
Di atas awan gelap pas di atas desa Mojokembang, langit masih begitu gelap dengan badai petir tiada hentinya menyambar ke bawah langit. Hujan deras serta angin rebut terus mengguyur dan menderu kencang.
Saat di bawah langit kota Jombang terjadi pertempuran sengit di mana-mana pertempuran akhir kota. Dimana nasib kota Jombang di pertaruhkan dalam pertempuran atau perang kali ini. Di atas langit jua tiada sepi dari perang besar kali ini, di atas awan tampak beberapa kali benturan cahaya kilat memercikkan api dan sesekali menciptakan ledakan dahsyat sehingga percikan dari benturan tersebut sampai terlihat hingga ke bawah.
Benturan antara dua kekuatan besar yang sedang bertarung yakni antara Wahyu dan Kebo Marcuet begitu sengitnya. Kali ini keadaan tengah berimbang Wahyu yang terus melancarkan pukulan dan ajian kepada Kebo Marcuet dapat di patahkan mentah-mentah olehnya. Begitu pula sebaliknya Kebo Marcuet walau beberapa kali melayangkan serangan pada Wahyu jua dapat di patahkan begitu saja oleh Wahyu.
Petapa Effendi yang tak mau ikut campur perseteruan abadi antara rival lama antara pesaing abadi, antara Wahyu dan Kebo Marcuet tetap diam di tepi area pertempuran tersebut. Tiba-tiba datanglah seorang kiai dari puncak pacet tengah berlari kencang hendak melontarkan serangan pada Kebo Marcuet dialah Haji Rusdi tetua paling sakti kota Mojokerto.
“Kebo Marcuet....!!,” teriak Haji Rusdi seketika melompat ke arah area pertempuran antara Wahyu dan Kebo Marcuet.
Namun di halangi oleh Petapa Effendik yang dengan cepat menangkap tubuh Haji Rusdi saat melompat. Betapa tercengang Haji Rusdi atas tindakan sang petapa, karena telah menghentikan serangannya.
“Kenapa Petapa?, bukankah kau dari golongan kita, bukankah kalau pertarungan Wahyu dan Kebo Marcuet tidak di akhiri semakin hancurlah kota Jombang karena tiada yang dapat meredam amukan pasukan kegelapan Adi Yaksa,” ucap Haji Rusdi terheran-heran.
“Dari pihak kita sudah banyak jatuh korban loh petapa Kau juga pasti sudah melihatnya bahkan aku mendapati saudara sepeguruanku Haji Kasturi yang sudah menjadi tulang belulang di dalam sumur upas. Dia saudaraku petapa dia gugur demi kota ini. Kenapa kau menghalangiku saat ini untuk membantu muridmu yang hampir kehabisan tenaga itu,” teriak Haji Rusdi penuh emosi dan tak percaya apa yang dilakukan petapa Effendi padanya.
“Tenanglah Dek Rusdi aku tahu kita semuanya sedang kehilangan dan sedang mengalami cobaan yang sangat berat. Tapi berilah sedikit kesempatan pada muridku Wahyu untuk menyadarkan Si Kebo Marcuet itu,” jawab Petapa Effendi menegaskan maksudnya menghadang Haji Rusdi.
Duar...,
__ADS_1
Sekali lagi benturan hebat antara dua kekuatan besar dari Wahyu dan Kebo Marcuet tak terelakkan. Kali ini mereka dalam posisi sama-sama menahan serangan.
“Woi Mas Kebo Marcuet apa kau tak ingat aku. Aku adalah Satria dahulu kita sama-sama pernah nyantri pada Mbah Yai Hasyim. Apa kau tak ingat saat kau masih menjadi manusia dan akibat satu kesalahan kau dikutuk bukankah itu tujuanmu bertapa untuk memohon maaf atas semua kesalahanmu pada Gusti Allah agar kau dapat moksa dengan tenang,” ucap Wahyu yang seketika perlahan mengubah dirinya menjadi sosok dewasa sosok awal mula yakni sang Satria Langit.
“Loh sampean Dik Satria,” sang Kebo Marcuet betapa kaget dan terperangah melihat perubahan wujud Wahyu menjadi Satria Langit sosok yang sangat berbeda dengan Wahyu yang berwujud balita ajaib menjadi Satria Langit kesatria tampan nan gagak rupawan begitu dewasa reinkarnasi dari masa lalu.
Kebo Marcuet melepaskan pukulannya lalu duduk bersila begitu pun Satria Langit melakukan hal yang sama duduk bersila berhadapan dengan Kebo Marcuet.
“Aku kangen sampean Dek Satria kenapa tidak lagi menjenguk kakangmu ini?, kenapa pula kita dipertemukan di waktu dan tempat yang salah seperti ini sehingga kita saling bermusuhan,” ucap Kebo Marcuet.
“Semua ini takdir Kang, takdir yang kuasa. Sebuah jalan yang memang harus kita tempuh, lihatlah ulah Adikmu Adi Yasa di bawah sana dengan seenaknya menggagahi ibuku dan membunuh kakekku,” kata Satria Langit sembari menunjuk ke bawah tempat dimana Jaka tengah berjuang di antara hidup dan mati.
“Kakang Kebo Marcuet pasukanmu sudah terlanjur di bangkitkan sebuah pasukan dengan ribuan jumlahnya yang tak bisa hancur dengan kekuatan apa pun. Sekarang bantulah kami bagaimana cara untuk menidurkan kembali pasukan tersebut?,” tanya Satria Langit penuh harapan.
“Pasukan kegelapan adalah sebuah pasukan bentukan dari lahar gunung Tunggorono sebuah gunung tertuwa di kotamu di sana ada sebuah petapa lebih tinggi lagi dari kesaktian gurumu petapa Effendi dialah sang petapa yang tak mau disebutkan namanya. Guru dari Haji Kasturi dan keempat tetua kota di sekitar Jombang. Hanya beliau yang dapat menyegel kembali bala tentara kegelapan,” tutur Kebo Marcuet menjelaskan.
“Baiklah kalau begitu sekarang rencana Akang bagaimana?,” tanya Satria Langit memastikan.
“Aku hendak melanjutkan pertapaanku yang tertunda akibat ulah Adi Yaksa,” ucap Kebo Marcuet seketika berdiri dan menghilang lenyap.
__ADS_1
“Alhamdulillah ada titik terang,” celetuk Haji Rusdi menatap petapa Effendi yang hanya tersenyum kecil bangga atas keberhasilan sang murid Satria Langit.
“Baiklah guru mari kita menuju bukit Tunggorono menemui petapa tanpa nama yang disebutkan Kakang Kebo Marcuet tadi,” teriak Satria Langit seraya berdiri menggerakkan pinggangnya ke kanan dan ke kiri tanda betapa lelahnya setelah bertarung dengan kebo Marcuet.
“Eh Haji Rusdi juga datang berarti Pemuda Majapahit sedang di dalam kota Jombang membantu T O H dong?,” celetuk Satria Langit kaget melihat Haji Rusdi yang tengah duduk di samping petapa Effendik.
“Ya Benar kelompok kami Pemuda Majapahit ada juga kelompok Ormas Mataraman, kelompok Laskar L.A dan Wong Kadiri juga hadir membantu,” jelas Haji Rusdi.
“Syukurlah banyak yang datang mungkin perang ini akan cepat berakhir setelah kita menyegel tentara kegelapan yang menyusahkan itu guru, kalau begitu ayo lekas kita pergi,” ucap Satria Langit yang tak sabar untuk segera menghentikan perang.
“Mau ke mana?, tak usah ke mana-manalah di sini saja kita Wahyu,” ucap petapa Effendik melihat Satria Langit yang berubah kembali menjadi sosok balita ajaib Wahyu karena pundaknya di pegang seseorang.
Sosok tersebut adalah sosok petapa tanpa nama yang tak di duga datang menemui mereka. Sebuah sosok yang sangat tua namun bercahaya wajahnya dan begitu segar dipandang berjenggot putih dan bersorban putih memegang tongkat putih sambil terus tersenyum.
“Loh Assalamualaikum guru, kenapa guru ada di sini. Jadi petapa tanpa nama yang disebutkan Kebo Marcuet adalah guru?,” ucap Petapa Effendi begitu kaget.
Petapa tanpa nama berjalan perlahan menuju Petapa Effendi dan Haji Rusdi yang terbengong-bengong dengan kedatangan petapa tanpa nama. Meninggalkan Wahyu yang seakan terduduk lemas tak berdaya setelah pundaknya di sentuh petapa tanpa nama.
“Waalaikumsalam warahmatulahi wabarakatuh, apa kabar Effendik murid kesayanganku?,” ucap Petapa tanpa nama.
__ADS_1