T O H

T O H
Mbah Raji Selamat


__ADS_3

***


Buat para pembaca : Maaf ya kemarin T O H tidak up dikarenakan si Dalang Author masih sakit 🙏🙏


***


Buk...


Bruk...


Krosak...


Mbah Raji seketika terpental agak jauh tubuhnya pas di dada terkoyak oleh tanduk siluman kerbau Si Mahesa Sura. Dari dadanya seketika mengalir darah segar dan iya hanya merintih kesakitan tak berdaya tersungkur di atas sawah yang lebat oleh tanaman padi.


Argh...


Argh...


Suara parau Mbah Raji terus merintih kesakitan, “Tolong Gus Bari, tolong Gus Bari...!?,” ucap Mbah Raji menggelinjang merasakan sakitnya.


“Mbah Raji...!!,” teriak Gus Bari lekas menghampiri Mbah Raji menaruh tubuh Mbah Raji yang sudah bersimbah darah diatas lututnya yang ia tekuk keduanya.


“Tenang Mbah, Mbah Raji pasti selamat. Tenanglah pasti ada bantuan yang akan datang kemari. Teman-teman kita, saudara-saudara kita dari T O H pasti akan datang kemari membantu kita,” ucap Gus Bari nampak sangat cemas melihat kondisi Mbah Raji.


“Gus Baru teruskan perjuangan kita, ingat pesan guru besar jangan sampai mati disini. Aku mohon Gus selamatkan umat dari sebangsa siluman dan setan apa lagi manusia yang berkepala setan,” ucap Mbah Raji sambil menggenggam tangan Gus Bari dengan nafas yang hampir habis.


“Tidak Mbah, Mbah Raji tidak boleh mati di sini. Mbah Raji harus kuat kita hadapi bersama walau ribuan siluman datang menyerang, kuat Mbah apa yang harus aku katakan pada istrimu Mbah?,” ucap Gus Bari.


Hahaha...


Wkwkwk...


“Tidak akan ada yang datang untuk menyelamatkan kalian. Mungkin para anggota T O H yang lain sudah habis sekarang karena kali ini kami beda dari para siluman atau golongan hitam yang kalian hadapi. Kami lebih kuat dari golongan kami yang telah kalian habisi. Maka terimalah serangan terakhir dari kami,” ucap siluman Kerbau Mahesa Sura yang paling besar dan hitam yang memimpin puluhan siluman kerbau tak jauh berada di depan Gus Bari dan Mbah Raji.

__ADS_1


Huwar...


Puluhan siluman kerbau meringsek berlarian menuju arah Gus Bari yang tengah memegangi tubuh Mbah Raji yang tengah sekarat. Beberapa siluman kerbau yang di pimpin Mahesa Sura, sang pemimpin serupa manusia tapi berkepala kerbau bertanduk emas ada yang berubah menjadi sesosok kerbau besar hitam terus melaju hendak menyerah Gus Bari dan Mbah Raji.


Saat puluhan siluman kerbau mulai mendekat dan kedua perwira T O H hanya bisa pasrah di situlah bayangan serupa cahaya-cahaya kuning datang, menghadang kawanan siluman kerbau


Yang tengah beringas layaknya kerbau tengah diadu.


“Masih belum..!!,” ujar salah satu bayangan kuning yang ternyata sosok dari Ustad Dwi yang membelah diri datang puluhan jumlahnya menahan serudukan para siluman kerbau.


“Mbah Raji Allhamdulillah ada yang datang menolong kita, tapi siapa dia cahayanya bukan sosok api seperti yang aku, Jaka dan Dava miliki. Sosoknya hanya cahaya kuning yang berpendar, siapakah dia?,” ucap Gus Bari penasaran.


Seketika, secepat kilat tanpa tahu dari mana datangnya Gus Bagus telah ada di samping Gus Bari.


“Dia Kakak ku Ustad Dwi Cahyadi seorang pemuda mumpuni dari tanah merah para jawara Serang Banten,” ucap Gus Bagus.


“Allhamdulillah Gus Bagus akhirnya kau datang,” ucap Gus Bari merasa lega dengan kedatangan Gus Bagus.


“Pergilah bantu puluhan bayangan kakak ku Dwi dengan mode api Surah Al Ikhlas Mu Gus Bari,” ucap Gus Bagus menggantikan Gus Bari memegangi Mbah Raji seraya mengobati luka Mbah Raji dengan cara menempelkan telapak tangannya di bekas luka di dada Mbah Raji.


“Sudahlah Mbah jangan banyak bicara dahulu, berterimakasihlah pada Allah karena Allah lah aku jadi ingat sosok Kakakku Dwi Cahyadi yang kesaktiannya melebihi ku sendiri lalu aku panggil dia,” ucap Gus Bagus.


Gus Bari terus berlari sembari merubah diri menjadi mode api Surah Al Ikhlas. Sehingga api kuning pun membara di sekujur tubuhnya begitu besar karena kemarahannya yang semakin memuncak.


“Wau, wau, anak T O H memang unik-unik,” ucap Ustad Dwi yang melihat Gus Bari terus meringsek maju membakar beberapa siluman dengan apinya.


“Aku juga tak mau kalah dong,” ucap Ustad Dwi sembari mengode beberapa bayangannya dengan kedipan mata.


Lantas beberapa bayangan seperti layaknya hantu. Tiba-tiba merasuki beberapa siluman Kerbau memasuki tubuh-tubuh mereka lalu menghancurkannya dari dalam hingga hancur lebur tak bersisa.


“Hahaha...,” tawa Ustad Dwi menyeringai puas setelah menghancurkan beberapa siluman kerbau.


Sementara itu Gus Bagus yang tengah mengobati Mbah Raji sudah selesai dan berhasil menyebutkan luka Mbah Raji seperti sedia kala.

__ADS_1


“Mari Mbah kita habiskan sisa siluman kerbau yang belum di bunuh oleh Gus Bari dan Kakak ku,” ucap Gus Bagus pada Mbah Raji membantu Mbah Raji berdiri.


“Terimakasih Gus Bagus, kau memang Ustad yang hebat kau dapat menyembuhkan ku dengan baik sehingga aku serasa sehat kembali. Padahal beberapa saat yang lalu aku sudah putus asa dan merasa mungkin malam ini adalah malam terakhir bagi ku,” ucap Mbah Raji.


“Mbah Raji kau mau terus berdiri di situ atau membantu kami,” teriak Gus Bagus yang telah melaju ke depan mengeluarkan Naga Baru kelinting yang terus menyemburkan api dari mulutnya.


“Loh jadi tadi aku ngomong sendiri. Gus Bagus sudah maju duluan, olah Gus Bagus sisakan untukku..!?,” ucap Mbah Bari mengeluarkan gada sakti yang secara tiba-tiba ia genggam lalu terus maju memukuli para siluman kerbau dengan gadanya.


Lama perang berlanjut karena terlalu banyak dan kuatnya para siluman kerbau. Sehingga Gus Bagus harus memanggil Garuda kembali.


“Kangmas Garuda mohon bantuannya ya?,” ucap Gus Bagus.


“Baik Bagus,” ucap Garuda yang kembali turun dari langit seakan menyelinap dari balik awan ikut menghempaskan dan memorak-porandakan kumpulan siluman kerbau.


Beberapa saat kemudian para pasukan siluman kerbau telah habis tinggal satu sang pemimpin yakni Mahesa Sura.


“Ayo kamu pilih yang mana?, Mau mati di pukul Gada atau mati di rasuki kakakku lalu hancur atau mati dimakan naga Baru Kelinting atau diremas Garuda terserah mau pilih yang mana,” ucap Gus Bagus memberi pilihan pada Mahesa Sura yang telah terkepung dari empat penjuru.


“Atau aku bakar dengan apiku,” ucap Gus Bari yang masih mengeluarkan nyala api dari tubuhnya.


“Hahaha..., Apa kalian mampu membunuhku aku kebal. Ilmu atau senjata apapun tak akan mampu membunuhku,” teriak Mahesa Sura.


Namun belum selesai sang panglima siluman kerbau Mahesa Sura berkoar tangan Gus Bagus yang serupa bayangan menantang menebas kepala Mahesa Sura seakan seperti pedang yang menebas musuh.


“Kakang Dwi Satu sama ya,” ucap Gus Bagus.


“Loh tanganmu kok bisa begitu Dik, wah kalah cepat aku kali ini,” ucap Ustad Dwi yang langsung melesat kembali.


“Loh ya aku ditinggal curang nih Mas Dwi,” ucap Gus Bagus kembali menaiki punggung Garuda lalu melesat mengikuti arah Ustad Dwi.


“Kang Mas Naga Baru Kelinting tolong bawa Gus Bari dan Mbah Raji ya kita bantu yang lain?,” teriak Gus Bagus yang sudah jauh terbang bersama Garuda.


“Naiklah kalian ke atas punggungku,” ucap sang naga Baru Kelinting.

__ADS_1


Setelah Gus Bari dan Mbah Raji menaiki di atas punggung Naga Baru Kelinting mereka pun ikut terbang menyusul Ustad Dwi dan Gus Bagus yang sudah duluan.


__ADS_2