T O H

T O H
Mata Merah Peniru


__ADS_3

“Apa kalian sudah selesai berdiskusi,” ucap Aji yang tiba-tiba ada di depan Jaka dan Ki Datuk Panglima Kumbang dengan posisi melayang di udara bersama keranda di atas kepalanya.


“Allahuakbar, awas Mas,” ucap Ki Datuk Panglima Kumbang yang melihat sebuah tangan besar hitam berbulu lebat denah cakar-cakar tajam memanjang dari dalam keranda hendak mengambil jiwa dan ruh Jaka.


Dengan cepat Jaka menghindar menjauh dari tangan ghoib yang keluar dari keranda yang serupa tangan genderuwo sehingga luput dari celaka.


Sementara Ki Datuk Panglima Kumbang merubah dirinya menjadi sosok harimau hitam besar. Namun bersamaan itu, iya di hadang sosok harimau hitam peniru sosok Ki Datuk Panglima Kumbang sama persis di hadapannya.


Pertarungan harimau sosok Ki Datuk Panglima Kumbang dengan sosok peniru yang muncul dari dalam keranda talk terelakkan.


“Jatayu datanglah...?!,” teriak Jaka memanggil sesosok teman ghoibnya yang lain yakni Jatayu yang serupa Garuda namun tak sama.


Jatayu datang mengitari tepat di atas tempat dimana Jaka dan Aji bertempur namun seperti halnya sosok harimau wujud dari Ki Datuk Panglima Kumbang yang tengah ditiru Jatayu juga di duplikat oleh Aji ada seekor burung besar mirip Jatayu keluar dari dalam keranda.


Menghadang laju Jatayu sehingga pertempuran di atas desa Mojokembang tidak terelakkan.


“Panggil lagi teman ghoib mu Jaka, aku akan menirunya kembali. Apa kau tidak ingat dahulu kau hampir saja ku bunuh andai kedua orang tua yang mendampingimu tak datang. Dahulu memang aku pernah mengampuni nyawamu namun kali ini tak ada rasa ampun untukmu Jaka,” ucap Aji berjalan perlahan dengan keranda melayang di atas kepalanya mendekati Jaka.


“Dari dulu aku sudah tahu kalau kau adalah Sarpala bukan Aji, tunjukkan wujud aslimu setan laknat!!,” teriak Jaka merubah dirinya seketika menjadi kobaran api amarah.


“Heh lagi-lagi mode api seperti dahulu. Walau api dalam tubuhmu tak dapat padam meski terkena hujan aku pun dapat merubah wujudku seperti mu dengan api yang lebih besar,” ucap Aji.


Huwar... Dwaar...


Terdengar ledakan di sekitar Aji berdiri saat Aji merubah dirinya meniru mode api amarah milik Jaka, tetapi kali ini Aji memiliki nyala api dengan kobaran lebih besar lebih panas dari yang dibuat Jaka.

__ADS_1


“Bersiaplah untuk kematian mu Jaka,” ucap Aji berlari ke arah Jaka.


Begitu jua Jaka berlari menuju Aji dan pertarungan antara Jaka dan Aji kembali terjadi seperti waktu mereka sama-sama duduk di bangku SMA dan kala itu Jaka baru menyadari kalau temanya Aji sebenarnya bukan Aji, tetapi Sarpala sang pemimpin utama ghoib hitam yang berwujud asli separuh manusia separuh siluman.


Benturan wujud api Jaka dengan wujud api Aji sanggatlah dahsyat nyalanya bagai bom atom menggelegar terdengar berkilo-kilo meter.


Efek dari benturan itu membuat beberapa rumah di sekitar benturan hancur tak kecuali rumah Jaka pun ikut luluh lantak. Untung saja Putri, Vivi dan Umi Epi sudah diungsikan terlebih dahulu ke rumah Haji Kardi tadi sore diantar Haji Wachid kalaulah mereka masih di dalam rumah tentu akan ikut hancur pula.


Pohon-pohon akasia yang semula berdiri kokoh bertahun-tahun. Di sepanjang jalan utama desa ikut tumbang, karena efek dari benturan api Jaka dan api Aji.


Jaka terpental jauh ke belakang begitu pula Aji terpental mundur beberapa meter. Dari arah belakang Jaka melesat sosok Dava yang sudah merubah diri menjadi mode api hijau kini di sekitarnya sudah terdapat sosok naga bergala yang mendampingi.


“Mas Jaka...!!,” teriak Dava menangkap tubuh Jaka yang terpental.


“Eh Dava, kau sudah datang Dek,” ucap Jaka yang terengah-engah karena efek benturan yang menguras tenaganya.


“Loh kenapa Mas?,” ucap Dava yang terhenti langkahnya.


“Aji bukan manusia Dek dia adalah Sarpala yang menyamar menjadi Aji. Dia bukan tandinganmu, lihat itu yang berdiri di depan Aji yang tengah terduduk merapal mantra siapa?,” ucap Jaka menunjuk ke arah Aji.


“Loh kok bisa?,” ucap Dava terheran-heran melihat sosok di depan Aji yang sama persis dengan dirinya.


“Ini apa-apaan Mas itu persis seperti aku loh,” ucap Dava.


“Benar Dek, Aji adalah Sarpala dan Sarpala adalah Aji. Dari mata merahnya dia bisa meniru siapa pun dan ilmu apapun yang kita keluarkan dapat ia tiru. Lihat itu kedua harimau hitam yang bertarung salah satunya adalah teman kita Ki Datuk Panglima Kumbang. Lihat di atas kedua Jatayu itu yang tengah bertempur salah satunya adalah Jatayu temanku,” ucap Jaka menuding ke arah di mana pertempuran harimau hitam dan Jatayu berada.

__ADS_1


“Astagfirullah jadi aku harus melawan makhluk serupa diriku itu mas,” ucap Dava.


“Benar Dek berhati-hati lah karena sebenarnya setiap bayangan yang dibuat menyerupai lawan dari Aji adalah bentuk Sarpala itu sendiri kekuatannya jua sama persis seperti Sarpala,” ucap Jaka.


“Baik aku tak kan gentar dan tak kan mundur Mas walau apapun yang terjadi aku akan selalu bertempur di sisi mu Mas, Allahuakbar..., Allahuakbar..., Allahuakbar...,” teriak Dava seraya berlari menyongsong sosok penirunya yang ikut berlari menyambut Dava.


Langit tiba-tiba terbelah sesosok burung Garuda datang seakan melintasi mendung yang terbelah, tetapi kali ini ada dua sosok Garuda di langit dan dua sosok Gus Bagus yang tengah menunggangi di atas punggung Garuda.


“Gila ternyata benar adanya ilmu ini, ilmu mata peniru dari Sarpala. Sampai-sampai makhluk mitologi terhebat sepertimu dapat ditirunya Garuda,” ucap Gus Bagus merasa terheran-heran.


“Hati-hati Gus bisa jadi kita mengeluarkan ajian apapun akan dapat ditiru olehnya,” ucap Garuda.


Benar pula saat Garuda mengepakkan sayap mengeluarkan lontaran api. Begitu pula Garuda peniru pun sama mengeluarkan api dari kepakkan sayapnya.


“Tuhkan benar,” ucap Garuda.


“Garuda kita bawa ke langit di atas sana mungkin dia tak bisa meniru ajian kita, karena sehebat apapun iya hannyalah bayangan pasti akan hancur di atas langit,” ucap Gus Bagus.


“Baik Gus, berpeganganlah kawanku,” teriak Garuda seraya terbang meluncur ke atas langit di ikuti Garuda dan Bagus peniru dari bawahnya.


“Wah kita telat Mbah, pesta sudah di mulai rupanya,” ucap Gus Bari yang baru datang dengan nyala api mode surah Al Ikhlas.


“Loh-loh kok semuanya kembar ini bagaimana yang mana yang asli ini?,” ucap Mbah Raji kebingungan.


“Hati-hati Mbah bisa jadi kita bertiga juga sudah di duplikat oleh Aji itu yang terkenal gemar meniru dari ajiannya yang terkenal mata merah sang peniru,” ucap Gus Lukman yang baru datang tetap dengan angin kencang yang di timbulkan oleh kedatangannya.

__ADS_1


Benar juga belum selesai Gus Lukman berbicara tentang tiruan mereka bertiga. Di hadapan mereka sudah ada tiga kembaran sama persis layaknya Gus Lukman, Gus Bari dan Mbah Raji.


“Awas...!!,” teriak Mbah Raji sehingga masing-masing dari mereka berkelahi dengan kembaran peniru dari ilmu mata merah peniru dari ajian Aji.


__ADS_2