T O H

T O H
Kita Sudah Menikah


__ADS_3

Pagi gerimis di pondok pesantren Haji Hadi menyisakan duka yang mendalam bagi para istri yang di tinggal sang suami gugur dalam Medan tempur semalam mereka terdengar menjerit di dalam rumah meratapi nasibnya yang kini menjadi janda.


Banyak anak yang kehilangan bapak sehingga menjadi yatim lah ia. Beberapa terus berlari kesana-kemari di sekitaran desa Mbadas selatan sambil menangis dan berteriak, bapak..., bapak...!!.


Perang semalam memang sudah usai kami dari pihak manusia memang sudah memenangkan perang, tetapi bekasnya masih ada. Darah merah menggenang di mana-mana darah para santri yang gugur menjemput pahala syahid.


Di sudut desa ada sebuah rumah separuh papan separuh batu bata. Seorang nenek tua nampak duduk beralaskan tikar usang, tubuhnya yang sudah renta dimakan usia ia sandarkan pada penyangga teras yang berasal dari bambu itu pun sudah keropos di beberapa sudut


Karena usia penyangga sama seperti usia sang nenek tidak jauh beda begitu pula rumahnya yang dulu hasil jerih payah Si Bapak dari sang nenek tua.


Si Nenek nampak menatap kosong menerawang lurus tiada harapan sambil menatap beberapa santri yang terus berbondong memasuki desa seusai pergi berperang semalam.


Tubuh Si Nenek sontak berdiri dengan sisa tenaga ia menghampiri beberapa santri seraya bertanya,


“Apa kamu melihat cucuku Andri?, Apa kamu melihat cucuku?,” Kata sang nenek bertanya dari ujung ke ujung barisan santri yang baru memasuki desa setelah berperang.


Namun ia tak jua mendapatkan sesosok cucunya yang biasa pulang sambil memeluknya. Ia mengingat kembali sebuah bencana banjir bandang yang menerpa beberapa desa termasuk desa Mbadas selatan dan dua orang tua Andri sang cucu mati terseret banjir.


“Apa kalian melihat cucuku Andri?,” tanya Si Nenek pada orang terakhir dalam barisan para santri namun Si Nenek tak jua menemui cucunya.


Si Nenek terduduk lemas tanpa tahu keberadaan cucunya yang mungkin sudah gugur dan tubuhnya habis terkoyak oleh beberapa siluman babi yang ganas, karena memang banyak jasad yang tak utuh dan banyak pula santri yang hilang dalam kengerian perang semalam.


Kesedihan di setiap sudut desa Mbadas terlihat oleh para Anggota T O H yang berkumpul di lantai atap gedung sekolah pondok pesantren Haji Hadi.


Jaka menatap lekat hingga menerawang jauh tiap sudut desa seraya berdiri di atas atab sekolah pondok. Matanya mulai berlari betapa tidak setiap ia memandang kepiluan di sajikan di depan matanya.


“Sudahlah Jaka ini sudah terjadi,” kata Gus Bagus memegang pundak Jaka mencoba menenangkan.


“Kalau saja kita datang lebih awal Mas,” jawab Jaka.


“Jaka jangan menyalahkan dirimu ini sudah takdir dari yang kuasa,” ucap Gus Bari yang duduk berjongkok di samping Jaka ikut memandang luas ke bawah gedung memantau desa.


“Ia Mas andai saja kita dapat kabar dari awal,” timpal Dava yang duduk di kursi panjang dari kayu di belakang Jaka.


“Sudahlah kita tak bisa menyalahkan satu sama lain mungkin harus begini adanya. Sebagai peringatan kita para manusia agar bisa terus mencintai dan berdampingan mesra dengan alam dan seluruh isinya,” ucap Mbah Raji ikut bicara.


“Sudah-sudah ayo kita turun lekas kita berpamitan kepada Umi Kalsum kota kita Jombang tercinta masih membutuhkan kita para T O H untuk menjaganya,” ucap Gus Pendik.


Hufffftz...

__ADS_1


Jaka menarik nafas dalam seraya berjalan mengikuti para anggota T O H yang lain. Yang turun ke bawah menuju rumah Haji Hadi untuk berpamitan kembali pulang ke kota Jombang.


***


Di dalam kamar Umi Kalsum tetap setia menunggu Haji Hadi yang tengah terbaring di atas ranjangnya nampak beliau sudah tersadar. Namun belum mampu berdiri karena luka-luka yang tengah beliau derita begitu parah.


“Umi, Nak Jaka menantu kita kemana?,” ucap Abah Hadi masih dalam posisi terbaring lemas.


“Sebentar ya Abah biar saya panggilkan Nak Jaka,” ucap Umi Kalsum namun belum sempat Umi berdiri Jaka dan kawan-kawan dari organisasi T O H.


Sudah ada di depan pintu kamar hendak masuk seraya mengucap salam serempak, “Assalamualaikum Umi, Abah,”


“Waalaikumsalam, eh ini mereka mau dipanggil sudah datang,” ucap Umi Kalsum.


Jaka berjalan masuk lalu duduk di sebelah ranjang di atas kursi yang telah tersedia sedari tadi.


Sedangkan anggota T O H yang lain berdiri di belakang Jaka.


“Abah bagaimana kondisi Abah?,” ucap Jaka.


“Allhamdulillah Nak, Abah berterimakasih kepada kalian semua kalau saja kalian tidak datang entah apa jadinya desa ini,” ucap Abah Hadi.


“Hiiih, ini bocil, ikut saja orang tua lagi ngomong ayo tak jewer kupingmu,” ujar Mbah Raji sambil menjewer telinga Dava tapi dengan niat bercanda menggoda Dava.


Karena Dava memang anggota yang paling muda sendiri ia suka dijahili anggota yang lain namun itu karena anggota yang lain begitu gemas melihat wajah Dava yang terlihat seperti masih kecil atau sering disebut Baby face.


“Aduh..., Sakit loh Mbah,” ucap Dava kesakitan.


Abah Hadi nampak tersenyum menyaksikan suasana kekeluargaan yang begitu kental di tubuh organisasi T O H.


“Jaka mumpung kamu disini nanti Insya Allah apabila perang telah usai dan pandemi aneh ini telah berlalu. Cepatlah kau gelar resepsi pernikahanmu yang tertunda dengan Putri, Abah kasihan denganmu Nak gara-gara Abah yang menyuruhmu merahasiakan pernikahanmu dengan Putri agar Putri tidak malu, jadi kamu yang kena getahnya kemana-mana jadi bahan olok-olokan dan gunjingan saat kalian berdua bersama,” ucap Abah Hadi.


“Sek, sek, sek, sebentar Abah, aku kok baru dengar hal ini ada apa ini, kenapa Putri malu dan kapan pernikahan Jaka diadakan?, Dek Jaka coba jelaskan?,” ucap Gus Bagus menatap Jaka agak marah.


“Pantesan disuruh tidur sama aku enggak mau Mas Jaka jadi ini alasannya. Jangankan kamu Mas Bagus keluargaku saja tidak tau,” ucap Dava.


“Ia kah, wah kacau kamu Jak, wah contoh yang tidak baik ini, Ustad kok kayak begini udah berapa kali tidur bareng hayo mengaku,” ucap Gus Bari.


“Sabar-sabar para pemeran dan penonton yang Budiman, saya akan jelaskan di sini agar kalian tak salah paham,” ujar Jaka menenangkan teman-temannya yang berada di belakang Jaka.

__ADS_1


“Ia Nak Jaka sekarang jelaskan pada teman-teman mu sesama anggota T O H mereka semua rata-rata ahli ilmu agama jadi Umi tidak mau menantu Umi di benci gara-gara ini,” Ucap Umi Kalsum.


“Ia Umi,” ucap Jaka.


“Begini saya akan jelaskan semua secara gamblang untuk saudaraku seiman se T O H, hehe,” kata Jaka.


“Beberapa bulan yang lalu saat Putri dititipkan Abah Hadi ke rumahku bukan saja karena Pandemi aneh yang tengah berlangsung saat itu Putri mengalami trauma syok berat karena musibah yang ia alami yakni pemerkosaan, beberapa bulan yang lalu ia di jebak beberapa teman sekolahnya begitulah singkat ceritanya. Dan waktu itu Putri tengah mengandung tiga bulan akibat kejadian tersebut. Nah Abah Hadi meminta tolong Pada Abahku mencarikan solusi yang baik bagaimana. Tidak ada jalan lain selain dinikahkan si putri,” kata Jaka menerangkan.


“Terus kamu mengajukan diri begitu Jaka, Wkwkwk..., Sudah kuduga kamu dari dulu memang mupeng alias muka pengen,” ucap Mbah Raji.


“Hustz, Jaka dari dulu anak baik-baik kamu tuh Mbah yang muka mesum,” ujar Gus Bagus.


“Lah di bela calon kakak ipar nie,” ucap Mbah Raji menggoda Gus Bagus.


“Tapi benar Jaka kamu memang lelaki yang jempolan jarang ada yang kayak kamu yang mau bertanggung jawab walaupun bukan kamu yang berbuat,” Ujar Gus Pendik.


“Terus sekolahnya bagaimana?,” ucap Gus Bari.


“Sebenarnya ini sudah waktunya kelulusan Gus tapi keadaan kota begini mau gimana lagi, oh iya satu lagi selama Putri bersamaku dan saya mengakui sering tidur bareng tapi kami belum pernah sekalipun melakukan hal itu, karena aku sudah berjanji pada Putri sebelum Putri menerimaku seutuhnya aku takkan melakukannya,” ucap Jaka.


“Ya mau melakukannya bagaimana Mas tiap hari perang mana sempat?,” celetuk Dava.


“Dava...!!,” teriak seluruh orang yang ada di kamar Haji Hadi.


“Ia, ia, aku anak kecil,” ucap Dava aku juga yang kena.


"Lah apa boleh kamu menikah Jaka usiamu berapa Dek," ucap Gus Bagus.


"Aku sudah 18 tahun Mas Bagus, makanya kemarin kami cuma di nikahkan secara agama bukan di KUA," ujar Jaka.


“Baik Abah kami hendak pamit pulang dulu selebihnya nanti akan kami kirimkan beberapa anggota T O H dari ring tiga untuk sekedar berjaga-jaga dan membantu di sini membenahi semua yang telah rusak. Dan Maksud Abah untuk menggelar acara resepsi untuk pernikahan Saya dan Putri akan saya sampaikan pada Abah, kami mohon diri dulu Abah, Assalamualaikum,” ucap Jaka dan yang lain sembari bergantian menyalami Abah Hadi dan Umi Kalsum lalu pergi.


***


“Sek bentar jangan ditutup dulu Thor,” Kata Gus Bagus.


“Emang kapan Jaka menikah sama Putri kagak ada di bab Awal,” ucap Jaka.


“Udah nurut saja kenapa sih Protes melulu, ini sambungan dari Jaka yang sering tidur bareng noh mau loh dihujat netizen, udah terima saja begitu jadi wayang protes saja,” kata Author jengkel.

__ADS_1


__ADS_2