T O H

T O H
Tentang Mas Bagus


__ADS_3

Jaka tengah dirawat oleh Putri di dalam kamar Putri kali ini mereka berdua pun sudah di ijinkan untuk sekamar berdua, dikarenakan kondisi Jaka yang masih teramat lemah untuk berjalan.


Tadi pagi Abah Wachid pun sudah bicara panjang lebar masalah perjodohan Jaka dan Putri dengan Haji Hadi di telepon. Kalau kondisi kota Kediri sudah kondusif kembali Jaka sekeluarga hendak bersilaturahmi ke rumah Putri dengan acara lamaran.


Agar lekas di resmikan hubungan Jaka dan Putri ke jenjang pernikahan selepas kelulusan nanti, karena memang Jaka dan Putri terbilang masih kelas 3 SMA. Dan Pak Haji Hadi pun menyetujui, karena memang sejak awal rencananya mereka berdua akan di jodohkan.


Jaka tengah bersandar di dinding setengah berbaring dan masih diatas ranjang dengan Putri menemani duduk disampingnya sambil membawa sepiring nasi tak lupa satu gelas teh hangat di letakkan di atas meja rias samping ranjang.


Haaaak...


Haaaak...


Aaaem.....


“Lagi-lagi, sekali lagi ya Jaka..?,” kata Putri sambil mengarahkan satu sendok makan penuh nasi dan lauk ke arah mulut Jaka.


Jaka menyambutnya dengan perlahan membuka mulut melahap semua isi di sendok yang Putri ulurkan, “Pintar..., ih pacar siapa ini...?,” kata Putri menggoda Jaka. Jaka hanya tersenyum menikmati manjanya Putri yang tengah merawatnya.


Sedangkan Umi masih sibuk di dapur hari ini keluarga Pak Haji Kardi akan datang untuk menjemput Dava pulang, karena Dava memang sedang sakit jua namun kondisinya sudah agak mendingan.


Pak Haji Wachid seperti biasa pergi mengecek pondok As-Salam dari pagi nanti selepas Dzuhur pulang katanya, iya tak ingin kehilangan momen bertemu adiknya Kardi rindu ucapnya.


Tret.... treeet... treeet...


Handphone Jaka yang terletak di atas meja rias bergetar lalu menyala nampaknya ada telepon masuk. Sengaja semalam Putri mematikan nada dering di hp Jaka dengan maksud agar tidak mengganggu Jaka istirahat.


“Ada telepon masuk Jaka...?,” ucap Putri melihat hp Jaka terus berdering.


“Dari siapa Put..?,” tanya Jaka masih dengan mulut yang penuh nasi terus mengunyah.


“Dari namanya disini tertera Mas Bagus Effendik, siapa itu Mas Bagus Jaka...?,” tanya Putri seraya mengulurkan hp pada Jaka.


“Oh..., Mas Bagus.., Dia pacar Kak Vivi, Eh ia Kak Vivi belum cerita ya. Mas Bagus ini lebih canggih loh dari aku malah dia tuh penerawangannya sangat detail. Pokoknya Mas Bagus itu lebih jago dari aku Put,” kata Jaka menjelaskan.


Nampak Putri setengah tidak percaya, karena baginya Jaka lah yang terkuat dari semua pejuang atau petarung yang pernah ia temui, “Masak Mas Bagus sekuat itu Jaka,”


“Putri kekasihku, Mas Bagus memang tidak terkenal karena ia tidak pernah menampakkan diri dan ia pun tidak ingin di bilang kuat. Kau tau saat iya beraksi ia tidak pernah benar-benar menggunakan pemahaman ataupun pengetahuan yang ia miliki. Yang paling banyak ia gunakan adalah akal dan kecerdasannya,” kata Jaka.

__ADS_1


“Lah kalau tidak menggunakan kekuatan pengetahuan yang dimiliki bagaimana kalau ia bertemu musuh yang tangguh Jaka,” kata Putri.


“Sayang kekuatan tidak selalu bersumber dari tenaga ataupun otot, aku masih ingat satu perkataan atau petuah Mas Bagus dulu yaitu orang kuat bukan selalu mereka yang memiliki tenaga besar tetapi terkadang mereka yang mampu menggunakan kecerdasan ya yang terkuat,” kata Jaka.


“Oh begitu,” ucap Putri.


“Sudah sini biar aku terima telepon dari Mas Bagus,” ucap Jaka meminta hp yang masih di tangan Putri.


“Assallamualaikum Mas Bagus,” ucap Jaka menerima telepon


“waalaikumsalam Dik Jaka, Bagaimana kabarmu kata Vivi kamu sakit, kok bisa sampai gitu kenapa, musuhmu setangguh apa sehingga bisa membuat murid kesayangan ku ini sampai sakit?,” kata Bagus di seberang telepon


“Tidak apa-apa mas salahku juga terlalu over saat marah,” kata Jaka sambil kembali di suapi makan oleh Putri.


“Oalah ya sudah kalau begitu maaf tugas kuliahku masih banyak jadi belum sempat kesana ya Dik,” kata Bagus dalam telepon.


“Ia Mas tidak apa-apa kok santai saja,” kata Jaka.


“Cepat sehat lagi jagoan kok sakit-sakitan, Assalamualaikum,” kata Bagus.


“Siap guru..., Waallaikumsalam,” ucap Jaka menutup telepon di hpnya.


Brem... brem.... brem....


Suara motor Pak Haji Wachid berhenti di pekarangan depan rumahnya ia melihat mobil jib warna putih teronggok di depan rumah.


“Ini Pasti Dik Kardi ini,” ucapnya seraya melangkah ke dalam rumah.


“Assallamualaikum,” ucap Pak Haji Wachid memasuki ruang tamu rumahnya iya melihat di sana sudah duduk berjajar rapi Haji Kardi beserta keluarga yakni istrinya Umi Emi dan kakak dari Dava anak pertama Eka.


“Waalaikumsalam, ya Allah Mas rindu aku,” kata Pak Haji Kardi seraya berdiri memeluk Pak Haji Wachid.


“Sudah ayo duduk, sudah dibikin kan minum belum...?,” kata Haji Wachid seraya duduk di samping Umi Epi dan Dava.


“Lagi di bikinin Vivi Abah, lah ini sudah datang,” kata Umi Epi melihat Vivi yang baru datang membawa nampan berisi gelas-gelas penuh dengan minuman teh hangat lalu meletakkannya di atas meja.


“Oh iya Mas, katanya Jaka sakit, sakit apa..?,” tanya Umi Emi.

__ADS_1


“Biasah Dik Emi kecapean kayak tidak tau keponakanmu saja,” jawab Pak Haji Wachid.


“Assallamualaikum Paklik, Bulek, apa kabar...?,” ucap Jaka datang dari dalam rumah sambil di tuntun Putri seraya menyalami Pak Haji Kardi, Umi Epi dan Eka di ikuti oleh Putri melakukan hal yang sama seperti Jaka lalu mengambil tempat duduk.


“Waalaikumsalam, baik Jaka, lah kamu kenapa kok bisa sampai begini loh, Eh ngomong-ngomong ini siapa kok manis sekali?,” kata Haji Kardi.


“Ini calon mantu Mas, bakalnya Jaka,” Ucap Umi Epi sambil tersenyum.


“Loh Nak Vivi kok keduluan Si Bagus kemana Vi..?,” ucap Pak Haji Kardi.


“Masih kuliah Paklik Si Bagus,” jawab Vivi.


“Oh belum tamat toh,” jawab Pak Haji Kardi.


“Belum Mas tapi beberapa Minggu yang lalu keluarganya sudah silaturahmi ke sini,” ucap Pak Haji Wachid.


“Loh sudah di lamar kok tidak kasih kabar kamu Mas,” ucap Umi Emi.


“Oalah Dik Emi lah wong acara kecil-kecilan lagian masih masa pandemi ini, ya nanti kalau sudah acara pernikahannya saja kami beritahu,” sahut Haji Wachid.


“Oh ia kami kesini hendak menjemput Dava Mas,” ujar Pak Haji Kardi.


“Iya Dik maaf ya memang peristiwanya tidak kami duga akan jadi seperti ini jadi membuat Dava sakit,” kata Haji Wachid.


“Tidak apa-apa Mas hitung-hitung buat pengalaman Dava biar jadi cowok yang kuat kayak Masnya Jaka,” kata Haji Kardi.


“Sudah diminum dulu tehnya keburu dingin,” kata Umi Epi.


“Iya Dik ayo di minum dulu biar lancar kita mengobrolnya,” kata Pak Haji Wachid.


“Hehehe, bisa saja kamu Mas,” jawab Pak Haji Kardi sambil menyeruput teh hangat di depanya.


_


_


_

__ADS_1


_


_


__ADS_2