
“Sttz, diam dulu Pak,” ucap Dava sambil isyaratkan jari telunjuk ditempelkan bibir tanda jangan bersuara dulu.
Seketika dengan tanpa komando para warga serempak terdiam sambil terus memantau keadaan di depan rumah Pak Lurah.
“Panglima ini jasad anakku yang aku janjikan pada raja Adi Yaksa,” ucap Lurah Dongkol menyerahkan jasad Dewi tanpa kepala pada panglima siluman berbentuk separuh manusia namun berkepala banteng.
Dengan nafas yang memburu dan begitu bau anyir darah, karena terlalu banyak makan daging manusia panglima siluman berkepala banteng menerima jasad Dewi.
Lalu berjalan perlahan menuju keranda yang dipikul empat sosok siluman itu pun jua tanpa kepala. Dengan darah yang meluber ke mana-mana di setiap kulit lehernya. Mungkin mereka adalah korban tumbal yang dipersembahkan oleh pemuja seperti Lurah Dongkol.
“Innalilahi wainnaillaihi raziun, Dewi malang nasibmu sahabatku. Andai Sari tahu pasti dia begitu syok dan sedih,” gerutu Dava masih dalam posisi jongkok bersama para warga.
Sekilas puluhan siluman di dalam halaman rumah Lurah Dongkol seakan ditelan bumi perlahan-perlahan mereka tenggelam ke dalam tanah bersama jasad Dewi yang di taruh di dalam keranda.
“Hahaha, dengan ini aku akan semakin kaya lihat saja warga setelah anakku sendiri yang kujadikan tumbal siluman lembah neraka. Satu-persatu dari kalian para warga selanjutnya akan aku serahkan sebagai tumbal pesugihan ku. Aku kaya raya, aku konglomerat,” teriak Pak Lurah Dongkol dengan bertopang dada di bawah teras rumahnya.
“Astagfirullah, ini orang kurang ajar sekali. Lurah kita sudah bukan manusia lagi Pak Haji,” ucap salah satu warga di belakang Pak Haji Kardi yang ikut jongkok.
“Saya minta bagi para lelaki saja tolong ikuti aba-aba ku ya dalam hitungan ke tiga kita dobrak pagar ini lalu kita masuk dengan paksa dan berbarengan,” pinta Haji Kardi pada warga.
Dengan kode jari tangan Dava diacungkan ke atas dan mulai mengacungkan satu-persatu jarinya sampai hitungan tiga tanpa kode dan hanya isyarat jari tangan.
“Masuk, dobrak!” teriak Dava berlari mendobrak pagar depan rumah Pak Lurah Dongkol di ikuti beberapa warga dari belakangnya.
Brak,
__ADS_1
Gebrak,
“Hay, Lurah pemuja setan!” teriak warga yang tengah kalap dan begitu marah berbondong-bondong lari ke arah Pak Lurah Dongkol yang tengah bertolak pinggang di depan teras.
“Loh, loh, ada apa ini?” Teriak Pak Lurah Dongkol kebingungan melihat warga yang terus berdatangan seakan hendak menghakimi dan menguliti iya dengan kemarahan. Namun warga sudah kadung emosi mereka ada yang membawa galah dari bambu ada yang membawa kayu panjang ada pula yang membawa obor dan oncor.
“Pak Lurah kami sudah tahu belangmu dari tadi kami bersembunyi di balik pagar depan rumahmu dan kami sudah menyaksikan semua yang terjadi. Saat kau menumbalkan Mbak Dewi anakmu sendiri dan membuat pernyataan dengan congkak bahwa kau hendak menumbalkan kami para wargamu satu-persatu untuk tumbal pesugihanmu,” teriak salah satu warga.
“Dasar Lurah tak tahu diri kami yang menjadikanmu Lurah di sini. Kau hendak membunuh kami satu persatu untung kami mengetahuinya sebelum kami kau jadikan tumbal, Bapak-bapak hajar, habisi, bakar?" teriak salah satu warga yang lain.
Sedangkan Pak Lurah Dongkol hanya terduduk lemas tak tahu harus berbuat apa lagi menghadapi warga yang sudah terlanjur tahu apa yang sedang ia lakukan.
“Bapak-bapak tenang sabar, kita negara hukum. Negara yang memiliki undang-undang jangan main hakim sendiri perbuatan main hakim sendiri adalah perbuatan melanggar undang-undang,” ujar Haji Kardi mencoba menenangkan warga dengan maju ke depan menghadap warga membelakangi Pak Lurah yang tengah terduduk ketakutan.
“Ia bakar saja, bakar!" sahut warga-warga yang lain.
“Tenang Bapak-bapak, tunggu jangan gegabah, sabar,” kata Pak Haji Kardi namun dengan keadaan warga yang semakin khilaf dan brutal kondisi tidak bisa dibendung lagi. Warga terus bergerak maju menuju Pak Lurah Dongkol yang tengah terduduk lemas.
Seketika iya mengingat kata-kata Mbah Topo kuncen gerbang lembah neraka, bahwa apabila dirinya dalam bahaya berhubungan dengan pemujaannya pada raja Adi Yaksa. Pak Lurah Dongkol disuruh melumurkan cairan kental yang dibawakan Mbah Topo untuk melarikan diri.
Dengan cepat Pak Lurah Dongkol meraih botol kecil yang ditaruhnya di dalam saku samping celananya membukanya lalu menumpahkannya ke sekujur tubuhnya.
“Loh Pak Haji itu Pak Lurah masuk ke dalam tanah,” teriak salah satu warga.
Dava yang melihat tubuh Pak Lurah bak tenggelam ke dalam tanah bergegas berlari untuk meraihnya. Namun tubuh Pak Lurah terlanjur terhisab ke dalam tanah begitu cepat sehingga Dava pun yang terkenal pelari cepat di organisasi T O H tak dapat mencegahnya.
__ADS_1
“Ah, sial, kurang ajar, dia kabur,” bentak Dava kecewa karena tak bisa menangkap tubuh Pak Lurah yang masuk dalam tanah.
“Sabar, sabar Dava jangan pula kau terbawa emosi, istigfar le, tole,” ucap Haji Kardi menepuk-nepuk pundak Dava.
“Astagfirullah,” kata Dava sambil menyapukan telapak tangan kanan ke seluruh mukanya.
“Lalu kita harus bagaimana Pak Haji?" sahut salah satu warga.
“Kok bisa hilang ya?” gerutu warga yang lain.
“Begini Dava laporkan hal ini kepada anggota T O H yang lain pergilah ke bendungan Rejosari ke tempat gurumu Haji Kasturi katakan semua yang terjadi di sini,” perintah Haji Kardi pada Dava.
“Baik Abah laksanakan,” jawab Dava dengan cepat berlari menjauh bak angin melewati kerumunan warga.
“Loh-loh, Mas Dava bisa begitu ya cepat sekali larinya,” celetuk beberapa warga yang melihat Dava berlari cepat.
“Sudah-sudah Bapak-bapak mulai malam ini kita adakan ronda malam. Kita bagi dua sebagian ronda di sini dan sekitar rumah Pak Lurah. Takutnya ada maling yang mencoba memanfaatkan situasi sehingga mencuri barang-barang di rumah Pak Lurah atau kalau tidak kita berjaga-jaga barang kali Pak Lurah datang dan muncul lagi di sekitar sini. Sebagian kita ronda kelilingi desa takutnya para siluman itu berkeliaran di sekitar desa kita,” terang Pak Haji Kardi.
“Baik Pak Haji, itu lebih baik,” sahut Pak RT.
“Pak RT aku mohon besok pagi tolong kumpulkan warga di balai desa kita rembukan akan hal ini kita musyawarahkan sampai dapat titik temu baiknya bagaimana,” pinta Haji Kardi pada Pak RT.
“Baik Pak Haji, untuk para warga sebagian kembali ke desa ya ronda di sana mengantisipasi hal-hal yang tidak di inginkan, sebagian lagi sama saya menunggu di sini. Ronda ini berkelanjutan ya Bapak-bapak sampai keadaan kondusif kembali,” ucap Pak RT.
“Siap Pak RT,” sahut warga mulai membagi dua kubu. Satu kubu pergi menuju desa dan satu kubu tetap di pelataran rumah Pak Lurah.
__ADS_1