
Gus Bagus dan beberapa bayangan ustad Dwi baru sampai di ujung desa Mbongso. Mereka turun dengan menjatuhkan diri dari langit satu persatu sehingga tanah di sekitar nampak seperti sedang terjadi gempa, karena efek dari jatuhnya para punggawa T O H tersebut.
“Dik Bagus hawanya begitu terasa dan sangat kuat. Nampaknya makhluk ini sejenis genderuwo,” ucap salah satu bayangan Ustad Dwi yang berjalan beriringan layaknya orang pawai menuju kedalam desa dengan Gus Bagus dan satu bayangan berjajar, beriringan di depan.
“Benar Mas Dwi tapi dalam penerawanganku telah jatuh beberapa korban dari warga. Hawa semacam ini aku tahu siapa pemimpinnya, dia adalah Sarikem genderuwo terganas di dunia gaib kota ini,” ucap Gus Bagus terus berjalan memasuki desa.
“Oh iya Dik, Mbah Raji dan Gus Bari kemana?, kok tidak menyusul kita. Bukankah tadi mereka terbang di belakang kita pas, menaiki Naga Baru kelinting milikmu,” ucap salah satu bayangan Ustad Dwi yang berjalan dengan Gus Bagus di depan.
“Mereka aku sarankan bertolak ke kawasan hutan Wonosalam di sana juga sudah sangat gawat dan banyak santri yang hilang karena pertempuran melawan bangsa Raksasa,” ujar Gus Bagus.
“Waduh bangsa Raksasa, kalau begitu lekas kita selesaikan para musuh di desa ini lalu kita bantu ke hutan Wonosalam,” ucap Ustad Dwi.
“Lah Bayangan mu kan sudah sampai sana toh, memang Mas Dwi buat berapa bayangan. Masak sama bayangan sendiri lupa,” ucap Gus Bagus.
“Oh iya, aku lupa kalau buat ratusan bayangan, hehehe...,” ucap salah satu bayangan Ustad Dwi tertawa kecil.
Rombongan Gus Bagus dan Ustad Dwi telah memasuki batas gapura desa yang bertuliskan diatas lengkungan gapura welcome desa Mbongso. Nampak beberapa warga yang berlarian membawa harta benda dan keluarganya berbondong-bondong keluar desa. Ada pula beberapa rumah yang terbakar dan suara jeritan-jeritan terdengar dimana-mana.
“Loh Pak maaf ada apa?,” ucap Gus Bagus yang mencoba bertanya kepada salah satu warga yang ikut berlarian keluar desa dengan cara menghentikannya sejenak.
“Kalian siapa...?, Di dalam desa sedang ada serangan hantu genderuwo Pak, sudah banyak jatuh korban yang di makannya. Genderuwo-genderuwo itu tak pandang bulu apa pun yang ada di depanya di bunuh dengan cara dikoyak baik itu orang dewasa atau anak-anak,” ucap salah satu warga yang di hentikan langkahnya oleh Gus Bagus.
“Loh Mas tunggu...!?,” teriak Gus Bagus memanggil bayangan-bayangan Ustad Dwi yang berlarian begitu cepat menuju ke dalam desa.
“Baik Pak terimakasih infonya,” ucap Gus Bagus kepada salah satu warga yang ia hentikan.
“Mas ustad jangan ke dalam berbahaya Mas, bisa-bisa nanti Mas ustad juga ikut di mangsa para genderuwo itu,” ujar warga tersebut.
“Pak saya memang datang kemari untuk membunuh para genderuwo tersebut. Sekarang bapak cepat cari tempat yang aman untuk sementara waktu. Biar saya dan Mas Ustad yang tadi banyak kembar semua, yang lari masuk kedalam desa itu yang mengatasi percayalah, minta doanya saja,” tutur Gus Bagus yang sekejap menghilang dari pandangan salah satu warga tersebut.
Di dalam desa Mbongso tepatnya di gardu desa tengah terjadi pertarungan sengit antara Joni dan para hantu genderuwonya dengan Pak Paimen yang di bantu Aris menantunya.
__ADS_1
“Waduh...,” Gus Bagus yang berlari kencang tak sengaja menubruk salah satu bayangan ustad Dwi yang berdiri mematung mengawasi jalanya pertarungan di pinggir lapangan yang berada di depan gardu, karena tempat kejadian pas di tengah-tengah lapangan.
“Mas Dwi kenapa berhenti mendadak?,” ucap Gus Bagus seraya jatuh tersimpuh karena menabrak ustad Dwi.
“Lihat itu Dik bukanya itu pengguna ilmu rawa rontek yang terkenal di kota Jombang si Aris dan ayah mertuanya Pak Paimen?, Bukanya mereka masih ada garis saudara dengan Jaka adik pacarmu itu?,” ucap Ustad Dwi sambil mengawasi pertarungan di depanya.
“Mana-mana, oh iya itu Pak Paimen dan Aris ya mereka masih saudara Jaka. Pak Paimen itu kata Vivi adalah kakak tertua dari Haji Wachid tapi hanya beliau yang tak bergelar haji yakni bergelar para normal alias dukun,” ucap Gus Bagus menerangkan.
“Oh Begitu, Bagaimana kita bantu atau menonton nih mumpung seru jarang-jarang loh kita lihat beginian, hehehe...,” ucap Ustad Dwi yang sudah berbaris memanjang di sepanjang kebun kelapa di samping lapangan.
“Rupanya mereka seimbang walau ratusan genderuwo yang di hadapi Pak Paimen dan Aris. Rupanya mereka belum kewalahan,” ucap Gus Bagus seraya duduk bersila menikmati melihat pertarungan di depanya.
“Ya kalau begitu merokok dulu,” ucap Ustad Dwi ikut duduk bersila sambil menyulut sebatang rokok dan menghisapnya satu hisapan sehingga mengepulkan asab putih ke udara.
“Halah malah merokok sejak kapan mas jadi perokok?,” ucap Gus Bagus.
“Sudahlah halal haram apa kata Allah. Yang penting Mas mu ini menghisap rokok dengan Bismillah menghisap sari pati tembakau yang di anugerahkan Allah tertanam di bumi ini,” ucap Ustad Dwi.
“Eh kamu benar Mas memang bukan isapan jempol belaka kalau mereka berdua memiliki ajian rawa rontek itu leher Aris kayak bekas putus darahnya meluber melingkar di lehernya,” ucap Gus Bagus yang tiba-tiba membawa makanan ringan berupa Snak kacang.
“Heloh dapat dari mana kamu Snak kacang itu minta Dik, Bagilah dikit yah...?!,” ucap Ustad Dwi merayu Gus Bagus yang tengah memakan Snak kacang.
“Enggak mau kunyah saja itu rokok,” ucap Gus Bagus mengejek Ustad Dwi.
“Halah pelit amat kamu Dik dikit saja, kok sempat-sempatnya kamu bawa Snak saat perang begini?,” ucap Ustad Dwi.
“Memang perang tidak butuh tenaga apa?, aku selalu bawa dua atau tiga bungkus di balik saku jaket T O H yang aku modifikasi aku beri saku besar di baliknya. Lah Mas Dwi masih sempatnya bawa rokok,” ucap Gus Bagus.
“Ya sama aku bawa selalu di saku depan jaket Alif kecil yang kupakai ini,” sahut ustad Dwi.
Lalu tiba-tiba ada sesosok genderuwo di depan mereka yang menyeringai hendak menyerang kedua kakak beradik jawara namun tak satu guru tersebut.
__ADS_1
Huwa... Argh...
Sang genderuwo menyeringai hendak mencakar ustad Dwi namun dengan satu pukulan saja genderuwo hancur seketika.
“Apasih nih genderuwo, orang lagi asyik merokok di ganggu,” ucap Ustad Dwi melanjutkan aktivitas merokoknya.
“Hahaha, mungkin genderuwo itu jatuh cinta padamu Mas tadi itu kan genderuwo cewek,” ucap Gus Bagus tertawa sambil terus mengemil Snak kacang.
“Loh kok sudah enggak ada suara apa sudah selesai perangnya?,” ucap Ustad Dwi melihat-lihat sekitar.
“Lohalah Mas itu Pak Paimen dan Aris di belah jadi dua bagian dan masing-masing bagian di gantung di tempat berbeda. Makanya tidak ada suara ya tidak bisa menyatu lagi dan tidak bisa hidup lagi kalau begitu lah wong tidak menyentuh tanah,” ucap Gus Bagus.
“Ayo sudah selesai menontonnya mari Dik Bagus kita selesaikan,” ucap Ustad Dwi mulai berdiri namun sebatang rokok hampir habis masih menempel di bibirnya.
“Ayo dah Mas Snak ku juga sudah habis,” ucap Gus Bagus ikut berdiri seraya membersihkan celananya dari kotoran dan debu.
Namun dengan secara tiba-tiba angin dan cahaya hijau melesat dari arah berlainan membunuhi para genderuwo dan mencabut ruh Joni dukun yang mengendalikan para genderuwo.
“Yah..., Yah..., Dava....!!,” teriak Gus Bagus.
“Hahaha..., kita keduluan Dik. Itu temanmu ya, salah satu anggota T O H juga ya,” ucap Ustad Dwi.
“Mas Dwi sih ngajak ngobrol,” ucap Gus Bagus kesal.
“Hahaha ya sudah aku ke tempat lain,” ucap Ustad Dwi menghilang satu-persatu hingga habis semua bayangan ustad Dwi yang berada di desa Mbongso.
“Hehe..., Maaf Mas Bagus aku gemas liat genderuwo-genderuwo itu rasanya pingin bunuh saja,” ucap Dava yang mulai menyatukan tubuh Pak Paimen dan Aris agar hidup kembali.
“Sudah ayo ke tempat Jaka,” ucap Gus Bagus berlari pergi menjauh layaknya angin.
“He, Mas Bagus tunggu begitu saja Marah, Yah di tinggal lagi kan Oalah jahat benar ih sama Adik Dava yang cakep ini, hahahay...,” ucap Dava ikut menghilang menuju tempat Jaka bertempur.
__ADS_1
Sedangkan Pak Paimen dan Aris yang hidup kembali terbengong melihat jasad para genderuwo yang perlahan menjadi abu dan jasad Joni yang terbakar dalam hati mereka berkata kok bisa dengan cepat musuh dikalahkan.