T O H

T O H
Rajaku, Ratuku, Janji Suci Dava & Sari


__ADS_3

“Abah!” teriak Dava meloncat kearah Abah Kardi yang tengah terpental jauh ke belakang dengan tubuh tertembus pedang air dari perut hingga punggung.


Sementara itu di atas permukaan air kali Brantas terus meluap membuat ombak tinggi bak tsunami hendak melahap desa-desa di depanya termasuk Dukuhan Banjar Kerep. Ombak tinggi yang terbentuk dari ratusan bahkan kini ribuan siluman Kalap sanggatlah mematikan. Siapa saja yang terkena air bah dari pasukan Kalap dengan seketika ruh pasti terlepas dari badan.


“Kali ini kami yang akan menang, tamatlah riwayat kalian para T O H!” teriak panglima Kalap yang berada di tengah-tengah ombak besar.


“Belum berakhir!" teriak Gus Bagus secara tiba-tiba datang dengan menunggangi Garuda.


“Garuda tolong ya!” ucap Gus Bagus yang tengah loncat dari atas punggung Garuda pas menangkap sosok Abah Kardi.


“Tenang lah Gus, kau cepat obati Paklikmu Haji Kardi biar kuurus siluman air menyebalkan ini,” teriak Garuda.


“Mas Bagus, tolong Abahku,” rengek Dava disamping Bagus yang tengah memegangi tubuh Abah Kardi.


“Tenang Dava, Abahmu masih hidup kalau saja orang biasa yang tertembus pedang air ini. Tentu sudah almarhum dari awal tertusuk ujungnya, tetapi Abahmu adalah anggota T O H generasi pertama. Percayalah Abahmu masih bernafas sebentar aku cabut dulu pedang ini,” ucap Gus Bagus mulai meraih pedang air yang menembus tubuh Haji Kardi dan mencabutnya perlahan.


“Nah sudah tercabut, sihir pedang air sudah kumusnahkan dan lukanya pun sudah pulih kembali,” ujar Gus Bagus nampak menyalurkan sebuah energi cahaya melewati telapak tangannya yang bersinar yang ia tempelkan di atas bekas luka di perut Abah Kardi.


Uhuk, Uhuk,


Abah Kardi lantas tersadar sembari terbatuk-batuk dan mulai membuka matanya kembali setelah beberapa saat iya hilang kesadaran akibat tertusuk pedang air.


“Gus Bagus terimakasih sudah datang,” ucap Abah Kardi masih dalam posisi dipegangi Gus Bagus.


“Dava Bawa Abahmu kembali pulang untuk istirahat. Setelah itu pergilah ke area Mas mu Jaka bertarung. Aku memiliki firasat buruk akan Jaka dalam menghadapi musuhnya,” ucap Gus Bagus mulai berdiri dari posisi semula memegangi Abah Kardi, karena sekarang Abah Kardi tengah di tuntun Dava.


“Tapi Mas...!” ucap Dava ingin menyela perintah Gus Bagus.


“Sudah jangan membantah dan jangan cerewet ini sudah tahap-tahap akhir perang. Lekas pergi bawa Abahmu pulang dan bantu Masmu jangan sampai terlambat bisa-bisa kau takkan bertemu Masmu Jaka lagi nanti,” ucap Gus Bagus.


“Baik Mas, hati-hati, siluman Kalap teramat kuat,” timpal Dava.


“Jangan khawatirkan Masmu satu ini. Lihat Garuda Wiwaha disana iya begitu perkasa belum Naga Baru kelinting yang belum aku panggil pergilah cepat,” teriak Gus Bagus meloncat ke arah Garuda yang tengah memutar-mutar di atas kali Brantas.

__ADS_1


“Terimakasih Mas, kau telah menyelamatkan nyawa Abahku,” ucap Dava seraya meloncat sambil menggandeng Abahnya untuk pulang agar Abah Kardi dapat beristirahat.


“Garuda incar panglima kalapnya, kalau kita tidak memusnahkan panglimanya pasukan siluman air itu akan terus bermunculan walau telah kau tebas dengan sayapmu,” teriak Gus Bagus yang terus berlari diatas air membawa pedang Naga Puspa ditangannya.


“Apa, Kenapa bocah ini memiliki pedang sakti Naga Puspa. Walau kami berwujud air tentu akan musnah seketika saat tertebas pedang ini,” ucap Panglima Kalap.


“Baiknya aku menghindar bersembunyi di dasar kali Brantas agar aku tak ikut musnah oleh tebasan bocah T O H ini,” ujar Panglima Kalap merubah dirinya menjadi sebuah pusaran air menuju kesasar sungai.


Tetapi tiba-tiba tiga sosok Ustad Dwi sudah berada di sekitarnya mengurung panglima Kalap dengan mantra pengikat serupa benang sutra halus, seperti rambut sangat tipis namun dapat mengikat apapun itu yang diincarnya.


“Hahay Pak siluman air mau lari kemana kau buru-buru amat kan perangnya belum selesai, hahahay,” ucap ketiga sosok Ustad Dwi telah mengurung panglima Kalap.


“Yah Mas Dwi itu kan Jatah ku Mas masak mau Mas Dwi rebut,” teriak Gus Bagus berlari kearah Panglima Kalap namun seketika panglima Kalap hancur dan musnah oleh benang mantra Ustad Dwi.


“Ups, yah siluman airnya mampus deh. Maaf ya Dek Bagus tapi aku dapat hitungan membunuh satu panglima siluman. Ingat tantangannya bukan membunuh anak buah siluman ya. Kalau membunuh siluman ecek-ecek sih di ludahi juga mati, dada aku mau cari tempat lain Adek Bagi,” ucap ketiga sosok Ustad Dwi melompat tinggi berpindah tempat.


“Ah curang Mas Dwi, woi Mas Dwi jangan begitu dong ah!" ucap Gus Bagus mulai menaiki punggung Garuda.


“Hahaha, Konyol itu Dwi kamu bisa kalah tantangan ini Gus,” ucap Garuda tertawa.


“Ok Adek Bagus mari kita meluncur, hehehe,” ucap Garuda meledek Gus Bagus.


“Sudah jangan ikut tertawa kau Garuda ayo terbang,” ucap Gus Bagus agak kesal.


“Yee, marah,” ucap Garuda mulai mengepakkan sayap seraya terbang tinggi membawa Gus Bagus diatasnya.


***


Di rumah Haji Kardi Dava sudah datang di depan pintu rumah seraya mengetuknya dengan menuntun Haji Kardi di samping kanan.


“Tok.., tok, tok, Assalamualaikum, Umi, Sari,” ucap Dava memberi salam.


“Waalaikumsalam, Mas Dava loh Abah kenapa,” ucap Sari yang telah membuka pintu seraya menyahut salam Dava.

__ADS_1


Sejenak Dava terperangah dengan wajah Sari yang anggun terbalut hijab dan masih separuh badan mengenakan mukena.


“He, malah bengong gitu amat memandang Adik,” ucap Sari.


“Oh iya Dek tumben pakek hijab biasanya enggak pakek, jadi makin ayu kamu,” ucap Dava.


“Ya Allah mas malah merayu ini Abah dibawa kedalam dulu,” ujar Sari ikut menuntun Abah Kardi kedalam rumah.


“Abah...!” teriak Umi Emi sangat syok melihat keadaan Abah.


“Sudah Umi Abah tidak apa-apa, untung tadi ada Mas Bagus datang menolong,” ucap Dava sembari membaringkan tubuh Abah di atas ranjang tempat tidurnya.


“Umi, Dik Sari, tolong jaga Abah,” ucap Dava.


“Loh Mas Dava mau kemana lagi?” ucap Sari.


“Adik aku mau membantu Mas Jaka yang sedang kualahan menghadapi musuhnya, sudah ya tolong jaga Umi dan Abahku,” ucap Dava berdiri keluar kamar meninggalkan Umi dan Abahnya namun Sari membuntutinya keluar kamar.


“Mas Dava ikut, enggak mau ditinggal Adek ikut,” rengek Sari pada Dava.


“Alah-alah manjanya Pacarku, hust, ini bukan pergi jalan-jalan sari,” ucap Dava.


“Tapi janji pulang selamat ya ingat aku menantimu loh pulang,” ucap Sari.


“Iya, iya, lama-lama kayak kak Putri eh kamu Sar, tapi cantik deh kamu pakek hijab begitu,” ucap Dava.


“Tuh kan merayu lagi,” ucap Sari.


“Ia, ia, begini saja aku berjanji pulang selamat, tapi sayangku ini harus berjanji pakai hijab selamanya bagaimana?" ucap Dava membuat janji yang suatu hari kelak akan menjadi janji suci Dava dan Sari.


“Siap Rajaku...,” ucap Sari.


“Assalamualaikum, jangan lupa kunci pintu baik-baik dirumah. Jaga Abah dan ibuku ya Ratuku,” ucap Dava yang sudah hilang dari pandangan Sari.

__ADS_1


“Loh Mas Dava, waalaikumsalam, tuhkan tiba-tiba hilang jadi sama kayak Mas Jaka deh lama-lama kamu Mas,” Gerutu Sari sambil menutup pintu dan menguncinya.


__ADS_2