T O H

T O H
Kelahiran Bayi Setan


__ADS_3

Sore menjelang magrib tiba menjadi sebuah kisah pilu Dava dan Sari kali ini sesuai perhitungan hari jawa dan hari naas dalam istilah jawa oleh Mbah Raji yang memang bermalam sejak kemarin di rumah Dava. Sudah Waktunya Sari melahirkan anak setan yang di kandungnya.


Gus Bari, Gus Pendik dan Gus Bagus tampak bercakap-cakap di teras rumah untuk berjaga-jaga apabila ada sesuatu hal yang tidak diinginkan terjadi. Ditemani guntur menggelagar dan hujan deras serta angin bersuara gemuruh menderu-deru layaknya badai beberapa bulan yang lalu saat perang tiba.


Mbah Raji dan Dava tengah berkosentrasi di dalam kamar Dava terus menatap Sari di atas ranjang yang masih terpasung dan mematung tak bergerak. Drngan wajah semakin pucat tua dan rambut yang semakin acak-acakan lusuh dan kumel sehingga tak terlihat seperti Sari namun sudah terlihat seperti nenek tua yang begitu seram.


“Mbah Hari ini malam jumat kliwon menurut perhitinganmu seharusnya hari ini bayi laknat itu keluar dari perut Sari?,” tanya Dava menatap Mbah Raji yang fokus merapal mantra-mantra penjaga dan pagar gaib agar tak ada setan dan demit yang menyerang untuk ritual kali ini.


Sebuah dupa serupa lilin besar di letakkan di depannya lalu disulutlah sumbu dupa dengan sebuah korek api sisa kemarin.


“Dava bacalah ayat kursi sebanyak-banyaknya aku yakin malam ini bayi itu akan keluar. Sebab sudah lama tak ada badai hujan seperti ini. Badai ini ikhwal pertanda bahwa akan ada hal besar yang hendak terjadi. Bukankah sememjak terakhir kita bertempur sudah tak lagi ada angin ribut ataupun guntur menggelegar seperti malam ini?,” ujar Mbah Raji sangat khawatir.


Dava mulai memutar tasbih pemberian Sari dahulu jauh sebelum perang ada. Perlahan iya melafadzkan ayat kursi dan terus memutar tasbih begitu kencang. Angin mulai berhembus sangat kencang di luar rumah sehingga suaranya pun begitu ribut membuat pepohonan dan beberapa ranting serta dedaunan kering berterbangan dan berserakan membuat sampah di mana-mana.


“Jaka kenapa belum kesini ya Gus?,” tanya Gus Bari pada Gus Bagus yang tengah berdiri risau mondar-mandir tak karuan karena khawatirnya.


“Kabar terakhir Jaka sedang merawat Putri yang sudah hampir pulih seraus persen kembali awal seperti semula,” jawab Gus Bagus terus menghisap rokok di tangannya.


“Kok bisa ya ini takdir bagaimana yang kita jalani hari ini. Allhamdulillahnya Mbak Putri sudah hampir pulih tapi kenapa Mbak Putri tidak hamil seperti Mbak Sari ya padahalkan?,” ucap Gus Pendik yang tak melanjutkan kata-katanya sebab di potong langsung oleh Gus Bari.


“He, Gus Pendik jangan bicara begitu nanti di catat malaikat kasihan kalau jadi beneran si Mbak Putrinya,” ucap Gus Bari menyela Gus Pendik.


“Astagfirullah bener Gus maaf aku salah,” ucap Gus Pendik.


Herrrzz…, hoarr…,

__ADS_1


Tiba-tiba terdengar suara harimau datang mendekat sesosok harimau putih besar tengah berjalan gontai di tengah hujan menuju rumah Dava lalu berubah menjadi sesosok manusia berjubah putih-putih bersorban putih.


“Assallamualaikum,” sosok tersebut yang tidak lain adalah Maung Bodas rupanya telah datang saat mendengar kabar bahwa Sari hendak melahirkan bayi setan.


“Waalaikumsalam,” serempak ketiga punggawa T O H yang ada di teras menjawab.


“Kenapa hanya segini yang menjaga yang lain kemana Gus?,” tanya Maung Bodas heran.


“Bukanya peristiwa kali ini menyangkut keamanan lima kota. Malam ini dipertaruhkan kembali nasib generasi selanjutnya bukan. Apakah di masa depan tiada lagi perang atau bahkan lebih parah dari generasi sekarang. Kenapa tak ada yang datang?,” ucap Maung Bidas kembali bertanya.


“Assallamualaikum, Adi Maung Bodas tenanglah mereka masih dalam perjalanan,” ucap Ki Datuk Panglima Kumbang yang ikut datang secara tiba-tiba.


“Tidak begitu Kakang Panglima apa mereka sudah begitu tua, berapa sih jarak antara lima kota ini bukankah tak begitu jauh di bandingkan engkau yang dari belantara Sumatra dan aku yang dari pajajaran Jawa Barat?,” teriak Maung Bodas sangat marah.


“Tenanglah Ki Maung Bodas bersabarlah mereka pasti sampai,” sahut Gus Bagus menyela Ki Maung Bodas mencoba menenangkannya.


“Baiklah kalau begitu semua sudah datang ayo sebagian kita ke dalam kita laksanakan acara kita malam ini yang sudah kita sepakati untuk mengamalkan manakib kanjeng Syech Abdul Kadir Jaelani dan memohon pada Allah serta melantunkan beberapa kitap shalawat ayo mari,” ajak Gus Bagus pada sebagian yang hadir masuk ke dalam ruang tamu.


Beberapa menit berselang terdengarlah alunan syahdu merdu lantunan Manakib Syech Abdul Kadir Jaelani oleh para tamu yang hadir. Lantunan puja-puji pada Syech Abdul Kadir Jaelani dan mendengarkan kisah-kisah serta petuah bijaknya konon dapat memperkuat iman dan membuat pelindungan umat dari serangan gaib setan.


Saat para tamu dan undangan yang di sebar secara rahasia semua berkumpul dan mengamalkan kitab Manakib dalam kamar Dava terdengar teriakan keras oleh suara Sari.


Aaaa…,


Seketika beberapa orang termasuk Gus Bagus meringsek ke dalam kamar Dava, “Ada apa Dek Dava, Mbah Raji, Kenapa dari luar terdengar teriakan Sari?,” ucap Gus Bagus sangat khawatir.

__ADS_1


Dava terlihat ikut histeris melihat sang istri layaknya setan serupa kuntilanak rambutnya tiba-tiba memanjang sendiri dan kuku-kukunya memanjang sendiri. Lalu Sari yang tengah kesurupan terbang kesana-kemari malah sekarang posisinya tengah merangkak di dinding menempel seperti cicak dengan kepala terus berputar-putar lidahpun menjulur panjang.


Dava yang sudah kalut dan tak maampu berpikir apapun sehingga dia hanya bisa berkata, “Turun sayang istriku turunlah.” Sambil terus memanggil nama Sari agar iya tersadar kembali.


“Ayok yang lain satukan tenaga kalian kita salurkan kalam baik atau energi positif pada Sari agar mengalahkan energi negatif dalam tubuhnya. Karena saat Sari kesurupan begini kita tidak bisa berbuat banyak mau kita serang takut Sari terluka. Kalau kita biarkan malah kita yang terluka nanti,” ucap Gus Bagus menggalang kekuatan supranatural atau tenaga dalam positif dari alam sekitar.


Saat tenaga alam terkumpul dan dilontarkan ke arah Sari yang tengah merayap di dinding kamar. Alhasil tenaga tersebut malah terpental kembali ke arah Gus Bagus dan yang lain membuat beberapa orang di sana terpental jatuh.


“Allahuakbar kuatnya bayi ini, Dava sadarkan dirimu memang cinta itu harus tapi kali ini cinta tak mampu menolongmu kepada Sari. Pusatkan pikiranmu memohonlah cinta Allah untuk Sari agar iya seelamat,” teriak Mbah Raji yang terluka karena pantulan energi alam.


Dava berlari ke arah Sari tapi tiba-tib sesossok bayi bertaring dan masih merah berbulu lebat keluar dari perut Sari dengan cara membelahnya terbang ke arah Dava dengan cepat tangan si bayi mengoyak jantung Dava merogohnya dan menggegamnya seakan ingin memakannya.


Dava dan Sari terjatuh ke lantai bersimbah darah tak berdaya, “Allahuakbar makhluk laknat apakah ini?,” teriak Gus Bari memasang kuda-kuda bersama Gus Bagus dan Yang lain.


Namun tiba-tiba ada sosok Jaka di depan mereka menghadang pergerakan Gus Bagus dan yang lain mengisaratkan agar diam saja. Sedangkan di belakang bayi setan Putri yang telah sembuh hadir untuk memulihkan Sari dengan tenaga aura terapi pengobatannya.


“Loh Mas Jaka kenapa?,” teriak Gus Pendik terheran-heran Jaka hanya tersenyum lalu menghilang kembali beberapa saat sudah membawa jantung Dava meletakkan kembali ke posisi semula menutupnya perlahan.


“Mama, apa sudah selesai menyembuhkan Sari?,” ucap Jaka bertanya pada Putri yang menempelkan kedua tangannya ke perut Sari. Terlihat perut Sari yang semula robek kembali menutup sempurna.


“Sudah Ayah,” jawab Putri.


“Sini Sayang tolong adikmu Dava biar aku urus si bayi setan ini,” ucap Jaka memandang bayi setan yang terbang di langit-langit kamar dengan terus menggeram.


“Baik Ayah,” ucap Putri.

__ADS_1


Seketika Jaka melompat ke atas si bayi setan lalu menghilang bersama si bayi setan berpindah tempat.


__ADS_2