
Siang yang terik di hari Jumat masjid Darussalam desa Mojokembang. Nampak para jamaah sholat Jumat baru selesai menunaikan sholat Jumat dan mulai berhamburan keluar dari dalam masjid.
Seperti biasa gerombolan jamaah cilik dari para anak kecil yang ikut melaksanakan jumatan berlarian keluar masjid terlebih dahulu.
Disusul para remaja dan orangtua, bagi yang membawa motor mereka mengarah ke parkiran untuk mengambil motornya masing-masing.
Sedangkan Jaka selalu berjalan kaki dari dulu semenjak ia kecil dan itu adalah hasil dari didikan Abah Wachid dengan petuahnya semakin jauh jarak dan semakin banyak langkah menuju masjid semakin besar pahala yang terhitung.
“Eh Jaka, Assalamualaikum,” Dalang yang ikut berjamaah lekas berlari kecil menyusul Jaka yang tengah berjalan pulang.
“Waalaikumsalam, eh sampean Lang tumben jalan kaki biasanya juga naik motor,” ucap Jaka agak menyindir Si Dalang.
“Dulu kita kan sealiran suka mengumpulkan pahala,” celetuk Si Dalang balik menyindir Jaka.
“Ah kamu Lang pintar juga membalikkan sindiran, belajar dimana rupanya,” terang Jaka berjalan beriringan dengan Jaka.
“Hahaha...., tidak tahu dia aku kan lama di Tebuireng Jak,” jawab Si Dalang.
“Serius Lang Pondok Pesantren Tebu Ireng Cukir, ah yang benar kamu Lang aku banyak kenalan teman ustad loh ya di sana?,” celetuk Jaka penasaran.
“Benar Jak tapi harusnya kamu teliti saat sowan ke Tebuireng siapa yang jaga parkir, hihihi..,” kata Si Dalang tertawa.
“Oh itu kamu Lang?,” sahut Jaka kaget.
“Ngawur kamu Jaka yang jaga parkir ya tukang parkir, hahaha...,” tawa beringas Si Dalang merasa sukses menjahili Jaka.
“Kamu ini ngomongnya kemana Lang Dalang Semprol,” ucap Jaka.
“Ets, se low teman bercanda sedikit sebagai selingan, oh ya ngomong-ngomong Beby Wahyu sudah bisa apa Jak?,” tanya Si Dalang ingin tahu keadaan Beby Wahyu.
“Lah mana ane tahu dan tempe Lang kan situ yang tulis gimana sih nih orang anemia kayaknya ini,” teriak Jaka.
“Eh sebentar Jaka anemia bukannya sakit karena tekanan darah rendah ya, kalau lupa ingatan itu amnesia Jaka, amnesia bukan anemia Jaka hadeh,” jawab Si Dalang sambil menepuk jidat.
__ADS_1
“Loh sudah diganti toh namanya?,” celetuk Jaka kembali menggoda Si Dalang.
“Dari dulu juga namanya lupa ingatan itu amnesia Jaka,” kini gantian Si Dalang yang teriak karena celoteh Jaka.
Sedang enak-enaknya bercanda dan berjalan beriringan seusai menunaikan sholat Jumat Jaka dan Dalang di kejutkan suara teriakan dari arah belakang mereka berjalan.
“Woi jangan kabur, jangan lari...!,” teriakan keras beberapa orang dari belakang Jaka dan Dalang.
“Kang Jaka tolong saya...!?,” ucap seorang pemuda yang bernama Ramlan yang tengah dikejar beberapa pemuda dengan membawa senjata tajam.
“Loh Dek Ramlan bukanya anaknya Pak Lurah kenapa kok sampai di kejar-kejar para pemuda itu, memang salah Dek Ramlan apa sampai dikejar-kejar?,” ucap Jaka bertanya pada Ramlan yang berlindung di belakang punggung Jaka.
“Kayaknya aku kenal dari seragam mereka Jaka, bukanya itu seragam kebanggaan perguruan silat desa sebelah ya?,” ucap Dalang.
“Benar Lang apa yang kamu bilang aku juga baru ingat bukanya perguruan dari seragam silat seperti itu adalah milik Pak Badrun jawara kampung sebelah?,” ucap Jaka.
“Yak kami dari perguruan silat Pak Badrun jangan halangi kami untuk menghajar anak ini biar kami cincang iya menjadi perkedel,” teriak salah satu pemuda yang mengejar Ramlan.
“Lang rupanya ini ada yang tidak beres, lihat itu mereka matanya merah semua begitu dan kantong matanya menghitam. Terus bola matanya itu loh bergerak tak beraturan begitu ini sudah bukan mereka lagi Lang kayaknya mereka kesurupan atau disusupi, atau ada yang mempengaruhi,” ucap Jaka.
“Ehm..., beneran Lang di belakang setiap pemuda itu ada genderuwo. Ini apa lagi ini Lang baru selesai kita melalui perang yang begitu panjang dan menguras energi dan pemikiran kita ada lagi kayak gini pasti ada Dalang ilmu jahat atau orang jahat di balik mereka,” ujar Jaka meneliti dan menyimpulkan.
“Maksudnya bagaimana Jaka ada Dalang di balik mereka?,” celetuk Si Dalang mengernyitkan dahinya.
“Eh, hehehe, maksudnya ada yang menggawangi bukan Dalang kamu, ada yang mau bikin onar dan menyuruh atau menguasai mereka sehingga mereka tak sadar dengan apa yang mereka lakukan begitu lo dalang,” terang Jaka menjelaskan.
“Oh begitu aku kira maksud mu aku di balik mereka,” jawab Si Dalang.
“Halah jadi orang mbok ya jangan terlalu bawa perasaan alias wafer,” celetuk Jaka.
“Baper Jaka bukan wafer haduh tak jitak ini anak lama-lama ya,” ucap Dalang gemas sama Jaka.
“Woi om-om sudah minggir apa kalian mau aku tebas sekalian hah,” teriak salah satu pemuda yang mengejar Ramlan.
__ADS_1
“Mas mati aku Mas Jaka, Pak Dalang tolong saya bagaimana ini?,” kata Ramlan masih bersembunyi di belakang punggung Jaka dengan gemetaran takut.
“Lah mereka belum tahu siapa kita Lang?,” ujar Jaka.
“Lah ia memang kita siapa Jak?,” tanya Dalang.
“Lah meneketehe alias mana saya tahu Lang kan Situ yang tulis,” celetuk Jaka.
“Ah kamu Jaka setiap bicara dengan ku pasti ujungnya situ yang tulis terus aku enggak ada bahan lagi buat ngomong kalau begitu,” timpal Dalang.
“Mereka belum tau siapa Jaka Lang, ok Lang maju...?,” perintah Jaka pada dalang.
“Lah loh kan wayang ya Jak kenapa Dalang ente perintah-perintah, harusnya kan ane yang perintah ente Jaka,” sahut Dalang.
“Hehehe, sekali-kali kenapa Lang. Kapan lagi memerintahkan Dalang buat tarung, masak wayang melulu yang perang Dalang juga dong, hehe...,” ucap Jaka.
“Bodo amat Jak, serah apa kata loh dah,” ucap Dalang.
“Ngambek-ngambek alah begitu saja marah tua ngambekkan kamu Lang,” celetuk Jaka.
“Ya sudah kalau kalian tidak mau maju kami yang maju. Jangan salahkan kami kalau kalian terluka,” ucap salah satu pemuda yang mengejar Ramlan.
“Jak mereka mengancam kita, ladeni sana Jak,” kata Dalang berbalik arah mau pergi.
“Eh, eh, mau kemana Lang?,” timpal Jaka memegang kerah kemeja Dalang bagian belakang seperti mengangkat kucing dari lehernya.
“Mau pulang Jaka anu jemuranku belum aku angkat,” ucap Dalang mencari alasan.
“Halah ada bude Amanah ibumu yang mengangkat. Di sini saja bantu aku beri pelajaran mereka dulu sekali-kali masuk benang merah cerita biar kamu merasakan berkelahi di novel T O H,” ucap Jaka.
“Ya sudah ayuk,” teriak Dalang berlari menyongsong segerombolan pemuda yang mengejar Ramlan yang berasal dari perguruan silat desa sebelah asuhan dari Pak Badrun.
Begitupun gerombolan pemuda tersebut berlarian menuju arah Jaka dan Dalang yang menyongsong kearah mereka...
__ADS_1
“Mati kau si Om-om,” para pemuda perguruan silat Pak Badrun berteriak menyongsong Jaka dan Dalang sambil mengayunkan senjata tajam yang mereka genggam sekali sabit clek.....