T O H

T O H
Sepuluh Tahun Kemudian


__ADS_3

Pagu cerah desa Mojokembang dengan segala hiruk-pikuk kegiatan para warga desanya. Ada para ibu-ibu yang tengah berceloteh ria yang sedang mengerumuni abang sayur di samping gerobak sayurnya dengan berbagai macam topik pembicaraan dari ringan hingga berat dari membahas si A sampai membahas si Z.


Ada pula para pak tani yang sedang menenteng cangkul dan sabit di genggam ditangan menyusuri pematang sawah milik mereka yang baru saja ditanami jagung, karena kali ini musim sedang berada pada musim kemarau sehingga lebih baik sawah ditanami padu tentu bagus walau air sedikit untuk mengairi sawah.


Ada pula santriwan dan santriwati di tengah desa berhijab dan berbusana muslim lengkap dengan Kitabullah kalam Al Quran di tangan kanan serta alat salat lengkap di tangan kiri. Tak kalah pula santri lelaki berpeci hitam dan bersarung batik khas Jawa timuran tentu dengan Al Quran di tangan kanan dan sajadah yang tersampirkan dipundak dengan tawa renyah serta canda mereka hendak menuntut ilmu agama menuju pondok tengah desa pondok As-Salam.


Ada pula para siswa dan siswi SMA umum yang memilih sekolah di kota demi meraih kehidupan yang lebih layak bukan hanya akhirat semata. Mulai bersama-sama bersepeda ria menuju pertigaan ujung desa lalu menitipkannya di salah satu rumah penduduk yang memang menyediakan penitipan sepeda lalu menaiki angkutan kota bertuliskan lambang huruf H bercat kuning menuju kota.


Di rumah Jaka rupanya ia tampak asyik melafaz salah satu kitab yang iya miliki demi untuk mengajarkan pada santri-santrinya di pondok As-Salam. Karena kali ini iya selain menjadi tenaga pendidik di sana. Jaka jua sebagai pengurus utama pondok menggantikan sang Abah.


Putri sang istri tercinta sedang sibuk menyiapkan alat sekolah Wahyu yang sudah duduk dibangku sekolah dasar tepatnya sudah kelas 4 SD dan bersekolah di pondok As-Salam pula. Kini pondok As-Salam semakin maju di sana telah terbangun sekolah taman kanak-kanak hingga madrasah aliyah.


“Mama dasi Wahyu di mana?,” teriak Wahyu sambil membuka-buka laci almari di dalam kamar mencari dasi yang hendak dipakai. Karena hari ini adalah hari Senin tentu harus memakai seragam merah putih lengkap dengan topi dan dasinya.


“Di laci tengah Nak kemarin Mama taruh situ,” teriak Putri tengah menyiapkan sekotak bekal untuk Wahyu.


“Mana tidak ada Ma?,” teriak Wahyu sekali lagi dan terus mencari.


“Aduh ini anak kok sama persis sama Ayahnya ya. Kalau mencari sesuatu kalau tidak aku yang mencari pasti tidak ketemu,” gumam Putri berjalan menuju kamar sambil ngedumel enggak karuan.


“Ini apa loh Wahyu kalau bukan dasimu ucap Putri seraya memakaikan dasi di leher Wahyu yang sudah memakai seragam merah putih lengkap dengan topinya namun belum memakai sepatu hanya memakai kaos kaki putih selutut.


“Iya hehehe, Mama memang terbaik deh. Emmuach...,” ucap Wahyu sambil mengecup pipi Putri.


“Hei, jangan ikut-ikutan ganjen kayak Ayahmu lah Nak,” kata Putri mengusapi pipinya bekas kecupan Wahyu.


“Habis pipi Mama makin gendut saja serasa kayak ayam goreng Wahyu jadi ingin mamam hehe,” celetuk wahyu menggoda Putri seraya pergi ngelonyor begitu saja ke depan rumah sambil menyahut tas ransel kecil yang di cantelkan Putri di balik pintu.


“Eh Wahyu sudah semuakah buku pelajaranmu kau masukkan ke dalam tas,” teriak Putri mengejar Wahyu.

__ADS_1


“Sudah Ma, Ma Wahyu pergi dulu ***,” belum jua menyelesaikan salamnya Wahyu kembali lagi berlari ke arah Putri tiba-tiba memeluk sang Mama seraya mengecup pipi Putri sekali lagi.


“Emmuach, Wahyu sayang Mama, Wahyu pamit sekolah Assalamualaikum,” ucap Wahyu seraya melepas pelukan lalu meloncat berlari ke depan rumah.


“Waalaikumsalam, eh kayak ada yang kurang ya, tapi apa ya loh ia Wahyu bekalmu. Eh tapi ikan di penggorengan hampir gosong aduh ini anak,” ucap Putri berlari ke arah dapur ingat kalau sedang menggoreng ikan.


Sampai di depan pintu Wahyu meraih sepatu hitamnya yang berada di atas rak sepatu samping kiri pintu depan. Dengan cepat dan cekatan jari-jemarinya meraih tali sepatunya mengikatnya dengan rapi.


“Nah sudah,” celetuknya seraya menoleh kesisi kiri melihat sang Ayah yang tengah menyeruput segelas kopi di atas kursi kayu klasik khas ukir Jepara.


“Apa,” ucap Jaka ikut melihat Wahyu dan saling menatap.


“Ayah Brow uang saku dong. Ya Ayahku yang tampan se kota Jombang suit-suit,” ucap Wahyu menggoda sang ayah sambil mengedip-kedipkan matanya.


“Halah enggak mempan kali ini Ayah tidak akan tergoda dengan tatapan manismu yang kau buat-buat untuk merayu Ayah agar dikasih uang saku lebih itu. Tidak semudah itu Verguso hahaha,” ujar Jaka tertawa geli melihat tingkah sang anak yang menggemaskan.


“Ia, ia, ini sepuluh ribu saja jangan banyak-banyak nanti kamu boros lagi jajan terus,” kata Jaka mengulurkan uang kertas pecahan sepuluh ribu rupiah.


“Asyik, bisa jajan puas hari ini,” teriak Wahyu kegirangan.


“Ets, tapi ingat nanti malam janji pijit Ayah jangan lupa,” ucap Jaka mengingatkan Wahyu.


“Tapi boong, hahaha,” teriak Wahyu kembali menggoda Jaka seraya berlari ke halaman depan rumah mengambil sepedanya yang ia taruh di antara mobil sang ayah dan motor tril sang ibu.


“Wahyu...!!,” teriak Jaka agak marah.


Namun Wahyu sudah keburu melewati gerbang tak selang beberapa lama ternyata wahyu kembali dengan menuntun sepedanya iya tarik jagang sepeda dari samping lalu menghampiri Jaka dengan muka tertunduk.


“Ia Ayah, Wahyu bercanda loh, ia, ia nanti Wahyu pijit Ayah jangan marah,” gerutu wahyu dengan wajah tertunduk takut Ayahnya marah.

__ADS_1


“Bukan itu Nak tapi biasakan kalau pergi dari rumah pamit sama orang tua cium tangan agar saat kamu pergi dijaga malaikat di sampingmu oleh restu Allah,” terang Jaka memberi petuah pada Wahyu.


“Ia Ayah,” ucap Wahyu menghampiri Jaka seraya salim dan mencium punggung tangan sang Ayah.


“Wahyu pergi sekolah dulu ya Ayah, Assalamualaikum,” ucap Wahyu.


“Nah begitukan enak jadi anak Ayah yang ganteng ini terhias budi pekerti luhur dan sopan santun yang baik,” ucap Jaka mengusap rambut depan Wahyu membenarkannya masuk ke dalam topinya.


“Emmuach, dada Ayah, hehe,” celetuk Wahyu sambil mengecup pipi Jaka lalu berlalu pergi dengan menaiki sepedanya seraya mengayuhnya melewati gerbang rumahnya.


“Eh Nak Wahyu sayang, bekalmu ketinggalan ini loh, ampun ini anak ya kalau sudah bersemangat pergi sekolah,” teriak Putri datang dari dalam rumah menenteng kotak bekal yang harusnya dibawa Wahyu.


“Hahaha, punya anak kok sama kelakuannya sama kamu Ma, masak lupa bawa bekal setiap hari,” kata Jaka tertawa.


“Ya sama kayak kamu Yah bukan Mama loh,” ucap Putri membela diri dengan kata-kata.


“Eh, eh Ayah mau ngapain,” ucap Putri yang melihat Jaka mendekat lalu memeluknya dari belakang seraya mengecup pipinya.


“Emmuach, I Love You sayang. Tidak terasa ya sudah sepuluh tahun sejak peristiwa pahit yang kita alami dulu seusai perang dan anak kita sudah besar. Sudah berani berangkat sekolah sendiri,” ujar Jaka menambah erat pelukannya.


“Yah malu dilihat tetangga lepas dong,” bisik Putri berusaha melepaskan pelukan erat sang suami.


“Eh Pak Haji Lurah dan Bu Haji Lurah, ya ampun mesranya,” ucap salah satu ibu tetangga yang kebetulan lewat.


“Eh ibu Jani mau belanja ya, Ayah lepas dong malu dilihat Bu Jani itu loh,” bisik Putri terus mencoba melepaskan pelukan Jaka.


“Eh iya Bu Jani,” teriak Jaka sambil melepaskan pelukannya.


“Mari Pak Haji Lurah,” ucap Bu Jani berlalu pergi sambil senyum-senyum sendiri melihat tingkah Jaka dan Putri.

__ADS_1


__ADS_2