
Sari terus berlari melewati sela-sela pepohonan lebat sebuah hutan yang tampak asing baginya. Iya tak pernah sekalipun menginjakkan kaki sekalipun di dalam hutan ini. Jangankan terpikir membayangkannya saja iya mungkin tak berani sendirian berjalan di dalam hutan ini.
Tetapi malam mencekam kali ini Sari begitu ketakutan iya terus berlari sambil berharap Dava dapat di temukan. Perang besar telah terjadi di kota Jombang antara setan dan para anggota T O H namun kali ini kejahatan memenangkan pertempuran dengan banyak tipu daya dan tipu muslihat.
Para senior maupun tokoh penting dalam T O H banyak yang gugur termasuk Jaka dan keluarganya. Mungkin ini adalah akhir dari kejayaan kota Jombang ujar Sari dalam hati dan masih terus berlari di sela-sela gelapnya pepohonan nan tinggi berjajar serta lebat menutupi area hutan.
“Mas Dava walau keluarga kita habis dan telah gugur semua karena peperangan dahsyat kali ini. Aku tak akan membiarkanmu mati Mas, bertahanlah aku akan berusaha sekuat mungkin dengan pemahaman yang kau ajarkan padaku untuk menolongmu,” gerutu Sari terus berlari menuju istana besar Raja Diraja para siluman dan setan Adi Yaksa.
Namun di belakang Sari telah sampai beberapa siluman yang dapat berjalan menyusur tanah bagai cacing yang berjalan dalam tanah. Terus mengejar Sari hendak melahapnya, “Hai manusia teman-temanmu sudah mati semua kau mau ke mana bocah. Apa kau hendak menyerahkan diri,” teriak siluman penyusur tanah.
Namun seketika tanah terbalik dan para siluman terlihat tampak di atas tanah bagai kan membalikkan telapak tangan Putri dengan ajian rengkah gunungnya yang iya hantamkan ke tanah sehingga dapat mengeluarkan para siluman yang hendak mengejar Sari.
“Sari pergilah tolonglah Dava mu, jangan sampai kau bernasib sama denganku. Kehilangan semua orang yang kucintai akibat perang besar kali ini. Pergilah Dek Sari jangan kau menoleh ke belakang dan anggaplah Mbakyu mu ini sudah mati saat kau berhasil menolong kekasihmu,” ucap Putri bukan tanpa alasan iya berkata demikian selain di depanya terdapat puluhan siluman penyusur tanah layaknya cacing, karena siluman-siluman tersebut berbentuk cacing. Ada pula beberapa raksasa haus darah yang menyusul Putri dari belakang.
“Cepat pergi Sari...!!,” teriak Putri sesaat sebelum dentuman keras dengan nyala-nyala api layaknya sebuah bom yang meledak entah apa yang terjadi yang jelas Sari terus berlari menuju istana Adi Yaksa untuk menyelamatkan Dava.
Setelah jauh meninggalkan Putri di belakangnya dan entah Putri masih hidup atau sudah tewas seperti yang lainnya. Langkah Putri terhenti dengan ratusan anjing setan gila yang siap menerkamnya begitu lapar. Sari terperangah karena dia tak mampu menggunakan kekuatan apa pun selain berdoa. Sari bersujud menengadah tangan dan mendongak ke langit walau langit tak terlihat tertutup lebatnya dedaunan hutan.
“Ya Allah Ya Tuhanku, dengan segala kerendahan hati dan permohonan ampun hamba tengah dalam kepayahan melawan setan durjana. Hanya kepada-Mulah hamba memohon pertolongan tiada selain Engkau,” begitulah doa yang terucap dari bibir kecil Sari.
__ADS_1
Namun ratusan anjing setan yang sedang lapar terkadung bergerak maju menerkam ke arah Sari sangat beringas. Sari hanya dapat memejamkan mata berharap ada sebuah mukjizat dari Yang Esa. Walau tak jua ada pertolongan dan sekiranya di sini adalah akhirnya, dalam hatinya terucap setidaknya iya gugur dalam jalan Allah membela kebenaran dan gugur sebagai syuhada.
Saat ratusan Anjing hampir menerkam Sari sebuah bayangan melesat di samping Sari. Mengibas-ibaskan selendang yang ia kenakan sehingga membuat beberapa anjing setan terpental berhamburan.
Saat Sari membuka matanya dengan begitu terkejut Nyi Nurma datang membantunya, “Nyi Nurma kau kah itu,” ucap Sari terheran-heran.
“Benar Sari cepat pergi tolonglah cintamu tenagaku sudah hampir habis untuk menahan mereka berlarilah akan kubuka jalan. Tetapi saat kau selamat dan dapat menolong Dava dan kalian hidup berbahagia suatu hari nanti jangan lupa berkirim Alfatihah juga atas nama ku,” teriak Nyi Nurma yang memukuli anjing setan dengan selendangnya namun semakin banyak anjing setan ia bunuh semakin banyak pula mereka datang seakan tiada habisnya.
“Tapi Nyi bukankah kau?,” kata Sari masih dalam posisi bersimpuh dan urung melanjutkan kata-katanya.
“Musuh maksudmu justru itu aku kesini menolongmu keluarga T O H sanggatlah baik padahal aku berusaha mencelakakan kalian. Tapi tetap saja kalian menyadarkanku. Sudah cepatlah pergi jemput cinta sejatimu jangan sampai kau bernasib sama sepertiku kehilangan cinta sejati, pergilah cepat Sari...!!,” teriak Nyi Nurma.
Saat sudah dapat melintasi gerbang aula kerajaan Adi Yaksa yang sudah rusak akibat pertempuran sengit seminggu yang lalu. Sari melihat puluhan mayat anggota T O H bergelimpangan di sana. Iya pun meneteskan air mata berjalan perlahan terus berjalan.
“Selamat datang, selamat datang anggota T O H yang tersisa bukankah kau Sari benar kan Dava?,” ucap Adi Yaksa yang tengah mencengkeram Dava pas dikepalanya.
Dava terlihat berdarah-darah tangannya sudah putus dua-duanya dan kakinya pun tinggal satu yang satu putus pas lutut. Badanya sudah penuh berlumuran darah dan tak sadarkan diri lagi dengan wajah penuh lebam.
“Mas Dava...!!,” teriak Sari seketika tersimpuh lemas melihat kondisi sang kekasih yang sekarat seakan sudah mati.
__ADS_1
“Lihatlah kekasihmu sari. Pandanglah baik-baik,” teriak Adi Yaksa.
Dan dengan cepat Raja Adi Yaksa memisahkan kepala Dava dari lehernya, kratak..., terpisahlah kepala Dava dari Badanya.
“Mas Dava....!!,” teriak Sari bangun dari tidurnya di dalam kamar tengah dan dihadapnya sudah ada Dava yang terduduk di samping kasur memandangnya cemas. Di samping kasur di atas kursi rotan terduduk pula Abah Kardi jua memandang Sari dengan waswas sedangkan Umi Emi berdiri di belakang Dava tampak khawatir dengan keadaan Sari.
Sari masih terengah-engah berhadapan dengan Dava dengan posisi setengah duduk dan kaki di tekuk bersila. Matanya menatap lekat Dava seakan tak percaya kalau yang ia alami baru saja hannyalah mimpi.
“Tenang Dek hanya mimpi,” ujar Dava membelai rambut Sari yang tak mengenakan hijab memang kalau tidur Sari tak suka mengenakan hijab dikarenakan cuaca malam akhir-akhir ini begitu panas.
“Mas Dava...,” teriak Sari seraya memeluk Dava erat.
Dava pun begitu kaget melihat tingkah Sari seraya melihat Abah dan Uminya. Tampak Abah dan Uminya hanya tersenyum kecil sambil mengangguk tanda memberi ijin untuk membalas pelukan Sari agar suasana hati Sari agak tenang akibat mimpi buruk yang dialaminya.
“Ceritakan sayang mimpi apa sebenarnya kamu cintaku?,” tanya Dava dalam pelukan Sari.
“Sari bermimpi Mas dibunuh raja siluman Adi Yaksa,” ucap Sari memeluk erat Dava.
“Sudah-sudah itu hanya mimpi Insya Allah tanpa ijin Allah itu tak akan terjadi. Malam ini biar Umi menemanimu bobok ya Sayang Mas dan Abah biar berjaga di luar. Sebab tadi Mas dapat kabar dari Mas Jaka Mbak Putri juga usai mengalami mimpi buruk,” ujar Dava menenangkan Sari.
__ADS_1