T O H

T O H
Membahas Regenerasi


__ADS_3

Kreeek..., blek...,


Suara pintu kamar Vivi terbuka perlahan dari luar oleh Jaka dan Bagus yang hendak mengecek keadaan Vivi dan Wahyu.


“Rupanya mereka sudah pulas Mas,” ucap Jaka tersenyum kecil melihat tingkah lucu anaknya yang tengah memeluk erat Vivi sambil terus mengusap perut Vivi sambil terus mengigau Mas Dewa.


“Eh sebentar deh Dek Jaka coba dengar igauan anakmu itu,” kata Bagus masih berdiri di depan pintu bersama Jaka.


“Sebentar Mas, diam lah dulu aku tidak begitu jelas coba aku dengar sekali lagi,” ujar Jaka mendekatkan daun telinganya agak menjorok ke dalam pintu sambil melonggokkan kepala ke dalam kamar.


“Mas Dewa cepat lahir ya,” kembali igauan Wahyu terdengar kali ini agak jelas.


“Eh benar kan firasatku Mas,” celetuk Jaka menatap Bagus dan Bagus yang tak tahu menahu akan maksud dari Jaka hanya bengong tak mengerti.


“Maksudnya bagaimana ini Dek aku jadi penasaran,” Jawab Bagus mengernyitkan matanya sebelah tanda tak mengerti.


“Begini Petapa Tanpa Nama guru dari almarhum guru kita Haji Kasturi. Bukan berarti beliau benar-benar tak memiliki julukan sama sekali. Kau tahu Mas sebenarnya tanpa nama itu pun salah satu julukan beliau. Sebenarnya beliau memiliki seribu julukan di tiap masa saat beliau keluar ke sebuah kota demi melindungi pejuang-pejuang seperti kita ini,” jelas Jaka menuturkan pada Bagus.


“Terus hubungannya sama anakku dan igauan anakmu apa loh Jaka?,” tanya Bagus semakin penasaran.


“Ini justru keberuntungan bagimu Mas aku pernah diberi manuskrip kuno oleh mendiang guru kita Haji Kasturi, ya semacam buku catatan orang jaman dahulu kala lah sejaman sama cerita babat tanah Jawa kata guru waktu itu,” kata Jaka menjelaskan.


“Terus-terus,” timpal Bagus penasaran.

__ADS_1


“Dalam manuskrip tersebut banyak istilah-istilah ramalan tentang kota Jombang yang disamarkan dengan kata kiasan dan persajakan. Di sana ada pula yang menceritakan bahwa nanti dalam kehancuran kota sang kiai akan ada bayi cahaya yang datang membawa cahaya harapan nah itu sudah terbukti dengan hadirnya Wahyu ia kan,” cetus Jaka meyakinkan Bagus.


“Hem benar juga sih apa yang tertulis dalam buku catatan itu, lalu apa lagi yang tertulis disana?,” tanya Bagus menggebu-gebu dengan rasa ingin tahu.


“Setelah kedamaian 30 tahun lamanya. Setelah sang pendekar-pendekar langit yang turun kebumi sebagai anak kecil menjadi besar. Dan salah satu anak kecil yang paling utama di antara mereka ada yang disebut Sang Dewa reinkarnasi dari kiai abadi yang moksa dan kembali ke dunia sebagai anak kecil pula,” terang Jaka menjelaskan isi dari manuskrip kuno yang pernah iya baca peninggalan mendiang guru Haji Kasturi.


“Sebentar Kiai abadi berarti Petapa tanpa nama ia kan, eh apa benar Jaka kalau Wahyu mengigau sambil mengelus perut istriku yang sedang mengandung menyebut nama Mas Dewa berarti Dewa akan terlahir sebagai anakku sebagai reinkarnasi sang petapa tanpa nama dong,” cetus Bagus seperti tak percaya.


“Nah itu yang coba aku jelaskan sama kamu Mas, makanya aku bilang kali ini keberuntungan berpihak padamu. Kalau kita meyakini Wahyu anakku berasal dari ribuan tahun yang lalu dan kita meyakini Kiai hebat Petapa Tanpa Nama yang pernah membimbing kita saat perang sepuluh tahun yang lalu, kenapa kita tak bisa meyakini anakmu yang kelak lahir menyandang nama Dewa sebagai reinkarnasi Petapa Tanpa nama,” ucap Jaka memberi penjelasan pada Bagus.


“Lalu apa hubungannya dengan ceritamu tentang julukan-julukan dari Petapa Tanpa Nama itu?,” tanya Bagus kembali ingin tahu penjelasan dari Jaka.


“Begini Mas salah satu julukan yang melekat pada Petapa Tanpa Nama yang paling hebat dan menggetarkan jagat adalah Sang Dewa dimana matanya bisa menghancurkan satu kota dalam sekejap dan senjatanya yakni kapak naga api 212 yang dimiliki apabila setan terkena sekali tebas saja langsung jadi abu sehebat dan sekuat apa pun setan itu,” kembali Jaka menerangkan.


“Nah ini yang susah di bawahnya ada keterangan begini bahwa sang senjata sakti kapak naga api 212 milik mendiang Wiro Sableng yang di berikan oleh guru Sinto Gendeng. Sekarang ada di tangan wanita tiga jaman yang jua abadi tak bisa mati dan tetap awet muda sampai akhir zaman. Masalahnya wanita ini dimana tak ada keterangan lagi bertapakah atau diantara kitakah tak ada yang tahu,” ucap Jaka menjelaskan.


“Waduh ah biarlah jadi rahasia dahulu mungkin suatu saat nanti ada kejelasan kelanjutannya pasti ada yang dapat mengungkapkannya. Yang jelas dalam keterangan manuskrip itu kita bisa mengambil kesimpulan kelegaan bahwa ada masa damai dimana kita bisa mempersiapkan segala sesuatunya sebelum perang yang di isyaratkan oleh bangsa hitam dari kedatangan si Hendrik Wijaya itu tiba kita bisa mempersiapkan segala sesuatunya dengan waktu jeda sepanjang itu,” ucap Bagus.


“Benar Mas kita patut bersyukur memiliki regenerasi yang sangat hebat alami tanpa kita tempa. Kita hanya perlu menempa pribadi dan sifat dari regenerasi ini Gusti Allah sudahlah memberikan kita anugerah yang sangat besar ya Mas,” kata Jaka berucap syukur.


“Benar Dek lihatlah kelucuan anakmu yang selalu kangen pada Tantenya. Eh sebentar kalau anakku sehebat itu apa kabar anak adik kita Dava. Kan bulan depan Sari sudah jadwalnya melahirkan sama dengan Mbakmu Vivi iyakan?,” tanya Bagus pada Jaka sambil bergaya berpikir menempelkan punggungnya di satu sisi pintu sedangkan satu sisi lainnya ada Jaka yang tengah berdiri ikut berpikir.


“Ia benar ya Mas kok tidak terpikir olehku bagaimana dengan anak Dava ya tadi sih sempat aku bertanya saat kita sama-sama berembuk tadi. Katanya anaknya sudah di pastikan laki-laki. Tetapi kisahnya bagaimana aku pun tak tahu nanti dimanuskrip kuno jua hanya sampai kabar dari anakmu Dewa yang bakal lahir,” jelas Jaka terpikirkan satu keponakan yang bakal lahir jua anak dari Dava.

__ADS_1


“Begitu ya, ya semoga nanti kelahiran anak dari Dava dan Sari bisa mengimbangi dan jadi tandem emas seperti ayah-ayahnya dahulu,” doa Bagus terucap dari bibirnya yang mulai tua namun wajahnya seakan masih seperti usia kepala dua padahal sudah 35 tahun iya terlahir.


“Benar itu Mas semoga saja, Eh iya anak angkatmu Halilintar tidur dimana rupanya?,” tanya Jaka menanyakan tentang Halilintar.


“Di kamar tengah Dek dekat Mushola lagian ada Senja yang menunggunya aku kura Senja juga gadis yang baik jadi aku tak khawatir terjadi yang tak diinginkan pada mereka berdua lagian Bik Amanah juga aku suruh sebentar-sebentar untuk menengok ke kamar Halilintar barang kali mereka membutuhkan sesuatu,” terang Bagus.


“Baiklah Mas aku pulang dahulu kasihan Putri tidur sendirian di rumah,” ujar Jaka hendak berpamit pulang.


“Lah itu Wahyu bagaimana apa biar menginap disini saja semalam biar besok aku antar pulang,” kata Bagus.


“Yah begitu saja Mas tak tega aku membangunkannya sedari tadi pagi merengek dia ingin ketemu Kak Vivi kangen tantenya katanya, sekalian besok kalau antar Wahyu kita ke tempat Dava sebentar ya Mas kita kan sudah lama tak ketempatannya,” pinta Jaka sambil menepuk pundak Bagus.


“Yah Baiklah kalau begitu,” timpal Bagus.


“Baiklah aku pamit dahulu pulang, oh ya motor aku taruh sini saja ya kelamaan kalau pulang naik motor mending menghilang langsung sampai kamar,” ucap Jaka.


“Halah bilang saja kamu mau langsung tancap gas sama Putri. Itu kan tujuanmu meninggalkan Wahyu di sini. Halah akalmu Dek, Dek bisa saja,” celetuk Bagus menggoda Jaka.


“Hei kan kasihan Wahyu kalau tidak punya adik ia kan, haha,” ucap Jaka tertawa namun segera ia bungkam sendiri mulutnya agar tak membangunkan Vivi dan Wahyu yang tengah pulas tertidur.


“Halah ya sudah sana pulang nanti Putri menunggu lama lagi,” ucap Bagus.


“Siap Bos laksanakan aku pulang Mas Assalamualaikum,” ucap Jaka berjalan ke arah ruang tamu jaka dan tiba-tiba perlahan lenyap menghilang.

__ADS_1


“Waalaikumsalam, halah bilang saja mau enak-enak sama Putri dan tidak di ganggu Wahyu. Jaka-Jaka akalmu itu loh dari dulu ada saja. Loh tapi aku kan jadi yang enggak bisa mesra-mesraan ini sama Vivi kalau Wahyu menginap disini haduh Jaka kamu itu olah tidur saja, tidur,” gerutu Bagus sambil menutup pintu kamarnya ikut berbaring tidur di samping Wahyu.


__ADS_2