T O H

T O H
Laskar L.A & Wong Kadiri


__ADS_3

Kri, krik,


Kingkung, kingkung,


Suara-suara jangkrik mengerik dan kodok mengorek terdengar leluasa mengisi seluruh sisi hutan Ndawar Belandong. Sebuah nama hutan disisi paling utara kota Jombang di antara perbatasan kota Jombang dan kota Lamongan.


Alas Ndawar begitulah julukannya sebuah hutan lebat di atas bukit di atas dataran tinggi namun bukanlah sebuah gunung hanya sebuah dataran tinggi. Alas Ndawar terkenal pula dengan perkebunan rakyat di sisi area Lamongan dengan belasan hektar ditanami pohon kayu putih.


Berbeda dengan perbatasan kota Jombang dengan kota disisi yang lain di sisi utara ini berbatasan langsung dengan kota Lamongan dan bersekat hutan lebat bukan pemukiman ataupun jalan raya.


Di area ini kota Jombang di serang pasukan jerangkong hidup yang di pimpin oleh panglima Jerangkong. Pasukan jerangkong hidup yang mengambil bentuk serupa tengkorak hidup terkenal sangat beringas dan tak pernah memandang area lawan. Bahkan sering mereka keluar perbatasan melewati sekat dinding kabut melahap beberapa penduduk di area sekitar hutan Ndawar di kawasan area Lamongan.


Oleh karena itu malam ini laskar L.A dari Lamongan bersiaga penuh dengan kekuatan maksimal di sekitar alas Ndawar. Laskar L.A yang di pimpin oleh dua pemuka agama yang sangat ulung dan sakti mandraguna yakni Haji Sihaji dan Ustaz Bayu. Tengah berjaga beberapa kilo meter dari sekat dinding kabut perbatasan.


Krusek, krusek,


Suara langkah kaki mengendap perlahan menginjak dedaunan yang jatuh di dasar hutan terdengar menghampiri sekumpulan laskar L.A yang sedang bersembunyi dalam keadaan berjongkok di tengah hutan.


Udin salah satu anggota ring satu yang bertugas mengintai keadaan rupanya datang untuk melaporkan apa yang ia lihat di area dinding kabut.


“Bagaimana Din? Apa yang kamu lihat malam ini apa kita bisa memancing para tengkorak itu keluar dari dinding dan bertempur di area kita sendiri. Sebab kalau kita bertempur di area Jombang bisa saja kelompok siluman yang lain datang membantu mereka. Sehingga kita kewalahan mengingat jumlah kita yang hanya lima puluh orang saja,” tanya Gus Bayu yang langsung menemui Udin saat melihat Udin mengendap-endap dari arah dinding kabut perbatasan.

__ADS_1


“Kakang sulit sekali untuk memancing mereka keluar dari perbatasan. Ya hanya satu atau dua saja tengkorak yang terkadang keluar dinding. Itu pun tak lama setelah mendapat mangsa mereka kembali ke dalam dinding,” jawab Udin menjelaskan.


“Lalu harus bagaimana apa kita masuk saja seperti yang lainnya. Aku dengar Ormas Mataraman dan Pemuda Majapahit sudah masuk ke jombang dan sudah bertempur bahu-membahu membantu T O H,” ujar Basyit jua salah satu anggota ring satu dari Laskar L.A.


“Menurutku memang lebih baik begitu kita saling membantu demi kemenangan kebenaran. Bayangkan kalau Jombang jatuh di tangan kelompok setan bukan barang tentu kota yang lain di sekitarnya jua akan menjadi sasaran keberingasan mereka selanjutnya,” ucap Haji Sihaji menuturkan segala kemungkinan kalau Jombang sampai kalah.


“Benar juga apa kata Pak Haji kalau Jombang jatuh betapa malunya kita sebagai saudara seiman apa lagi banyak dari kita yang masih terikat darah oleh para punggawa T O H. Seperti tetua kita Pak Haji Sihaji yang masih memiliki hubungan sebagai pakde dari Jaka,” terang Bayu.


“Ya benar itu mari kita satukan tekad setidaknya kita hancurkan satu pasukan tengkorak yang sudah meresahkan warga sekitar hutan Ndawar ini,” ucap Udin.


“Pak Haji, Pak Haji, Assalamualaikum Pak Haji,” teriak Bejo salah satu anggota laskar L.A ring dua yang bertugas mencari kabar di sekitar pemukiman sepanjang perbatasan Jombang dan Lamongan.


“Sutz, jangan teriak Bejo kecilkan suaramu apa yang hendak kau laporkan atur nafasmu dahulu,” kata Pak Haji Sihaji dan tampak Bejo menarik nafas agak dalam sedikit menahannya di rongga dada lalu menghembuskannya kembali berulang-ulang.


“Innalilahi wainnaillaihi raziun, sudah begitu gawat rupanya kota Jombang. Baiklah bagi laskar L.A kalian yang masih ada takut di dada untuk melawan para setan dan siluman yang sadis ini silakan pulang. Bagi kalian yang merindukan pahala syahid mari ikut denganku masuk area Jombang,” teriak Haji Sihaji namun suasana hening beberapa saat.


“Loh Gus Bayu mau ke mana? Loh itu Gus Bayu sudah melawan jerangkong dan masuk dinding kabut, Gus tunggu kami,” teriak salah satu santrinya berlari di ikuti sembilan santri yang lain menembus dinding kabut perbatasan.


“Untuk yang lain mari kita ikuti Gus Bayu dan para santrinya berjuang di jalan kebenaran. Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar,” teriak Haji Sihaji berlari diikuti anggota laskar L.A yang lain di belakangnya memasuki dinding pelindung hitam perbatasan.


***

__ADS_1


Mbadas selatan perbatasan Jombang dan Kediri


Di Aula tengah pondok Haji Hadi ayah dari Putri tampak Haji Hadi mendapatkan kunjungan puluhan orang sakti dari kelompok Wong Kadiri yang diketuai oleh Haji Hari kawan dari Haji Hadi.


“Mas Hadi kami hendak meminta restumu untuk membantu anakmu Putri yang di sekap Adi Yaksa. Kami hendak langsung menyerang pusat kerajaan mereka bagaimana menurut Mas Haji Hadi?” ucap Haji Hari menuturkan maksud kedatangannya.


“Menurutku lebih baik kalian membantu dulu anak mantuku Jaka yang dulu pernah membantuku saat di serang para siluman babi. Agar Jaka dapat mudah untuk menyelamatkan istrinya yakni anakku Putri yang disekap Adi Yaksa begitu lebih baik,” jawab Haji Hadi.


“Hem seperti itu ya,” celetuk Haji Hari memegang dagu memikirkan baiknya bagaimana.


“Aku dengar Gus Bari dan Mbah Raji juga sudah berangkat ke sana membantu Jaka setelah membereskan area Mbadas utara,” timpal Haji Hadi.


“Hem baiklah kalau begitu Kakang Mas Haji Hadi kami memohon undur diri untuk memasuki dinding kesengsaraan sekat kabut hitam perbatasan menuju Jombang itu. Kami memohon diri dan meminta restu serta doamu agar kami selamat sampai akhir dan dapat menolong anak dan menantumu,” ucap Haji Hari berdiri dari duduk bersilanya dan pergi serta mengucap salam diikuti puluhan anggota Wong Kadiri lainya dari belakang.


“Waalaikumsalam warahmatulahi wabarakatuh,” jawab Haji Hadi.


“Abah aku takut abah Putri menjadi mangsa para siluman itu,” kata Umi Kalsum meneteskan air matanya.


“Tenang Umi pasrahkan saja semua kepada Allah SWT yakin Gusti mboten sare,” jawab Haji Hadi.


Di depan kabut keputusasaan atau kabut kesengsaraan atau kabut pelindung hitam sekat perbatasan menuju kota Jombang. Para anggota Wong Kadiri berbondong-bondong memasuki dinding kabut.

__ADS_1


Sesampainya di area Mbadas utara mereka tercengang dengan area Jombang yang telah porak-poranda seperti sedang berlangsungnya perang dunia. Begitu mengerikan jeritan tangisan dan mayat bergelimpangan dimana-mana.


“Innalilahi wainnaillaihi raziun, ayo para anggota Wong Kadiri kita melesat menuju desa Mojokembang bismillah,” teriak Haji Hari kembali berlari diikuti puluhan anggota yang lain ikut berlari dari belakang.


__ADS_2