
“Mas kau sudah datang rupanya, maaf ya jadi merepotkan mu. Harus jauh-jauh datang kemari dari tanah merah para jawara kota Serang,” ucap Gus Bagus menyambut kakaknya Ustad Dwi Cahyadi yang tengah berdiri di puncak gunung Tunggorono sebuah gunung di sebelah barat kota Jombang.
Gunung Tunggorono adalah sebuah gunung yang sering di sebut juga dengan gunung kapas karena keberadaannya yang kadang terlihat kadang tidak, kadang seperti mengambang.
Sebuah gunung sebagai sentral tanah Jombang sebuah gunung dengan mitos gunung tertua. Konon katanya semua gunung di Jawa apabila akan meletus selalu diawali badai petir di gunung Tunggorono untuk menyampaikan salam bahwa satu gunung Jawa akan meletus sebuah mitos kearifan lokal.
“Sebegitu gentingkah kotamu Dik Bagus sehingga kau memanggilku kemari?,” ucap Ustad Dwi turun dari langit mendekati Gus Bagus.
“Keadaannya memang sangat menghawatirkan Mas, kami hampir saja kalah. Lihatlah di setiap sudut kota dengan para anggota T O H yang membela kebenaran di kota ini mereka sedang terpojok,” ucap Gus Bagus menuding ke arah luasnya tanah Jombang.
“Hem, sudah separah ini rupanya efek yang di timbulkan mereka para pemuja setan itu,” ucap Ustad Dwi Cahyadi yang ikut melihat suasana kota yang tengah terbakar peperangan hebat di setiap sudutnya.
“Aku jadi ingat masa kita dulu sebelum aku pergi hijrah ke kota Serang. Kita pernah bahu membahu di kota ini menegakkan kebenaran dan hanya kita berdua. Menjadi dua sosok legenda yang sangat diperhitungkan di dunia persilatan ghoib kota Jombang,” ucap Ustad Dwi.
“Benar Mas aku juga kangen masa-masa itu dimana aku masih terus bersama Mas dan belajar semua hal pengetahuan keilmuan ghoib dari Mas Dwi,” ucap Gus Bagus.
“Kudengar semua yang bertarung di setiap sudut kota ini sekarang di bawah komando mu. Katanya kau adalah orang terpenting nomor dua setelah Haji Kasturi,” ucap Ustad Dwi.
“Benar Mas, namun predikat itu adalah suatu tanggung jawab yang besar dan berat aku pukul kadang aku ingin seperti dulu saat bersama Mas Dwi selalu mendapat wejangan dari mu,” ucap Gus Bagus.
“Kau masih saja seperti dulu, aku ini bukan apa-apa masih ada yang lebih kuat dan sakti dari ku,” ucap Ustad Dwi.
“Siapa yang lebih sakti dari mu Mas, seorang pemuda yang pemahaman pengetahuan dan kekuatan tenaga dalamnya setara dan sebanding dengan guru kami Haji Kasturi,” ujar Gus Bagus.
__ADS_1
“Halah Dik aku ini apa, sudah aku juga sudah lama tidak berolahraga rupanya Sarpala masih saja berulah padahal dulu ia sudah ku bikin babak belur. Kalau Haji Kasturi memang sekarang jawara, pendekar yang berhati sutra apa lagi Sarpala masih terhitung adik iparnya jadi ia ragu saat menghadapi Sarpala walau sebenarnya ia bisa dengan mudah memusnahkannya, tetapi aku kali ini tak akan memberinya ampun,” kata Ustad Dwi seraya melakukan peregangan otot dengan beberapa gerakan pemanasan.
“Ini yang aku suka sama Mas Dwi selalu bersemangat baiklah ayo Mas kita habisi satu persatu musuh kita,” ucap Gus Bagus.
“Kamu dari dulu Gus selalu saja kurang percaya diri, sebenarnya kamu sanggup kan membumi hanguskan satu kota walau musuh sudah penuh di kota itu,” ucap Ustad Dwi.
“Aku tidak berani melangkahi yang tua Mas, hehehe...,” ucap Gus Bagus.
“Ya sudah ayo tidak usah lama-lama, aku sudah gatal ingin memukul sesuatu, Pancasona....!?,” teriak Ustad Dwi mengeluarkan ilmu kesaktiannya yakni ilmu Pancasona yang dapat membelah diri menjadi seberapa banyak musuh yang di hadapi.
Sebanyak apapun musuhnya pemilik ilmu ini akan terus membelah dirinya menjadi banyak mengimbangi jumlah musuh. Namun setiap sosok yang terbentuk dari gaya membelah diri menjadi banyak bukan berarti hanya bersifat bayangan sementara, tetapi utuh layaknya tubuh aslinya sama kuatnya.
“Ayo malah bengong, ayo kita olahraga,” ucap Ustad Dwi yang telah membelah diri menjadi ratusan Ustad Dwi yang semuanya serupa dan sama tiada beda sehingga tak dapat di bedakan.
Dan tiba-tiba seakan langit terbelah menyala merah. Sebuah sayap nan besar dan panjang menyelinap dari balik awan. Sosok Garuda raksasa datang dari atas langit dengan tubuh layaknya terbakar api.
Sosok ini adalah sang Garuda emas dengan tubuh yang selalu seperti terbakar. Sosok serupa manusia tapi berkepala garuda. Sosok ini adalah mitologi langit. Ia datang dengan senyumnya yang khas menyapa Gus Bagus.
“Sudah lama kau tak memanggilku Bagus, rupanya kau tengah terdesak melawan musuh-musuh mu,” ucap Garuda.
“Benar Kangmas Garuda aku minta tolong ya kali ini,” ucap Gus Bagus.
“Tenanglah seperti halnya jawara nomor satu dari tanah serang di sampingmu ini aku pun sudah lama tidak berolahraga mari kita merentangkan otot sejenak,” ucap Garuda seakan dia tau bahwa Ustad Dwi adalah sosok terhebat di tanah serang.
__ADS_1
“Kau masih Sama saja seperti dulu Garuda sama dengan Mas Dwi selalu bersemangat,” ucap Gus Bagus.
“Hai Dwi kau mau memilih sisi yang mana?, terserah kau biar aku mengalah mengurus sisanya dengan Bagus,” ucap Garuda.
“Wah kalau begitu bagaimana kalau kita berlomba. Siapa yang paling banyak membunuh musuh itu yang menjadi pemenangnya,” ujar Ustad Dwi.
“Baik aku terima tantanganmu, Bagaimana Gus apa kau berani menerima tantangan dari bocah serang ini,” ucap Garuda.
“Ok siapa takut, hayuk pergi,” ucap Gus Bagus berlari meloncati puncak gunung Tunggorono. Dan Garuda mengikuti terbang dari belakang Gus Bagus lalu menukik di bawah Gus Bagus seraya Gus Bagus turun di atas punggung Garuda mereka lalu melesat terbang menuju titik-titik dimana pertempuran tengah berlangsung.
“Ustad Dwi cepatlah jangan sampai kau kalah cepat dengan Bagus. Kau kan Kakaknya apa kau tidak malu kalah dengan adikmu?,” teriak Garuda pada Ustad Dwi yang sudah agak jauh terbang sehingga teriakannya menggema di antara tebing-tebing puncak Tunggorono.
“Wah ini tidak bisa di biarkan aku harus cepat-cepat menuju titik-titik pertempuran agar aku tidak kalah dengan Bagus,” ucap Ustad Dwi seraya berlari meloncat dari tebing dan menghilang di ikuti dengan ratusan bayangannya yang serupa hasil dari pembelahan diri ilmu Pancasona yang melakukan hal serupa meloncati tebing lalu menghilang begitu banyak seakan seperti sebuah hujan manusia yang jatuh dari tebing puncak Tunggorono.
“Bagus kita mulai dari sisi mana dulu, kau yang putuskan nanti aku tinggal mengeksekusi,” ucap Garuda yang terbang memutar memantau dimana dahulu mereka akan memulai serangan.
“Kita mulai dari Dukuhan Banjar Kerep dahulu, disana Dava lebih membutuhkan pertolongan kita,” ucap Garuda.
“Baik ayo kita pergi,” ucap Garuda menukik ke arah Dukuhan Banjar Kerep.
Sementara Ustad Dwi yang merubah diri menjadi sangat banyak mulai berjatuhan di langit Jombang seperti hujan meteor di malam hari.
“Sarpala tunggu aku, akulah musuhmu yang sebenarnya,” ucap Ustad Dwi.
__ADS_1