T O H

T O H
Rapat Akbar Tepi Waduk Rejosari


__ADS_3

Di tepian Waduk Rejosari desa Grenggeng Haji Kasturi tengah duduk di tepian Waduk diatas rerumputan memegang kail pancing sederhana. Yang ia buat sendiri dari sebilah batang bambu sambil bersenandung-senandung lirih menyanyikan syair lama tentang tutur-tinutur petuah Jawa kuno.


Peninggalan Kanjeng Sunan Kali Jaga yakni sebuah lagu untuk mengajak masyarakat pada waktu itu untuk introspeksi diri dan membenahi diri dari kesalahan yang pernah dilakukan. Sebuah syair sufi kuno yang digunakan Sunan Kali Jaga dalam berdakwah yakni Lir Ilir.


“Lir ilir lir ilir tandure wong sumilir


Tak ijo royo-royo


Tak sengguh panganten anyar


Cah angon cah angon penekna bimbing kuwi


Lunyu-lunyu penekna kanggo mbasuh dodotira


Dodotira dodotira kumintir bedah ing pinggir


Dondomana jrumatana kanggo seba mengko sore


Mumpung padang rembulane


Mumpung jembar kalangane


Sun suraka surak hiyo”


“Assallamualaikum Jaka,” kata Haji Kasturi mengucap salam terlebih dahulu pada Jaka yang tiba-tiba datang duduk disampingnya lalu bengong mendengarnya bersenandung ria. Seakan mengingatkan pada Jaka kalau datang hendaklah mengucap salam terlebih dahulu.


“Eh iya, Maaf Guru, Assalamualaikum,” sahut Jaka yang lupa memberi salam, karena terlalu asyik mendengar Sang Guru bersenandung.


“Ini Adikmu Jaka, yang kau ajukan untuk menjadi bagian dari kita dan yang direkomendasikan oleh Ustad Bagus,” kata Haji Kasturi.


“Ia Guru, namanya Dava putra dari Haji Kardi dari Dukuhan Banjar Kerep,” kata Jaka memaparkan.


“Selamat datang Nak Dava,” ucap Haji Kasturi pada Dava yang tengah diam saja duduk disampingnya Jaka.


“Guru syair apa yang Guru senandung kan barusan?,” tanya Jaka penasaran.


“Kau tidak tau Jaka, bagaimana kamu ini anak Jawa tidak tau sejarah syair-syair Jawa kuno, kau Dava, apa kau tahu?,” kata Haji Kasturi.

__ADS_1


“Maaf saya tidak tau Kiai,” jawab Dava.


“Aduh celaka bagaimana generasi sekarang ini ya melupakan sejarahnya,” kata Haji Kasturi sambi geleng-geleng kepala.


“Lir-ilir adalah tembang yang diciptakan oleh Sunan Kali jaga dan digunakan untuk berdakwah menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa, khususnya wilayah Jawa Tengah. Lagu ini bercerita tentang ajakan memperbaiki diri untuk lebih baik setiap harinya,” kata Haji Kasturi menjelaskan.


“Itu umpannya dimakan ikan Pak Kiai,” kata Dava menunjuk kearah apung yang bergerak-gerak.


“Oh ia Jaka tolong tarik nih,” kata Haji Kasturi memberikan pancing yang ia pegang lalu pergi.


“Eh lah Guru mau kemana?,” tanya Jaka melihat Haji Kasturi yang sedang berjalan menuju sebuah perapian yang ia gunakan untuk membakar beberapa ikan yang telah ia dapatkan beberapa waktu yang lalu.


Kercik... crek...


Suara langkah kaki memercik diatas air perlahan mendekat yah dialah Ustad Baru atau Gus Bari, “Assallamualaikum,” ucap salam Gus Bari yang tengah berdiri di atas air di depan Dava yang bengong karena takjub menyaksikan keahlian Gus Bari.


“Waalaikumsalam,” jawab Dava.


“Gus Bari dia Dava adikku, janganlah kau goda mari ini makan ikan yang di panggang Kiai,” kata Jaka datang ketepian waduk membawa seekor ikan ditusuk bambu kecil yang telah matang.


Jaka tengah makan dengan lahap ikan bakar di tangannya tak lupa ia membagi pada Gus Bari dan Dava namun belum sempat memberi Dava ikan bakar. Ada embusan angin membentuk seperti tombak menyahut ikan bakar dari tangan Jaka.


“Gus Lukman.....!,” teriak Jaka yang mengetahui kalau angin tadi adalah bentuk lain dari Gus Lukman. Benar juga angin bergulung-gulung jatuh di rerumputan berubah bentuk menjadi sosok Gus Lukman seraya tersenyum geli lalu ia melangkah menuju Sang Guru Kiai Kasturi yang tengah memanggang ikan.


“Assalamualaikum Guru,” ucap salam Gus Lukman.


“Waallaikumsalam Gus Lukman,” jawab Haji Kasturi.


“Kemana yang lain Kiai? Kok belum kelihatan,” tanya Gus Lukman seraya mengambil secangkir kopi dan ayam bakar ditusuk bambu yang telah disediakan Haji Kasturi.


“Itu baru pada datang,” ucap Haji Kasturi menunjuk beberapa orang yang terus datang bergantian. Ada yang berupa cahaya sekelebat lalu berubah menjadi sosok manusia ikut duduk bersila.


Ada pula yang awalnya menjadi sosok harimau lalu kembali berubah sosok menjadi seorang Ustad dan berbagai macam ilmu pengetahuan merubah bentuk ditunjukkan para anggota T O H yang lain hingga genap berjumlah 50 orang.


Membuat sebuah lingkaran besar karena kali ini semua anggota T O H dari segala penjuru kota datang untuk melaksanakan rapat besar yang telah di jadwalkan.


“Baik Assalamualaikum semua, apa semua anggota sudah hadir?,” kata Haji Kasturi mengucap salam seraya memastikan kelengkapan anggota yang hadir.

__ADS_1


“Waallaikumsalam,” jawab serempak seluruh anggota.


“Belum Kiai kurang satu orang yakni Mas Ustad yang paling tampan Mas Bagus,” celetuk salah satu anggota lingkaran ke tiga atau ring tiga.


Organisasi T O H memiliki sestruktur yang sangat terorganisir dan sistematik. Ring satu yang melingkar duduk di sekitar Haji Kasturi, karena Haji Kasturi sang Guru besar selalu duduk di tengah-tengah lingkaran.


Adalah anggota utama yang memiliki segudang pengetahuan dan Kanuragan melebihi dari sepuluh macam jenis pengetahuan bahkan bisa berlipat-lipat contohnya Ustad Bagus.


Di ring dua atau lingkaran kedua adalah anggota rekrutan kedua setelah ring satu yang direkrut untuk membentuk organisasi karena dari semula anggota ring satu memang sudah memiliki keahlian tersendiri sebelum masuk organisasi.


Lain dari anggota ring satu anggota ring dua baru mendapatkan keahlian setelah diajarkan oleh anggota ring satu begitu seterusnya hingga ring terakhir. Dava karena iya sudah memiliki keahlian bawaan namun belum cukup mumpuni jadi ia duduk di ring terakhir jauh dari Jaka yang duduk di ring pertama sebab Dava masih harus banyak belajar.


Beberapa saat angin kencang layaknya terpaan angin yang di timbulkan oleh baling-baling helikopter membuat suara gemuruh dari pepohonan di sekitar waduk atau bendungan Rejosari bergoyang-goyang tak tentu arah.


Sebuah cahaya panjang berbentuk sayap terlihat turun dari langit dengan si pemilik sayap adalah Ustad Bagus layaknya sesosok Garuda yang turun dengan perlahan namun tetap dengan wujud manusianya hanya di punggungnya terdapat sayap cahaya cukup besar mengepak.


Sosok Ustad Bagus dengan mata menyala layaknya api namun berbentuk sorotan cahaya datang pas berdiri ditengah-tengah disamping sang guru.


Sayap berangsur hilang dan sosok manusia dari Ustad Bagus kembali ke sediakala lalu duduk bersila. Pertunjukan keahlian dari Ustad Bagus membuat decak kagum dari para anggota baru di ring paling belakang seperti Dava dan anggota baru yang lain.


“Assallamualaikum Guru,” ucap Ustad Bagus seraya menyalami tangan Haji Kasturi.


“Waalaikumsalam Ustad Bagus, kau sudah ditunggu yang lain,” kata Haji Kasturi sambil menepuk-nepuk pundak Ustad Bagus merasa bangga pada murid utamanya tersebut karena iya sudah mampu menciptakan keahliannya sendiri tanpa bantuannya.


Ustad Bagus duduk disamping Haji Kasturi di tengah-tengah lingkaran para anggota yang lain, karena Ustad Bagus adalah orang nomor dua dalam organisasi T O H.


“Mari di mulai guru rapatnya, karena aku rasa kali ini keadaan kota kita sudah teramat genting dan menghawatirkan akibat pandemi aneh yang tengah mewabah,” ujar Ustad Bagus.


“Baik mari kita mulai saja rapat kali ini,” kata Haji Kasturi.


_


_


_


_

__ADS_1


__ADS_2