
Di salah satu sudut jalan desa Mbanjar Dowo sebelah barat kota Jombang. Sebuah rumah sederhana namun asri telah di bangun kembali setelah seminggu yang lalu kondisi desa seakan tak serupa pemukiman penduduk namun selayaknya reruntuhan puing kehancuran oleh sebab peperangan.
Yah rumah bergaya mini malis terbangun elok di sudut sebuah gangnya Gus Bagus pemiliknya. Sebuah rumah idaman yang ia bangun khusus untuk hadiah pernikahan kepada sang istri tercinta Vivi.
Gus Bagus tampak sibuk menata berkas-berkas dari kantor kelurahan yang hendak ia bawa bekerja pagi ini. Sempat ia melirik sang istri yang tengah menatap panjangnya sawah berpetak-petak di depan rumah. Sambil duduk di kursi roda di depan teras Vivi hanya melamun terus memandangi persawahan yang sudah hampir tersemai padinya tampak menguning.
Sejenak Bagus menghentikan tangannya dalam merapikan berkas yang telah ia masukkan semua ke dalam tas selempang warna hitam yang biasa ia bawa. Aduhai istriku malang tentu hatinya sangat terpukul memikirkan nasib keluarganya. Dimana Jaka adiknya yang tengah berjuang mengobati sang istri dan Dava keponakannya yang begitu miris menikah namun tak dapat merasakan indahnya bulan madu dikarenakan sang istri yang sedang depresi. Belum lagi tentang kematian orang tua mereka, gumam Bagus dalam hati seraya terus memandangi sang istri penuh iba.
“Loh sudah jam siang ini bisa-bisa di marahi Pak Lurah ini aku kalau telat ngantor,” gerutu Bagus menenteng tas hitamnya seraya berjalan mendekati Vivi perlahan hendak berpamitan.
Sampai di depan Vivi Bagus berjongkok seraya meraih tangan sang istri lalu mengecupnya pelan, “Sayang Mas pergi kerja dulu ya, baik-baik di rumah ya. Jangan lupa obatnya di minum loh bidadariku.”
Seakan tak tega meninggalkan Vivi sendiri kemarin lusa Bagus mencari pembantu rumah tangga yang khusus untuk merawat Vivi. Pagi ini iya sudah mulai bekerja namanya Bu Amanah tetangga Jaka yang dulu sering menjaga Jaka dan Vivi saat masih kecil. Kebetulan beliau sangat butuh pekerjaan karena suaminya yang namanya sama dengan sang guru besar T O H pak Kasturi sedang tak ada pekerjaan sedangkan anaknya Rudi masih begitu kecil masih butuh susu. Saat tiga hari yang lalu Bagus ke rumah Jaka kesepakatan di buat untuk memperkerjakan Bu Amanah hitung-hitung biar ada teman Vivi saat Bagus pergi bekerja.
Perlahan Bagus merapikan hijab biru muda yang dipakai Vivi seraya mengecup keningnya perlahan penuh cinta, “Mas pergi kerja ya Dek.”
Tiba-tiba ada suara motor yang masuk pekarangan rumah Bagus lalu mengucap salam dengan memanggil namanya, “Assalamualaikum Gus Bagus, Gus,” ucap dari sang pengendara motor yang ternyata Ustaz Khotib dan Ustazah Ratih yang belum lama menikah jua bertamu.
“Waalaikumsalam, eh Ustaz Khotib ada apa kok pagi-pagi sekali?,” tanya Bagus menyambut mereka berdua yang langsung menghampiri Vivi melihat keadaan Vivi.
__ADS_1
“Bagaimana keadaan Mbak Vivi Mas?,” tanya Ustaz Khotib.
“Alhamdulillah aku sudah agak baikkan kok Ustaz,” jawab Vivi sambil tersenyum kecil.
“Loh Mbak Vivi masallah sudah baikkan tak seperti seminggu yang lalu yang hanya diam saja mematung sekarang sudah mau bicara ya,” kata Ustazah Ratih merasa bahagia.
“Ia Ustazah Alhamdulillah Mas Bagus sangat perhatian dan telaten merawatku,” jawab Vivi.
“Eh ia bagaimana dengan Jaka dan Putri Ustaz?,” tanya Bagus balik bertanya.
“Alhamdulillah Gus Mbak Putri sudah pulih total kemarin mereka berdua menolong Dava dan Sari melawan anak setan biadab di kandungan Sari,” terang Ustaz Khotib.
“Kalau itu aku sudah tahu Ustaz aku kan di sana kemarin,” timpal Bagus.
“Hehehe sudah-sudah jangan bingung begitu Ustaz ada apa kok sampai pagi-pagi kemari?,” tanya Bagus tertawa melihat Ustaz Khotib yang bingung garuk-garuk kepala.
“Yah sekedar silaturahim Gus sekalian menengok Mbak Vivi. Oh ya katanya Bu Amanah kerja di sini ya?, wah enak ini Bu Amanah terkenal enak masakannya bisa makan enak ini kita Dek,” ucap Ustaz Khotib seraya mengajak Ratih dan mendorong Vivi di atas kursi roda ke dalam rumah.
“Eh, eh mau kalian bawa ke mana istriku?,” ucap Bagus menatap heran dengan kelakuan pasangan pengantin baru yang sangat kocak itu.
__ADS_1
“Sudah tenang saja Gus sampean pergi kerja sana,” teriak Ustaz Khotib seraya terus mendorong kursi roda Vivi ke arah dapur di mana Bu Amanah tengah memasak.
“Dasar kalian,” ucap Bagus tersenyum kecil sambil berlalu ke garasi untuk mengambil motor kesayangannya hendak pergi bekerja.
Keriangan Keluarga kecil Gus Bagus pagi ini yang tengah kedatangan tamu pasangan kocak Ustaz Khotib dan Ustazah Ratih. Menandakan aliran kedamaian kota Jombang kembali pulih seperti sediakala. Keriangan sudah tersaji di setiap pintu-pintu rumah warganya yang telah menggeliat hidup kembali setelah berbulan-bulan dicekam ketakutan akan hidup dan mati peperangan. Kini kota Jombang kembali bergairah seakan memiliki semangat hidup lagi.
Namun mereka tak mengetahui bahwa di tengah kedamaian kota yang telah menyeluruh. Di tengah keriangan hiruk-pikuk kemenangan yang didapat ada sebuah sosok mengerikan di atas kota yang berukuran besar tengah mengintai sayapnya sepanjang timur dan barat kota Jombang dan kepalanya berada di langit hampir tertelan awan sedangkan kakinya tenggelam di bawah tanah jauh ke dalam. Walau begitu besar ia tak terlihat dan dengan kesaktiannya ia tak dapat terdeteksi oleh siapa pun sesakti apa pun.
Dialah Barbadak dengan kepala seperti kerbau bertanduk dua emas namun bercula satu layaknya badak. Di punggungnya yang sekuat gunung Arjuna berdiri sesosok bocah kecil yang kini telah tumbuh taring, karena ilmu yang ia turunkan.
Dialah Hendrik Wijaya anak manusia yang ia culik saat berlakunya peperangan. Dan kini merawatnya serta mendidiknya selayaknya anaknya sendiri. Hingga kini sang anak pun semakin sakti walau belum genap sebulan ia di ajari bahkan kini ia sudah menguasai ribuan teknik pengetahuan lengkap dengan senjata yang kuat.
“Hai anakku Hendrik Wijaya bagaimana menurutmu tentang mereka yang tengah berbahagia di atas penderitaan kita,” ucap Barbadak.
“Ayah aku ingin makan daging mentah dari pipi Vivi itu kayaknya enak Yah, hehe,” timpal Hendrik sambil tersenyum menyeringai terlihatlah kedua taringnya yang semakin panjang.
“Tenanglah anakku kau pasti memakannya tapi bersabarlah. Biarkan mereka menikmati kedamaian yang mereka raih kali ini. Saat mereka lengah karena seakan hidup sudah tanpa bahaya dan tiada lagi perang saat itu mereka lengah saat itu kita musnahkan kota ini,” ujar Barbadak.
“Siap Ayah, eh iya Ayah aku juga ingin membunuh Wahyu itu yang menggagalkan Paman Adi Yaksa untuk menang,” kata Barbadak.
__ADS_1
“Tenanglah lebih baik saat ini kita bebaskan bayi setan dari Sari yang di segel Jaka dilangit ke dua. Cepat Nak kamu naik dan ambil bayi setan agar bisa menemanimu latihan menjadi adikmu nanti,” ucap Barbadak menyuruh Hendrik.
“Siap Ayah,” kata Hendrik terus merangkak di atas kepala Barbadak menuju langit ke atas.