
Temaram bumi Jombang meredup perlahan, sayup-sayup ruang-ruang di sekujur sudut kota hingga pelosok desa mulai memudar dari terang menjadi agak gelap. Suara lantunan ayat Al Quran mulai mengalun syahdu, berirama pelan-pelan hantarkan aroma debar jantung Rabana bagi siapa yang hatinya selalu dinaungi cinta pada Sang Pencipta.
Setiap sudut desa tak luput dari badai semarai menyapu antara sekat kehidupan bumi Jombang. Seakan berbicara saatnya pergantian terang menjadi malam dan petang akan segera menggantikan singgasana sang surya kala.
Diawali dengan daun luruh di sepanjang jalan yang ditumbuhi jajaran pepohonan akasia hingga runtuh daun alang-alang perdu tepi sawah dan kali. Semarai menampakkan lukisan pendar jingga warna merah bata di ufuk barat memukau dengan kata Maysa Allah bagi para penikmat Rohani Surga.
Lalu menimbulkan kengerian yang mencekam hingga bulu kudu berdiri dengan sendiri secara otomatis tanpa di suruh sampai otak yang kaku diterpa penyakit kelemahan iman yang disebut ketakutan.
Di seberang sebuah jalan di salah satu sudut kota dan di salah satu hal yang tak luput dari aura senja semarai. Tepatnya di rumah Pak Haji Kardi entah terpengaruh akan hawa syahdu magrib atau tersugesti oleh kengerian semarai. Jalanan utama desa begitu lengang seakan tak ada manusia yang menghuni di sana.
Hanya sepiker surau yang terus berteriak mengajak semua warga untuk segera menggugurkan kewajiban ibadah fardu tiga rakaat. Disudut salah satu pintu depan rumah Dava tampak gagah dengan setelan sarung dan peci serta kemeja serba putih. Sehelai sajadah warna hitam disematkannya di pundak kanan lalu melangkahlah kakinya dengan mantap menuju rumah Allah memenuhi panggilan kewajiban fardu.
“Dava tunggu Abah?,” teriak Abah Kardi agak mempercepat langkah mengejar Dava.
“Ayo Abah keburu komat!,” teriak Dava yang sudah agak jauh berjalan.
Abah dan anak yang kini sudah dikenal namanya di seantero kota itu tampak bercakap ringan berjalan beriringan menuju surau yang tak jauh dari rumah mereka.
__ADS_1
“Abah sebentar, apa Abah tak merasakan kejanggalan?,” tanya Dava menghentikan langkah untuk merasakan hawa yang tak enak beberapa saat barusan melintas seperti angin di hadapan Dava. Dalam benak Dava makhluk apa barusan yang melintas?.
“Benar Abah kira, kamu tidak merasakannya. Rupanya arah angin hawa setan itu ke arah rumah Pak Lurah Dongkol Dav,” sahut Abah Kardi sambil menelaah arah rumah Pak Lurah yang selalu kelihatan suram setelah ia naik jabatan dari kepala dusun menjadi lurah.
“Aku sudah menduga Abah sakit Dewi tidak wajar adanya setelah kematian Ibu lurah yang sangat menggegerkan warga tidak lama kemudian Dewi sakit,” ujar Dava menerangkan pada Abah Kardi.
“Benar katamu Dav, aku mencium bau-bau tumbal menumbal dan pemujaan setan di sini,” kata Abah Kardi.
“Ya sudahlah Abah seusai magrib biar aku dan calon mantu bapak yang cantik jelita tak ada duanya seantero kota Jombang Sari pergi ke rumah Pak Lurah untuk menjenguk Dewi sambi aku mengecek ada apa sebenarnya di rumah Pak Lurah?,” ucap Dava.
“Kamu lagaknya paling mau berduaan sama Sari, awas berdua yang ketiga setan yang keempat jin yang kelima apa lagi demit, hahaha tapi itu lebih baik pergilah pesan Abah hati-hati karena Pak Lurah orangnya tak pernah kooperatif bila ditanya-tanya,” jelas Abah Kardi.
***
Di tepian waduk Rejosari Abah Kasturi tampaknya sedang kedatangan tamu istimewa. Ya benar petapa Effendik sedang duduk berhadapan di depan gubuk beralaskan tikar dengan suguhan kopi hitam panas bersama sang empunya gubuk Abah Kasturi. Tampak mereka berdiskusi dengan nada-nada perkataan serius terlihat dari raut wajah mereka berdua yang terkadang sesekali mengernyitkan dahi sambil berpikir tajam.
“Abah kau kan sebagai pemimpin di sini dan menjadi sang guru besar bagi para punggawa T O H. Menurutmu kali ini apa mereka sudah siap menghadapi segala kemungkinan yang ada untuk melawan sebuah bahaya besar yang akan datang ini?,” tanya Effendik dengan nada serius dan cukup khawatir dengan beberapa kejadian yang beberapa hari ini terjadi tentang hilangnya beberapa bayi dari rumahnya.
__ADS_1
“Firasatku sudah tidak enak dari kejadian hilangnya bayi pertama di kaki gunung Anjasmara tepatnya di daerah desa Mredo. Karena saat aku tembus dengan penerawangan tiba-tiba aku memasuki alam kerajaan jin yang begitu besar lengkap dengan ribuan prajurit dan punggawa kerajaan layaknya nyata seperti yang di gambarkan pada film kolosal televisi,” terang Abah Kasturi.
“Benar Bah itulah yang aku maksudkan waktu itu saat di acara pertunangan Gus Bagus kerajaan itu milik raja jin Adi Yaksa. Padahal ratusan tahun yang lalu ia telah aku segel namun karena dewasa ini banyak manusia yang memujanya dan memberi persembahan tumbal padanya sehingga ia mendapatkan kekuatannya kembali dan dapat mematahkan segel gaibku,” cetus Effendik sambil menyeruput segelas kopi hitam panas satu gelas di depannya.
“Kalau memang benar apa yang aku lihat saat itu sama persis seperti yang kau katakan Ki Effendik. Kala itu aku melihat seorang gadis dipenggal kepalanya di atas altar persembahan dan tubuhnya di masak di tungku besar lalu dimakan beramai-ramai oleh para prajurit setan yang ada di sana dan darahnya di minum oleh rajanya yang memiliki tanduk seperti kerbau,” jelas Abah Kasturi.
“Ya itu yang namanya Adi Yaksa dia sudah berulang kali aku segel tapi selalu saja di kehidupan berikutnya dari satria langit muridku yang sekarang turun menjadi anak dari murid kesayanganmu Jaka tetap Adi Yaksa dapat lolos kembali,” ujar Effendik.
“Tapi Ki aku melihat lagi ribuan prajurit itu seperti bersiap hendak berperang. Hendak melawan siapakah mereka?,” tanya Abah Kasturi.
“Kamu ini sudah tua tidak bertambah peka rupanya. Ya siapa lagi di kota ini kalau bukan hendak berperang melawan kalian para T O H. Kalau Adi Yaksa terbangun dari kurungan segel yang aku buat dia pasti dan selalu dari dahulu kala dengan ambisinya menaklukkan kota yang berada di sekitar kerajaannya dahulu kala ada legenda sebuah kerajaan lenyap karrba ulah Adi Yaksa itu,” terang Effendik.
“Perang lagi baru saja kota kami damai sejenak kini harus dihadapkan lagi oleh situasi peperangan,” ujar Abah Kasturi.
“Tetapi Abah kau harus tahu Adi Yaksa tak pernah suka perang terbuka seperti musuhmu kemarin si Sarpala. Dia selalu mengadakan perlawanan secara tiba-tiba jadi setiap waktu bahkan setiap detik bagi kota jombang ini adalah masa siap siaga tak ada tanda awal perang maupun akhir perang tak ada tanda kedatangan musuh jua tiba-tiba mereka datang lalu melenyapkan dan pergi lagi itulah sifat mereka merusak dengan cepat dan sistematis,” kata Effendik
“Aku harap Kau pun mengerti apa yang harus kau lakukan Abah Kasturi, aku pergi dahulu sampai di sini dahulu percakapan kita lain hari kita sambung lagi. Assalamualaikum,” ucap Petapa Ki Effendik tiba-tiba menghilang dari depan Abah Kasturi.
__ADS_1
“Waalaikumsalam,” jawab Abah Kasturi meneguk segelas kopi hitam di tangannya.
"Oalah perang lagi...!!," gerutu Abah Kasturi sambil geleng-geleng kepala tak menyangka akan ada bahaya kembali sehingga iya harus bersiap menghadapi peperangan yang mungkin akan lebih dahsyat dan lebih kejam.