
Tengah malam lewat 15 menit sudah Jaka baru pulang dan baru sampai di teras rumahnya pas berdiri di depan pintu depan rumah berbentuk kupu-kupu atau orang Jawa menyebutnya pintu berbentuk kupu tarung. Entah apa maksudnya kupu tarung yang kalau di buat menjadi arti bahasa Indonesia artinya kupu berkelahi mungkin bentuknya yang seperti kupu-kupu saling berhadapan.
“Eh ketok enggak ya, ah terobos sajalah,” gerutu Jaka melewati Pintu dengan gampangnya seakan Jaka selalu dengan mudah menembus pintu tebal yang terbuat dari pohon jati hasil karya Mbah Raji tersebut.
“Hehe, sudah masuk dong ke dalam rumah, eh percuma dong istriku mengunci pintu kalau aku gampang masuk. Dan oh tidak orang yang bisa kayak aku juga gampang masuk dong. Haduh Putri jadi ngeri meninggalkan kamu lama-lama sayang, ah kok jadi parno begini ya cus ke kamar,” gerutu Jaka melangkah ke kamar dengan langkah di percepat.
Sampai pintu kamar ternyata keadaan pintu tak tertutup sempurna terbuka sedikit. Dan keadaan kamar tampak gelap gulita.
“Eh loh-loh, kok pintunya ke buka ya Allah semoga tidak terjadi apa-apa dengan istriku Aamiin,” gumam Jaka berwajah panik dan lekas membuka pintu lalu masuk ke dalam kamar.
Namun yang ia dapati hanya kosong di atas kasur tidak ada Putri yang biasanya terbaring di atas kasur malam ini iya tak ada di sana. Hanya ada bantal kasur dan selimut yang berserakan.
Wajah Jaka semakin panik dan khawatir takut terjadi apa-apa pada istrinya tercinta. Matanya menelaah ke seluruh kamar yang agak gelap namun masih mampu iya lihat dengan cara menyalakan mata cahayanya. Tetapi beberapa kali Jaka menyeka pandangan ke setiap sudut ruang kamarnya tidak ada sosok Putri di sana sampai ia periksa kamar mandi dalam pun tak ada.
“Aduh ke mana sih kamu sayang?” kekhawatiran Jaka semakin memuncak dan gelagatnya menunjukkan ketakutan akan kehilangan Putri sebab siang yang tadi iya menghadapi hal di luar dugaan tentang penyerangan Hendrik pemuda pemimpin golongan hitam yang hendak mengobarkan perang.
“Tenang-tenang, Jaka tenang, mungkin istrimu sedang ada di dapur. Mungkin iya lapar terus merebus mi instan, kita ke dapur,” kembali Jaka terus meracau sendirian kali ini langkahnya agak berlari kecil menuju dapur tanpa tahu sebenarnya Putri tepat berada di belakangnya sambil terus mengikuti langkahnya dan tengah memegang sapu dengan gagang di atas atau memegang dengan cara terbalik sambil terus di ayun-ayunkan di genggaman tangan kanan ujung gagang sapu.
Dan berkata dalam hati, hem liat saja ya tak totok kamu Jaka. Masak istrinya di biarkan bobok sendirian. Pulang larut malam lagi, terus tadi aku wa Kak Vivi katanya Wahyu di tinggal. Sudah tahu aku tak bisa tidur kalau belum melihat Wahyu tertidur di sampingku. Hem liat saja ya tak totok kamu benaran.
Jaka berlari kecil ke arah dapur dan Putri mengikutinya dari belakang sambil mengendap-endap agar tak di ketahui oleh sang Suami.
__ADS_1
Mata Jaka mulai mengitari tiap ruangan dapur yang tetap dalam keadaan gelap semua lampu telah di matikan rupanya oleh Putri, dalam hati Jaka berkata mungkinkah. Lalu buru-buru iya tepis prasangka buruk dalam hati agar tak menjadi doa dan tak lekas terkabul menjadi kenyataan.
“Positif Jaka, positif istrimu mungkin berada di tempat lain di salah satu bagian rumah ini,” gerutu Jaka dalam gelapnya ruang dapur.
“Oh iya aku tahu mungkin di ruang Mushola ya benar mungkin di ruang Mushola sedang Shalat Tahajud atau Shalat hajad mungkin,” gumam Jaka berbelok arah hendak menuju ruangan Mushola tempat iya dan Putri biasa berjamaah di ruang tengah.
Tetapi urung melangkah kaki saat berbelok arah hendak melangkah sejengkal Putri sudah ada di depannya sambil memegang gagang sapu yang terbalik.
“Allahuakbar, Astagfirullah, subhanalah, Laillahaillah,” teriak Jaka yang secara otomatis mengucap takbir, tasbih dan tahmid.
“He, he, Mas Jaka yang terhormat apa sampean kira istrimu ini setan hem!,” cetus Putri sambil melotot kepada Jaka.
“Eh Mama, habis Mama buat Papa jantungan saja. Tiba-tiba muncul di depan Papa,” jawab Jaka agak salah tingkah merasa bersalah karena meninggalkan Putri sampai larut malam.
“Anu Ma, itu apanya, anu loh,” ucap Jaka serasa berlepotan dalam bicara dalam hatinya, aduh alamat tak di kasih jatah ini. Wahyu kamu sih pakai acara menginap di rumah tantemu lagi.
“Jangan menyalahkan Wahyu dan jangan bicara dalam hati. Mama tuh tahu apa yang Papa katakan walau dalam hati sekalipun,” celetuk Putri semakin geregetan.
“Heeh, sejak kapan Mama bisa membaca isi hati Papa?" Jaka terheran-heran mendengar ucapan Putri dan tak bisa mengelak lagi.
“Ah Mama kan maksud Papa biar kita bisa bobok berdua malam ini saja. Kita kenang kemesraan saat kita masih memanggil dengan panggilan sayang si bawel dan si julid kayak dahulu, ah Mama enggak peka ah,” teriak Jaka mencoba merayu Putri yang tampak marah karena Wahyu tak ikut pulang.
__ADS_1
“Papa kali ini rayuanmu tak akan mempan lagi sama Mama,” perlahan Putri melangkah ke arah Jaka sambil mengayunkan sapu seperti hendak memukul Jaka.
“Eh Ma, Mama mau apa, loh-loh ampun Ma, Enggak lagi-lagi Papa benaran deh. Besok pagi-pagi sekali Papa Janji jemput Wahyu benar deh suer,” ucap Jaka membela diri sambil mengode mengacungkan dua jari dengan bentuk V.
“Ah apanya yang pemimpin T O H, apanya yang pemuka T O H dibuntuti istri di belakangnya dari tadi nyatanya enggak tahu kamu. Sudah jangan banyak cincong tanganku sudah gatal ini ingin totok batokmu,” cetus Putri semakin mendekati Jaka.
“Mama Sayang cantik deh,” ucap Jaka mencoba kembali merayu
“Enggak Mama jelek belum mandi!” jawab Putri.
“Eh Mama baik deh besok kita beli scencare ya, ya Ma,” kembali Jaka merayu Putri sambil menampakkan wajah memelas jurus paling ampuh untuk menaklukkan sang istri di kala marah.
“Aaaah, Papa mesti kalau Mama marah mukanya jangan begitu. Mama kan jadi enggak tega liat wajahmu yang seakan polos dan semanis itu aduuh kan Mama jadi enggak kuat Pa,” rengek Putri meletakkan sapu di lantai begitu saja.
“Ah kelamaan mumpung Mama enggak kuat katanya hehe. Langsung gendong bawa ke kamar asyik,” kata Jaka meraih tubuh Putri langsung berlari menuju kamar dan langsung merebahkan tubuh Putri di atas kasur dengan posisi menindihnya dari atas.
“Loh-loh Papa mau apa, Mama mau diapain Pa?” teriak Putri agak meronta di atas kasur.
“Sudah tenang saja enak-enak jangan bawel ah diam saja nurut dan hayati saja hehe,” ujar Jaka mulai melepaskan satu persatu baju yang di pakai Putri.
“Pa kan harusnya Mama yang marah malam ini dan harusnya Papa yang nurut sama Mama kok di balik sih,” kata Putri melihat wajah sang suami yang sudah menindih di atasnya.
__ADS_1
“Sudah diam bawel ah,” kata Jaka melancarkan serangan pertamanya.
“Jangan Pa, tidak," teriak Putri pasrah.