
Jaka tengah meletakkan jasad kedua orang tuanya di atas ranjang yang tak ikut hancur bersama hancurnya fondasi rumahnya yang selama ini kokoh tak tergoyahkan malam ini runtuh jua.
Dengan mata yang begitu tegar setegar batu karang hasil dari tempaan keadaan selama ini sehingga sesulit apa pun keadaan yang dihadapi sorot matanya tetap tajam tak tergoyahkan. Walau dalam hatinya tetap tercabik-cabik penuh kesedihan dan aroma balas dendam.
Jaka lalu mengecup kening kedua orang tuanya yang sudah terbujur kaku tak bernyawa gugur menjadi syuhada membela kebenaran di kota Jombang tercinta.
“Abah, Umi, terima kasih telah mengantarkan Jaka sampai hari ini dan maaf di akhir kalian aku tak mampu menolong kalian hingga semua ini terjadi beristirahatlah Abah, Umi. Aku berjanji akan membawa pulang menantumu Putri,” terucap kata-kata terakhir teruntuk kedua orang tuanya dari Jaka mengalir perih melalui bibirnya yang sudah mulai memutih pucat sayu terlalu lelahnya melawan ribuan setan dan siluman malam ini.
Tek..., tek..., kletek...,
Suara langkah kaki Gus Bagus mendekat sambil menggotong tubuh Vivi yang sudah tak sadarkan diri. Lalu mematung di belakang Jaka menatap tubuh Jaka yang telah robek tersayat di sana-sini akibat pertempuran sedari sore lalu.
“Mas Bagus kau datang lalu bagaimana dengan Dava?,” tanya Jaka namun masih tetap memandang jasad kedua orang tuanya tanpa berbalik menatap Gus Bagus.
Gus Bagus berjalan perlahan meletakkan tubuh Vivi dibaringkannya tubuh Vivi di samping jasad Umi Epi seraya berkata, “Kondisi Dava sama denganmu Dek, iya yang menyuruhku kesini untuk menolong Vivi yang sempat di bawa kabur para siluman kera.”
“Baiklah kalau memang itu kemauan Dava sendiri, Ki Datuk Panglima Kumbang datanglah!!,” teriak Jaka memanggil sosok raja macan kumbang.
Beberapa sosok macan kumbang akhirnya datang dengan di gawangi satu tetuanya yakni Ki Datuk Panglima. Berjalan mendekat menghampiri Jaka dan Gus Bagus yang tengah berdiri di tengah-tengah bangunan rumah Jaka yang telah runtuh.
“Ki aku meminta tolong jagalah ketiga tubuh orang yang kucintai ini,” ucap Jaka lirih.
“Serahkan pada kami Mas Jaka,” jawab Ki Datuk Panglima Kumbang.
__ADS_1
Dua sosok menghampiri mereka muncul dari kegelapan, mereka adalah Gus Bari dan Mbah Raji datang dari arah selatan kota, “Gus Bagus, Gus Jaka, mari bergerak maju,” ucap Gus Bari mengajak Jaka dan Gus Bagus untuk membalas serangan.
Jaka masih terdiam mematung sambil mendongakkan kepala memandang langit yang pekat oleh hujan deras dan mendung kelam yang menggantung di atas desa Mojokembang yang bisa dikatakan telah menjadi desa mati. Bahkan bila boleh disebut satu kota Jombang telah mati malam ini tak lagi berpenghuni semua telah dibantai para siluman. Yang tersisa yang masih hidup bertahan adalah para anggota T O H yang masih terus melawan di berbagai sudut kota.
Dalam pandangannya menatap langit gelap Jaka berkata dalam hati anakku Wahyu aku tahu kau tengah berjuang pula di atas sana. Ayah berharap segaralah selesaikan urusanmu di atas sana lalu turunlah bantu kami di bawah sini.
“Jaka mari kita lanjutkan perjuangan,” ucap Gus Bagus menepuk pundak Jaka. Jaka pun menoleh Gus Bagus seraya tersenyum kecil lalu menatap kembali kosong ke arah depan.
Dalam diamnya Jaka yang selalu tersirat penuh makna ternyata tengah memanggil sosok Jatayu dan Garuda wiwaha yang telah muncul bersama naga Baru linting dan telah berkoar di atas mereka langsung melesat maju terus menyapu ribuan pasukan elang setan besar dari tentara Adi Yaksa.
“Maaf kawan-kawanku kalian malam ini kupanggil berulang-ulang,” ujar Jaka.
Gus Bagus tersenyum kecil ada rasa bangga melihat bakal calon adik iparnya Jaka yang selalu tegar menghadapi situasi sesulit apa pun. Walau ia dalam keadaan terpojok sekalipun iya tak pernah sedikit pun mengeluh dan terlontar kata-kata keluhan dari bibirnya tiada pernah.
Di belakang jasad Abah Wachid dan Umi Epi dan tubuh Vivi yang terbaring di atas ranjang. Tiba-tiba muncul sosok menyala-nyala kuning yang sedang menahan tangis kesedihan.
“Dek mari kita lanjutkan perjuanganmu, maaf Mas baru dapat kabar tentang semua ini,” ucap Dwi Cahyadi.
Jaka hanya membalas dengan senyuman kecil bukan karena kemarahannya oleh sebab telatnya sang api kuning dari tanah jawara Serang. Tetapi sebab iya sudah tak mampu berkata banyak lagi setelah semua yang terjadi dan iya lalui malam ini.
“Mari...,” ucap Jaka lirih namun pasti dan mulai berlari kencang menuju arah depan melanjutkan perjuangan diikuti oleh Gus Bagus dan yang lain pun ikut berlari di belakang Jaka.
Sedangkan Gus Dwi seperti biasa mengloning diri menjadi ribuan sosok di belakang Jaka sehingga begitu terangnya pancaran cahaya kuning yang di timbulkan oleh ribuan Gus Dwi.
__ADS_1
***
Di sisi yang lain Nyi Nurma tampak melenggang berjalan santai memasuki pintu gerbang kerajaan Adi Yaksa. Dengan mulus Nyi Nurma dapat melalui pintu gerbang dengan mudahnya, karena raksasa-raksasa penunggu gerbang tak mengetahui bahwa sosok Nyi Nurma kali ini sudah bukan sosok Nyi Nurma biasanya.
Bukan lagi sosok Nyi Nurma yang biasa menghadap raja Adi Yaksa sebagai Nyi Ronggeng sekutu Adi Yaksa. Namun sosok Nyi Nurma kali ini adalah sosok yang tengah bersatu dengan arwah mantan suaminya Hasan Jaelani.
Dengan santai dan berlenggang perlahan Nyi Nurma berjalan lurus melewati para setan yang tengah menyantap makan malam dari tubuh-tubuh musuhnya yakni warga kota dan tubuh dari para anggota T O H yang dikalahkan.
Nyi Nurma terus berjalan lurus menuju ke depan singgasana Adi Yaksa di sana terduduk dengan arogan si raja Adi Yaksa memandang sombong atas kemenangannya malam ini oleh kota Jombang yang telah iya kuasai sepenuhnya.
“Selamat datang, selamat datang wahai sekutuku. Sambutlah dengan suka-cita kemenangan kita atas kota Jombang malam ini. Silakan-silakan duduk sekutuku dari golongan manusia,” kata raja Adi Yaksa memberi kata sambutan pada Nyi Nurma.
Terlihat di depan Adi Yaksa sudah di letakkan sebuah meja bundar dari batu di atasnya ada dua buah cawan dari emas berwarna bening sehingga terlihatlah isi di dalam kedua cawan itu. Yang tak lain adalah darah perawan dati Sari dan sari pati air hina dari Putri.
“Astagfirullah Dek Nur kita sudah terlambat, raja Adi Yaksa rupanya sudah menggagahi Putri dan Sari,” ucap Hasan Jaelani yang berbicara dengan Nyi Nurma dari hati ke hati melalui telepati yang dapat tersambung secara rahasia tanpa diketahui oleh siapa pun.
Kelebihan ini hanya dapat di miliki oleh dua orang yang terpaut hati dan saling mencintai karena Sang Takdir dari Sang Kuasa oleh ikatan Suami dan Istri yang sebenarnya.
“Lihatlah kedua cawan ini yang berisi sari pati perawan dan air hina dari kedua wanita-wanita utama di T O H. Dan kau tahu betapa nikmatnya tubuh mereka saat kugagahi rasanya ingin lagi dan lagi. Dan dengar Nyi aku tak akan mengembalikan kedua wanita T O H tersebut akan kujadikan budak nafsuku selamanya di sini. Dan kedua cawan ini adalah kunci as kita untuk memanggil bala tentara kegelapan terkuat kita,” ucap Adi Yaksa.
Dengan sekali teguk isi kedua cawan tersebut ludes tak bersisa masuk ke dalam kerongkongan Adi Yaksa lurus jatuh ke sela-sela perutnya. Seketika tubuh Adi Yaksa berubah sekuat baja hitam dari tubuhnya menyala kobaran api hitam yang dapat memakan segala, membakar segalanya.
“Datanglah-datanglah bala tentara kegelapanku, Datanglah penuhi janji kalian untuk mengabdi pada rajamu ini, datanglah...!!,” teriak raja Adi Yaksa menggema ke seluruh alam kota Jombang.
__ADS_1
Sehingga bergetarlah tanah, semakin deraslah hujan, menyambar-nyambarlah petir di seluruh kota. Beberapa sudut tanah terbelah dan muncullah ratusan raksasa-raksasa bertubuh batu dan baja. Bergigi setajam kapak bertanduk laksana banteng. Meraung-raung seakan haus akan segala makanan di muka bumi karena terlalu lamanya tertidur.
Bumi seakan bergetar seperti sedang terjadi gempa yang dahsyatnya sebagai tanda awal kemunculan ratusan pasukan sakti tak tertandingi dari alam neraka merekalah pasukan kegelapan Adi Yaksa.