
“Dava.....!!,” teriak Haji Kardi begitu pilu saat ia melihat anak lelakinya Dava tengah meronta kesakitan, karena dalam posisi kuncian Sultan.
Nampak Dava begitu berdarah di sekujur tubuh serta mengalir darah pula dari mulutnya terkena hantaman keras pukulan-pukulan Sultan didadanya. Kini ia terus kesakitan dalam posisi lengan Sultan mencekik leher Dava.
Haji Kardi terus berlari menyongsong Dava hendak menolongnya namun langkahnya terhenti oleh puluhan siluman serigala yang terus berdatangan meloncat ke arah Haji Kardi.
“Dava tidak, jangan Sultan, jangan kau bunuh anak ku?!,” teriak Haji Kardi yang terus menghantamkan pukulan pada siluman serigala yang seakan terus bermunculan tak ada habisnya.
“Abah...,” suara parau Dava terdengar serak pilu merintih dengan mulut berlumuran darah. Dava terlihat mengulurkan tangan meminta pertolongan pada Haji Kardi namun Haji Kardi masih terlalu jauh dari posisi Dava berada.
Di sisi lain Jaka terus menghancurkan dinding cakram setan yang melingkari posisi Sultan Dava berada, karena dinding berbentuk lingkaran berlapis-lapis sehingga membuat Jaka belum jua sampai ke arah Dava dengan cepat.
Jaka merubah arah serangan ia meloncat ke atas dengan maksud langsung menukik ke tengah ke arah posisi Dava.
“Dava...!!, Oh tidak, Sultan lepaskan Dava?,” teriak Jaka menukik menuju ke tempat dimana Sultan tengah memiting Dava.
Namun begitu halnya dengan Haji Kardi yang terus menghancurkan dinding cakram lalu di halangi puluhan siluman serigala. Kini loncatan Jaka di sambut dengan beberapa siluman kera yang meloncat ke arah Jaka menghadangnya agar tak sampai di tempat Dava.
Dar...
Pukulan Jaka melontar ke arah beberapa siluman kera namun sama dengan siluman serigala seakan siluman kera jua datang bergerombol tak ada habisnya. Akhirnya Jaka harus meladeni para kera bertarung di atas dinding-dinding cakram setan yang dibuat Sultan.
Datanglah Haji Wachid yang urung kembali pulang karena mendengar teriakan Haji Kardi dan Jaka yang meneriakkan nama Dava.
Dengan tendangan besi sekali tendang tiga dinding cakram setan berhasil ia tembus, tetapi tendangannya terhenti mendarat di dada sesosok makhluk raksasa bertaring panjang tubuh layaknya genderuwo.
Mau tidak mau Haji Wachid harus berurusan dengan si raksasa terlebih dahulu sebelum menyelamatkan Dava.
“Hahaha..., dengarlah kalian inilah Dava yang kalian bangga-banggakan, lihatlah dia tak berdaya di tanganku, dia berlumuran darah sebentar lagi dendamku akan terbalaskan dan kematian Ayahku sudah terbayar saat aku membunuh Dava,” teriak Sultan menyeringai seraya mengambil Kapak Setan dari belakang punggungnya dan mengarahkan ke leher Dava.
“Hey Haji Kardi lihatlah anakmu ini dia sedang mendekati ajalnya. Ingatlah dahulu kau membunuh Ayahku dengan cara yang sama seperti ini. Kini pun akan ku gunakan cara yang sama untuk menghabisi putra kesayanganmu ini,” teriak Sultan sambil mulai mengayunkan golok ke arah leher Dava.
“Saksikanlah awal kebinasaan T O H dan awal kemenangan kami golongan hitam, hiyaaak...,” teriak Sultan mengayunkan kapak setan pas di leher Dava.
“Dava....!!,” teriak Haji Wachid, Haji Kardi dan Jaka secara bersamaan.
__ADS_1
***
“Dava...!!,” teriak Sari terbangun dari tidurnya dengan posisi langsung setengah duduk dan tangan kanan nampak meraih sesuatu kedepan, seakan memiliki firasat bahwa Dava kekasihnya tengah dalam bahaya.
Hikz... Hikz..
“Dava ku...!!,” teriak Putri dalam tangisnya.
“Dava kau dimana?, Dava jangan mati, jangan pergi, lalu aku bagaimana?,” tangisan Sari menjadi-jadi.
“Loh-loh Dik Sari kenapa bangun-bangun kok menangis ada apa?,” ucap Putri yang seketika berlari ke dalam kamar tengah tempat Putri beristirahat karena masih lemah kondisinya.
“Sari, Sari,” teriak Umi Emi yang ikut berlari karena mendengar teriakan Sari.
“Sari kena Nak Putri kok menangis?,” tanya Umi Emi yang sudah berdiri di samping Putri yang tengah memeluk Sari mencoba menenangkannya namun Sari masih terus menangis.
“Dava Umi, Dava..,” ucap Sari dengan terisak di pelukan Putri.
“Sudah-sudah Dik Sari Cuma mimpi buruk, Dava pasti selamat tenang ya, ada Mas mu Jaka ada Abahnya Paklik Kardi dan ada mertua ku Haji Wachid. Mereka adalah yang jawara-jawara T O H. Tenang ya hentikan tangis mu Dava pasti selamat,” ucap Putri masih memeluk Sari sambil mengelus rambut Sari yang panjang sebahu mencoba terus menenangkannya.
“Sudah-sudah jangan di lanjutkan, tidak baik bicara tentang firasat jelek pamali Sari. Kita berdoa saja pada Gusti Allah semoga Dava baik-baik saja dan pulang dengan selamat bersama dengan yang lain,” ucap Putri.
“Benar anak ku Sari, serahkan semua kepada Allah. Insya Allah Dava pasti di selamatkan dengan sebuah mukjizat dari Yang Kuasa,” ucap Umi Emi.
“Aamiin,” ucap Putri dan Sari yang masih terisak dari tangisannya
“Putri tolong Umi Nak, buatkan teh hangat untuk Sari agar perasaannya agak mendingan kasihan dia.
“Baik Umi,” ucap Putri seraya berdiri dan pergi ke arah dapur untuk membuat segelas teh hangat.
Namun baru saja beberapa langkah dari dalam kamar Sari. Putri menangkap sosok macan kumbang berwarna hitam yang terus berjalan mengitari rumah Haji Kardi dalam penerawangan mata batinya.
Sehingga membuat Putri penasaran benarkah sosok tersebut adalah Datuk Panglima Kumbang. Lalu Putri berusaha berbicara dengan kontak batin kepada sosok macan tersebut.
“Assallamualaikum Ki Datuk,” ucap Putri dalam batinya.
__ADS_1
“Waalaikumsalam Non Putri,” ucap Ki Datuk Panglima Kumbang dalam wujud macan hitam besar.
“Allhamdulillah ternyata benar Ki Datuk yang kulihat,” ucap Putri.
“Benar Non Putri ini saya, saya memang di perintahkan Jaka untuk menjaga rumah Haji Kardi, karena sesekali siluman masih berdatangan kemari. Dan diatas juga ada Adi Maung Bodas," ucap Ki Datuk Panglima Kumbang.
Terlihat di atas atab ada sosok macan putih besar tengah mondar-mandir sembari matanya terus mengawasi sekitar rumah Haji Kardi.
“Allhamdulillah kalau begitu aku jadi tenang, karena beberapa saat yang lalu aku masih melihat bayangan-bayangan hitam berkelebat di sekitar rumah ini,” ujar Putri.
“Benar Non bayangan itu berasal dari beberapa siluman dari golongan hitam yang masih berdatangan kemari tapi sudah berhasil aku atasi,” ucap Ki Datuk Panglima Kumbang.
“Ki boleh aku bertanya?,” ucap Putri.
“Silahkan Non,” balas Ki Datuk Panglima Kumbang.
“Apa benar tentang mimpi Putri bahwa Dava tengah dalam bahaya?,” ucap Putri penasaran.
“Oh iya, Non Putri tidak bisa menerawang sampai jauh ya layaknya Jaka. Memang benar Non Dava tengah dalam bahaya namun tenanglah para jawara T O H ada di sana Insya Allah Dava selamat,” ucap Ki Datuk Panglima Kumbang.
“Aamiin,” jawab Putri berlalu pergi ke dapur.
Beberapa saat kemudian Putri datang dengan segelas teh hangat ke dalam kamar Sari.
“Ini Umi teh hangat untuk Sari,” ucap Putri mengulurkan segelas teh hangat pada Umi.
“Taruh saja di atas meja Putri Sarinya tertidur kembali, setelah ibu meminum obat biarkan Sari istirahat kasihan dia,” ucap Umi Emi.
“Umi apa sebaiknya kita berdua tidur di sini dengan Sari, Putri takut nanti Sari bermimpi buruk kembali,” ucap Putri.
“Benar Nak, Umi pikir memang sebaiknya begitu,” ucap umi.
“Ya sudah matikan dulu lampunya Nak Putri, nyalakan saja lampu hias di atas meja rias sebagai penerangan agar tak terlalu terang,” ucap Umi Emi.
“Baik Umi,” sahut Putri mematikan lampu ruangan kamar Sari dan menyalakan lampu hias di atas meja rias seraya ikut berbaring di samping Sari.
__ADS_1