T O H

T O H
Wahyu Memimpin


__ADS_3

Jaka yang tak tahu arah serta tak tahu lagi mana lawan mana kawan, karena begitu marahnya tengah mengamuk hebat membuat seluruh bala tentara lima kota maupun pasukan setan menjauh darinya. Iya semakin tak terkendali segalanya di libas tanpa ampun dengan api kemarahannya yang tengah berkobar hebat.


“Mbah Raji bagaimana ini Jaka kalau sudah seperti ini tak bisa dikendalikan lagi. Jangan sampai keadaan kita yang sudah unggul berbalik kalah kembali sehingga kota tak bisa kita selamatkan lagi,” teriak Gus Bari seraya terus memukul beberapa setan di sekitarnya hingga hancur lebur.


“Aku pun tak tahu dan tak mengerti harus berbuat apa Gus,” ujar Mbah Raji yang terus melontarkan kertas mantra dengan sebuah katapel andalannya.


Lalu bayangan Dava melesat ke depan menghampiri sang kakak Jaka yang terus mengamuk. Mencoba menenangkannya dengan terus mengingatkannya tentang beberapa hal agar ia tersadar kembali.


Sedangkan Adi Yaksa tengah mengambil keuntungan dengan membunuhi beberapa pasukan lima kota yang jauh dari Jaka dan Dava. Mbah Raji dan Gus Bari di bantu Laskar L.A mencoba menghadang Adi Yaksa namun tak mampu jua sehingga terdesak hingga keluar Aula kerajaan.


Ormas yang tengah bertempur di sisi atas jua kewalahan meladeni aksi-aksi dari beberapa raksasa yang terus berdatangan dari puncak Anjasmara. Sementara para pejuang dari kota Mojokerto pemuda Majapahit tengah di depan Altar singgasana raja melawan beberapa siluman ular dengan keganasannya.


“Mas ini aku Dava adikmu?,” teriak Dava mulai menyadarkan Jaka yang terus mengamuk tapi alhasil menyadarkan Jaka, malahan Jaka balik menyerang Dava sehingga mau tak mau Dava harus menangkis serangan-serangan dari Jaka.


Aaaarg, layaknya gerangan harimau hanya itu yang keluar dari mulut Jaka. Slap..., duar..., dua hantaman mengenai dada Jaka membuat ia mundur beberapa jengkal namun tetap berdiri tegap sepertinya pukulan tersebut tak berakibat apa pun padanya.


“Apa-apaan kalian berdua itu Jaka, kenapa kalian menyerangnya?,” teriak Dava melihat arah pukulan tersebut yang berasal dari sosok dua panglima harimau tertinggi yakni Ki Datuk Panglima Kumbang dan Maung Bodas.


“Maaf Dava, kalau tak seperti itu Mas Jaka tak kan sadar-sadar dan kami tahu pukulan kami tak seberapa berdampak padanya bahkan bisa dibilang tak mempan,” ujar Maung Bodas yang kembali berubah menjadi sosok harimau putih besar kembali menyerang Jaka.

__ADS_1


“Hay...!!,” teriak Dava mencoba menghentikan dua panglima harimau yang terus menyerang Jaka namun sepertinya masih belum mampu mengatasi betapa hebatnya Jaka.


“Sudah Om biarkan memang mereka aku yang suruh dan hanya itu salah satu cara yang tepat menyadarkan Ayah,” ujar Wahyu menghadang Dava ketika hendak berlari mengejar dua sosok harimau yakni sosok harimau kumbang dari Ki Datuk Panglima Kumbang dan harimau putik perubahan dari Maung Bodas.


“Apa maksudmu Wahyu itu Ayahmu apa kau tak kasihan pada Ayahmu. Kau lihat ibumu dan tantemu yang disalib di atas sana bahkan mereka di telanjangi seperti itu apa kau tak paham juga Nak,” teriak Dava.


“Om, kalau Ayah dibiarkan membabi buta bahkan dia sekarang tak tahu mana lawan mana kawan apa kau mau seluruh pasukan lima kota di luluh lantakkan oleh Ayah,” teriak Wahyu membalas teriakan dari Dava membuat Dava tertegun mematung lalu terduduk lemas tak mengira semua akan jadi seperti ini. Iya mengingat lagi masa-masa bersama Jaka sang kakaknya itu di saat iya masih belum mampu menjadi anggota ring satu.


“Lalu apa yang harus kita lakukan Wahyu agar keluarga kita yang tersisa tidak lagi berguguran dan kita masih memiliki keluarga setelah perang ini usai?,” ucap Dava agak lirih menahan pedihnya kenyataan yang iya rasakan.


“Serahkan semuanya pada keponakanmu ini Om,” Wahyu melesat ke arah sang Ayah yang kini tak lagi serupa manusia namun berubah bentuk layaknya manusia raksasa tinggi besar dan kekar dengan nyala api berkobar.


Wahyu melepas jubah dan serbannya serta kaos panjang sebahu yang iya kenakan untuk menutupi tubuh ke tiga wanita terpenting di T O H saat ini. Seraya melepaskan mereka satu persatu. Jaka yang mengamuk tak tinggal diam dia menggeram hendak melayangkan pukulan api ke arah Wahyu. Namun Wahyu dengan sigap memberikan tubuh Sang Ibu yang tengah dalam gendongannya kepada Jaka.


Saat Jaka menerima tubuh Putri yang lunglai lemas tak berdaya dan saat iya menatap tubuh Sang Istri matanya mulai meneteskan air bening dari kelopaknya. Seketika tubuh Jaka kembali perlahan berubah ke bentuk semula.


Wahyu hanya tersenyum saat Jaka telah kembali normal seraya menatapnya, “Wahyu kau Wahyu anakku kan ia kan Nak?,” tanya Jaka terheran-heran.


“Iya Ayah dan yang berada di pangkuanmu itu adalah Mama alias Putri Istrimu,” ujar Wahyu.

__ADS_1


“Astagfirullah aku dibutakan amarahku,” celetuk Jaka meletakkan tubuh Putri di atas altar persembahan agar dapat beristirahat dan Jaka dapat melanjutkan perang.


“Wahyu, maafkan Om yang salah dan tak bisa memahamimu Nak, Kau benar hanya cara ini satu-satunya jalan menyadarkan Ayahmu,” ucap Dava yang datang melompat dari bawah lalu memegangi Sari seraya membaringkan tubuh Sari di samping Putri sedangkan tubuh Nyi Nurma yang sudah tak bernafas lagi tiada tanda kehidupan lagi pun ikut dibaringkan di sisi Sari.


“Kasihan Nyi Nurma iya bukan Sari dan Putri yang mampu menahan sakit karena kebiadaban para setan dan siluman sehingga Nyi Nurma menemui Akhirnya,” ujar Mbah Raji yang ikut ke atas altar bersama Gus Bari.


“Tenang Mbah lihatlah di atas tangga langit itu Nyi Nurma sedang bersama Mas Hasan menuju ke atas Allah tak tidur Mbah hal ini bukan kesalahan mereka Allah maha pengampun,” ucap Wahyu menunjuk langit yang tiba-tiba membentuk tangga-tangga lurus ke atas langit tak bertepi di sana Nyi Nurma dan Mas Hasan tengah bergandengan dan melempar senyum pada Jaka seraya melambaikan tangan lalu menghilang.


“Mbah Raji dan Gus Bari kami meminta tolong pada kalian tolong tunggu di sini untuk menjaga ke tiga tubuh bidadari T O H ini biar kami yang mengakhiri sepak terjang Adi Yaksa,” ujar Wahyu meminta tolong.


“Oalah dari tadi cuma dapat musuh setan kroco-kroco alias bawahan saja sekarang enggak ikut perang lagi,” jawab Mbah Raji.


“Sudahlah Mbah ini juga tugas dari pimpinan saat ini,” ujar Gus Bari meyakinkan Mbah Raji yang sedang semangat-semangatnya bertempur.


“Benar kara Gus Bari Wahyu kali ini kau yang memimpin Nak,” ucap Jaka menepuk pundak Wahyu.


“Benar Wahyu Om Dava selalu di sampingmu sekarang patuh perintahmu,” timpal Dava.


“Baik Ayah, Om mari kita hentikan Adi Yaksa,” ucap Wahyu yang kini telah kembali berjubah namun berwarna hitam-hitam dengan cepat jua iya melesat ke arah Adi Yaksa di ikuti Jaka dan Dava.

__ADS_1


“Eh kok bisa Wahyu tiba-tiba memakai jubah lagi ganti warna pula Amazing cucuku,” ucap Mbah Raji seraya bertepuk tangan.


__ADS_2