T O H

T O H
Tukang Gosip


__ADS_3

Pagi buta dan sang saka mentari dari fajar timur belum jua menguap menebarkan pendar cahaya terang. Rembulan masih gagah menantang dunia bahwa serasa ingin iya nyatakan aku sang raja malam.


Dedaunan perdu dan pepohonan akasia yang membujur dari selatan ke utara masih basah oleh embun sesekali masih menetes jatuh basahi aspal di bawahnya. Suasana masih buta sayup-sayup petang dan terang masih berebut untuk menjadi raja.


Jalanan utama desa Mojokembang masih lengang hanya sesekali ada pengendara motor lewat dengan kedua keranjang di sisi kanan dan kiri penuh lauk dan sayur mayur berkeliling desa menjajakan dagangannya sambil terus berteriak, “Sayur...!?,” agar para ibu-ibu muda dan tua lekas terbangun atau lekas keluar dari pintu-pintu rumah untuk membeli bahan-bahan masakan yang ia jajakan.


Rumah Haji Wachid masih tampak sepi, masih jelas pintu depan terkunci rapat. Di kamar Jaka masih terlelap nyenyak seusai subuh berjamaah dengan Putri Jaka kembali tertidur lagi memeluk Beby Wahyu yang tampak mengenyut dot kecil di mulutnya dengan mata terpejam. Iya hanyut dalam pelukan sang ayah. Sedangkan Putri sang ibu sedang menemani Umi Epi berbelanja tak jauh dari rumahnya.


Haji Wachid masih terdengar melantunkan lantunan ayat Al Quran di satu tempat sekat di ruang tengah di antara kamar Jaka dan kamar Vivi. Sedangkan Kak Vivi masih bobok malas dengan bantal dan guling rupanya semalam iya bergadang, karena tengah telepon-teleponan dengan sang pujaan hati Ustaz Bagus.


Tak jauh dari rumah Haji Wachid yang berlantai dua nan megah menghadap barat dan berpagar besi berukiran naga. Tepatnya 50 meter dari rumah Pak Haji Wachid para ibu tengah asyik berkerumun mengelilingi mamang-mamang sayur. Dan Putri serta Umi Epi tengah berada di sana membeli sayur-mayur dan lauk untuk memasak hari ini.


“Eh Ibu-ibu, tahu enggak gosip terbaru dari kota kita tercinta ini,” ucap Ibu Susi yang selalu tahu apa saja gosip yang beredar tengah mengawali pembicaraan yang menjurus pada gosip-menggosip.


“Apaan sih Bu Susi jadi kepoh deh aku,” timpal Bu Gutri yang biasanya sebagai tandem menggosip Ibu Susi bak pasangan emas didunia pergosipan dan kabar burung tak jelas.


“Ibu-ibu jangan menggosip tidak baik loh dan dilarang oleh agama dosanya bertumpuk-tumpuk loh. Iya kalau yang dibicarakan benar adanya kalau salah bagaimana. Apa lagi kalau orang yang di gosipkan jadi sakit hati kan bahaya Bu,” sahut Putri mencoba menghentikan ocehan pasangan emas pergosipan Ibu Susi dan Ibu Gutri.


“Ah Mbak Putri ini memang menantu Ibu Hajah Epi mbok jangan di dengarkan kalau kita sedang menggosip bereskan,” ujar Ibu Susi tampak ketus.


“Sudah-sudah Ndok jangan diteruskan yang sabar istigfar,” kata Umi Epi menenangkan Putri sang menantunya sambil tersenyum dan mengelus dada putri.

__ADS_1


“Eh Bu Hajah Epi ini benar berita yang aku dengar dari sumber yang terpercaya loh sudah pasti akurat. Memang situ yang kagak pernah bergaul,” kata Bu Susi mengejek Bu Hajah Epi.


“Astagfirullah, mang jadi semuanya berapa?,” tanya Umi Epi pada mamang sayur yang sedari tadi hanya menyimak perdebatan sengit antara kubu Ibu Susi dan Ibu Gutri melawan kubu Umi Epi dan Putri.


“Semua jadi 55 ribu Umi sekalian sama belanjaan Mbak Putri di jadikan Satu ya Umi?,” jawab Mamang Sayur.


Setelah memberikan sejumlah uang bernilai 55 ribu Umi Epi mengajak Putri lekas pergi dari tempat mamang sayur dari pada terus berhibah tak jelas.


“Ayo Nak Putri kita pulang?,” ajak Umi Epi dan Putri menurut dengan mengangguk kepala lalu mengikuti jalan Umi Epi di sampingnya beriringan.


“Ibu Susi mbok ya jangan begitu kalau ibu Susi begitu terus pelanggan saya kabur semua nanti ah ibu Susi ini kacau,” kata Mamang Sayur memarahi Ibu Susi.


“Halah Mamang ini Rejeki sudah ada yang mengatur iya toh,” timpal Ibu Susi cetus.


“Gosipnya di desa Banjar Kerep desa tempat adik paling muda Abah Wachid lurahnya muja setan Bu Gutri. Dan tahu enggak kabarnya anaknya sendiri yang masih gadis di jadikan tumbal,” ucap Bu Susi sangat antusias menyebarkan kabar tentang kejadian di desa Banjar Kerep.


“Loh Masak Bu Susi kok seram begitu ya,” timpal Mamang Sayur ikut nimbrung menggosip.


“He...!, Mamang ini tadi menasihati kita. Sekarang saja ikut nimbrung,” kata Ibu Gutri.


“Lah saya juga penasaran kabar ini, karena banyak orang yang telah membicarakannya loh,” ucap Mamang Sayur.

__ADS_1


“Tuh benarkan bukan gosip,” celetuk Ibu Susi.


“Terus-terus bagaimana Bu kelanjutannya?,” tanya Bu Gutri semakin penasaran.


“Katanya saat mau digerebek warga Pak Lurahnya menghilang menembus tanah. Dan sekarang sudah di putuskan Haji Kardi sebagai Lurah baru di sana,” kata Ibu Susi menjelaskan kabar yang iya dengar namun masih setengah-setengah itu.


“Oh begitu,” timpal ibu-ibu yang lain yang sedari tadi hanya menyimak saja.


Di pelataran rumah Haji Wachid Umi Epi dan Putri baru datang dari belanja berjalan beriringan sambil membawa dua kantung sayur-mayur dan lauk-pauk. Yang dibawa satu ditangan Umi Epi dan satu keresek lagi dibawa Putri.


“Assalamualaikum,” ucap salam Umi Epi dan Putri saat melihat Jaka, Abah Wachid dan satu tamu pagi ini yakni Haji Kasturi tengah duduk bersama di teras rumah.


“Waalaikumsalam,” jawab serempak tiga lelaki yang tengah duduk bersantai bercengkerama sambil berdiskusi hangat.


“Eh ada tamu Mas Kas, tumben kok pagi-pagi sekali. Biasanya malam kalau mau berkunjung melihat cucumu Wahyu,” ucap Umi Epi yang menganggap Haji Kasturi sudah layaknya kakek dari Wahyu sendiri.


“Ndok Putri tolong bawa belanjaan ke dapur ya dan suruh Kakakmu Vivi membantumu masak jangan lupa bikin kopi tiga buat Abah, suamimu dan Abah Kasturi,” suruh Umi Epi pada Putri seraya mengulurkan sekantung keresek belanjaan yang iya bawa pada Putri.


“Enggeh Umi,” Putri menyanggupi lalu membawa dua kantung keresek belanjaan ke dapur.


Sedangkan Umi Epi ikut duduk menemui Haji Kasturi di teras, “Memangnya ada berita apa Mas Kas sampai-sampai sampean pagi benar datang kemari. Aku kira bukan masalah menengok cucumu Wahyu kan, pasti ada hal yang lain yang membuat Mas Kas kemari pagi benar,” kata Umi Epi bertanya pada Haji Kasturi yang tengah menyulut rokoknya.

__ADS_1


“Benar Dek Epi ini tentang yang dikatakan petapa Effendik dua bulan yang lalu saat acara pertunangan Gus Bagus dan anakmu Ndok Vivi. Aku melihat semua kekacauan yang ada di desa-desa kota Jombang ini di belakangnya ada sebuah kerajaan siluman yang dipimpin oleh Adi Yaksa. Jadi Jaka sekarang aku tugaskan kau seminggu lagi untuk mengumpulkan semua anggota kita adakan rapat akbar kembali,” ucap Haji Kasturi.


“Siap Guru,” celetuk Jaka menyanggupi.


__ADS_2