T O H

T O H
Obrolan Meja Makan


__ADS_3

Dava sedang berdiri di lantai atas rumahnya sambil memandang suasana desanya yang tampak asri dan kembali terbangun rapi, tak terasa sepuluh tahun sudah ucapnya dalam hati. Matanya asyik tertuju pada sebuah Mushola kecil yang ia bangun di seberang jalan depan rumah.


Terdapat santri-santri kecil di sana bak kupu indah, cantik dan sanggatlah elok penghias taman surga. Mereka tengah menambat ilmu agama bersama beberapa Ustaz dari kalangan pemuda desa.


Dava sedikit merekahkan bibirnya sedikit lebar. Tergurat rasa bangga di benaknya, desaku sudah semakin damai rupanya Alhamdulillah. Begitulah gerutunya dalam otak dengan terus berdiri tegap di atas lantai dua rumahnya.


Namun ada desir guratan luka yang tersisa di sorot matanya yang semakin tua semakin tajam jua kali ini genap berusia 26 tahun sudah ia hidup di bumi ini. Terkadang ia takut untuk kembali ke belakang mengenang semua peristiwa yang telah ia lalui.


Ada keluh kesah teramat dalam menggores dadanya hingga kini belum jua terobati. Meski sang istri bidadari tercinta sudahlah kembali pulih sejak lama dan iya sudahlah merasakan benar nikmatnya surgawi menjadi seorang suami. Tetapi satu hal masa lalu yang selalu ingin membuatnya berteriak selalu saat iya mulai mengenang dan berdiri berlama-lama di atas lantai dua.


Demi mengenang masa lalu jua lantai dua rumahnya di bangun kembali. Di sini di tempat ini dahulu sepuluh tahun yang lalu iya dan sang kakak Jaka selalu hadir untuk pergi dan kembali pulang berperang. Di sini di tempat ini pula ratusan setan dan siluman dahulu ia binasakan demi menegakkan panji-panji akidah.


Di sini di tempat ini sepuluh tahun yang lalu ia belajar tendangan halilintar yang sangat kuat milik Abahnya. Dan di sini di tempat ini pula dengan mata kepala sendiri iya menyaksikan orang tuanya di cabik-cabik ratusan siluman anjing hingga tewas.


“Ah sudahlah semua telah berlalu. Aku tak boleh bersedih terlalu berlarut-larut. Semoga orang tuaku padang kubure jembar dalane (Terang kuburnya dan lebar jalannya menuju Allah),” gerutu Dava masih tetap dalam posisi semula berdiri memandang keadaan seluruh desa.


Sebuah tangan lentik dengan jemarinya yang sudah tampak gemuk tiba-tiba meraih pundak Dava. Dialah sang istri Sari yang mulai gemuk berat badannya bertambah karena telah hamil kembali setelah tragedi kelahiran anak setan yang semakin membuatnya trauma untuk kembali mengandung.


Namun karena keluwesan Dava dalam membantu Sari untuk memahami semua sehingga Sari bersedia kembali untuk hamil. Kini usia kandungannya sudah memasuki tujuh bulan.


Sambil tangannya meraih pundak sang suami lalu bibirnya tersenyum manis seraya berkata, “Pah makan yuk turun ke bawah yuk Pah temani Mamah ya Pah,” begitulah sang istri manis Sari selalu menyusul Dava agar tak berlama-lama meratapi masa lalunya.


Dava pun menoleh ke arah Sari seraya tersenyum penuh cinta lalu berjongkok di depan Sari sambil mengusap-usap perut Sari yang semakin membesar.


“Duhai anakku sayang cepatlah keluar ya dan saat keluar tolong ucaplah takbir dan Papah akan melantunkan dua kalimat syahadat di telingamu agar kau tahu bahwa kewajiban manusia hanya menyembah Tuhannya yang lain hanya kembangnya dunia,” kata Dava lalu mengecup perut Sari lembut.


“Ih, geli loh Pah,” celetuk Sari begitu manja.

__ADS_1


“Sudah yuk turun kita makan biar Dedek bayi yang masih dalam perut ini kuat saat nanti keluar kelak menjadi jagoan mendampingi kakaknya Wahyu anak kakak kita Jaka dan Mbak Sari,” ucap Dava tersenyum pada Sari seraya mengecup kening sang istri.


“Tapi, tapi Mamah enggak mau anak kita nanti menjadi pendekar seperti Papahnya loh,” celetuk Sari memanyunkan bibirnya.


“Lah terus bagaimana loh Mah?,” tanya Dava mengerutkan dahi.


“Mamah mau anak kita nanti menjadi PNS, hahaha, seperti cita-cita Mamah dulu menjadi guru,” jawab Sari.


“Apa pun nanti biar anak kita sendiri yang memilihnya ya, hayuk lah turun katanya ngajak makan,” ucap Dava menggandeng tangan Sari.


“Cie, cie, Mas Haji sama Bu Haji mesranya,” teriak ibu-ibu tetangga yang kebetulan lewat di samping rumah.


“Hayuk Pah cepat turun lah ada ibu-ibu usil,” kata Sari mempercepat langkah mengajak Dava lekas turun ke lantai satu.


Sampai di ruang makan belum separuh habis nasi dan lauk pauk di piring sudah pula terdengar ketukan di depan pintu dan ucapan salam.


“Waalaikumsalam Mas Jaka masuk tidak di kunci kok,” teriak Dava sambil menyeruput segelas air putih di samping sepiring nasi yang tinggal separuh bergegas keluar menemui Jaka.


“Pelan-pelan Pah,” ucap Sari ikut berdiri namun belum selesai Dava membalikkan seluruh tubuhnya Jaka dan putri sudah berdiri tepat di depannya.


“Astagfirullah Mas, Mbak bikin aku kaget saja,” ucap Dava memegang dadanya terkejut.


“Memang pasangan satu ini ya semakin tua semakin hebat saja,” timpal Sari yang ikut terperangah melihat kedatangan Jaka dan Sari yang tiba-tiba hadir di depan mereka.


“Kalian ini terlalu memuji jangan begitu, Dek Sari suamimu Dava ini juga kan salah satu panglima tinggi T O H yang sangat di segani,” terang Jaka seraya ikut duduk bersama di depan meja makan begitu jua Putri duduk di samping Jaka.


“Eh keponakanku yang paling cakep Wahyu dimana loh Mas apa enggak ikut?,” tanya Sari melongok ke arah ruang tamu mencari sosok Wahyu.

__ADS_1


“Tante aku kan di sini dari tadi,” ucap Wahyu yang telah berada di pangkuannya secara tiba-tiba.


“Allahuakbar, Wahyu untung ganteng kamu ya Nak mesti bikin tante jantungan ya kamu,” teriak Sari mencubit pipi Wahyu namun penuh kasih tak keras jua.


“Hahaha,” pecahlah tawa seluruh anggota keluarga Jaka dan Dava.


“Dedek bayi cepat keluar ya Mas ingin cepat-cepat ajak kamu main loh,” celetuk Wahyu mengusap-usap perut Sari.


“Wahyu Dedek bayinya belum Waktunya keluar ya masih tiga bulan lagi,” timpal Sari memberi pengertian pada Wahyu.


“Tante Dedek Bayinya tidur ya?,” ucap Wahyu bertanya sambil menampakkan wajah imutnya pada Sari.


“Aduh Mbak Putri anakmu ini loh kalau sudah wajahnya begini tidak kuat aku serasa ingin cium saja. Sini tante cium ya emuucah,” celetuk Sari seraya mencium bibir Wahyu karena gemasnya.


“Ah enggak mau Tante gelai,” teriak Wahyu mengusapi bibirnya bekas kecupan mesra Sari.


“Hahaha, kok gelai apa itu gelai Wahyu kamu ini kebanyakan main tiktok ya, oh ya ayo ikut makan Mas Jaka, Mbak Putri seadanya tadi aku masak sayur asem sama ikan asin itu juga ada sambal kecap dan tahu,” kata Sari mempersilahkan Jaka dan Putri ikut makan.


“Hem apa Dek Sari,” ucap Jaka yang sudah penuh nasi dan lauk di mulutnya.


“Ayah...!, kebiasaan belum di silakan sudah makan,” teriak Putri melotot pada Jaka.


“Habis Dek Sari kelamaan menyuruhnya kan lapar liat makanan banyak kaya begini,” jawab Jaka.


“Hahaha, hayuk makan Mbak Putri juga,” ucap Dava.


Sore itu seakan kedamaian telah begitu hadir berteman pada kedua keluarga yang sebenarnya dalam hati mereka masih mengingat kejadian masa lalu yang teramat pahitnya.

__ADS_1


__ADS_2