T O H

T O H
Malam Tenang


__ADS_3

Jaka tengah tertidur lelap di atas ranjang kamarnya. Wajahnya nampak begitu pulas raut keningnya menunjukkan gambaran kelelahan yang begitu sangat. Di atas Jaka yang sedang asyik dengan tidur malamnya dalam posisi terlentang, Si Bayi Wahyu terlihat ikut tertidur pulas dengan posisi tengkurap di atas badan Jaka sambil menghisap dot di mulutnya.


Nyam..., Nyaem..., Nyam...


Suara Si Beby Wahyu mengunyah perlahan dot dengan lincah di mulutnya kadang ia putar-putar namun matanya masih terus terpejam di atas tubuh Jaka. Putri yang sedari tadi duduk di samping dua sosok kesayangannya nampak menikmati pemandangan langka antara bapak dan anak sambil terus tersenyum-senyum kecil melihat tingkah suami dan bayinya itu.


“Kalian ini kok bisa kompak begitu ya?,” ucap Putri lirih takut membangunkan kedua cintanya itu.


Putri sadar malam-malam yang panjang dan berat telah dilalui sang suami saat bertempur memimpin pasukan golongan putih dalam Panji T O H. Tentu begitu menguras tenaga dan pikiran sang suami. Maklumlah kalau malam ini Jaka tertidur pulas benar karena terlalu capek sudah, ujar Putri dalam hatinya.


Di luar rumah Haji Wachid langit biru bertabur bintang terlihat cerah menawan sudah lama suasana malam teduh nan tenang seperti ini tiada tersuguhkah oleh alam desa setelah peperangan yang begitu panjangnya.


Putri masih sibuk melipat baju Jaka dan Si Buah Hati Beby Wahyu. Jam dinding yang bertengger ogah tepat di atas kepala ranjang agak tinggi di atas menempel di dinding malas menunjukkan pukul 21.00 wib. Putri belum jua dapat tertidur, iya masih ingin menikmati momen langka antara bapak dan anak yakni Jaka dan Beby Wahyu yang begitu kompak tertidur pulas bersama.


Tok..., Toktok...,


“Assallamualaikum Nak Putri, Umi masuk ya?, apa sudah tidur kamu Putri?,” ucap salam Umi Epi mengetok pintu dari luar kamar meminta ijin untuk masuk kedalam kamar.


“Waalaikumsalam, masuk saja Umi, pintu tidak Putri kunci kok,” sahut Putri.


Kriek...,


Suara pintu kamar Jaka terbuka oleh Umi Epi yang langsung masuk dan duduk di sebelah Putri. Sekilas Umi Epi memandang Putranya Jaka yang tertidur pulas dengan sang cucu yang jua tertidur pulas di atas perut Jaka.


“Hihihi, bisa-bisanya mereka berdua kompakkan begitu ya Put,” ucap Umi Epi tersenyum geli melihat tingkah Jaka dan Beby Wahyu tertidur.


“Ndok Putri, Umi hanya mau menyampaikan besok pagi tolong bantu Umi dan Kak Vivi ya?. Kata Abah besok hendak ada tamu dari Tunggorono,” ujar Umi Epi.

__ADS_1


“Loh jadi toh Umi Kak Vivi di lamar Gus Bagus?,” tanya Putri penasaran.


“Jadi Putri, besok rencananya keluarga besar Gus Bagus mau datang berkunjung ke mari. Yah Umi minta tolong besok kamu bantu umi masak di dapur setelah sholat subuh,” ucap Umi Epi.


“Ia Umi besok Putri pasti bantu Umi,” ucap Putri tersenyum kecil dengan rasa sayang dan hormat pada sang mertua yang sudah seperti Ibunya sendiri.


“Ya sudah kamu jangan tidur terlalu malam sayang. Temani suamimu itu kasihan dia setahun ini setiap malam iya selalu pergi berperang dan pulang saat matahari sudah tinggi terkadang sampai berhari-hari tidak pulang,” ucap Umi Epi melihat Jaka yang tengah tertidur.


“Ia Umi, Allhamdulillah semua sudah berlalu pandemi aneh jua sudah berangsur hilang dari kota,” ucap Putri.


“Ya sudah Umi mau istirahat juga ke kamar Umi, kamu jangan tidur terlalu larut loh Put,” ucap Umi Epi membelai pipi Putri lalu pergi keluar kamar untuk kembali tidur ke kamarnya bersama Haji Wachid.


Sementara itu di kamar Vivi nampak Vivi belum jua dapat tertidur. Dalam posisi berbaring di atas kasur matanya masih terjaga. Sebentar-sebentar ia mengubah posisinya dengan memiringkan berbaringnya menghadap tembok. Terkadang ia cemas, terkadang dek-dekan jadi salah tingkah dan tak sabar menunggu besok. Saat sang kekasih Gus Bagus datang bersama rombongan keluarganya untuk datang melamar dirinya.


“Aku harus bagaimana besok aku kok jadi gugup begini ya?,” gumam Vivi kembali merubah posisi kali ini punggungnya ia sandarkan pada tembok dengan setengah duduk dengan kaki bersila.


“Hehehe..., Mas Bagus, Mas Bagus kamu membuat aku menjadi bingung dan salah tingkah begini Mas,” gumam Vivi kali ini menatap langit-langit kamar sambil mendongak kepala.


“Semoga besok tak ada halangan yang berarti, aku menantimu besok mas dalam Jannah,” ucap Vivi mulai memejamkan matanya berbaring di atas ranjang kamarnya.


***


Dirumah keluarga Pak Kardi Dava masih asyik berkutat dengan Qalam Al Qur’an di tangannya dengan lantunan merdu nan syahdu. Dava terus mengumandangkan ayat-ayat Allah dengan Sari sebagai makmum tersimpuh ayu dibalut mukena putih bermanik-manik emas pemberian Umi Emi.


Sari menatap sang kekasih dengan rasa cinta mendalam terduduk khusyuk mendengar lantunan tilawah yang keluar perlahan penuh hikmat dari bibir Dava. Entah serasa sari tak ingin bangun dan berdiri meninggalkan Dava. Dalam hatinya sudah cukup ia di tinggal Dava setiap malam pergi berperang dan selalu gelisah dan gusar akan keselamatan sang pujaan hati saat pagi menyambutnya pulang.


“Sodakallahuladzim,” ucap Dava mengakhiri lantunan lafadz ayat Allah yang ia lantunkan seraya menyambut tangan Sari yang meminta salim dengan jabatan tangan lembut lalu punggung tangan Dava di ciumnya oleh Sari.

__ADS_1


“Tetaplah seperti ini kekasihku menjadi imam terbaikku,” ucap Sari seraya tersenyum manja pada Dava.


“Mari kita berjalan bersama menuju Ridho Gusti Allah Dek,” ucap Dava ikut tersenyum melihat Sari tersenyum.


“Ehem..., Ehem, Dava, Nak Sari, Bapak mau bicara sebentar,” ucap Haji Kardi yang datang terus duduk bersila di depan Dava.


Sari dan Dava nampak gemetar tak karuan dalam hati mereka berdua berdenyut keras dek-dekan seraya mau pecah, apakah Abah hendak berkata untuk menyuruh kita menikah bukankah sekolah kami belum selesai. Terlontar kata yang sama dalam hati Dava dan Sari.


“Tenanglah-tenanglah Dava, Nak Sari jangan tegang begitu. Abah tau kalian masih harus meneruskan sekolah menghadapi ujian kelulusan tiga bulan lagi. Tidak-tidak kalau bapak menyuruh kalian menikah, tetapi awas harus jaga jarak jangan sampai terjadi yang tidak-tidak?,” ucap Haji Kardi mengingatkan Dava dan Sari.


“Siap Abah,” ucap Dava dan Sari serempak semakin kompak.


“Hahaha..., Kalian lucu sekali,” ujar Haji Kardi terkekeh-kekeh.


“Begini Dava dan Sari besok ada acara lamarannya Gus Bagus dan kak Vivi jadi Abah dan Umi hendak mengajak kalian datang ke acara tersebut,” ucap Umi Emi yang ikut nimbrung duduk di sebelah Abah Kardi.


“Loh jadi juga toh Kak Vivi dan Mas Bagus akhirnya,” ucap Dava.


“Allhamdulillah,” ucap Dava dan Sari serempak.


“Hahaha..., mereka lucu ya Umi?,” ucap Abah Kardi tertawa sambil menengok pada Umi Emi.


“Abah bagaimana kalau tiga bulan lagi setelah kelulusan mereka kita Nikahkan Saja?,” ucap Umi Emi.


“Setuju...,” teriak Abah Kardi, Dava dan Sari serempak.


“Hihihi, kali ini Abah ikut lucu juga,” ucap Umi Emi tertawa sambil menutup bibirnya.

__ADS_1


Keluarga Haji Kardi nampak bercanda ringan terkadang bercakap serius di tempat Mushola kecil yang di buat Abah Kardi di samping kamar Abah Kardi dan Umi Emi.


__ADS_2