T O H

T O H
Anak Turunan


__ADS_3

Dukuh Banjar Kerep


Aaaaaaaa...., tidaaaak......,


Sebuah jeritan kesakitan dari seseorang melengking keras di sela-sela kesunyian tengah malam. Memecah aliran rintik-rintik gerimis yang membasahi sebuah perkampungan sebelah barat kota Jombang.


Beberapa warga terbangun dari lelapnya istirahat di setiap rumah, ada yang membawa senter menyalakannya lalu mencari asal-muasal dari sumber suara.


Ada pula yang sekedar keluar dari dalam rumah dan berdiri saja bersama anak istrinya di teras tak berani beranjak, karena merasa takut dan ngeri sebab jeritan yang mereka dengar layaknya seseorang yang kesakitan dari ajal yang hendak menjemput dan itu di sebabkan oleh pembunuhan.


Ada pula beberapa orang warga berkumpul di jalan utama desa berusaha menelusuri arah jeritan dan terus mencari dengan penuh waspada akan bahaya yang mengintai.


Tolong...., Aaaaarh....,


Kembali sekali lagi terdengar kali ini suara meminta tolong dengan penuh ratapan seakan seseorang yang tengah di gorok lehernya karena suara itu berlanjut dengan geraman layaknya ayam tengah di sembelih.


Pak Hasan dan Naim lekas berlari menuju kerumunan warga dari awal mula tempat mereka berjaga di pos kamling ujung desa. Ya Pak Hasan dan Naim adalah dua orang hansip desa yang selalu berjaga setiap malam.


“Bapak-bapak, ibu-ibu, apa kalian mendengar jeritan itu?,” ucap Pak Hasan terengah-engah seusai berlari.


“Ia Pak Hansip, sepertinya berasal dari rumah Bu Romlah,” ujar salah satu ibu-ibu yang ikut berkerumun.


“Kalau begitu mari bapak-bapak, ibu-ibu kita pergi kesana untuk mengetahui apa yang tengah terjadi.


Beberapa warga mulai bergerak menuju rumah Bu Romlah seorang bidan desa yang berada tak jauh dari tempat berkerumun warga sekiranya 50 meter jaraknya.


Pak Haji Kardi yang tengah berada di depan pagar rumahnya nampak berdiri memandang kearah rumah Bu Romlah. Matanya menelaah, mencari sumber suara serasa ingin mengetahui apa yang terjadi sehingga suara jeritan dari rumah Bu Romlah terdengar begitu mengerikan.


Beberapa saat terlihat warga yang semula berjumlah beberapa orang saja kini sudah bertambah agak banyak berjalan menuju rumah mewah sang Ibu Bidan.


“Loh Pak Haji, apa Pak Haji terbangun karena mendengar suara jeritan Bu Romlah juga?,” tanya Pak Naim.

__ADS_1


“Benar Pak Naim mari kita lihat apa yang terjadi,” kata Pak Haji Kardi dengan membawa payung kecil yang ia bawa karena hanya payung itu yang teronggok di depan rumahnya.


Pikirnya tak terburu kalau mencari payung lain keburu orang yang berteriak sudah tak tertolong lagi.


Sementara para warga berduyun-duyun menuju rumah Bu Romlah yang masih beberapa meter lagi sampai. Keadaan di dalam rumah Bu Romlah sudah sangat porak-poranda. Kondisi yang sangat mengenaskan tengah di alami oleh keluarga Bu Romlah.


Terlihat Pak Rian suami dari Bu Romlah terkapar di lantai bersimbah darah dengan kepala yang terpisah dari badanya. Sedangkan anak tertua Santi yang tengah mengandung terbujur kaku di atas tempat tidurnya di kamar tengah dengan perut tercabik-cabik seakan seluruh isi dalam perut keluar tercecer diatas kasur.


Ibu Romlah sang Bidan desa tak luput dari kematian yang mengenaskan kepalanya menerobos kedalam kaca lemari dengan badan dan leher di sisi luar kaca dengan darah segar terus mengucur di sela-sela leher.


Teriakan pilu nan mengerikan tadi rupanya berasal dari anak kedua keluarga Bu Romlah. Dia adalah Sari kini tengah berjuang antara hidup dan mati merangkak di atas rerumputan di pekarangan depan rumahnya dengan kondisi tubuh yang penuh luka cabikan dan cakaran.


Beberapa warga yang sudah dulu sampai langsung memasuki pelataran rumah Bu Romlah hendak menolong Sari namun di urungkannya, karena mereka melihat sosok menyeramkan tinggi besar, berambut panjang, berkuku tajam.


Nampak makhluk tersebut tengah melahap sebuah janin merah yang masih belum menjadi bayi sempurna. Nampaknya itu adalah janin Santi yang telah mati diatas ranjangnya.


Tolong...., tolong..., tolong...,


Rintik hujan seakan melengkapi penderitaan Sari yang turun semakin deras bertambah dengan suara petir menyambar sehingga menambah kengerian suasana di sekitarnya.


“Ya Allah Pak Haji itu kuntilanak merah,” teriak salah seorang warga yang melihat sosok si kuntilanak merah telah selesai melahap habis janin dari perut Santi. Lalu berjalan menuju arah Sari.


Hahaha.... Hahaha... Hahaha....


Terdengar suara tawa jahat dari sesosok pria dari balik pintu depan rumah Bu Romlah. Dia adalah gendon seorang pria yang dua tahun yang lalu menikahi Santi kakak dari sari. Ia berjalan keluar memakai baju serba hitam dan ikat kepala hitam layaknya seorang dukun.


Di tangan kirinya menenteng kepala dari Pak Rian sang mertuanya dengan kondisi mata mendelik dan lidah menjulur keluar dan darah menetes dari bekas urat leher yang sudah putus.


“Ya aku Gendon anak dari dukun Rojak yang lima belas tahun yang lalu kalian bakar hidup-hidup, karena kalian tuduh sebagai dukun santet. Sengaja aku membantai keluarga dari istriku sendiri karena mereka yang memprovokasi warga dahulu untuk membantai orangtua ku,” teriak Gendon sambil melempar kepala Pak Rian kearah kuntilanak merah sebagai santapannya dengan rakus kembali kuntilanak merah menggigit tiap ujung kepala Pak Rian hingga habis.


“Hey warga ingat lah namaku Gendon, aku dan makhluk peliharaanku si kuntilanak merah akan memburu kalian yang hadir saat menyaksikan pembantaian orangtua ku lima belas tahun yang lalu,” teriak Gendon sekali lagi.

__ADS_1


“Termasuk kau Pak Haji tua Kardi yang sok suci,” kata Gendon sambil mengacungkan parang yang ia bawa kearah Pak Haji Kardi.


“Kau bukan manusia Gendon, kau iblis kebaikan kami selama ini kau anggap apa, kami semua disini merawat mu semenjak kematian kedua orangtua mu, mengajarimu ilmu dan pengetahuan apa ini balasanku, apa salah keluarga istrimu, bukankah ia sangat mencintai mu..?,” teriak Pak Haji Kardi.


Hahaha..., Hahaha..., Hahaha...,


“Jangan banyak bicara kau Pak Tua tunggu saja giliranmu saat aku datang untuk mencabut nyawa mu,” teriak Gendon yang sudah memegangi rambut Dari yang panjang dan tengah menjambaknya.


“Tolong.., Pak Haji...?!,” rintihan sari yang sudah sangat lemas ketakutan, karena sosok kuntilanak merah sudah tepat berada di depanya.


“Hey.., Gendon lepaskan Nak Sari dia tidak tahu apa-apa, lepaskan dia aku mohon..?,” teriak Pak Haji Kardi.


Hek.... Arrrrghhh...


Suara sari menggeram ketika lehernya tercekik oleh tangan hitam si kuntilanak merah dengan kukunya yang panjang dan tajam seakan siap memisahkan kepala Sari dari badanya.


Mata Sari terlihat sudah begitu pasrah seakan ia telah menerima takdir bahwa ia akan tiada malam ini. Bayangan sari hanya tertuju pada saat-saat terakhir bersama Ayah, ibu dan kakaknya Santi yang kini telah tiada di tangan makhluk buas setan peliharaan kakak iparnya sendiri.


“Hay.., Warga lihatlah pembalasanku ini, aku anak keturunan dari dukun Rojak akan membalaskan dendam atas kematian orang tua ku,” teriak Gendon mengayunkan parang kearah perut Sari.


"Matilah Kau.....!!," teriak Gendon


_


_


_


_


_

__ADS_1


__ADS_2