
Adi Yaksa mulai berpikir keras tentang ucapan petapa Effendik dan Satria Langit. Diatas singgasananya tampak iya sedang termenung dengan posisi bertopang dagu. Karena baru saja kedua musuh bebuyutannya baru saja datang berkunjung dan memberi peringatan keras padanya.
“Patih Kebo Marcuet kemarilah,” ucap Raja Adi Yaksa meminta salah satu patihnya yang bermukim di tebing sebuah sungai bernama Kali Konto tepat di belakang desa Mojokembang.
Kebo Marcuet yang sedang bertapa di salah satu batu paras besar tepi sungai Konto sesaat membuka mata karena mendengar panggilan sang raja Adi Yaksa.
“Patih hadirlah aku membutuhkanmu datanglah,” ucap Raja Adi Yaksa.
Kebo Marcuet yang sedang dalam posisi bertapa hanya tersenyum akhirnya kau membutuhkanku Adi Yaksa. Ucap Kebo Marcuet dalam hatinya. Seraya berdiri Kebo Marcuet mengentak tanah tiga kali dengan kakinya lalu terbang ke atas menuju kerajaan Adi Yaksa.
Ketika Sang Patih Kebo Marcuet turun ke aula kerajaan Adi Yaksa. Saat tapak kakinya menginjak bumi seakan bumi tengah terguncang gempa beberapa pohon di atas tebing aula tumbang jatuh ke bawah menimpa beberapa prajurit siluman di bawahnya.
“Selamat datang Saudaraku, selamat datang kakak Kebo Marcuet di kerajaan adikmu tercinta ini,” kata sambutan dari Adi Yaksa membuat Kebo Marcuet hanya menyunggingkan bibirnya.
“Ada apa kau memanggilku Adi Yaksa?, apa kali ini kau mendapatkan musuh yang kuat sehingga kau tak mampu melawanya karena itukah kau memanggilku. Bukankah aku telah menyerahkan kerajaan ini untukmu setelah ayah kita meninggal ribuan tahun yang lalu,” teriak Kebo Marcuet.
“Kakang kau tahu adikmu ini tanpa bantuanmu tak dapat menjadi raja yang berkuasa di kerajaan dunia setan dan siluman. Setelah kakang memutuskan tak ingin menjadi raja dan pergi bertapa Adimu ini memiliki musuh yang sangat tangguh bernama Petapa Effendik dan muridnya Satria Langit,” terang Adi Yaksa.
“Oooou, Petapa Effendik akhirnya muncul juga di era ini. Susah lama aku menantikannya, setelah tapaku selama ribuan tahun akhirnya aku bisa membalaskan dendamku padanya karena telah mengutukku menjadi manusia setengah kerbau,” ucap Kebo Marcuet seraya duduk diatas meja bundar sesajen berongkang kaki.
“Jadi kakang mau membantu adimu ini?,” tanya Adi Yaksa sekali lagi.
__ADS_1
“Masalah muridnya Satria langit masalah gampang dia bukan tandinganku. Dan aku hanya mau Petapa Effendik saja. Kalau kau ingin mengalahkan musuhmu bangkitkan saja ribuan pasukan masa lalu yang pernah dipimpin ayah kita ribuan pasukan kegelapan dari neraka. Mau kau berperang dengan terang-terangan atau sembunyi kau pasti akan menang karena pasukan tersebut pasukan keabadian tak bisa mati atau musnah sekalipun walau ayat Allah di lantunkan karena sebagian dari mereka pernah menjadi santri-santri para ulama dahulu,” ujar Kebo Marcuet.
“Aku pernah dengar pasukan kegelapan itu kakang tapi belum pernah melihatnya apa benar seperti itu kenapa jin santri bisa bergabung dengan pasukan tersebut?,” celetuk Adi Yaksa.
“Karena sudah sifat alami bangsa setan adalah menggoda manusia. Apa pun itu nama, jenis atau rupa setan tetaplah setan. Gobloknya pemuda jaman sekarang mereka malah membentuk komunitas dengan jin dan setan yang disebut kodam untuk membantunya,” terang Kebo Marcuet.
“Bagaimana saya bisa memanggil mereka Kakang sedangkan pasukan tersebut kabarnya sudah terkubur dalam di inti bumi?,” kata Adi Yaksa mulai gelisah kembali.
“Kau belum tahu ya Adi ku Adi Yaksa ribuan tahun lalu sebelum kau lahir dan sebelum kerajaan mu ada. Aku dan Ayah kita dahulu adalah pemimpin-pemimpin pasukan kegelapan, aku yakin masa itu akan ada kembali dimana setan ditakuti lebih dari Sang Pencipta,” kata Kebo Marcuet sangat jemawa.
“Jadi bagaimana memanggilnya kakang Adi Cara alias Kebo Marcuet?, orang ditanya dari tadi malah mengobrol ke sana-kemari,” celetuk Adi Yaksa.
“Sabarlah kau Adiku kau culik satu gadis perawan satu darahnya sebagai tumbal pemanggilan. Kalau bisa sekalian culik gadis dari salah satu pemuka T O H musuhmu itu biar semakin seru,” ujar Kebo Marcuet menjelaskan.
“Air sari pati kehidupan yang bakal menjadi bayi kau tahu kan,” terang Kebo Marcuet.
“Waduh kalau yang ini aku belum paham Kang hehehe...,” celetuk Adi Yaksa.
“Halah kau ini, tak berubah dari dulu sama saja, air mani dari seorang ibu muda yang baru memiliki anak satu biasanya lebih kental dari perawan,” ucap Kebo Marcuet.
“Kok bisa lebih kental kayak tahu saja Kakang ini,” kata Adi Yaksa sambil mencicingkan sebelah matanya.
__ADS_1
Seketika Kebo Marcuet meloncat ke atas Altar singgasana Adi Yaksa lalu dengan tanpa aba-aba memukul kepala adiknya sangat keras. Bletak..., “Aduh...,” teriak Adi Yaksa terkena pukulan dikepala dari Kebo Marcuet.
“Kok di pukul Kang?,” tanya Adi Yaksa sempat heran dengan sikap kakaknya Kebo Marcuet.
“Kita ini golongan jin, setan bahkan kita ini setengah siluman setengah manusia. Apa yang tidak tahu bodoh, cepat carikan darah perawan dan setetes air hina. Walau kau harus memperkosa atau bagaimana caramu lakukan segera. Agar aku dapat memanggil pasukan kegelapan dari neraka,” teriak Kebo Marcuet sangat marah pada Adi Yaksa.
“Lalu masalah petapa dan muridnya bagaimana?, mereka pasti menghalangiku saat aku melaksanakan tugas darimu kakang,” timpal Adi Yaksa.
“Biar mereka aku yang menghadapi sudah lama aku tak olahraga, dengan terbangunnya kembali pasukan kegelapan yang dimana satu dari mereka setara dengan satu orang Satria langit atau sama dengan seratus tentara T O H. Bukan tidak mungkin kita menguasai kota ini dengan cepat,” ujar Kebo Marcuet menjelaskan kekuatan yang dimiliki tentara kegelapan dari neraka.
“Sekarang aku hendak mengunjungi kawan lama ku itu si petapa Effendik dan muridnya. Sudah lama aku tak berolahraga seru pastinya bermain-main sebentar dengan mereka. Selagi aku berhadapan dengan mereka pasti dua manusia jelmaan petapa itu tentu lengah. Kau culik kedua putri T O H yang berpengaruh agar kau dapat melaksanakan perintahku,” kata Kebo Marcuet memerintahkan Adi Yaksa.
“Baik Kakang sesuai perintahmu, wahai pasukanku yang terkuat para klan genderuwo datanglah di hadapanku,” teriak Adi Yaksa mengacungkan kedua tangannya seraya merapal mantra pemanggil.
Seketika para genderuwo muncul layaknya keluar dari bayangan dan masuk dari balik-balik dinding dan ada yang masuk dari celah pepohonan besar yang tumbuh disela-sela tebing aula kerajaan Adi Yaksa.
“Menunggu perintahmu tuanku raja Adi Yaksa,” ucap panglima genderuwo yang berdiri tegap berbadan besar penuh bulu di sekujur tubuhnya, bertaring panjang dan bermata sebesar cawan sangat beringas.
“Kalian ikut denganku menuju kota Jombang kita jawab gertakan musuh bebuyutanku sang dua petapa sialan itu lekas bergerak!!,” teriak Adi Yaksa.
“Baik tuanku raja,” jawab sang panglima seakan memberi kode kepada genderuwo lain untuk bergerak mereka kembali menyelinap melewati kegelapan lalu menghilang.
__ADS_1
“Kakang aku mohon diri untuk melaksanakan perintahmu,” ucap Adi Yaksa.
“Pergilah aku pun akan pergi menghadang dua petapa sialan itu,” timpal Kebo Marcuet.