
Sebuah altar langit terhampar tanpa batas di atas kota Jombang. Di antara bumi dan langit namun tak sampai melampaui atmosfer, hanya berada di sela-sela antara mendung dan awan putih yang akhir-akhir ini tertambat tak mau pergi di atas kota Jombang.
Di bawah sinar rembulan merah dengan segala mitos dan legendanya. Tertambat dua sosok petapa bersila berhadapan, ya mereka adalah guru dan murid, Wahyu dan petapa Effendik tengah berdiskusi keras teramat alot mengenai sebuah akhir dari riwayat kota Jombang di bawahnya.
“Guru sang raja dari raja siluman sudah muncul rupanya. Dia Kebo Marcuet kakak dari Adi Yasa seorang siluman yang hanya bisa aku kalahkan dengan sosokku sebagai satria langit. Namun sosokku sebagai Wahyu tak kan mampu mengatasi kesaktiannya,” celetuk Wahyu terus berpikir mengurai jawaban dari segala masalah kota Jombang dan ia tak mengira kalau musuh-musuhnya di masa lalu akan terbangun satu-persatu.
“Satria walau tubuhmu sekarang terkurung pada sosok Wahyu bukankah kau sewaktu-waktu dapat merbahnya menjadi sosok semula sebagai Satria kenapa kau khawatir,” jawab Petapa Effendik tegas.
“Tetapi guru keadaan itu hanya saat aku sangat terdesak saja dan Kebo Marcuet memiliki segudang tipu muslihat sehingga aku tak dapat berubah menjadi sosok Satria,” jelas Wahyu mulai bingung.
“Kalau seperti ini takdir keluargaku bukankah sudah dijatuhkan. Bahwa T O H kali ini jelas tak akan menang melawan keberingasan Adi Yaksa dan tipu daya Kebo Marcuet. Lalu Nasib Mama dan tanteku sebagai tumbal hidupnya kembali tentara hitam Adi Yaksa. Bukankah itu akan terjadi dan kita pun tak mampu mencegahnya guru,” jelas Wahyu sekali lagi menatap sang guru tajam.
“Ya benar katamu Wahyu semua itu sudah garis takdir apabila Allah sudah berkata Qun lalu jatuhlah kata Fayaqun maka terjadilah sesuai kehendak-Nya,” timpal Petapa Effendik.
“Apakah semua itu tak bisa diperbaiki Guru, bukankah kita kembali untuk memperbaiki kekacauan di masa depan tentang dihapusnya kota Jombang dari peta karena kebinasaan menyeluruh warga kotanya?,” tanya Wahyu dengan serius.
“Bagaimana lagi Wahyu semua ulah warganya sendiri dan hukum ketetapan Allah tentang sebab dan akibat itu nyata adanya. Siapa yang berbuat dia yang menuai, sekarang semua bergantung pada perjuangan para punggawa T O H sehingga dapat mengubah hasil buruk yang pernah kita lihat di masa depan,” terang Petapa Effendik.
Saat Petapa Effendik dan Wahyu tengah berdiskusi alot berhembuslah angin dingin menerpa langit atas membuyarkan awan yang semula tertata rapi sebagai pijakan mereka berdua hilang sekejap.
“Astagfirullah, ada yang datang guru!?,” teriak Wahyu seraya berdiri tersentak seketika tubuhnya tersentak mundur agak jauh namun sang guru masih dalam posisi semula bersila santai memandang arah serangan yang datang.
__ADS_1
Petapa Effendik hanya tersenyum kecil walau angin dingin yang berembus sanggatlah kuat bagai pukulan tenaga dalam yang sangat dahsyat yang membuat Wahyu seketika terpental agak jauh. Tak sedikit pun mempengaruhi Sang Petapa putih Effendik tak bergeming dan tak beranjak dari duduk bersilanya.
“Kau sudah datang rupanya Marcuet,” ucap Petapa Effendik yang tengah dihadapkan sosok Kerbau besar bercula emas meronta-ronta hendak menubruknya namun tak sanggup jua dan hanya menderu di tempat semula ia muncul.
“Kurang ajar kau Kebo Marcuet!!,” teriak Wahyu segera meloncat tinggi dengan tangan seakan menjadi batu hitam dengan kepalan halilintar yang menyambar-nyambar.
Peletak..., duar...,
Suara hantaman kepalan Wahyu pas mendarat di tengah-tengah antara dua tanduk Kebo Marcuet yang masih berupa sosok binatang Kerbau besar. Namun tubuh Wahyu malah terpental sendiri agak jauh.
Petapa Effendik kini mulai berdiri sembari mengambil tongkat putihnya yang iya letakkan di samping ia duduk. Dengan satu acungan tongkat di atas kepala Kebo Marcuet.
Pletok...,
“Pak tua petapa seperti biasa kau masih saja sakti seperti ribuan tahun lalu tak berubah,” ucap Kebo Marcuet kembali berdiri.
***
Sementara itu keadaan di bawah langit tepatnya di desa Mojokembang tengah heboh dengan perkelahian sengit antara kelompok Adi Yaksa dengan Jaka yang dibantu sang panglima harimau Datuk panglima kumbang.
Keadaan di sana sudah sangat porak-poranda karena sengitnya pertempuran yang terjadi. Terlihat Abah Wachid sudah terkapar tak bergerak di salah satu sudut pekarangan tertimbun kayu dan beberapa genteng dari atap rumah yang roboh.
__ADS_1
Sedangkan Umi Epi sudah tak berdaya dengan Kak Vivi terikat di tiang tengah rumah Abah Wachid itu pun sudah tak sadarkan diri. Keadaan rumah Abah Wachid pula sudah tak beratap. Warga yang menyaksikan sudah berhamburan menjauh karena ketakutan, jangankan menolong mendekat pun mereka tak berani.
Di depan Jalan pas depan pagar depan rumah Jaka yang sudah jebol ada beberapa anggota T O H yang sudah tergeletak tak sadarkan diri termasuk Gus Lukman yang datang membantu Jaka sudah terbantai habis tergeletak bersimbah darah di atas aspal.
Tinggallah Jaka dan Datuk panglima kumbang yang masih berdiri untuk melawan ribuan siluman yang datang terus menerus seperti air bah. Namun keadaan Jaka sudahlah babak belur kehabisan tenaga dengan nafas terengah-engah tak karuan.
Tetapi karena sang istri Putri yang telah dibawa Adi Yaksa sedari tadi membuat Jaka harus terus melawan dan mengejar Adi Yaksa yang mungkin sudah sampai di kerajaannya.
“Datuk kita habis-habisan malam ini, kita di jalan kebenaran Datuk mari berjuang untuk terakhir kalinya denganku seperti dulu. Walau kita tak akan berjumpa matahari esok pagi mari kita hadapi,” ujar Jaka menatap sang panglima harimau yang hanya mengangguk seraya meloncat kembali mengubah dirinya menjadi harimau putih besar.
Aaaaaaaaa...,
Teriak Jaka membahana sambil mengubah diri menjadi api amarah yang begitu besar menyala-nyala tak seperti biasanya dan mulai berlari menuju ke arah ribuan setan dan siluman dan terus menghantam.
Sementara itu di atas Jaka terus menukik dengan kepakkan sayapnya yang teramat lebar Jatayu terus berkoar ikut menghantam sosok-sosok raksasa dari kalangan prajurit Adi Yaksa yang jua sama kuatnya dengan Jatayu.
***
Di desa Mbanjar kerep Dava terus baku hantam dengan lima panglima tertinggi Adi Yaksa. Di bantu Gus Bagus yang terus menggempur pasukan setan, anjing siluman dan ribuan raksasa di sisi yang lain.
Seperti Abah Wachid yang tergeletak tak sadarkan diri Abah Kardi pula sudah tak berdaya bahkan tak bernafas tertusuk tombak panjang tembus sampai belakang. Terduduk di depan teras sedangkan Umi Emi memeluknya itu pun sudah tak bernafas pula di perutnya tersayat parang dengan sobekan begitu dalam sehingga ususnya terburai keluar.
__ADS_1
Dafa terus membabi buta menghantam, meninju dan menendang dengan mode api hijau miliknya. Terlihat air matanya terus mengalir mengenang Sari yang ditelanjangi lalu dibawa kabur salah satu panglima siluman Adi Yaksa.
“Sari...!!,” teriakan Dava begitu menyayat dan begitu pilu terdengar.