T O H

T O H
Sang Naga Baru kelinting


__ADS_3

Hujan dan angin bergemuruh di balik jendela kayu kamar Putri tepatnya di rumah Pak Haji Kardi, Putri masih di rumah Pakdenya Jaka itu, karena sejak seminggu yang lalu Putri masih menginap di rumah beliau bersama Jaka.


Malam ini hati Putri sangat gelisah dan tak tenang tanpa tau sebab musababnya. Seakan ada ganjalan perih di uluh hati yang membuat Putri ingin meneteskan air mata bening hingga jatuh di pipinya.


Putri nampak bersandar di pojok Jendela memandang keluar dengan sengaja membuka daun pintu jendela memandang hujan badai yang berlangsung di luar rumah. Yang seakan mewakili rasa hatinya yang tiba-tiba sedih tanpa tau apa penyebab kesedihan yang ia rasakan.


Jaka dan Dava belum jua pulang setelah sore yang tadi berpamitan pada seisi keluarga untuk berperang.


Dan dari saat itu Putri selalu was-was akan keselamatan sang kekasihnya kalau-kalau Jaka pulang sampai terluka atau sampai, Ah tidak semua itu jangan sampai terjadi, ucap Putri dalam hati seraya menarik nafas panjang. Menatap langit yang gelap dengan kilat dan petir menyambar-nyambar.


“Putri, kenapa kok belum tidur sayang? loh kok Jendelanya di buka nanti masuk angin loh,” ucap Umi Emi yang datang mengecek kekasih keponakannya.


Umi Emi setiap malam selalu mengecek keadaan seluruh rumah, memastikan apakah baik-baik saja saat Jaka dan Dava tengah berjuang di luar sana. Termasuk merawat Sari yang sudah mulai siuman pun dilakukan oleh Umi Emi menggantikan Dava.


“Eh Umi, Endak tahu Umi, Putri tiba-tiba kangen rumah dan orang tua Putri di Kediri sudah seminggu ini tidak ada kabar,” ujar Putri seraya memeluk Umi Emi penuh cinta layaknya Uminya sendiri.


“Oh Umi kira Putri kangen sama keponakan Umi yang paling Jagoan Si Jaka, tadi dari luar Umi sedang memperhatikan Putri yang tengah melamun. Umi pikir Putri sedang rindu sama Jaka karena beberapa hari ditinggal tidak di temani bobok,” ucap Umi Emi menggoda Putri dengan maksud agar Putri tidak sedih lagi.


“Ah Umi, tidak begitu Umi, Putri tiba-tiba kangen Abah,” sahut Putri masih dalam pelukan Umi Emi.


“Ya sudah tutup dulu Jendelanya, sehabis itu kita tidur bareng saja di kamar Sari. Dia kan sudah sadar dari kemarin sore kasihan Sari masih syok butuh teman, ya sayang,” kata Umi Emi sambil membelai rambut Putri.

__ADS_1


“Ia Umi,” sahut Putri melepas pelukan Umi Emi seraya menutup Jendela dan pergi ke kamar Sari bersama Umi Emi.


***


Sama seperti di area rumah Pak Haji Kardi di daerah selatan desa Mbadas jua tak luput dari hujan angin dan badai petir. Namun bedanya kabut hitam pekat menyelimuti area Medan juang para santri di sana yang telah mengorbankan nyawa dan tenaga.


Demi memperjuangkan hidup para warga desa yang hendak di musnahkan oleh babi-babi siluman yang terus berdatangan. Banyak yang gugur dari pihak para santri maupun dari pihak babi. Mayat dan jenazah bergelimpangan di sana banjir darah mengenang di seluruh area persawahan maupun hutan bambu di depanya.


Hahaha, Hahaha, Hahaha,


Tawa menggelegar dari sang Panglima siluman babi terdengar mengerikan hingga sudut-sudut desa. Membuat setiap manusia yang mendiami setiap rumah warga desa di belakang area hutan bambu begitu ketakutan mereka berbondong-bondong mengungsi ke dalam pondok Haji Hadi yang di rasa aman dari serangan siluman babi.


Karena di dalam area rumah-rumah warga para babi sudah ada yang berhasil masuk sampai ke pekarangan warga merusak apapun yang ada dan membunuh siapa pun yang dilihatnya.


Di depan area pondok para pasukan santri yang terdesak mundur hingga area pondok pesantren Haji Hadi terus melakukan perlawanan pada para babi siluman.


“Terus berjuang hingga tetes darah terakhir kalian wahai temanku para santri. Kita Songsong pahala mati syahid, Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar, Maju,” teriak salah satu santri senior yang tersisa yang tengah memegang Panji Allah SWT.


Di dalam pondok pesantren seluruh warga Mbadas selatan yang kebanyakan adalah para ibu dan anak-anak tengah berkumpul di Aula tengah. Ada pula para laki-laki yang sudah berumur yang tidak ikut perang.


“Bagaimana ini Bu Haji? Siluman babi sudah sampai di depan pondok,” teriak salah satu warga.

__ADS_1


“Tenang ibu-ibu, bapak-bapak semua jangan panik lebih baik sekarang kita mulai membaca surat Yasin, karena surat Yasin adalah hatinya Al Qur’an tentu Allah akan mengizabah doa kita dan segera mendatangkan pertolongan,” ucap Umi Kalsum istri dari Haji Hadi ibu dari Putri.


Beberapa saat ayat-ayat dari surah Yasin dikumandangkan oleh seluruh warga yang tengah berkumpul di aula tengah pondok sebuah naga sangat besar mengitari atas pondok pesantren. Sebuah naga bersisik coklat keemasan dengan blangkon Jawa diatas kepalanya menutupi rambutnya yang panjang terurai terkibas-kibas terkena badai angin yang tengah berlangsung.


Kowak, Kowak, Argh,


Naga nampak bernafaskan api keluar dari mulut dan hidungnya. Begitu besar dan panjang sehingga ia nampak menutupi seluruh desa.


“Bu Haji mahluk apa lagi itu Bu Haji, Ya Allah apa lagi yang datang?" ucap salah satu warga sangat ketakutan.


Lalu sesosok berjubah putih memakai Kopyah putih turun perlahan dari atas Naga yang tengah terus mengamuk menyemburkan api kearah para siluman babi yang meringsek masuk ke dalam desa.


“Assallamualaikum Bu Haji Kalsum,” ucap salam sesosok yang turun dari atas Naga yaitu Gus Bagus atau Ustad Bagus Effendik.


“Loh Allhamdulillah Nak Bagus yang datang, ibu-ibu, bapak-bapak tenang Allah menjawab doa kita yang datang salah satu orang penting dari Jombang, salah satu pemuka dari organisasi T O H yang tersohor itu,” teriak Umi Kalsum dengan wajah mulai berubah semringah senang dan bernafas lega, karena kedatangan Gus Bagus.


“Ia ibu-ibu dan bapak-bapak, jangan takut naga itu temanku beliau adalah naga Baru kelinting. Sang naga dari tanah tertua di Jawa Tulungagung. Beliau bersama kita yang akan memusnahkan para siluman babi,” teriak Gus Bagus.


“Umi tenanglah beberapa dari kami telah datang untuk menolong saudara seiman kami di sini. Maaf kami telat karena kami pun harus memberantas musuh di kota kami terlebih dahulu. Dan masalah pak Haji Hadi Insya Allah calon menantu Umi Mas Jaka atau Ustad Jaka dan beberapa temanya sudah datang menolong beliau,” ucap Gus Bagus menuturkan.


“Allhamdulillah,” seru seluruh warga dengan kompak.

__ADS_1


“Allhamdulillah, baiklah ibu-ibu, bapak-bapak, mari kita ucap syukur atas datangnya pertolongan dari Allah dengan terus melafazkan surah Yasin agar musibah ini cepat hilang dan para pasukan santri kita menang dalam peperangan kali ini,” teriak Umi Kalsum di lanjutkan dengan lantunan-lantunan ayat suci Al-Qur’an yakni surah Yasin dari tiap warga.


Gus Bagus tersenyum dan kembali melesat ke atas bagai kilat untuk kembali menaiki Naga Baru kelinting yang terus menyemburkan api dari Mulutnya meluluh lantakkan para siluman babi yang mulai kocar-kacir karena terbakar oleh semburan api panas Sang Naga Baru kelinting.


__ADS_2