
Malam semakin petang dengan angin dingin yang semakin menusuk hingga kulit ari bahkan andai kata di satu rumah berdinding tebal seseorang menghalangi dingin dengan memakai selimut masih dapat merasakan menggigilnya hawa dingin yang ditimbulkan.
Desa Mojokembang entah kenapa malam ini terasa begitu suram. Begitu sepi dan sangat mencekam ada sekelompok burung gagak dari arah gunung datang menyusuri desa mungkin ini sebuah pertanda wabah atau akan banyaknya kematian.
Yang jelas suara lengkingan burung gagak bagai sayatan atau robekan pisau yang langsung mengiris dinding hati setiap warga desa yang kebetulan mendengarnya.
Di sudut jalanan sepi di depan pagar besi di samping rumah Haji Wachid berdiri sosok Nyi Nurma dan sosok genderuwo besar di sampingnya. Tampak genderuwo tengah menghisap arwah Mas Hasan Jaelani layaknya menyeruput kopi hitam di sebuah cangkir yang masih hangat.
“Mas Jaka..., Tolong...!?,” satu teriakan dari arwah Mas Hasan Jaelani mengantar kemusnahannya ditelan sang raja genderuwo.
“Teriaklah Mas tak ada yang akan mendengar karena satu desa Mojokembang telah aku sirep sehingga mereka semua tertidur pulas layaknya tidurnya orang mati,” gerutu Nyi Nurma sambil menatap lurus ke arah jendela kamar Jaka.
Lalu dengan bibirnya yang merah merekah nan seksi dan agak sedikit basah. Nyi Nurma meniupkan angin dingin dan melafalkan mantra-mantra gendam. Agar Jaka keluar dari kamarnya sebuah mantra yang membuat lelaki apabila terkena ajian gendam hipnotis semacam ini akan secara otomatis bertekuk lutut bagai kerbau yang dicocok hidungnya pada si empunya ajian.
“Mas Jaka..., Mas aku datang keluarlah sayang. Aku menunggumu cintamu menunggumu di luar pagar katanya kita mau bobok bareng sayang,” ucap Nyi Nurma seusai melafal mantra dengan meniupkan udara dingin dari bibirnya.
Angin dari mulut Nyi Nurma lurus ke arah jendela kamar Jaka. Merambat masuk melalui sela-sela ventilasi di atas jendela. Meneruskan perjalanan terbang dan jatuh di muka Jaka yang tengah tertidur di samping Putri dan Wahyu.
Mata Jaka tiba-tiba terbuka tanpa berkedip tubuhnya kaku seakan tak sadar bahwa ia sedang terbangun lalu turun dari atas kasur. Berjalan layaknya robot keluar rumah menuju dimana Nyi Nurma dan Raja genderuwo berada.
Kriek....,
__ADS_1
Suara pagar depan rumah terbuka oleh Jaka yang tengah terhipnotis akhirnya sampai ke telinga Putri. Sayup-sayup tak jelas dibalik pagar depan rumah dari balik jendela kamarnya Putri melihat Jaka yang tengah memeluk Nyi Nurma dan terus mencumbunya. Namun tak begitu jelas sebab Putri masih dalam keadaan terbaring di atas kasur.
Seketika Putri melonjak turun dari kasur saat mendapati sang suami tak ada di sampingnya. Berarti benar sosok di samping Nyi Nurma yang tengah patuh saja pada Nyi Nurma itu suamiku Jaka ucapnya dalam hati.
Bergegas Putri berjalan tergopoh-gopoh agak berlari menuju keluar rumah, “Ayah..., sadar Ayah dia Nyi Nurma bukan istrimu aku Putri Ayah Istrimu, sadar Ayah ingat anak kita Wahyu, Ayah...!!,” teriak Putri mengejar Jaka yang terus mengikuti langkah Nyi Nurma bagai kerbau yang tengah ditarik dengan tampar oleh sang penggembala menurut saja tak memedulikan teriakan Putri.
“Putri cantik tenang saja aku hanya meminjam suamimu, tapi entah aku kembalikan atau tidak hahaha,” oceh Nyi Nurma sambil memamerkan kemesraan menggelayut bahkan ******* bibir Jaka di depan Putri dan Jaka hanya menurut saja tanpa berkedip bagai robot atau anjing yang menurut pada majikan.
“Ayah..., jangan pergi aku istrimu bukan Nyi Nurma sadarlah, Ayah...!?,” teriak Putri dalam posisi setengah duduk dengan kaki masih di selonjorkan dan nafas memburu terengah-engah diatas kasur.
“Eh Mama ada apa sayang, aku di sini di sampingmu dari tadi mimpi ya?,” ucap Jaka mengusap kening Putri yang penuh keringat.
“Ayah masih di sini dari tadi benar Yah?,” kata Putri menatap Jaka penuh curiga.
“Ada apa sayang mimpi apa coba cerita sama Ayah?,” tanya Jaka pada Putri yang kelihatan masih syok.
Hikz.., hikz.., hwaaa....,
Tiba-tiba tanpa sepatah kata Putri menangis lalu menghamburkan pelukan kepada Jaka. Membuat Jaka seketika bingung dibuatnya, “Hei Putri istriku tercinta kenapa mimpi apa, malah menangis cerita dong Ma. Jadi bingung kan Ayah Mama tiba-tiba menangis, hei sudah dong nanti anakmu bangun loh Ma kan kasihan masih tengah malam?,” ucap Jaka mencoba menenangkan Putri.
“Hikz..., hikz..., Mama enggak mau kehilangan Ayah,” ucap Putri lirih namun masih bisa didengar Jaka dan masih berada di pelukan Jaka dengan muka ditenggelamkan didada Jaka yang bidang.
__ADS_1
“Mama aneh Ayah dari tadi di samping Mama kenapa kok bicara begitu seakan Ayah pergi dan tak kembali. Coba ceritakan sayang apa mimpi yang kau lalui malam ini. Begitu seramkah sehingga membuatmu menangis permaisuriku,” kata Jaka menatap wajah sang istri mencoba melepaskan pelukan erat Putri.
“Ayah tadi Mama mimpi aneh, Mama melihat sosok Nyi Nurma di balik pagar depan rumah pas disisi depan kamar kita itu. Di sampingnya berdiri raja genderuwo, si raja genderuwo menelan mentah-mentah arwah Mas Hasan Jaelani. Lalu memanggil Ayah dengan ajian gendam hipnotis,” terang Putri masih dalam pelukan Jaka.
“Lalu Ayah kena hipnotis nurut saja sama Nyi Nurma begitu ia kah?,” celetuk Jaka sambil tertawa kecil.
“Ayah...!!,” teriak Putri sambil mencubit pinggang Jaka.
“Au..., sakit Ma kok Ayah dicubit,” celetuk Jaka meringis kesakitan.
“Habis Ayah istrinya takut malah bercanda,” ucap Putri agak manyun karena kesal.
“Begini sayang rumah kita ini berpagar gaib berlapis-lapis bahkan sang guru besar Eyang Kasturi memagarinya pula Insya Allah tak ada makhluk jahat yang bisa masuk. Dan itu lihatlah di balik jendela duduk di atas rerumputan sambil memantau keadaan bukankah itu arwah Mas Hasan Jaelani. Jadi usaikanlah takutmu, hentikanlah tangismu semua hanya mimpi bunga tidurmu sayang,” kata Jaka menjelaskan sambil mengusap air mata Putri dengan tangannya penuh kasih.
“Benar Ayah hanya mimpi Mama lega Ayah masih di samping Mama,” jawab Putri kembali memeluk erat Jaka.
“Sudah-sudah ambil wudu sana lalu tidur lagi biar enggak mimpi buruk lagi,” ucap Jaka menyuruh Putri lekas berwudu.
“Siap laksanakan rajaku,” celetuk Putri bergaya hormat layaknya saat acara pengibaran bendera sang saka merah putih namun masih dalam pelukan Jaka.
“Cepat sana wudu?,” suruh Jaka pada Putri.
__ADS_1
“Ayah bagaimana Mama mau wudu Ayah masih memeluk Mama erat lepaskan dulu dong,” kata Putri.
“Oh iya hehe...,” kata Jaka sambil tertawa kecil melepaskan pelukannya agar Putri lekas berwudu.