T O H

T O H
Petuah Abah


__ADS_3

Jaka, Putri dan Vivi sedang belajar mengaji dengan Abah sebagai guru mereka. Dengan bergantian mereka menyetor hafalan ayat-ayat pendek dari Al Qur’an.


Yang membuat beda dari guru-guru mengaji yang lain Abah Wachid selalu menyuruh anak-anaknya menghafal surat-surat pendek beserta isi dan maknanya dan keesokan hari setelah menghafal harus bisa menerapkan apa isi kandungan surat-surat pendek tersebut kedalam kehidupan sehari-hari.


Sedangkan Umi Epi menemani mereka dengan melafazkan lantunan sholawat nabi. Seperti itulah setiap seusai magrib hingga usai sholat isyaq berjamaah.


Hal ini dimaksudkan agar anak-anak dapat berdisiplin dalam keseharian dan berdisiplin dalam cinta kepada Allah dan Rasulullah. Seusai kegiatan tersebut biasanya Abah akan memberi petuah-petuah bijak kepada anak-anaknya.


“Vivi kau sudah dewasa, kau paling tua diantara Adik-adik mu dan kau telah menginjak usia remaja. Suatu hari kelak kau akan meninggalkan Abah dan Umi untuk pergi ke rumah baru yaitu rumah mertua mu,” kata Abah.


“Tapi Abah Vivi masih kelas 3 SMA, Vivi belum berani berpikir kesana,” ujar Vivi.


“Dengarkan Abah ini hanya sebagai wawasan saja. Pengetahuan sebagai bekal kelak kau berumah tangga, karena di usiamu sekarang kau sudah harus memiliki pengetahuan tersebut,” kata Abah.


“Ia Abah,” jawab Vivi.


“Suatu saat kau pasti memiliki seorang Imam dalam rumah tangga yaitu Yang dinamakan suami. Pesan Abah kemanapun kau pergi dari rumah walau sejengkal kau keluar melalui pintu rumahmu tanpa ijin dari suami mu adalah tidak benar dan Allah membenci itu,” kata Abah menerangkan pada Vivi.


“Lalu bagaimana Jika dalam keadaan genting Abah dan Aku harus pergi tapi suamiku tidak ada dirumah, seumpamanya Abah, bagaimana mengatasi hal itu..?,” kata Vivi


“Cie.. cie... cie..., yang punya suami,” ledek Jaka sambil tersenyum mengejek Vivi.


“Abah Si Jaka Abah,” kata Vivi merajuk pada Abah.


“Jaka....!, jangan bercanda Abah sedang serius,” kata Abah tegas.


“Putri bantu aku kita kerjai kak Vivi hehehe,” kata Jaka meminta dukungan Putri namun Putri hanya diam menyimak kata-kata Abah.


“Ah percuma ngomong sama Putri,” kata Jaka.


“Jaka....!!, Sekali lagi kau bercanda besok aku tambah tugas hafalanmu,” kata Abah kali ini dengan nada agak marah.


“Ia Abah, maaf,” kata Jaka tertunduk tak berani.


“Vivi mengenai jawaban dari pertanyaan mu Umi mu yang bisa jawab,” kata Abah menyodorkan pertanyaan Vivi.


Lalu Umi menghentikan amalan-amalannya sejenak demi menjawab pertanyaan Vivi,


“Vivi dulu Umi pernah ada dalam posisi yang ada dalam pertanyaan mu tersebut. Makanya musyawarah dalam keluarga itu perlu. Saat itu Nenekmu ibu dari umi sedang sakit, tetapi Abahmu sedang mengisi ceramah di luar kota,” kata Umi.


“Terus Umi bagaimana cara Umi meminta ijin dari Abah kan dulu belum ada Hp belum ada wa juga?,” tanya Vivi penasaran.


“Yah Umi bilang terus terang pada mertua Umi meminta ijin pada mereka bilang sejujur-jujurnya,” kata Umi.


“Lalu dibolehkan pergi?,” kata Vivi antusias.


“Ya iya sayang disini di keadaan sesulit apapun Yaqin pada Allah kalau yang kita lakukan benar dan kita jujur pasti orang memahami maksud kita,” kata Umi


“Berani karena benar,” teriak Vivi, Jaka dan Putri berbarengan.


“Tumben kompak?,” kata Umi.


“Sekarang untuk Jaka,” kata Abah.

__ADS_1


“Em.. anu Abah, apa itu anu Lo,” kata Jaka berbelit-belit hendak menghindar dari Abah.


“Apa perut sakit, atau mau buang air kecil?,” kata Abah.


“Hehehe..., endak Abah, endak jadi,” kata Jaka kembali duduk.


“Kamu itu dari kecil kalau di bilangin Abah selalu kabur,” kata Abah


“Abah..., ingat tekanan darah naik,” kata Umi mengingatkan Abah.


“Jaka.. diam..,” kata Umi sambil menunjuk Jaka.


“Ia Umi, Abah Jaka minta maaf,” kata Jaka.


“Nah begitukan cakep,” kata Umi.


“Lanjut Abah,” kata Umi.


“Jaka kamu anak Abah yang paling istimewa kamu bisa melihat apa yang orang lain tidak bisa lihat. Kelak jika kau sudah cukup usia dan sudah mampu mengontrol pengetahuan yang dianugerahkan oleh Allah tersebut. Pesan Abah jangan sombong dan tinggi hati gunakan pengetahuan itu di jalan Allah bantulah yang membutuhkan pertolonganmu,” kata Abah.


“Ia Abah,” jawab Jaka dengan kepatuhan.


“Baik rutinitas kita selesai hari ini sholat isyaq pun sudah kita kerjakan sekarang kita kerjakan rutinitas dunia kita. Abah sudahi sampai disini dulu besok kita lanjutkan kembali, Assalamualaikum,” kata Abah mengakhiri pengajian kecil keluarganya.


“Waalaikumsalam,” jawab serentak Umi, Jaka, Vivi dan Putri.


........


Polsek Mojowarno.


“Waalaikumsalam,” jawab Komandan Nawan menghentikan zikirnya.


“Ada apa kopral?,” kata Komandan Nawan.


“Ada kasus baru Pak, ada kehebohan di desa Mojokembang tepatnya di RT 08,” kata Si Kopral.


“Ada kejadian apa?,” kata Komandan Nawan.


“Tiga anak kecil hilang dari dua hari yang lalu belum diketemukan Pak, kronologinya tiga bocah ini bermain di rumah kosong yang berada di ujung gang RT 08 saat magrib tiba sampai sekarang belum kembali,” kata Si Kopral.


“Tempat itu lagi, kemarin lusa ada kecelakaan pas di rumah tersebut korbannya meninggal. Dua hari sebelumnya ada orang gantung diri di pohon sawo depan rumah tersebut. Dan banyak pengaduan para pengemudi ojol katanya sering terjadi penampakan di sana,” kata Komandan Nawan.


“Kita tindak lanjuti Pak?, sebab warga kadung bergerombol di lokasi Pak, ini menyebabkan warga tidak bisa melaksanakan protokol kesehatan di era new normal ini,” kata Si Kopral.


“Pandemi belum usai sekarang banyak kasus yang disebabkan si setan. Andai ada undang-undang yang mengatur hukum setan di negara ini. Akan saya masukkan Kep penjara semua mereka,” kata Komandan Nawan


“Ah bapak suka bercanda,” kata si kopral.


“Siapkan armada kita menuju lokasi, tapi kita menemui dulu Pak Haji RT Wachid kebetulan beliau juga pemuka agama yang paham soal beginian,” kata Komandan Nawan.


“Baik Pak laksanakan,” kata Si kopral pergi menyiapkan mobil patroli.


.........

__ADS_1


Diruang tamu Abah Wachid dan Umi Epi sedang asyik ngobrol sambil menonton televisi. Sedangkan anak-anaknya berada di kamar masing-masing.


Terdengar suara sirene mobil patroli memasuki area halaman depan rumah yang kebetulan pagar belum dikunci karena hari masih belum malam benar masih pukul 20.30.


“Loh Umi kok ada suara mobil patroli di depan rumah kita ada apa ya?,” kata Abah Wachid


“Mana Umi tau Abah, coba Abah lihat sana,” kata Umi


“Assallamualaikum,” terdengar ucapan salam dari teras rumah yang tidak lain adalah Komandan Nawan dan para prajuritnya.


Abah yang sudah berada didepan pintu lalu menyambut mereka, “Waalaikumsalam, eh ada tamu Pak Komandan silakan masuk, kok njanur gunung alias kadingaren alias tumben kemari bawa pasukan lagi ada apa?,” kata Abah sambil mempersilahkan masuk Komandan Nawan.


“Begini Abah saya mendapat laporan di ujung gang sana pas jalanan buntu itu terjadi peristiwa anak hilang dan sekarang sedang ada kerumunan warga disana yang berusaha mencari,” kata Komandan.


“Rumah itu ya,” kata Abah


“Ia Abah rumah itu lagi,” kata Pak Komandan Nawan.


“Umi bikinin minum tamu kita suruh Putri dan Vivi untuk bantu bikinin minum Umi,” teriak Abah.


“Ia Abah, ini Putri dan Vivi sedang membantu Umi,” teriak Umi dari arah dapur.


“Tidak Usah repot-repot Abah alangkah baiknya kita langsung menuju ke TKP saja, karena banyak warga berkerumun disana sekarang masih musim pandemi sangat berbahaya kalau mereka berkumpul lama-lama tanpa mengindahkan protokol kesehatan dan tak menggunakan masker pula,” kata Komandan Nawan.


“Baik, saya pamit istri saya dulu,” kata Abah Wachid.


“Umi Abah pergi bersama Komandan Nawan dulu ya. Nanti minumnya taruh saja di meja biar mereka balik lagi jarang-jarang kan kita kedatangan tamu penting,” teriak Abah.


“Ia Abah,” jawab umi yang menyusul ke ruang tamu.


“Ah Abah bisa saja saya bukan orang penting bah Cuma pelayan masyarakat,” jawab Komandan Nawan merendah


“Mau kemana Bah?,” tanya Umi yang sudah berdiri di samping Abah Wachid.


“Urusan negara he he, nanti kalau kembali Abah ceritakan,” kata Abah


“Umi Abahnya saya pinjam sebentar,” kata Komandan Nawan.


“Ia Dik Nawan tapi jangan diajak macam-macam loh,” kata Umi


“Siap Komandan,” kata Komandan Nawan sambil tertawa bercanda pada Umi.


“Dik Nawan ini bisa saja,” kata Umi.


“Umi.. ingat umur,” kata Abah


“Apa sih Abah,” jawab Umi di barengi gelak tawa para pasukan Komandan Nawan melihat tingkah laku Abah dan Umi yang selalu romantis.


_


_


_

__ADS_1


_


__ADS_2