T O H

T O H
Pandemi Aneh


__ADS_3

Dukuhan Banjar Kerep adalah sebuah Dukuhan atau nama lain dari dusun sebuah pecahan bagian dari sebuah desa. Di kota Jombang biasanya satu desa terdiri dari beberapa dusun atau Dukuhan setidaknya terisi tiga dusun atau Dukuhan di setiap desa maksimal enam dusun.


Dukuhan Banjar Kerep terletak di sebelah barat desa Banjar Dowo. Termasuk dalam satu kesatuan dari dua desa lain di kanan kirinya. Seperti umumnya area perdesaan Dukuhan Banjar Kerep jua memiliki area persawahan di belakang desa yang begitu luas dan asri


Kontur tanah yang subur dengan hawa yang teduh membuat para petani menanami sawah dan ladang mereka dengan tanaman buah Garbis, melon, timun suri dan semangka.


Terletak dekat dengan pusat kota Jombang membuat alur perdagangan hasil panen para petani sangat mudah di jual dan menghasilkan uang dengan cepat sehingga membuat penduduknya nampak makmur sentosa.


Berbeda dengan dusun lain Dukuhan Banjar Kerep memiliki bentuk rumah-rumah bergaya lama joglo khas Jawa kuno masih banyak dijumpai di sana. Banyak warga yang masih meyakini tentang pemahaman ilmu kejawen atau pemahaman pengetahuan Jawa kuno


Membuat Dukuhan Banjar Kerep masih sangat terasa aura mistisnya dan praktik klenik masih ada di sini dan di sinilah rumah Pak Haji Kardi berada tempat dimana keluarga dari orang tua Dava tinggal.


.......


Jaka dan Putri tengah dalam perjalanan ke rumah Dava semalam dalam bentuk ruh ia telah berjanji datang berkunjung pagi ini. Dengan menaiki motor metik milik Jaka kali ini Putri yang duduk di belakang di bonceng Jaka.


“Jaka masih jauh kah rumah Dava?,” tanya Putri.


“Ini masih di tengah kota Putri, ya kira-kira sepuluh menit lagi kita sampai,” jawab Jaka yang tengah menghentikan motornya namun dengan mesin masih menyala sebab mereka tengah berada di perempatan sebelah taman kota yang bernama Kebun Rojo dan lampu merah sedang menyala merah tanda berhenti.


“Jaka ini tempat apa taman kota kah?,” tanya Putri yang kagum saat melihat keindahan taman tengah kota Kebon Rojo.


“Ia Putri, ini namanya taman Kebon Rojo taman tertua di kota ini yang di renovasi ulang oleh para bupati yang menjabat di sini secara bergantian dari masa-ke masa. Sehingga sekarang menjadi begitu indah lengkap dengan wisata kuliner dan taman bermain juga ada arena olahraga,” kata Jaka menjelaskan.


“ingin rasanya aku melihat ke dalam taman ini Jaka,” kata Putri mengerlingkan mata sebagai kode merayu agar Jaka mau diajak masuk ke dalam taman Kebon Rojo.


“Nanti ya Put, aku kan sudah berjanji pada Dava berkunjung ke rumahnya tidak enak kalau membuat iya menunggu,” kata Jaka.


“Ia sayang aku ngikut saja apa kata mu pangeran ku,” kata Putri tersenyum manja.

__ADS_1


“Halah mulai deh bucinnya,” celetuk Jaka seraya mencubit pipi Putri penuh kasih sayang.


“Aduh sakit loh,” teriak Putri mengaduh kesakitan.


“Eh sakit ya maaf-maaf,” kata Jaka mulai menggoda Putri seakan bagaikan dunia milik mereka berdua yang lain mengontrak saja, begitulah kalau bisa di buat perumpamaan kemesraan yang ditunjukkan mereka berdua karena membuat beberapa pengendara di kanan-kiri mereka merasa iri.


Lampu lalulintas menyala hijau tanda bahwa pengendara sudah boleh berjalan lagi. Jaka mulai memacu kembali motor metiknya kini berbelok ke kiri dari perempatan samping taman Kebon Rojo lurus menuju barat.


Sepuluh menit telah berlalu Jaka dan Putri kini telah melewati gerbang selamat datang perbatasan desa Banjar Dowo. Suasana berubah berkabut hawa pun tiba-tiba menjadi semakin dingin.


“Jaka perasaanku tidak enak sayang,” kata Putri menambah erat pelukan di pinggang Jaka.


“Ia, ya, kenapa ada Kabut kita kan tidak berada di Trowulan ya (Trowulan sebuah desa asal-usul kerajaan Majapahit yang kalau pagi selalu penuh kabut pekat yang anehnya kabut hanya muncul di daerah tersebut sedangkan daerah sekitar tiada kabut),” kata Jaka.


“Terakhir kesini tidak begini perasaan, kok sekarang melewati gapura ini semakin kedalam desa semakin merinding ya. Pegangan Put kita percepat laju motor kita agar cepat sampai,” kata Jaka.


Jaka semakin memacu kencang laju motornya namun beberapa saat ia kembali dikejutkan dengan beberapa orang warga yang berjalan bagaikan robot berwajah pucat layaknya mayat dan diam seribu bahasa tak bersuara. Sehingga iya memelankan kembali laju motornya dengan maksud ingin mengetahui apa sesungguhnya yang terjadi di desa ini.


“Jaka kenapa pelan jalanya?,” kata Putri merengek.


“Sebentar sayang kok banyak orang berjalan seperti patung aku jadi curiga ada apa ini?,” celetuk Jaka.


“Sudahlah Jaka ayo nanti kita tanyakan Dava saja apa yang tengah terjadi didesa ini, desa Dava masih jauhlah dari sini?,” tanya Putri sambil terus menutupi matanya mulai ketakutan.


“Tidak jauh itu sudah terlihat Dukuhan Banjar Kerep. Tempat dimana rumah Dava berada,” kata Jaka.


“Ya sudah ayo,” kata Putri.


Tidak beberapa lama Jaka dan Putri telah melewati depan gang menuju rumah pak Haji Kardi. Kebetulan rumahnya tidak jauh dari gang tersebut, melewati gang Jaka dan Putri dikejutkan kembali dengan beberapa orang warga yang tengah di pasung di depan rumah itu pun dalam keadaan bengong seperti orang linglung.

__ADS_1


“Ada apa ini kita baru saja berkunjung setelah sekian lama tidak kemari. Kita disambut berbagai macam peristiwa yang sangat ganjil seperti ini,” gerutu Jaka memacu motor memasuki pekarangan depan rumah Pak Haji Kardi yang tengah menunggu di depan rumah bersama Dava.


“Assallamualaikum Pakde,” ucap Jaka.


“Waallaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab Pak Haji Kardi dan Dava serempak seraya Putri turun dan menyalami Pak Haji Kardi. Sementara Jaka memarkirkan sepeda lalu mengikuti Putri bersalaman dengan Pak Haji Kardi dan Dava.


“Pakde ada apa dengan desa ini?,” Jaka langsung bertanya mengenai kejadian-kejadian aneh yang ia lihat sepanjang jalan.


“Sudah masuk dulu Mas, duduk dulu terus ngopi dulu baru cerita,” kata Dava mengajak Jaka dan Putri memasuki rumah.


“Eh Jaka sudah datang,” ucap Umi Emi sembari membawa beberapa gelas berisi seduhan kopi panas dan teh hangat lalu meletakkannya di meja.


“Ayo di minum dulu Jaka dan Putri,” kata Umi.


“Bude apa kabar?,” tanya Jaka berbosa-basi sambil menjabat tangan Umi Emi lalu mencium punggung tangannya diikuti oleh Putri melakukan hal yang sama lalu menyeruput segelas kopi yang di hidangkan.


“Sebenarnya ada apa ini semua Pakde?,” kata Jaka kembali bertanya.


“Oh ia, Nak Putri dulu kemari sebelum pandemi di kota Kediri di mulai ya?,” kata Pak Haji Kardi balik bertanya kepada Putri.


“Ia Pakde waktu itu masih simpang siur belum begitu jelas pandemi seperti apa yang melanda kota Kediri,” jawab Putri.


“Ya seperti ini Jaka, seperti yang kau lihat di jalan tadi, pandemi aneh yang berada di kota Kediri sudah sampai sini Jaka. Begitu mengerikan orang yang terkena wabah tersebut bertingkah aneh layaknya kesurupan dan yang paling parah mereka bisa saja sewaktu-waktu berbuat brutal bahkan sampai melukai dirinya sendiri maka dari itu kami dengan sangat terpaksa memasung mereka di depan-depan rumah,” kata Pak Haji Kardi menjelaskan.


_


_


_

__ADS_1


__ADS_2