T O H

T O H
Pip, pip, pip Calon Mantu


__ADS_3

Seperti biasa pagi ini Putri sedang membantu Umi Epi memasak di dapur sedang Abah Wachid pagi-pagi benar dijemput Ustad Khotib pergi ke pondok Dan Vivi masih asyik dengan dunia Maya di layar ponselnya.


“Put, Jaka dan Dava kemana kok sejak tadi tidak kelihatan..?,” tanya Umi sembari memotong-motong sayuran di atas talenan.


“Tidak tau Umi terakhir aku lihat tadi pagi saat mereka pulang lari pagi, mau aku tanya kenapa kok pulang kayak orang ketakutan eh malah masuk ke kamar masing-masing, mungkin mereka tidur lagi Umi,” kata Putri sambil mengiris bawang merah.


“Dasar mereka ini, coba Umi minta tolong bangunkan mereka sudah siang ini malah tidur lagi,” kata Umi Epi menyuruh Putri.


Setelah Putri mencuci tangan ia bergegas pergi ke kamar Jaka namun hatinya menjadi dag-dig-dug tak menentu saat melihat pintu kamar jaka. Putri mengingat masa-masa dimana ia tidur berdua satu kamar di rumah Pak Haji Sugian,


“Ah..., sudah Putri jangan di ingat lagi anggap saja angin lalu, Jakapun tak mengatakan sepatah kata pun semenjak kemarin, jahat kali dia melakukan kekasihnya seperti itu,” gerutu Putri seraya terus berjalan ke arah kamar Jaka.


Putri melihat pintu kamar Jaka yang tidak ditutup sempurna agak terbuka sedikit, “Jaka ini selalu ceroboh nanti kalau ada binatang masuk bagaimana,” gumam Putri meraih gagang pintu kamar Jaka hendak memasuki kamar namun belum sempat Putri masuk kedalam kamar Jaka Dava menghentikannya sambil berdehem berdiri di belakang Putri.


Ehem... ehem....


“Hayo loh...., Kak Putri mau ngapain,” celetuk Dava tertawa kecil penuh makna.


“Eh Dava, anu itu, disuruh Umi bangunin Jaka,” jawab Putri nampak salah tingkah.


“Kak aku tahu loh rahasia kalian berdua bahwa Mas Jaka dan Kak Putri sudah jadian,” kata Dava berbicara dengan berbisik di dekat telinga Putri.


“Eh loh kok tahu kamu..., siapa yang kasih tahu...?,” tanya Putri semakin salah tingkah.


“Kasih tahu enggak ya, hehe....,” kata Dava menggoda Putri seraya berlalu pergi.


“Eh Dava, anu, itu, Dava.....!!,” teriak Putri agak kesal namun Dava tidak menggubris pergi begitu saja kearah dapur.


“Dasar Jaka, Dava, sama-sama julit huh...,” gerutu Putri seraya masuk kedalam kamar Jaka.


“Aduh nih cowok jam segini masih molor,” kata Putri melihat Jaka yang masih tertidur pulas.


“Aduh mana wajah Jaka kalau tidur manis sekali jadi tak tega membangunkannya,” ucap Putri.


“Ah aku punya cara biar Jaka cepat bangun, aha....,” kata Putri sambil ikut masuk kedalam selimut berbaring di samping Jaka.


“Jaka, Jaka bangun yuk...,” ucap Putri sambil mengecup lembut kening Jaka.


Alih-alih terbangun Jaka malah memeluk Putri erat, “Wah ini kalau cara halus tidak mempan harus pakai cara kasar ini,” ujar Putri.


“Jaka....., bangun.....!?,” teriak Putri mengencangkan suara di dekat telinga Jaka.


Jaka yang sontak begitu kaget langsung berdiri dengan bergaya silat dan memasang kuda-kuda, “Mana-mana hantunya, mana...?,” kata Jaka.


“Hahaha...., Jaka, jaka, sudah ayo kamu di cariin Umi tuh,” ucap Putri turun dari kasur.


“Ah kamu Bawel, orang masih ngantuk dibangunin,” kata Jaka kembali mengambil posisi tidur dengan berbaring.


“Eh malah tidur lagi, ayo bangun,” kata Putri mencoba menyeret lengan Jaka yang tengah ogah-ogahan di atas kasur.

__ADS_1


.........


“Pagi Umi...,” Dava datang langsung mengambil tempat duduk dan menyeruput kopi di atas meja makan.


“Eh Dava itu kopi Mas mu Nak,” kata Umi.


“Ah.., Mas Jaka masih molor Umi,” kata Dava.


“Kata siapa ini sudah bangun,” kata Putri yang baru datang bersama Jaka.


“Putri kok bisa kamu bangunin Jaka. Biasanya susah sekali tuh anak buat dibangunkan,” kata Umi.


“Ya kalau tidak bangun aku marah-marahi dia Umi,” kata Putri.


“Allhamdulillah akhirnya ada yang menggantikan tugas Umi untuk membangunkan Jaka, andai saja Putri jadi menantu umi ya jadi istrinya Jaka,” Kata Umi.


Uhukz....


Jaka yang tengah minum air putih dari galon yang terpasang diatas dispenser seketika tersedak mendengar kata-kata dari Umi.


“Kenapa Jaka.., pelan-pelan dong sayang minumnya..?,” kata Umi.


“Cie..., cie..., cie..., Mas Jaka punya calon, pip, pip, pip, calon mantu,” teriak Dava menggoda Jaka.


“Hustz..., lah kopiku kau habiskan Dava..?,” Kata Jaka agak melotot kesal.


“Biar aku yang buatkan..,” kata Putri berdiri dari duduknya pergi untuk membuat kopi.


“Cie..., cie.., cie..., Pip, pip, pip, calon mantu, hahaha....,” kata Dava tertawa puas menjaili Jaka dan Putri sedangkan Umi Epi nampak berwajah bingung dengan apa maksud dari bercandanya Dava.


Sreet... bruk...


Vivi yang baru datang dengan wajah kesal langsung mengambil tempat duduk menyeret-nyeretnya lalu agak keras menaruh bokong di atas kursi seraya menghela nafas panjang


Hufffftz.......,


“Loh kenapa sayang kok datang-datang cemberut gitu...?,” tanya Umi sambil menyodorkan segelas coklat panas di depan Putri menaruhnya diatas meja.


“Terimakasih Umi...,” kata Vivi seraya menuangkan coklat panas diatas lepek kecil.


“Ia kak Vivi kenapa kok cemberut gitu...,” ujar Putri seraya menaruh segelas kopi hitam di depan Jaka lantas kembali duduk di samping Jaka.


“Ini Dek Putri ada tugas dari sekolah masak aku disuruh foto bunga dari pohon pisang yang baru merekah, tau sendiri kapan bunga di ontong (bakal buah pohon pisang) pisang itu kembang kita enggak tahu, tahu-tahu udah ada bunganya saja,” kata Putri.


“Ya kalau itu Umi tau, si ontong atau bakal buah pisang tempat bunga yang akan menjadi pisang itu berbunga pertama kali ya pas tengah malam,” kata Umi menjelaskan.


Lantas semua mata tertuju pada Jaka seakan Menghakimi Jaka untuk membantu Vivi memotret bunga pisang yang baru berkembang. Jaka yang mengerti dengan tatapan mata yang tertuju padanya berusaha mengelak dengan berdiri dari duduknya, “Mandi ah...,” kata Jaka.


“Jaka bantulah kakak mu Vivi Nak..,” kata Umi.

__ADS_1


“Anu nanti malam ada liga champion...,” kata Jaka terus mengelak.


“Mas liga champion itu Minggu pagi sekarang malam Jumat,” kata Dava.


“Aku juga banyak tugas sekolah. Nanti malam harus selesai,” ujar Jaka mencari-cari alasan.


Namun belum terlalu jauh Jaka melangkah dari kursi hendak pergi, tangan Putri memegang lengan Jaka seraya menunjukkan mimik muka memohon pada Jaka.


“Aduuh.., iya, iya nanti malam aku cari di Mbah Google deh kak Vi,” kata Jaka mencari cara yang termudah untuk mendapatkan foto bunga pisang.


“Jaka kalau fotonya dari Mbah Google ngapain aku pusing. Aku bisa unduh sendirilah masalahnya foto tidak boleh sama dengan siswa yang lain, ya Jaka bantu aku please,” kata Vivi memohon pada Jaka.


“Bantu lah kak Vivi Jaka kasihan,” celetuk Putri masih dengan memegangi tangan Jaka dengan muka dimanis-manisin agar Jaka menjadi luluh hatinya.


“Iya, iya....,” kata Jaka.


“Yes.., Putri ternyata sejak ada kamu disini aku sangat terbantu loh, Jaka kalau sama kamu nurut,” kata Vivi


“Ia jadi heran Umi, enggak biasanya Jaka penurut kayak gini,” ujar Umi mulai menaruh curiga.


“Eh anu motret bunganya dimana ya, maksudnya pohon pisangnya..?,” kata Jaka mengalihkan pembicaraan, agar umi tidak semakin curiga.


“Dimana lagi Jaka kalau bukan di kebun pisangnya Pak RT,” kata Putri.


“Apa....., kebun pisangnya Pak RT,” teriak Jaka dan Dava berbarengan menampakkan wajah yang teramat kaget maklum baru saja Jaka dan Dava dikejar hantu pocong disana saat mereka sedang lari pagi.


“Dava ini kamu harus ikut, jelas tidak harus tidak, pokoknya kamu harus ikut,” kata Jaka.


“Anu....,” kata Dava hendak mengelak namun belum sempat bicara Jaka telah memotong kembali perkataan Dava.


“Tidak usah anu, anuan, nanti malam pas jam dua belas malam kau ikut aku ke kebun pisang Pak RT,” kata Jaka seraya berdiri kembali hendak menuju kamar mandi.


“Mandi..., Mandi..,” teriak Jaka belum beberapa langkah saat pas di belakang Putri Jaka membungkuk lalu berbisik pada Putri.


“Hey pacarku tersayang, karena kau yang buat aku mengiyakan permintaan Kak Vivi. Jangan bobok ya nanti malam aku pingin imbalan spesial lebih dari kayak yang kita lakukan tiap malam di rumah Pakde,” kata Jaka dalam bisikannya seketika membuat hati Putri seakan berhenti berdenyut tak bisa bayangkan apa yang diminta Jaka sebagai imbalan.


kembali umi memandang tingkah Jaka dan Putri dengan tatapan penuh curiga.


“Dava bersiap untuk nanti malam..,” kata Jaka pada Dava sambil berlalu menuju kamar mandi.


“Tidak...........!!,” teriak Dava terbayang wajah si poci yang menyeramkan.


_


_


_


_

__ADS_1


__ADS_2