T O H

T O H
Seminggu Yang Lalu


__ADS_3

Seminggu setelah peperangan dahsyat melawan balatentara Adi Yaksa. Kota Jombang yang luluh lantak akibat perang kini kembali di bangun , ruas-ruas jalanan kembali di rapikan gedung perkantoran mulai dibenahi. Rumah sakit dan sekolah walau masih bertenda-tenda sudahlah mulai kembali beroperasi.


Malam ini terasa damai bagi sebagian masyarakat kota karena tak ada lagi marabahaya yang menghampiri di setiap sudut gang sehingga apabila ingin keluar rumah tentu berpikir ribuan kalai dan dalam benak hati bergetar kata kematian. Hari ini kendaraan tampak lalu lalang kembali dan kota mulai bergeliat kembali.


Dirumah Jaka masih separuh jalan terbangun itupun dengan material seadanya dan oleh swadaya warga dan anggota T O H yang lain yang penting sudah terbangun kamar untuk Putri sang istri dan Wahyu anaknya terleelap dan berlindung dari dinginya angin malam.


Malam ini Jaka tampak sendiri menikmati segelas kopi bikinannya sendiri seperti biasa kopi hitam pahit satu gelas. Di emperan beratap sederhana rumahnya satu tegukan, dua tegukan terus ia nikmati sembari menghisap rokok di tangan dan memandang langit cerah nan biru.


Huftz…,


Hembusan nafas agak dalam iya lontarkan ke udara menembus batasan dan sekat-sekat awang-awang hampa lurus kelangit lalu menghilang. Seminggu yang lalu kedua orangtuanya menjadi korban ganasnya peperangan antara batil dan haq. Seminggu yang lalu istri tercinta diperkosa para siluman dan ditelanjangi di depan matanya.


Masih teringat jelas seminggu yang lalu saat ia pulang kerumah dan mendapati kakak perempuannya Vivi menangis sejadi-jadinya, “Kakiku, kakiku, kakiku!,” teriak Vivi sambil terus memandangi kakinya yang hilang keduanya terputus dimakan salah satu setan seminggu yang lalu.


Jaka mulai menyandarkan kepalanya di sebuah kursi kayu hasil karyanya sendiri dua hari yang lalu. Kini iya tak hanya merawat sang anak Wahyu namun harus pula merawat sang istri yang masih syok dan trauma dengan hanya bersandar di atas tempat tidur kayu hasil swadaya warga dengan tatapan mata kosong tak mampu melakukan apapun hamya sekali waktu saat ia teringat kejadian teragis seminggu yang lalu lantas ia berteriak-teriak dan menangis sejadi-jadinya.


Seminggu yang lalu saat sebelum mendiang kedua orangtuanya dikebumikan Jaka mengingat kembali wajah sayu pucat kakaknya Vivi di atas kursi roda penopang tubuhnya yang tengah bergaun pengantin namun tiada wajah bahagia hanya datar saja. Di sampingnya seoarang lelaki gagah rupawan duduk dan hanya terus memandangi kakaknya ya siapa lagi lelaki itu Gus Bagus kekasih sang kakak yang jua ikut terpukul melihat kondisi istrinya kini. Pagi kemarin mereka pergi ke desa Banjardowo ke rumah Gus Bagus.

__ADS_1


Saat itu pertama kalinya Kak Vivi kembali tersenyum pada Jaka dan berpesan untuk menjaga Putri dan keponakan lelaki satu-satunya ketika iya pergi bersama sang suami. Jaka saat itu hanya mampu menatap kepergian sang kakak di balik punggung mereka dengan senyum kecil dengan terus berjanji kepada mereka akan menjaga keluarga kecilnya.


Seminggu yang lalu datang kabar dari desa Mbanjar kerep dimana Dava tinggal. Bahwa Dava sudah dinikahkan dengan Sari oelh warga setempat agar tidak menimbulkan fitnah. Sesuai adat-istiadat mereka di akatkan di depan mendiang kedua orangtua Dava sebelum menguburkannya.


“hehe, Dava Adikku selamat kau sudah menjadi suami sekarang,” ucap lirih Jaka seraya meneguk kopi hitam satu gelas yang hampir habis lalu mengepulkan asab rokok setelah menghisapnya agak dalam ke atas awang-awang teras.


Seminggu yang lalu hari terakhir paling berat di hidupnya saat iya kehilangan banyak saudara dan teman sesama anggota T O H maupun dari luar anggota T O H. Seminggu yang lalu kota berhasil dipertahankan untuk beberapa generasi selanjutnya. Tetapi Jaka terus berpikir apakah generasi berikutnya mampu bertahan dari ganasnya serangan serta godaan setan yang makin hari makin begitu kuat seperti janji Allah untuk hari akhir dunia.


Sedangkan iya tahu putranya Wahyu Satria Langit masih teramat kecil untuk maju dalam perang. Memang benar Wahyu adalah balita ajaib yang dapat berubah sesuka hati menjadi dewasa dengan kekuatan dahsyat. Namun itu seminggu yang lalu setelah kepergian Petapa Effendi iya pun kembali semula dalam keadan tak ingat kalau ia adalah seorang pejuang hebat.


Malam ini Jaka sendiri hanya berteman sunyi sepi di depan teras rumahnya. Bercanda dengan keluh-kesah ingatan seminggu yang lalu. Hatinya terasa sangat sepi dan tak bergairah saat sang bidadari hidupnya istri tercinta masih terpuruk dengan trauma dan kesedihan yang mendalam.


Namun itu tak jadi soal baginya yang ada dalam pikirannya tentang kondisi mental adiknya Dava. Betapa tidak. Baru menikah dan kondisi sang istri sama seperti istrinya bahkan lebih parah karena seminggu yang lalu saat ia turut dalam kejadian pilu pemerkosaan menjadi korban iya masih perawan. Betapa Sari istri Dava sekarang begitu sangat terpukul dan terluka hatinya.


“Ah tapi aku yakin Dava mampu mengontrol suasana hatinya. Aku yakin aku telah memberikannya wawasan luas akan hal ini,” gumamnya masih duduk di atas kursi kayu sembari menikmati malam yang semakin malam.


Walau setiap hari ada saja yang datang kerumahnya Jaka tetap saja kesepian tanpa canda tawa sang istri. Setiap pagi selalu ada yang datang mengunjunginya entah itu manusia atau sebangsa jin yang pernah ikut berjuang saat perang tetap saja hari-harinya masih terasa sepi.

__ADS_1


“Ah sudahlah kalau dipikir tiada habisnya,” makinya pada sepi malam sembari membunuh bara api di ujung batang rokok di tangannya dan menyeruput tegukan terakhir segelas kopi.


Dalam langkah gontai nan penat begitu lelah ia mencoba menahan hati untuk tak hancur atas kondisi yang sangat terpuruk ini. Selangkah demi selangkah kakinya mulai berjalan menapaki lantai yang masih belum lagi di benahi bolong-bolong sana-sini.


Langkah kakinya begitu berat dan tangannya masih gemetar saat badannya telah sampai di dalam rumah pas di depan pintu kamar di maba sang istri dan putranya tertidur. Jaka tak kuasa harus selalu memandang Putri yang menatap kosong padanya seakan di dalam matanya tiada kehidupan lagi.


Krieeek…


Pintu kamar terbuka oleh tangan Jaka yang selalu gemetaran saat membukanya. Seakan takut kalau istrinya bertindak nekat saat iya tinggal barang sebentar saja.


Dan air matanya selalu menetes lagi dan lagi saat pintu terbuka dan mendapati Putru kembali menatap kosong bersandar di dinding kamar dengan muka sayu dan rambut yang tergerai acak-acakan. Sejenak ia menatap sang Putra tertidur di samping Putri sambil memeluk kaki Putri seakan balita itu sangat merindukan kasih sayang sang Ibu.


Saat seperti itu bagai halilintar menyambar pas di dada Jaka sangat hancur rasanya tak terbantahkan. Namun terus ia tahan dan yakin pasti akan ada hari dimana Jaka dan Putri kembali bersama seperti dulu kala saling bercanda dengan beby Wahyu yamg selalu merecoki kemesraan mereka.


Sejenak Jaka mengecup hamgat kening Putri lalu membenahi selimut Putri yang tak karuan tempatnya di sebabkan saat Putri ingat kembali tragedi seminggu yang lalu pasti sangat histeris dan begitu kalut.


“Maaf Sayangku karena bersamaku hari-harimu menjadi terlalu keras dan tipis antara mati dan hidup mu maaf sayang,” ucap Jaka melepas kecupannya di kening Putri.

__ADS_1


__ADS_2