T O H

T O H
Sultan Pemilik Siluman


__ADS_3

Sultan tengah berlari kencang di tengah malam. Iya meloncati beberapa atab rumah berhenti sejenak memandangi sekitar untuk mengecek keadaan.


Lalu melompat lagi, berlari lagi diatas genting-genting rumah warga diikuti beberapa anak buahnya dari belakang yang ikut melompat dan berlari.


Di atas langit kali ini menampakkan keindahan dengan lukisan rembulan merah yang begitu indah seakan menyinari dengan cahayanya di setiap sudut desa. Membuat mimpi di setiap lelap para warga di dalam rumah-rumah mereka menjadi seperti hidup bukanlah sebuah mimpi sehingga mereka malas untuk terbangun.


“Nampaknya keadaan sedang sepi-sepinya ini kesempatan bagi kita,” ucap Sultan berhenti berlari hinggap di atas atab salah satu rumah warga.


“Benar teman sudah banyak dari pihak kita yang terbunuh. Dari manusia maupun siluman yang kita kirim,” kata salah satu anak buahnya.


“Benar itu Kak Sultan terakhir kita menyuruh salah satu peliharaan kita yakni panglima siluman babi untuk menghancurkan area desa Mbadas selatan itu juga dikalahkan,” ucap anak buah Sultan yang lain.


“Kita yang salah perhitungan aku kira dengan mengirim salah satu binatang yang kita pelihara untuk menyerang di luar kota Jombang para T O H itu tidak akan ikut campur nyatanya malah mereka menghancurkan semua rencana kita,” ucap Sultan nampak begitu kesal.


“Teman kau kan Si Sultan Panglima terkuat dari golongan hitam memiliki segudang hewan peliharaan yang berwujud siluman. Bahkan Panglima babi itu bukan satu-satunya yang terkuat ada yang lebih kuat dan lebih ganas darinya. Kenapa kau tak melepaskannya salah satu dari mereka kembali?,” ucap salah satu anak buahnya.


“Sebenarnya aku ingin sekali berhadapan langsung dengan Dava. Aku memiliki dendam kesumat kepada keluarganya karena Ayahnya Dava si haji Kardi peyot itu lima tahun yang lalu membunuh Ayahku. Ingin sekali aku membunuh Dava agar Si tua Kardi merasakan apa yang kurasakan,” ucap Sultan begitu marah dan kesal.

__ADS_1


“Maaf Kak tapi menurut ku kita tidak bisa menantang secara langsung Dava begitu saja secara terang-terangan itu tidak mungkin kita lakukan. Sebab Dava selalu bertandem duet dengan kakaknya Jaka saat beraksi. Kak Sultan tau kan betapa kehebatan Jaka apa lagi kalau sampai orang penting kedua Gus Bagus sampai keluar membantu Dava habislah kita,” ucap anak buah Sultan satunya lagi.


“Ya benar apa kata kalian, lebih baik kita buat strategi matang untuk menjebaknya keluar sendiri tanpa diikuti kakaknya Si Jaka itu, apa kalian ada ide atau sebuah cara agar Dava keluar dari persembunyiannya agar aku bisa secepatnya menghabisi Dava agar arwah Ayahku tenang di alam baka,” ujar Sultan.


“Aku ada ide kak, bagaimana kalau kita berpencar menjadi dua bagian. Satu bagian berada di sini dan satu bagian di ujung yang lain lalu kita lepaskan binatang siluman di kedua tempat itu agar Jaka dan Dava terpencar konsentrasinya sehingga Dava sendirian melawan siluman yang kita lepaskan lalu kita bantai bersama-sama Si Dava,” ucap anak buah Sultan yang berada di samping kanannya.


“Ide brilian, lalu bagaimana dengan Jaka dia terkenal sangat cepat dalam bertarung siluman sekuat apapun pasti cepat iya musnahkan,” ujar Sultan.


“Ya kita lepaskan Saja setengah dari siluman peliharaan kita agar Jaka kualahan dan menghambatnya jadi kita bisa leluasa membunuh Dava jangan lupa kita penggal kepala Dava sebagai bukti untuk kita serahkan pada tetua pertama agar kelompok kita naik pangkat,” ujar anak buah Sultan yang berada di sisi kirinya.


“Benar-benar tidak percuma aku memilih kalian untuk mendampingiku. Sekarang kalian bagi dua kelompok kita berpencar dan bawa mantra segel ini untuk melepaskan separuh makhluk siluman yang ada di dalamnya cepat,” ujar Sultan memberikan kertas mantra penyegel kepada salah satu anak buahnya.


Dengan gerak tangannya Sultan mulai merapal sebuah ajian penyegel siluman nampak ia memejamkan mata sejenak lalu beberapa saat menghentakkan telapak tangan memukul tanah keluarlah sebuah gambaran diagram setan melingkar dengan Sultan berada di tengah sebagai pusatnya.


Sebuah lingkaran setan dengan bentuk bintang di dalamnya dan setiap ujung segi bintang terdapat lilin dan dupa yang menyala. Seakan lingkaran itu hidup bagai besi tebal bergerak memutar melawan arah jarum jam membuat dinding teramat besar.


Sebuah suara berat bergema sangat menyeramkan dari belakang Sultan, “Ada apa tuanku kenapa tuan Sultan memanggilku?,” ucap sebuah sosok jangkung berwarna merah darah memiliki dua tanduk di kanan dan kiri dan membawa tongkat trisula berukiran tengkorak dari tubuhnya menyala api layaknya magma gunung berapi yang hendak meletus.

__ADS_1


“Panglima jin iprit kau yang terkuat di antara yang terkuat bantu aku membuat sihir sirep untuk membuat seluruh warga desa ini seakan masuk kedalam mimpi dan tidak akan terbangun beberapa hari kemudian,” ucap Sultan memerintahkan panglima jin iprit.


“Baik tuanku,” kata panglima jin iprit lalu dengan sekali bentakan ekornya iya melesat terbang tinggi ke atas langit pas ditengah-tengah Dukuhan Banjar Kerep


Dari tongkat trisula yang ia genggam dengan tangan kiri keluarlah ratusan jin iprit berwujud sama seperti panglimanya mereka menyebar ke setiap rumah warga memasuki alam mimpi setiap orang dengan cara masuk dari beberapa lubang dari tubuh manusia. Untuk menciptakan mimpi buruk yang bisa berakibat fatal bagi orang yang tengah di rasuki mimpinya bahkan bisa saja berakibat kematian.


Di sisi yang lain dari Dukuhan Banjar Kerep beberapa anak buah Sultan telah melepaskan beberapa bentuk siluman berwujud berbagai macam binatang. Yang turun ke bawah berkeliaran di antara rumah-rumah warga desa.


Wajah-wajah mereka yang begitu mengerikan membuat beberapa hewan ternak bersuara gaduh. Namun itu tak membuat para warga desa terbangun, karena mereka tengah di bawa kealam mimpi oleh jin iprit yang berhasil masuk kedalam otak-otak mereka.


Hewan ternak warga yang tengah membuat gaduh tak luput dari sasaran para siluman layaknya sebuah pesta makan malam. Para Siluman dengan lahap memakan hewan ternak warga di beberapa tempat. Sapi, kambing, Anjing bahkan ayam tak luput mereka santap dengan rakus.


“Biarkan para siluman itu membuat gaduh desa ini agar memancing Dava dan Jaka keluar,” ucap Sultan yang tengah duduk bersantai di atas atab salah satu rumah warga.


“Aku minta salah satu dari kalian membuat sinyal pada Dava dan Jaka agar mereka cepat keluar,” pinta Sultan pada anak buahnya.


“Bagaimana caranya teman?,” ucap salah satu anak buah Sultan.

__ADS_1


“Cukup dengan membuat sekelebatan bayangan yang mengitari rumah Haji Kardi agar Dava dan Jaka mengira bahwa ada musuh yang datang lalu membuat mereka terpancing keluar,” ucap Sultan.


“Baik dimengerti teman laksanakan,” ucap salah satu anak buah Sultan bergegas pergi meloncat dengan cepat berlari kearah rumah Haji Kardi.


__ADS_2