapa ruh pamungkas yang kusembunyikan selama ini kalian mengetahuinya. Padahal selama ini tiada satu pun orang tahu walau petapa Effendi sekalipun,” ucap ruh Adi Yaksa yang perlahan terbakar sampai habis tak tersisa sampai abunya pun hilang lenyap. Sedangkan tubuh aslinya tertelan bumi kembali berakhirlah masa jaya Adi Yaksa sang Raja Di raja para setan dan siluman.