
Sore ini bunga anggrek di halaman rumah Bagus masih saja segar dari air yang disiramkan oleh bik Amanah sejam yang lalu. Mekarnya sangat sempurna dan harumnya semakin semerbak menempel anggun pada inang induknya batang pohon mangga.
Tertata rapi bak kebun bunga istana raja dibalut bekas kupasan kulit kelapa yang sering disebut orang sepet di tali rapi dengan tali sejenis kawat kecil. Bunga anggrek lurus tertanam di depan rumah seindah sang pemilik yang selalu memperhatikannya setiap sore sebelum magrib menjelang ayu sama cantiknya.
Namun kali ini sang pemilik tampak bermuka murung, gundah gulana dan terpaut seribu pikiran dengan pengembaraan lamunan diatas awang langit senja yang sudah mulai tampak memerahkan langit.
Di atas kursi roda Vivi merenung memandang sang bunga lekat menatapnya berlama-lama. Andai saja aku seperti bunga anggrek itu begitu terlihat sempurna di mata siapa saja yang memandangnya menarik hati, ujar dalam hati Vivi yang semakin hari semakin bersedih dengan keadaannya yang terus duduk diatas kursi roda akibat putus kakinya sepuluh tahun silam.
“Bik aku harus bagaimana menghadapi ini semua seakan takdir dibolak-balik terhadapku. Walau kangmas Bagus begitu menyayangi dan mencintaiku segenap hatinya. Tetap saja aku merasa wanita yang tak patut untuknya. Karena tubuhku yang tak utuh lagi, aku selalu merasa kasihan pada kangmas Bagus tak seharusnya ia memilikiku yang tak lengkap ini. Sedangkan ia begitu indah, begitu rupawan dan bagus rupa,” ucap Vivi mengutarakan kesedihan pada Bi Amanah seorang pembantu yang selalu menungguinya setiap sore kala ia ingin berlama-lama di teras rumah sambil memandang bunga-bunga di pekarangannya.
“Neng kalau boleh Bibik bicara justru Pak Bagus sangat beruntung memiliki Neng Vivi yang begitu anggun dan cantik lepas dari semua kekurangan yang Eneng miliki. Bukankah semua itu hanya titipan Neng cantik atau jelek hannyalah relatif dari luarnya saja yang pentingkan hati. Cantik setiap wanita cantik entah dari sisi mananya wanita itu selalu cantik Neng,” ujar Bi Amanah mencoba menenangkan Vivi sambil terus memegangi kursi roda yang di duduki Vivi agar tak jatuh.
“Tapi aku kasihan sama Kang Bagus Bik seharusnya iya mendapatkan wanita yang lebih sempurna dari saya Bik dan lebih indah dari saya,” ucap Vivi merajuk pada Bik Amanah yang sudah ia anggap selayaknya orang tua sendiri
“Neng kalaulah fisik menjadi acuan dan landasan tentu semua lelaki mencari seorang kekasih yang begitu seksi dan cantik memikat mata. Tapi bila itu jadi pokok pilihan tentu tak akan baik di ujung akhirnya. Bukankah kita harus melihat seseorang sebagai pasangan hidup dari keimanan yang paling utama. Jikalau wajah ayu menjadi tolak ukur semua itu akan dimakan tanah pada akhirnya Neng,” terang Bi Amanah kembali merayu Vivi agar tetap tenang menjaga emosinya agar tak berpengaruh pada kandungannya yang sudah menginjak delapan bulanan.
“Tentu aku memilihmu sayang sebelum kau seperti sekarang ini aku dulu memilihmu dengan cintaku dan dengan bismillah kau tahu itu,” ucap Bagus yang tiba-tiba datang dari arah belakang Bik Amanah seraya mengecup pipi Vivi begitu mesra.
__ADS_1
“Eh Pak Bagus maaf Bibik enggak melihat Pak Bagus sudah pulang tadi. Saya bikinkan kopi ya Pak?,” ucap Bi Amanah seraya menyerahkan pegangan belakang kursi roda pada Bagus agar bergantian menjaga Vivi.
“Siap Bik agak pahit ya Bik?,” pinta Bagus pada Bi Amanah yang terus berlalu pergi ke arah dapur dan hanya melimpahkan senyum kasih sayang seorang ibu kepada Bagus dan Vivi selayaknya orang tua sendiri.
“Sudahlah sayang kau tentu tahu bagaimana rasa sayang ini dari dulu ada untukmu. Dan tentu kau tahu suamimu ini akan selalu menerimamu apa adanya walau apa pun yang terjadi padamu aku akan terus bersamamu menjagamu agar tak lagi peristiwa sepuluh tahun yang lalu terulang kembali pada keluarga kita,” kata Bagus sambil duduk berjongkok di depan Vivi membenarkan letak hijab Vivi yang agak miring dan terus menggenggam kedua telapak tangan Vivi erat.
“Terima kasih ya Mas sudah mempercayakan semua pada Adek, mempercayakan cintamu bahkan mempercayakan aku untuk mengandung anakmu ini,” kata Vivi sambil mengembalikan senyum cantiknya pada sang Suami.
“Nah begitu dong, ini baru Vivi ku yang selalu riang dan sangat bawel selalu cerewet pada suaminya, tetaplah seperti itu ya sayang seperti biasanya hingga tua nanti jangan hilangkan Vivi ku yang aku kenal dari dulu dengan menampakkan kesedihan selayaknya tadi,” ucap Bagus menatap Vivi penuh kasih dan Vivi hanya tersenyum pula tentu penuh bahagia mendengar ucapan cinta dari sang suami.
“Oh ia dek, siapa kemarin yang kita temui di perempatan kebun raja kota, namanya lupa aku yang anaknya Almarhum Mas Hasan dan Mbak Nurma itu loh?,” tanya Bagus mencoba mengingat.
“Oh ya cerdas sekali istriku, kasihan dia yang sebenarnya tidak seharusnya anak itu terlantar seperti itu ini gara-gara mertua Mas Hasan coba dulu saat kita mau adopsi itu anak saat bayi dibolehin sama mertua Mas Hasan,” kata Bagus.
“Ia Mas tentu saat ini dia sudah menjadi anak kita dan tak terlantar seperti itu, oh iya kalau dia jadi kesini harusnya sore ini iya datang kemari Mas,” celetuk Vivi mengingatkan.
Seketika angin berubah agak semilir menelusuk kencang bak anak panah lurus menerjang beberapa dedaunan bunga di pekarangan rumah Bagus dengan begitu cepat mengarah pada Bagus dan Vivi yang bercakap-cakap ringan di teras rumah.
__ADS_1
Bagus yang sadar akan adanya sebuah kekuatan datang hendak menghantam cepat-cepat mengarahkan tangannya seperti hendak menyahut sesuatu namun tak tampak.
“Allahuakbar apa ini?,” teriak Bagus menyabet sebuah panah angin yang diluncurkan ke arahnya dan Vivi.
“Eh ini pasti si embah, mbah keluarlah jangan bercanda nanti kalau panah angin ini mengenai perut Vivi cucumu yang ada pada kandungan Vivi bisa terancam,” teriak Bagus agak kesal dengan ulah seseorang yang melontarkan panah angin yang ternyata adalah si embah Raji sosok tua gila.
“Hehehe, Assalamualaikum maaf Gus Bagus Cuma bercanda. Lagian panah itu Cuma panah angin kalau saja mengenai paling jadi kentut,” celetuk Mbah Raji yang datang berjalan menuju teras dengan santai.
“Waalaikumsalam loh Mbah kenapa kok pakaian Mbah dan penampilan Mbah jadi begini,” ucap Vivi heran.
“Alah Neng Vivi tidak usah dihiraukan ini bagian dari laku ilmu ku,” jawab Mbah Raji.
“Bagaimana kabar kalian?,” tanya Mbah Raji mengambil tempat duduk pada bangku panjang di depan teras rumah Bagus.
“Baik Alhamdulillah Mbah ke mana saja baru kelihatan cucu-cucumu sudah besar semua loh Mbah,” ucap Bagus.
“Ia Mbah ini satu lagi cucumu baru mau lahir,” timpal Vivi tersenyum.
__ADS_1
“Hehehe, Ia cepat lahir dengan selamat ya cucuku,” tawa Mbah Raji renyah dengan canda banyolan gigi ompongnya.
“Aamiin,” jawab Vivi dan Bagus serempak.