T O H

T O H
Srikandi T O H generasi 3


__ADS_3

Ada bayangan-bayangan yang berjalan, berlari bahkan menari-nari di tembok-tembok dan dinding sekitar ruang operasi rumah sakit pelengkap kecamatan Ploso di daerah Jombang bagian utara.


Tak ada angin tak ada hujan bahkan pepohonan di sekitar ruang operasi seakan tak bergerak. Beberapa keganjilan mulai menampakkan eksistensinya. Kadang kursi yang bergerak sendiri, kadang pintu salah satu ruangan di sudut rumah sakit membuka dan menutup sendiri. Kadang lampu sepanjang lorong rumah sakit seakan ada yang memainkan skalarnya. Hidup dan mati sendiri secara bergantian.


Malam semakin di tengah-tengah dari putaran bulan yang mulai tampak membesar pas di atas atap rumah sakit. Hawa dingin menyeruak dan kabut mulai datang merambat-rambat seakan hendak meraih sesuatu untuk iya tenggelamkan dalam pekatnya.


Sesaat ada suara-suara aneh yang terdengar. Terkadang terdengar dari arah lorong samping kamar mayat seperti tempat tidur pasien diseret-seret. Sesekali agak samar suara tangisan wanita merintih terdengar pilu namun tak berwujud.


Sesekali suara tawa cekikikan terdengar entah dari sudut mana dari ruangan mana tak jelas asal-muasalnya.


Ruangan operasi terletak paling sudut dengan penerangan minim sebab memang sudah terlalu malam. Beberapa perawat dan dokter tengah berjuang melakukan upaya operasi untuk mengeluarkan bayi dari kata sesar. Dan sang ibu yang tengah tergolek di atas meja operasi adalah Vivi.


Seakan tak memedulikan kegaduhan dari para makhluk astral di sekitarnya Pak Bupati Bagus tampak terduduk sendeku di depan ruang operasi. Pada kursi panjang di samping pintu ruang operasi menunggu sang istri yang tengah diusahakan oleh para dokter akan keselamatan bayi dan Vivi sendiri.


“Ya Allah selamatkanlah istriku. Iya sudah banyak menderita akibat perang sepuluh tahun yang lalu. Aku ingin melihatnya bahagia dengan mendapat seorang putra,” begitulah terus terucap dari getar, getir bibir Bagus agak pucat diterpa dingin angin tengah malam.


Ada yang aneh di atas rerumputan sebelah depan deretan ruang operasi. Seperti ada yang bergerak-gerak melata di atas rumput namun begitu banyak. Terus melata menuju dimana Bagus terduduk pucat berharap-harap cemas akan keberhasilan operasi sesar istrinya.


Selang tak beberapa lama bau anyir menyengat dari arah berlawanan oleh Bagus. Seakan ada yang hendak mengincar sesuatu yang akan terlahir yang tengah diusahakan kelahirannya di ruang operasi oleh para suster dan dokter.

__ADS_1


Bagus yang memang tengah terkonsentrasi pada sang istri tak jua mengetahui akan adanya bahaya yang datang mendekat sebuah makhluk melata dengan ratusan jumlahnya. Seakan ada yang memerintah atau menggerakkan untuk terus menerobos kearah Bagus. Bahkan kalau memungkinkan tanpa sepengetahuan Sang Bupati itu. Dapat meringsek masuk ke dalam ruangan operasi bertujuan untuk memakan bayi yang dilahirkan secara sesar oleh Vivi.


Bukan saja bahaya dari melatanya ratusan binatang di atas rerumputan depan ruang operasi yang tengah mengincar Bagus. Bayangan-bayangan aneh yang terus berkeliaran merambat-rambat di dinding mulai bergerak perlahan menuju arah Bagus yang tengah di dera pikiran kekhawatiran tingkat akut oleh keselamatan sang istri.


Sedangkan di atas atap rumah sakit pas diatas atap ruang operasi ada sesuatu yang merangkak mendekati Bagus. Seakan mereka para makhluk astral kompak hendak mencelakakan Bagus dan keluarga kecilnya.


Hihihi, suara tawa aneh kembali terdengar tapi Bagus masih belum memedulikan apa pun. Dimatanya hanya sang istri yang tergeletak tak sadarkan diri di atas meja operasi akibat pengaruh obat bius dari dokter.


Di pikirannya hanya tentang menggendong bayinya yang akan segera terlahir ke dunia. Dan berbagai macam rencana untuk si bayi anak lelaki pertamanya telah disiapkan dalam awang-awang pemikiran dan terkonsep di atas otak Bagus.


Lalu sekejap ratusan binatang melata yang ternyata berbentuk ular dengan mata merah sebab telah dirasuki ratusan setan sekitar rumah sakit. Meloncat ke arah Bagus yang sedang duduk dan masih belum sadar akan bahaya di depannya. Yang bisa saja mengancam jiwa dan keselamatannya.


Lalu di atas atap beberapa siluman kadal jantan dan betina merangkak cepat hendak turun oas di atas Jaka dan serasa ingin menerkam Jaka lalu memakannya mentah-mentah.


“Wamuh panah api!!” teriak Fitri Djail sambil meloncat dari arah atap tepatnya dari belakang gerombolan siluman kadal melontarkan panah api dari busurnya yang dipegang olehnya.


Slap,


Panah api meluncur walau satu buah namun panah dapat berubah menjadi puluhan anak panah. Dengan ujungnya adalah nyala api. Dimana apabila tepat mengenai sasaran tentu sasaran yang terkena anak panah tersebut akan habis terbakar menjadi abu.

__ADS_1


Kali ini sasaran Fitri Djail adalah puluhan siluman kadal yang merangkak diatas atap. Sekali lesatan satu anak panah dapat berubah puluhan anak panah dan secara berbarengan kadal-kadal siluman hangus terbakar menjadi abu.


Wamuh yang berjalan dari arah pintu gerbang terus menembakkan panah berbentuk laser api. Yang berkobar dari atas busurnya yang jua terbentuk dari api. Beberapa menit saja ratusan ular melata yang hendak menggigit Bagus hangus terbakar tak bersisa.


“Mbak Fitri cetan di samping Pak Bupati itu mendekat. Banyak Mbak haduh aku enggak sempat ini,” teriak Wamuh yang terus berusaha mendekat ke arah Pak Bupati Bagus yang belum menyadari juga akan keberadaan bahaya yang mendekat dan akan kedatangan dua Srikandi T O H generasi ke tiga yakni Fitri Djail dan Wamuh Ratna Galuh dan Bagus masih terus berkutik dengan lamunannya.


“Waduh bahaya dek Wamuh, aku juga enggak mampu menjangkau ini. Panah saja dengan laser apimu Dek dari situ kan kelihatan para cetan. Kamu kan dapat dengan mudah memanah tanpa penghalang. Sedang aku disini tidak kelihatan sasarannya susah,” teriak Fitri berusaha turun dari atap rumah sakit menuju ke arah Bagus.


“Susah Mbak Fitri, cetannya kadang hilang kadang ada. Tapi bahaya mbak mereka semakin dekat sama Pak Bupati,” teriak Wamuh terus mencari sudut yang tepat untuk memanah.


Tapi tiba-tiba ada bayangan meloncat di atas Fitri lalu turun begitu cepat. Dengan cekatan menebaskan pedang berbentuk cahaya petir yang iya bawa. Dengan gagang jua berupa petir, sekali sabet beberapa setan di samping Bagus hilang sekejap terkena kilatan pedang petir yang ditebaskan sosok yang melompat di atas Fitri yang ternyata adalah Halilintar.


“Kalian tak apa-apa?” ucap Halilintar kepada dua Srikandi T O H generasi ke tiga yang mendekat padanya.


“Eh Mas ketua ganteng tak apa-apa Mas,” ucap Fitri dan Wamuh berbarengan sangat kompak.


“Pah, Papah, jangan melamun itu rupanya suara Adek ku sudah lahir Pah, ayo ke dalam kita lihat Mamah,” ucap Halilintar menggugah Bagus dari lamunannya.


“Eh kamu Nak kapan kamu datang. Loh ada Fitri dan Wamuh juga, kenapa aku tak tahu kalian datang?” ucap Bagus.

__ADS_1


“Sudah Pah penjelasannya nanti saja itu suara bayi menangis pasti Mamah sudah melahirkan, ayo kita lihat,” ajak Halilintar pada sang Ayah angkatnya


__ADS_2