
Dalam sepetak kamar 2 x 3 meter dalam gubuk sederhana yang bersatu dengan warung kopi sederhana dibuat seadanya dari teras yang di sulap sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah warung kopi. Di tepian kali dekat gang buntu yang menuju area persawahan itu jua dibangun oleh swadaya masyarakat desa Mojokembang.
Sebuah gubuk sederhana separuh berdinding bambu separuh batu bata itu milik dari Nyi Nurma Yanti seorang janda muda sebatang kara. Setahun yang lalu sang suami meninggal karena hanyut di kali yang tak jauh dari area rumahnya saat mencari ikan.
Orang tua Nyi Nurma jua sudah meninggal lama sekali karena usia yang sudah sangat tua sedangkan saudara-saudaranya entah ke mana. Walaupun di desa Mojokembang banyak keluarga dari sang suami namun sangat acuh pada Nyi Nurma sebab status janda meresahkan bagi para suami di desa.
Maklumlah Nyi Nurma janda muda yang sangat cantik jelita dan bertubuh sintal pula. Tak jarang dengan wajah ayu dan kulit mulus serta lesung pipit yang ditimbulkan saat tersenyum dapat memikat hati pria mana saja yang memandangnya. Apa lagi sekarang Nyi Nurma membuka usaha baru yakni sebuah warung kopi yang tak pernah sepi pembeli. Karena memang warung kopi Nyi Nurma sangat strategis pas di depan jalan yang biasa di lewati orang-orang desa bila hendak pergi ataupun pulang dari ladang.
Dalam sepetak kamar 2 x 2 meter pas di belakang warung kopi miliknya yang telah tutup karena sudah larut malam Nyi Nurma tampak terlelap dengan posisi terbaring di atas ranjang sederhana terbuat dari bambu dan kayu. Beralaskan tikar serta bantal guling pemberian sang suami dahulu berselimutkan sarung tipis jua bekas sarung sang suami dahulu.
Tampak foto pernikahannya dengan mendiang suami Hasan Jaelani masih terpampang kokoh di atas dinding papan di atas kepalanya. Malam yang sunyi di pojok desa tempat gubuk Nyi Nurma berdiri agak reot. Petang sudah biasa kalau malam sebab Nyi Nurma tak mampu memasang instalasi listrik sendiri dan hanya mampu menyalur dari warga setempat itu pun jauh. Sehingga kalau malam pasti di matikan oleh si pemilik instalasi.
Alhasil Nyi Nurma mau tak mau harus menyalakan damar oblek atau sejenis lampu dinding jaman dahulu yang apabila menyalakan harus mengisi dahulu dengan minyak tanah atau bensin sebagai bahan bakarnya.
__ADS_1
Dalam lelahnya Nyi Nurma terlelap dengan tulus walau jelas di dalam gambaran guratan wajahnya terlukis lelah sangat, karena setiap hari harus menghadapi cibiran pedas para ibu-ibu kampung yang cemburu buta karena sang suami yang sering mampir ke warung Nyi Nurma.
Padahal dalam hati Nyi Nurma masih selalu ada cinta untuk mendiang sang suami Mas Hasan Jaelani yang sungguh sampai mati tak akan berpaling kelain hati. Tetapi memang dasar para Bapak-bapak bermata jalang yang selalu saja mampir setelah pergi dari ladang atau pun sekedar main untuk menggoda Nyi Nurma selalu datang ke warung untuk sekedar menyeruput segelas kopi hitam walau terus di omeli sang bini.
Di dalam tidurnya Nyi Nurma tampak gelisah terlihat keringat mulai mengucur di kening bola mata yang terpejam di balik balutan lelah kelopak tergerak ke sana-kemari seakan tengah mengalami sebuah mimpi buruk.
Sementara langit diatas rumah mulai menampakkan suram dengan arak-arakan mendung kelabu selimuti pojok desa Mojokembang. Dari arah jendela kamar Nyi Nurma sebuah asap putih mengumpal dan menggulung-gulung seakan merambat melalui dinding gubuk Nyi Nurma. Lurus hingga pas di jendela seakan menerobos masuk perlahan selayaknya hidup. Terus menerobos masuk menuju ke dalam kamar dan jatuh di samping Nyi Nurma terbaring.
Asap yang semula mengepul kini perlahan menumpuk berubah menjadi sesosok wanita sebaya seusia 50 tahun namun masih tampak ayu dan berbadan rapi berperawakan tinggi. Sosok tersebut tampak ayu dengan balutan batik kemban sarimpit layaknya pengantin Jawa kuno bersanggul dan bertusuk konde emas.
Betapa terperangah Nyi Nurma saat terbangun ketika melihat sang nenek buyut yang telah begitu lama almarhum kembali datang menemuinya. Nyi Nurma mencoba menyadarkan dirinya sendiri sekiranya iya masih bermimpi belum terbangun begitu dalam pikirannya.
“Au, aduh,” teriak Nyi Nurma mencubit lengan tangannya sendiri. Ternyata bukanlah mimpi ujarnya dalam hati.
__ADS_1
Dengan agak menjaga jarak karena takut dan agak syok Nyi Nurma mulai memandang sosok cantik yang iya kenal sebagai Nenek buyutnya itu seraya berkata,” Nenek Buyut bukannya Nenek sudah...?,” ucap Nyi Nurma tak berani melanjutkan takut sosok yang di depanya marah dan berubah menjadi sosok lain yang menyeramkan jikalau bukan nyata atau hanya setan yang menggodanya.
Sosok tersebut hanya melempar senyum pada Nyi Nurma lalu berkata dengan penuh cinta dan tutur kata yang halus lemah-lembut seperti saat iya masih hidup ketika bertemu Nyi Nurma cucu yang paling ia cintai,” Ndok Nenek memang sudah tiada, tetapi ketika Nenek tahu hidupmu begitu memprihatinkan nenek kembali turun ke bumi menjengukmu.”
“Apa benar itu Nek, Lalu apa yang Nenek lakukan dengan mengunjungiku?,” tanya Nurma masih dengan menjaga jarak belum seratus persen percaya kalau yang berada di depannya adalah Sang Nenek Buyut yang puluhan tahun sudah meninggal.
“Ndok Cucu ku waktuku tak banyak jadi dengarkanlah ini. Nenek hendak menurunkan sebuah ilmu penakluk kaum Adam. Agar kau dapat membalaskan dendam sakit hatimu selama ini pada warga desa yang selalu mencemoohmu. Dengarkan ya Ndok jadi ilmu ini adalah sebuah ilmu pelet Kamasutra lebih ampun dari pelet jaran goyang ataupun semar mesem,” kata Si Nenek Buyut.
“Apa benar itu Nek? Aku memang sudah lelah hati dengan ocehan para Ibu-ibu warga desa sini yang selalu mencemoohku Nek,” kata Nyi Nurma mulai berani mendekat pada sosok yang ia sebut Nenek Buyut yang berada di depannya.
Lalu sosok tersebut membisikkan kata-kata rapalan ajian pada Nyi Nurma dengan perlahan. Sambil berkata, “Tetapi efek dari ilmu pelet ini Ndok kalau sehari saja kau tidak berhubungan layaknya suami istri dengan lawan jenis kau akan terlihat bagai bunga yang tak pernah disiram air alias layu,” kata Si Nenek Buyut.
“Nenek...!?,” teriakan Nyi Nurma terbangun karena sebuah mimpi dalam tidurnya tentang sebuah pertemuan antara iya dan Sang Nenek Buyut membuatnya terjaga di tengah malam.
__ADS_1
“Loh yang tadi benar mimpi ya, tadi dalam mimpi aku cubit lenganku kok sakit ya,” gerutu Nyi Nurma tampak kebingungan dalam posisi terduduk dan masih belum beranjak di atas ranjang reotnya.
“Iya benar mimpi tapi seperti nyata ya, eh apa benar apa kata Si Nenek Buyut tentang Pelet Kamasutra dalam mimpiku tadi ya,” gerutu Nyi Nurma masih tampak kebingungan.