T O H

T O H
Jatayu


__ADS_3

Sementara itu di kawasan kota Kediri tepatnya di daerah kota pemekaran kabupaten Kediri sebuah kecamatan yang bernama Pare.


Disana terletak sebuah pondok besar milik Haji Hadi ayah dari Putri yang nampak telah kosong karena semua santri telah dipulangkan akibat wabah aneh yang tengah melanda kota.


Pondok Haji Hadi terletak di desa Mbadas sebuah desa perbatasan antara kota Jombang dan kota Kediri sebelah selatan.


Desa Mbadas terbagi dua wilayah separuh desa sebelah utara masuk wilayah Jombang, sedangkan sebelah selatan desa masuk wilayah kecamatan Pare keresidenan kota Kediri. Pondok pesantren Haji Hadi masuk wilayah Kediri karena terletak di selatan desa Mbadas.


Kecamatan Pare termasuk jalur sutra perdagangan jalur dari Surabaya menuju kota Kediri sehingga area ini menjadi kota tersendiri di samping kota Kediri yang megah lalu menjadi area pemekaran keresidenan yang mandiri.


Namun itu dulu beberapa tahun yang lalu sejak mewabahnya pandemi aneh menjangkiti kota. Semua mendadak berubah menjadi sepi hening layaknya kota mati tak berpenghuni.


Di area persawahan yang membelah tengah desa Mbadas membujur dari barat ke timur di samping Utara pondok Haji Hadi tepatnya di sepanjang hutan bambu di tepian sawah yang ikut membujur sealur sawah membentang.


Di sanalah para santri-santri dalem dari pondok Haji Hadi berkonsentrasi mendirikan pos-pos kecil untuk membantu warga yang tengah terjangkiti wabah.


Mereka tengah mengabdikan diri pada masyarakat. Mencurahkan segenap pengetahuan dan kemampuan serta tenaga dan pikiran untuk mengobati warga yang datang.


“Bagaimana ini Pak Haji warga yang terjangkiti wabah penyakit terus berdatangan tiada henti,” ucap Gus Jajak yang tengah ikut serta mengobati beberapa warga dengan jalan rukiah.


Gus Jajak adalah salah satu Ustad utama dari Pondok Pesantren Haji Hadi. Iya selalu mendampingi Haji Hadi kemanapun sang kiai pergi pasti Gus Jajak berada di sampingnya.


Usianya yang terbilang masih sangat muda sekitar tiga puluhan namun memiliki pengetahuan yang mumpuni tentang pengobatan-pengobatan alternatif dengan doa-doa dari ayat Alquran. Sehingga membuatnya terpilih menjadi tangan kanan pemimpin utama pondok membawahi beberapa santri senior yang lain.


“Yah mau bagaimana lagi Gus. Mereka datang kita obati, itu sudah tugas Kitakan mengabdikan diri untuk masyarakat,” ucap Haji Hadi sambil terus memutar tasbihnya dan Melafazkan zikir di dalam hati.


Walau sambil berjalan atau pun berbincang dengan santri yang lain Haji Hadi tak pernah berhenti memutar perbutir tasbih dari tangannya.


“Aduh Pak Haji, tolong panas,” gerutu beberapa pasien yang terjangkiti wabah yang tengah di rawat di beberapa tenda darurat yang di dirikan para santri.


Bau busuk menyengat dari beberapa tubuh pasien yang mulai parah nampak seperti bisul bernanah yang melepuh di sekujur tubuh.


“Tolong Gus, Mas santri, Pak Haji kami tidak kuat lagi?,” ucap salah satu warga yang tengah terjangkit wabah.


Namun ada pula beberapa warga yang hanya tergeletak tidur berjajar layaknya ikan pindang di dalam keranjang yang di jual di pasar mereka tidak hidup ya tidak mati matanya melotot tapi tidak sadarkan diri.

__ADS_1


“Ya Allah apa dosa kota ini dahulu kala sehingga kau timpakan bencana yang teramat mengerikan seperti ini Ya Allah,” teriak Gus Jajak rupanya sudah teramat kesal, lelah dan bercampur putus asa sehingga ia melontarkan doa dengan kata-kata seakan membentak-bentak.


“Hei Gus Jajak sabar Gus, kita semua memang sudah sangat kepayahan, bersabarlah Gus mari kita hadapi musibah ini bersama pasti ada jalan keluarnya, Allah pasti memberi jalan keluar, tidak ada satu penyakit pun yang tak ada obatnya bukankah begitu janji Allah. Tapi kita harus sabar menunggu tanda-tanda dari Allah Gus,” ucap Gus Tato seseorang yang dahulunya ketua geng tersadis yang telah di buat sadar dan insaf oleh Haji Hadi. Dipanggil Gus Tato karena badanya masih penuh tato.


“Oh ia, Pak Haji Ning Putri belum pulang ya dari Jombang?,” ujar Gus Jajak yang diam-diam dari dulu juga menaruh hati pada Putri namun karena Putri memilih Jaka jadi Gus Jajak mundur alon-alon alias mundur secara perlahan.


“Entah dia belum mau pulang katanya masih betah. Lagian disana ada calon suaminya Jaka,” kata Haji Hadi.


“Beruntung ya Mas Jaka itu dapatkan Ning Putri yang sangat manis,” ujar Gus Jajak tertunduk sedih.


“Sudahlah Gus Jajak nanti pasti ada Muslimah atau Ustazah yang bakal menjadi istrimu lupakan anakku,” kata Haji Hadi yang menyadari kesedihan Gus Jajak.


“Ia sangat beruntung sekali Mas Jaka itu,” timpal Gus Tato.


“Gus Tato bukan Jaka yang beruntung tapi kami dari keluarga Putri yang beruntung mendapatkan calon anak mantu seperti Jaka yang memiliki kemampuan segudang pengetahuan yang mumpuni,” ujar Haji Hadi memuji Jaka yang membuat Gus Jajak semakin tenggelam dalam kesedihannya.


“Sudah-sudah ayo kita obati lagi yang sakit,” ucap Haji Hadi.


Krak... Kraaak ... Kiak.... Kowak....


“Suara apa ini Pak Haji merinding aku mendengarnya?,” celetuk Gus Tato.


“Ia Pak Haji seperti burung Dares (burung dalam mitologi Jawa sejenis burung hantu pembawa pesan Kematian),” ucap Gus Jajak.


“Apa lagi ini?,” ucap Haji Hadi seraya mendongak ke atas melihat apa yang tengah terbang di atas mereka.


Benar adanya seekor burung teramat besar berwarna emas tengah terbang mengitari desa Mbadas. Namun bukan seekor burung Dares rupanya yang terbang mengitari desa Mbadas, melainkan seekor burung Garuda besar yang bernama Jatayu (Burung Garuda yang dapat bicara dalam mitologi Hindu tunggangan Dewa Wisnu/Narayan juga teman dari Dewa Rama). Nampak sesosok pemuda meloncat turun dari atas burung Jatayu.


“Ada yang datang Pak Haji ia turun dari atas burung itu,” ucap Gus Jajak menunjuk kearah sosok yang meloncat turun dari atas burung Jatayu.


“Assallamualaikum Abah,” ucap sosok orang yang turun tadi ternyata adalah Jaka.


“Waalaikumsalam loh Nak Jaka toh,” jawab Pak Haji Hadi seraya menyambut jabatan tangan bakal anak mantunya tersebut terlihat Jaka pun segera mencium punggung tangan Haji Hadi tanda hormat pada calon mertua.


“Kamu yang menaiki Jatayu itu?,” tanya Haji Hadi.

__ADS_1


“Enggeh Abah (ia Abah) saya kemari membawa pesan dari guru saya Haji Kasturi,” kata Jaka.


“Oh temanku satu itu, apakah pesanya Nak?,” tanya Haji Hadi penasaran.


“Berhentilah mengobati mereka yang sakit Abah. Mereka yang terjangkit wabah pandemi aneh adalah mereka yang dimasa hidupnya gemar melakukan maksiat, judi dan mabuk-mabukan, sering mendatangi tempat pelacuran, mereka yang sering nongkrong dan menggunjingkan sesamanya menebar fitnah dan hibah. Mereka yang semena-mena pada sesamanya dan tak mengindahkan apa yang dilarang oleh Allah dan Rasulullah,” ucap Jaka.


“Tapi kita sebagai sesama muslim tak patutlah membiarkan mereka terlunta-lunta Nak. Bukankah ilmu dan pengetahuan yang kita miliki pemberian dari Allah harus kita amalkan dan kita gunakan menolong sesama?,” ucap Haji Hadi.


“Benar Abah kami pun di Jombang sudah berusaha seperti kalian saat ini tapi semua usaha yang kami lakukan sia-sia walau sembuh mereka akan mati beberapa hari lagi saat penyakit itu kembali menyerang mereka,” ujar Jaka.


“Kamu memang benar Nak Jaka dan itu sudah saya buktikan sendiri,” ujar Haji Hadi.


“Mungkin ini adalah kehendak Sang Kuasa sebagai hukuman untuk kita bahwa kita sebagai manusia sudah terlalu banyak dosa yang kita perbuat,” ujar Jaka.


“Lalu apa lagi pesan yang kau bawa dari teman lama ku itu?,” kata Haji Hadi.


“Kami mendapat kabar segerombolan babi liar tengah mendekat ke arah kalian dari arah timur, Saya dan teman-teman organisasi T O H yang lain sudah menghalau sebagian yang berada di wilayah kami Abah,"


"Babi ini bukan babi hutan sembarangan karena ia bisa berubah wujud menjadi manusia, babi ini babi dari kerajaan siluman jadi kalian berhati-hatilah akan segala kemungkinan terjadi, karena babi-babi ini sangat buas yang mereka tuju adalah pemusnahan masal manusia,” kata Jaka menuturkan.


“Astagfirullah haladzim,” baik Nak Jaka terima kasih atas info yang sangat penting ini. Ucapkan salam ku juga pada Haji Kasturi untuk berterima kasih kepadanya,” Ujar Haji Hadi.


“Siap Abah sewaktu-waktu kalian membutuhkan bantuan hubungi saja kami lewat salah satu dari kalian yang mampu berkomunikasi dengan telepati, karena melewati barang elektronik layaknya hp sudah tidak aman lagi,” kata Jaka.


“Siap Mas Jaka kami akan mengumpulkan santri yang tersisa untuk berjaga di perbatasan,” ucap Gus Jajak.


“Gus Jajak terima kasih,” ucap Jaka.


“Abah saya pamit Assalamualaikum,” ucap Jaka kembali meloncat cepat ke atas naik di atas punggung Jatayu lalu pergi kembali.


“Waalaikumsalam,” ucap serentak dari Haji Hadi, Gus Jajak dan Gus Tato.


“Gus Jajak sudah tahu kah kalau dibanding Mas Jaka sampean (kamu) kalah jauh, hehehe...,” ucap Gus Tato menggoda Gus Jajak.


“Apaan sih Gus Tato ini? Sudah ayo kita siapkan para santri tangguh kita. Kita lawan babi-babi hutan itu,” kata Gus Jajak pergi ngeloyor begitu saja.

__ADS_1


“Gus tunggu?,” ucap Gus Tato berlari menyusul Gus Jajak yang pergi Haji Hadi hanya bergeleng-geleng kepala melihat tingkah kedua santrinya itu.


__ADS_2