T O H

T O H
Buah Pisang Sinyal Positif


__ADS_3

Jaka dan Putri sengaja memutar arah saat perjalanan pulang, cari angin kata Putri sambil melihat-lihat keramaian di sepanjang jalan kecamatan Mojowarno.


Sebenarnya langsung lurus saja dari desa Serapah menuju desa Mojokembang pun bisa, karena memang letak desa Serapah dan desa Mojokembang berdempetan ibarat kata tetangga dekat.


Yah Maklumlah Jaka dan Putri sedang di mabuk kasmaran jadi mereka memilih memutar jauh lewat Mojowarno.


“Nanti kalau ada pedagang buah kita berhenti dulu ya Jaka,” kata Putri kali ini duduk di belakang dibonceng Jaka mengendarai motor trail milik Putri.


“Baik Tuan Putri, permintaanmu adalah perintah bagiku,” ujar Jaka terus memacu motor trail.


Putri yang tengah dibonceng begitu menikmati perjalanannya memandang ke kanan dan ke kiri menikmati pematang sawah dan alunan perdu tanaman padi dengan beberapa burung Pipit riang berceloteh diatasnya.


“Put..., Memang mau beli apa kalau ada pedagang buah?,” tanya Jaka memperlambat laju motor trail.


“Mau beli Pisang Jaka, kamu mau juga kah nanti sekalian kita beli beberapa cengkeh (bahasa Jawa yang berarti sekumpulan pisang menjadi satu dalam satu batang),” kata Putri.


“Jangan banyak-banyak memang aku monyet makan pisang terus,” kata Jaka.


“Hehehe, ia enggak nyet,” kata Putri menggoda Jaka dengan panggilan monyet.


“Ya nyetnya jangan ke muka ku dong,” kata Jaka.


“Pelan-pelan Jaka itu ada pedagang buah,” teriak Putri menunjuk sebuah toko kecil di tepian jalan kecamatan Mojowarno yang penuh dengan buah ditata rapi di dalamnya.


Sittt....,


Jaka berhenti pas di depan toko buah, seraya Putri langsung turun melihat-lihat tatanan buah di depanya, “Pak beli buah...?, mana sih yang jual,” celetuk Putri menoleh ke dalam toko


Tak berapa lama seorang anak muda sebaya Jaka keluar dari dalam toko yang berbentuk semi rumah alias ruko kecil tersebut.


“Ia kak mau beli buah apa?,” kata pemuda pedagang buah.


“Wah yang jual ganteng ya,” kata Putri sambil melirik pada Jaka seakan ingin mengetes rasa kecemburuan Jaka.


“Hem gitu lihat yang cogan (cowok ganteng) langsung matanya ijo,” celetuk Jaka sambil mukanya di tekuk.


“Asyik Jakaku cemburu...,” kata Putri seraya tersenyum bahagia melihat tingkah Jaka yang tengah cemburu sebagai tanda cinta.


“Loh Jaka, Brow...?,” kata pemuda penjual buah yang ternyata mengenal Jaka.


“Loh kamu Ron..,” kata Jaka mengenali Roni teman masa smpnya dahulu.


“Benar kamu Jaka, wah...., sombong sekali sekarang sibuk tidak pernah kelihatan ya..,” kata Roni pemuda pedagang buah.

__ADS_1


“Bukan begitu kawan Abahku sedang sakit jadi aku yang menggantikannya mengurusi segala urusan di pondok,” kata Jaka.


“Oh ia dengar-dengar Abah Wachid sakit ya bagaimana keadaannya sekarang, maaf ya aku belum sempat jengguk,” kata Roni.


“Allhamdulillah brow sudah sehat sekarang,” kata Jaka.


“Allhamdulillah kalau begitu, itu siapa cemceman baru ya (bahasa gaul anak desa yang artinya kekasih baru ya),” kata Roni sambil melirik Putri yang tengah memilih Pisang.


“Ini mas saya mau beli buah pisang ini,” kata Putri sambil mengulurkan beberapa cengkeh buah pisang.


“He jangan banyak-banyak Tuan Putri nanti siapa yang makan,” kata Jaka.


“Ya kamulah....,” kata Putri sambil melotot pada Jaka.


“Ini buahnya kak, wah kalian serasi ya, aku jadi ingat masa SMP kita dulu Jaka kau pernah bilang kalau nanti punya pacar pingin yang rambutnya panjang. Persis seperti nona ini ya,” kata Roni seraya mengulurkan buah pisang yang sudah diwadahi keresek.


“Hustz..., jangan buka kartu nanti malah mukanya jadi berubah warna abu-abu monyet, iakan nyet,” kata Jaka seakan membalas ejekan Putri soal sebutan nama Monyet.


“Membalas, membalas aku tadi nih ceritanya,” kata Putri memanyunkan bibirnya sambil memukul-mukul Jaka namun tidak begitu keras.


“Aduh-aduh, ia, ia..., maaf sakit Put,” kata Jaka


“Bodok....., ini Mas uangnya,” teriak Putri seraya mengulurkan sejumlah uang pada Roni.


“Cie..., cie..., romantis sekali sih kalian ini jadi iri,” kata Roni seraya mengulurkan uang kembalian pada Putri.


“Tuh kan Julit kan.., hemmm, enggak mau, enggak mau aku di panggil Mput loh,” teriak Putri seraya terus memukuli punggung Jaka diatas Motor.


“Udah kita Pulang bisa-bisa pegal-pegal sampai rumah ini aku, Brow pulang kita Assalamualaikum,” kata Jaka kembali memacu motor trail.


“Waalaikumsalam,” sahut Roni yang hanya bisa tertawa melihat kelakuan Jaka dan Putri.


........


Di teras rumah Pak Haji Wachid sedang duduk-duduk santai bersama Umi Epi dan Vivi. Mereka tengah menikmati suasana pagi dengan segelas teh di depan mereka masing-masing.


“Oh iya Vivi, katanya pagi ini adikmu dan Putri mau pulang dari rumah Pakdemu Haji Sugian?,” kata Umi Epi.


“Ia Umi, semalam Putri mengirimkan pesan lewat wa kepadaku katanya pagi ini akan pulang dan sekarang dalam perjalanan Umi, mungkin sebentar lagi juga sampai,” jawab Vivi yang nampak cantik pagi ini dengan hijab warna pink menutupi mahkota kepalanya.


Brem... brem... brem....


Sebuah motor memasuki pekarangan rumah Pak Haji Wachid dan sebuah salam terdengar, “Assallamualaikum semua,” Dia Dava anak dari Pak Haji Kardi ia salah satu keponakan Pak Haji Wachid karena Abahnya Pak Haji Kardi adalah adik paling muda dari Pak Haji Wachid.

__ADS_1


“Waalaikumsalam Nak Dava bagaimana di pondok As-Salam apa baik-baik saja di sana?,” tanya Pak Haji Wachid.


“Allhamdulillah Pakde Mas ku Jaka tidak meninggalkan tugas yang berat bagi ku semua telah ia bereskan sebelum ia pergi menginap ke tempat Pakde Sugian. Oh iya katanya dia mau pulang hari ini, mana pakde aku sudah rindu pada Mas ku yang satu itu,” kata Dava seraya ikut duduk bersama.


“Sabarlah Nak sebentar lagi pasti datang, Putri tolong buatkan kopi untuk Dava,” kata Pak Haji Wachid menyuruh Vivi, Vivi pun segera pergi ke dalam.


Tintin.....


“Assalamualaikum,” kali ini yang di tunggu-tunggu telah datang Jaka dan Putri memasuki pekarangan rumah dengan motor trail yang dikendarai.


“Abah, Umi,” Jaka menghampiri Abah dan Uminya seraya mencium tangan kedua orangtuanya tersebut diikuti Putri di belakangnya melakukan hal serupa.


“Ini Umi Putri belikan Pisang,” kata Putri seraya mengulurkan beberapa wadah keresek yang penuh dengan pisang.


“Banyak sekali Nak Putri, pasti Jaka ya yang menyuruhmu membeli pisang sebanyak ini,” kata Umi.


“Kan aku bilang apa aku juga yang kena marah kan,” kata Jaka.


“Tidak Umi aku yang ingin membeli pisang itu, besok aku hendak membuat pisang goreng untuk camilan agar dapat dimakan kala sore hari,” kata Putri.


“Wah bagus itu Put, kalau begitu jangan besok buatnya sekarang saja ayo aku bantu membuatnya,” kata Vivi mengambil beberapa keresek berisi pisang sisanya masih di tangan Putri.


“Ayo kak...,” kata Putri mengikuti langkah Vivi masuk kedalam rumah hendak membuat pisang goreng.


Jaka yang tengah duduk di samping Dava nampak tersenyum bahagia melihat kakaknya Vivi dan Putri begitu akrab, “Asyik sinyal Positif, lampu hijau ini,” celetuk Jaka.


Dava yang mendengarnya segera merapatkan pandangan ke arah Jaka menatapnya dengan penasaran dan rasa curiga, “Mas Jaka...., hem aku mencium bau-bau rencana besar di dalam senyumanmu Mas, apa yang sedang kau sembunyikan rupanya?,” kata Dava sambil terus menatap Jaka dengan pandangan curiga-mencurigai.


“Eh..., Dava..., Dek kapan datang, lama tidak bertemu apa kamu tidak kangen dengan ku...,” kata Jaka mencoba mengalihkan arah pembicaraan Dava.


“Ah...., Bude, Pakde Mas Jaka selalu saja kalau diajak serius mengalihkan pembicaraan,” kata Dava mengadu pada Pak Haji Wachid dan Umi Epi yang hanya tertawa melihat tingkah kocak Jaka dan Dava.


"Ayolah bilang ada apa antara Mas Jaka dan Mbak Putri?," tanya Dava agak kesal namun malah tidak di jawab oleh Jaka, iya malah balik bertanya pada Dava.


"Oh ia, bagaimana kabar Paklik Kardi dan Bulek Emi...?," tanya Jaka.


"Ahhh...., kesel aku sama Mas Jaka...," kata Dava nampak uring-uringan dengan rasa penuh penasaran.


Dan Pak Haji Wachid dan Umi Epi hanya tertawa melihat tingkah Jaka dan Dava yang kocak.


_


_

__ADS_1


_


_


__ADS_2