T O H

T O H
Bicara Dengan Bergala


__ADS_3

Di sebuah altar yang sangat sepi kelam dan gelap tiada apa-apa sepanjang memandang. Hanya genangan air semata kaki sepanjang altar tanpa ujung. Hanya terdengar dentingan suara tetesan air jatuh berulang-ulang.


Sesekali berhembus hawa aneh layaknya embusan nafas yang keluar dari hidung. Bukankah ini salah satu dari bagian dalam tubuhku, sudut manakah ruangan ini terletak di dalam tubuhku. Ucap Dava dalam hati yang tengah berdiri mematung di tengah altar sunyi.


Ia mulai meneliti sekelilingnya namun tak ia dapati apapun di sekitarnya. Kembali embusan angin dari depan selayaknya orang bernafas namun begitu besar di hembuskan berkali-kali.


Embusan apakah ini mengapa begitu besar angin yang di timbulkannya. Ucap Dava dalam hati dengan rasa penuh penasaran sembari mulai melangkahkan kaki perlahan menapak kedepan langkah demi langkah dengan penuh kehati-hatian.


“Ada apa Dava kau sampai datang kemari?, sehingga mengusik ketenangan tidurku,” tiba-tiba suara menggema terdengar berbicara pada Dava yang berasal dari depan ia berdiri.


“Hai siapa kau?, tunjukkan wujud aslimu,” teriak Dava nampak kebingungan menengok kesana-kemari mencari keberadaan sosok dari suara yang bergema yang bertanya tentang kehadirannya.


“Bocah konyol bukankah aku yang berada di dalam lengan kanan mu, apa kau sudah lupa dengan ku Sang Naga perkasa Bergala,” suara itu kembali bergema berbarengan dengan munculnya dua mata besar berbentuk seperti mata kucing namun begitu besar.


Hanya kedua matanya yang terlihat keluar dalam kegelapan namun sosok tubuhnya tidak terlihat karena saking gelapnya.


“Baiklah akan aku tampakkan wujud ku,” kata Bergala memajukan sedikit posisi kepalanya sehingga dapat terlihat oleh Dava.


“Woi Bergala besar sekali kau, apa benar ini di dalam lenganku ya?,” ucap Dava sambil menggaruk-garuk kepala serasa tidak percaya.


“Hahaha, bocah konyol dasar, aku justru berterimakasih padamu Dava karena di alam sana bumi sudah begitu panas karena keserakahan manusia dan membuat begitu banyak industri sehingga mencemari udara di atasnya. Ratusan tahun aku tidak bisa tidur dengan nyenyak kali ini di dalam tubuhmu yang berhati bersih aku bisa tidur dengan leluasa, hahaha...,” ucap Bergala tertawa dengan nganga moncong mulutnya lebar


Sehingga membuat nafas yang keluar layaknya angin kencang membuat Dava harus menekan tubuhnya dengan kuda-kuda agar tidak terseret ke belakang.


“Sekarang aku tanya, kenapa saat kupanggil beberapa kali barusan kau tak muncul?,” ucap Dava.


“Apa kau tidak di beritahu oleh Jaka bagaimana cara memanggil makhluk pendamping sepertiku. Dasar Jaka kenapa ia tidak mengajarkan padamu secara detail, padahal ia memiliki Jatayu,” ucap Bergala.


Dava nampak kebingungan terus menggaruk-garuk kepala merasa tidak tahu apa-apa tentang cara memanggil makhluk pendamping.


“Walau kau sampai mati di tangan manusia separuh siluman seperti Sultan kalau kau memanggilku dengan cara yang salah aku tidak akan keluar karena suaramu tidak akan sampai kesini,” ucap Bergala.

__ADS_1


“Lalu Bagaimana cara yang benar untuk memanggilmu?,” ucap Dava menatap lekat mata Bergala.


“Tapi aku masih mengantuk besok saja, hahaha,” ucap Bergala.


“Keburu tiada aku di tangan Sultan kalau begitu,” ucap Dava.


“Dimana Imanmu manusia, Bukankah kematian itu ketetapan Allah dan hanya Allah yang boleh menentukan kapak kau mati, apa kau lupa kalimat tersebut?,” ucap Bergala.


“Ia, ya, aku tahu,” teriak Dava.


“Dasar anak konyol, takut mati juga kau rupanya, hahaha,” ucap Bergala.


“Ayolah kasih tahu aku bagaimana cara memanggil makhluk pendamping sepertiku?,” tanya Dava sekali lagi.


“Baiklah, huftz, merepotkan anak ini. Kalau kau hendak berkomunikasi denganku mintalah izin pada yang menciptakan makhluk yaitu Allah dalam hati lalu secara otomatis pasti akan tersambung denganku begitulah cara Jaka dan yang lainya berkomunikasi dengan makhluk pendamping mereka. Anak konyol belajarlah lagi masih banyak yang belum kamu ketahui,” ucap Bergala.


“Baiklah akan kulakukan,” kata Dava memejamkan mata menyebut nama Allah dan Rasulullah memohon izin untuk memanggil Sang Naga Bergala.


“Dava...!!,” teriak Jaka terbang kearah Dava yang tengah sekarat di dalam posisi terkunci oleh Sultan.


“Dava...!!,” teriak Haji Wachid dan Haji Kardi bersamaan sambil melompat menuju arah Dava yang tengah di hadapkan dengan kapak setan yang dilayangkan ke arah lehernya oleh Sultan.


Prak...


Gradak...


Dar...


Kapak sampai ke leher Dava namun bukanya putus atau tergores sedikitpun kapak malah pecah menjadi serpihan berkeping-keping.


Sultan begitu sangat terkejut karena kapak setan yang ia miliki tak pernah gagal saat menghunus ke tubuh lawan pasti seratus persen berhasil sekarang malah hancur lebur saat membentur leher Dava.

__ADS_1


“Apa ini?,” ucap Sultan menoleh ke arah Dava yang masih dalam kuncianya.


“Kau lupa Sultan kalau aku adalah anak dari Haji Kardi adik keponakan dari Jaka dan salah satu anggota T O H dari ring satu yang paling muda, kenapa kau ceroboh menganggapku bisa kalah semudah ini,” ucap Dava mulai mengeluarkan sinar hijau menyala di seluruh tubuhnya. Yang keluar dari lubang pori-pori kulitnya.


Karena begitu kuat pusaran aura hijau dari dalam tubuh Dava yang menghempas keluar. Sehingga membuat Sultan terpental ke belakang menabrak beberapa lingkaran cakram yang di bentuknya sendiri beberapa lapis.


Dengan gerak cepat lesatan kilat Dava sudah berada di belakang Sultan kembali kali ini gantian Sultan yang menjadi bulan-bulanan dari Dava di hantam bertubi-tubi dengan pukulan Naga hijau pas di dadanya.


Huek...


Sultan memuntahkan darah hitam pertanda seluruh ilmunya luntur karena pukulan Naga hijau dari Dava yang bisa langsung memusnahkan ilmu seseorang.


Sultan terseok-seok mencoba berdiri kembali tetapi ia sudah terkepung oleh Dava, Haji Kardi, Haji Wachid dan Jaka yang melingkarinya seraya bersiap menghantam dengan jurusnya masing-masing.


“Kalian tidak akan bisa membunuhku karena aku adalah separuh siluman separuh manusia. Yang dapat membunuhku hanya Bagus dengan trisula pemberian Dewa Siwa,” ucap Sultan dengan tubuh sekarat.


Belum selesai berbicara tubuh Sultan sudah tertembus trisula emas panjang yang dipegang Bagus yang secara mendadak telah ada di depan Sultan seraya menghunuskan senjata trisula Dewa Siwa.


Bruk...


Tubuh Sultan ambruk seketika lalu terbakar menjadi abu, “Sudah selesai,” ucap Gus Bagus kembali merapal sebuah ajian tuk menghilangkan kembali senjata trisula.


“Yah mesti Mas Bagus ini, ah enggak asyik. Dia yang datang belakangan dia yang jadi pahlawan, ah kesel aku nih,” ucap Dava merengek sambil mengentak-entakkan kaki layaknya anak kecil.


“Ya memang Author maunya gitu aku kan ngikut saja kalau protes katanya jadi wayang kok bawel, hehehe,” ucap Gus Bagus.


“Ia, nih Mas Bagus curang ah kita yang mati-matian berkelahi. Mas Bagus datang sekali makcus musuhnya mati nanti yang baca katanya wah Gus Bagus hebat, lah kita kapan jadi jagoan,” teriak Jaka terduduk agak kesal.


“Sudah-sudah jangan bertengkar kalian semua adalah pahlawan bagi para warga, kalau saja tidak ada kalian disini tentu warga Desa Dukuhan Banjar Kerep tidak akan bangun selamanya karena terjebak mimpi yang dibuat oleh para iprit,” ucap Haji Kardi.


“Udah ayo pulang ngantuk ini,” ucap Haji Wachid seraya melesat kembali ke rumah Haji Kardi berniat beristirahat sejenak sebelum subuh datang, di ikuti Haji Kardi, Jaka, dan Bagus melesat setelahnya.

__ADS_1


__ADS_2