
Huha..., huha..., huwa...,
Huha..., huha..., huwa...,
Teriakan-teriakan siluman dan lelembut lembah neraka terus membahana mengagungkan raja mereka Adi Yaksa. Berjajar rapi duduk bersila menyilangkan kaki dengan berkali-kali mengangkat kedua tangan lalu menurunkannya lagi dengan posisi merunduk masih dengan bersila bergaya menyembah.
Sedangkan algojo-algojo kerajaan berdiri tegak diatas dinding-dinding tebing yang mengitari aula pertemuan istana Adi yaksa. Terkadang mondar-mandir di sisi yang lain sambil memanggul kampak besar di pundak sebelah kiri. Sambil mata terus melotot, melihat ke sana-kemari, mengintai jauh barangkali ada musuh yang mendekat.
Obor-obor di patung seram berbentuk ular naga dan setan iprit telah menyala. Ada beberapa prajurit di sana bertugas mengganti bahan bakar minyak yang di sangrai dari bekas kulit manusia yang di sayat sebagai persembahan.
Pohon beringin kembar besar nan lebat tumbuh rindang pas diatas tebing singgasana Adi Yaksa. Akarnya sampai tembus menjalar ke bawah di mana aula kerajaan berada. Salah satu patih kerajaan mendekat dan berbisik pada sang raja yang tengah duduk mengongkang kaki fi atas singgasananya.
“Hem..., ya baiklah..., suruh mereka masuk,” ucap sang raja pertanda bahwa ada tamu datang yang tidak lain adalah para sekutu dari kerajaan siluman sekitar gunung salak.
Bergegas sang patih memberi aba-aba pada beberapa prajurit yang berjaga di depan gerbang istana yang berada jauh dari aula letaknya di antara bukit kembar San cakala. Yang di jaga dua ular sanca besar sebesar pohon kelapa.
Namun dengan matanya sang patih dapat memberi aba-aba langsung pada beberapa prajurit siluman yang berdiri di sisi-sisi atas gerbang serta genderuwo-genderuwo yang berdiri tegak nan tinggi di balik gerbang untuk menarik ular sanca sebagai kunci agar pintu gerbang dapat terbuka.
Kraaak..., gledek..., gledek...,
__ADS_1
Suara pintu gerbang besar terbuka perlahan. Di balik sisi luar gerbang ratusan kucing hutan liar berlari memasuki gerbang dan berubah wujud menjadi sesosok manusia namun masih memiliki ekor kucing. Mereka pasukan dari raja kucing hutan Ramones. Mereka jua sebangsa siluman yang mendiami salah satu lembah di gunung salak.
Di belakang kelompok Ramones datang pula anjing-anjing setan dari selatan jua berjumlah ratusan dengan rupa layaknya anjing jombi di mulutnya berdarah-darah bekas memakan persembahan yang disuguhkan oleh manusia-manusia laknat sekitar gunung. Kelompok ini di gawangi oleh Jenggrana siluman anjing paling ganas di gunung malang.
Perlahan mereka para anjing setan bergerak memasuki gerbang istana raja Adi Yaksa demi memenuhi panggilan sang pemimpin persekutuan siluman dan para setan gunung. Di belakang para anjing siluman yang keluar dari dalam tanah. Serupa tulang belulang dari lembah wijen dengan menari-nari namun hanya berupa tengkorak.
Satu-persatu keluar dari dalam tanah laksana bangkit dari kuburnya. Dipimpin oleh panglima jerangkong siap mengikuti perintah dari sang petinggi Adi Yaksa dan mereka jua berjumlah ratusan siluman tengkorak.
Dari sisi hutan yang lebat sosok-sosok kera bergelantungan dari atas pohon terus meloncat-loncat dari satu pohon ke pohon lainnya lalu terjun ke dalam aula. Merekalah ratusan kera siluman gunung wilis dari sisi utara.
Bergabung memenuhi undangan Adi Yaksa dipimpin seekor kera putih Prabu Wirang Saga. Belum usai sampai di situ kelompok drakula yang mengubah diri menjadi ratusan wujud kelelawar datang pula terbang di atas aula menukik langsung kembali berganti wujud menjadi sosok vampir mengambil tempat dibalik barisan para siluman. Mereka di pimpin langsung oleh sang drakula sakti Jalabaya.
“Mari-mari para sekutu, sahabat, teman dan para saudaraku. Mari masuk dan silakan menikmati hidangan yang kami suguhkan,” teriak Adi Yaksa berdiri sambil bertolak pinggang menyambut ribuan bala tentara dari para sekutunya yang terus berdatangan dari segala penjuru Jawa Timur.
Adapun hidangan yang disuguhkan dari meja-meja bundar terbuat dari batu adalah kepala manusia, kepala kerbau, sapi dan kambing ada pula daging babi serta tubuh manusia yang dimasak setengah matang di tusuk bambu layaknya daging guling.
“Raja Adi Yaksa aku menyaksikan sendiri bahwa Haji Kasturi mengumpulkan ratusan punggawa T O H di atas bukit Tunggorono,” ucap Ramones Raja kucing gunung membuka percakapan.
“Tenang adiku Ramones mereka memiliki ratusan pasukan. Kita memiliki ribuan tentara siluman, setan dan jin,” jawab Raja Adi Yaksa.
__ADS_1
“Lalu apa rencana kita ke depannya hai Raja para siluman?,” celetuk Jenggrana sang pemimpin anjing setan.
“Bukankah kita sudah menabuh genderang perang saudaraku Jenggrana. Kita sudah mempengaruhi ribuan manusia di dalam kota Jombang itu. Merekalah yang memberi persembahan tumbal dan sesaji yang dihidangkan di depan kalian itu,” jawab Raja Adi Yaksa menunjuk hidangan di ratusan meja bundar yang tersedia di aula kerajaan.
“Adi Yaksa kalau begitu kita akan mudah menguasai kota Jombang kalau manusianya sudah lemah. Perang kali ini rupanya sudah kau menangkan tanpa bergerak berhadapan dengan para T O H,” ucap Prabu Wirang Saga sang kera putih raja para siluman kera.
“Prabu Wirang Saga kau dari dulu tak berubah selalu ceroboh dan jemawa, tetapi aku suka dengan keganasanmu yang selalu tak pernah memberi ampun pada musuh. Karena itulah kau masih dibutuhkan di sini.
Kau jangan anggap remeh Pasukan T O H lihatlah pasukan Sarpala yang lebih kuat darimu. Mereka binasa ditangan para anggota T O H. Dan jangan lupa anggota T O H di dampingi makhluk-makhluk sakti seperti garuda, Jatayu, para naga dan para panglima siluman harimau Sumatra,” jawab Raja Adi Yaksa.
“Halah itu karena Sarpala ceroboh kurang perhitungan, anak kemarin sore dia. Kan baru berapa puluh tahun dia menjadi siluman kalau kita sudah ratusan bahkan ribuan tahun menjadi siluman tentu tak seceroboh itu,” timpal Sakti Jalabaya sang Drakula ikut berbicara.
“Maka dari itu kalian aku kumpulkan untuk menyusun strategi kembali guna menghadapi kaum golongan putih. Agar kita tak lagi terkunci ratusan tahun di gua-gua seperti dulu lagi. Kita sudah bebas dan harus bebas selamanya untuk menggiring manusia dalam kesesatan sampai akhir jaman. Caranya adalah membunuhi semua anggota T O H satu-persatu,” teriak Raja Adi Yaksa.
“Tapi Kakang Raja Adi Yaksa terlalu riskan dan berbahaya kalau kita perang terbuka mereka para T O H tak bisa diduga. Apa lagi ada satu orang yang sangat linuweh dan sakti yang mengawasi keseluruhan anggotanya pasti yang lain tahu kalau ada satu anggota yang sedang sekarat dan datang menolong,” jelas Ratu Sri Blirik si ular putih.
“Tenang saja adinda ular putih skema kita sudah benar serangan kita sudah benar mereka tak mengetahui kalau kita merasuki warga dan masyarakatnya meracuni mereka dengan dunia fatamorgana lalu menyuruh mereka mempersembahkan tumbal sehingga tanpa disadari masyarakat mati satu-persatu. Itu sudah modal kemenangan bagi kita,” jawab Raja Adi Yaksa.
Tembusan....
__ADS_1
Dalang Author “Untuk para pembaca dan teman-teman Author lainya maaf baru bisa up lagi kemarin” Author di dera banyak musibah dari Ibu sakit, Author sendiri sakit sampek harus mengurus ini itu mohon di maklumi. Terimakasih,”......