T O H

T O H
Senandung Rasa Mati


__ADS_3

Suram di atas langit mendung tak lagi terlihat hanya gelap dan gelap apakah ini kiamat. Mata kecil dari seorang kecil tertumpuk beberapa bangkai manusia mencoba menerka apa yang terjadi namun yang ia lihat hanya kepala terputus, tangan terputus atau kaki terputus. Dia ingin berteriak tapi tiada manusia di sekitarnya.


Tangan itu mulai meraih sesuatu di sampingnya entah tulang-belulang atau kayu usang dilumuri darah entah. Sedangkan kakinya mulai gemetar mencoba berdiri dengan segala tenaga tersisa namun terus terjatuh terpeleset genangan air yang tak lagi hitam namun kentalnya merah.


Akhirnya jemari kaki mungil miliknya mampu tegap berdiri dengan ribuan usaha. Akhirnya mata redup, sayup kecilnya mulai memandang sekitar. Aduh elok kotaku bagai reruntuhan kota mati dan si mati bergelimpangan bagai pepes ikan pindang yang dikerubungi lalat dan ulat.


Tubuhnya masih kecil, tangannya masih kecil, kakinya masih kecil berjalan tertatih di antara dentuman dan ledakan yang entah dari mana dan apa yang meledak iya tak mengerti. Iya mulai tak tahu dan bertanya dimana rumahku, dimana ayahku, dimana ibuku, dimana kotaku.


Terkadang sesosok menyeramkan menghampirinya dan di sisi lain sosok putih bercahaya menghadangnya dan di sosok yang lain ada manusia yang serupa cahaya menyambar makhluk yang mengerikan itu mengoyak, memenggal, membunuh sehingga ia bertanya dalam hati dan tak bisa membedakan siapa yang baik di sini.


Aaaaah.....,


Si kecil berteriak membabi buta memutar apa yang bisa ia putar di tangannya entah apa. Memukul apa yang bisa ia pukul entah apa. Terus berjalanlah ia sampai di suatu gang yang ia yakini bahwa itu gang tentang sebuah rumah yang ia anggap suatu kata untuk pulang.


Perlahan iya menyusuri jalan aspal masuk jauh ke dalam gang. Hal pertama yang ia lihat ada sebuah anjing wajahnya begitu mengerikan berlendir dari mulutnya menjijikkan. Dari matanya begitu lebar seakan ingin melompat keluar saat menatapnya. Si kecil tampak ngeri memundurkan langkah beberapa jengkal bersembunyi di dalam kotak sampah namun tiada beda karena di setiap kotanya adalah kengerian hingga di dalam bak sampah penuh dengan belatung dan lalat mengerumuni puluhan jasad dan potongan tubuh serta tulang belulang.

__ADS_1


Si kecil melonjak keluar mencoba kembali melihat di mana si anjing gila tadi yang tengah menikmati santap malam hidangan penutup sebuah kepala manusia. Ternyata sudah tak ada dan hidangan sudah tinggal kerangka tengkorak dengan beberapa bagian tersisa sedikit saja.


Sedangkan gerimis belum usai meringis dari atas langit terus menangis mengguyur kota mati ini begitu lama. Malam jua terasa begitu lama tiada lagi suara apa pun itu walau sekedar desir angin saja tiada hening menyeluruh tanpa penerangan dan gelap gulita.


Sampai pada sebuah pintu depan rumah yang sudah tak berbentuk rumah hancur layaknya terkena gempa bumi dahsyat seketika luluh lantak tak bersisa. Ini rumahku ujar si kecil hendak bahagia atau kecewa atau terluka atau sedih ia tak tahu lagi sebuah rasa.


Tenaganya sedikit pulih ia berlari ke sana-kemari membongkar yang bisa ia bongkar membuka yang bisa ia buka namun tak ada apa-apa yang bisa ia dapatkan. Lalu ia berteriak-teriak tak jelas layaknya si gila di pinggir jalan tak jelas.


Bapak....!!


Amak...!!


Tapi tiada jawaban di setiap pandangan matanya, di setiap teriakannya yang ia tahu kini, yang ia pandang kini, yang ia cium kini hanya kematian semua tentang kematian. Namun ada satu hal yang mengusik batin membuatnya tertarik untuk mendekatinya. Sebuah tiang panjang di mana dulu seingatnya iya pernah mengibarkan bendera sang saka di sana bersama ayah tercinta.


Bergegas si kecil merangkak, berdiri lalu berlari berharap ada harapan dan ada sosok Ayah di sana. Namun lagi-lagi apa yang ia dapat memang ada sosok ayah di sana bahkan Mamak dan kakak perempuannya yang dulu cantik dengan posisi terlentang dan area bawah mengucur deras darah dengan tak berbusana di atasnya bahkan matanya tiada jua.

__ADS_1


Sedangkan di tiang bendera terikat sosok Ayah dan Mamak di sana dengan kepala sudah menggelinding di sampingnya itu pun sudah tinggal tengkorak saja. Si kecil tahu itu baju Mamaknya, si kecil tahu itu sarung Ayahnya si kecil tahu yang terlentang setengah berbusana itu kakaknya.


Tapi air matanya sudah habis, tetapi suaranya sudah hilang dab susah untuk di suarakan, hanya bisa menatap melongo tak memiliki hasrat tak memiliki gejolak lalu sebuah tengkorak hanya separuh merangkak kepadanya seakan meminta tolong. Seakan tangan tulang itu dengan jari tulangnya ingin meraih si kecil memohon pertolongan namun beberapa saat tersambar kilatan oleh seorang pemuda berjubah hitam-hitam bertuliskan huruf kapital putih tiga huruf dengan tiap huruf berjarak spasi T O H lalu menghilang lagi tanpa melihat atau menoleh sedikit pun padanya.


Matanya sedikit berkunang-kunang kini, dadanya agak sesak bekas tertindih puluhan mayat di seberang jalan. Si kecil adalah Hendrik sebuah nama dari anak warga biasa di sebuah kota bernama Jombang yang tengah mengalami sebuah tragedi peperangan akhir antara setan dan malaikat dan manusia-manusia golongan kanan atau golongan putih atau yang benar.


Tetapi Hendrik tak tahu lagi mana yang benar mana yang salah yang ia tahu yang ia pandang di matanya hanya kematian seluruh kota kematian keluarganya kehancuran kotanya. Jelas dimatanya tak ada air yang ada hanya darah jelas di matanya hanya berserakan mayat dan reruntuhan kota. Tertatih iya saat mendengar ada percakapan antara teriakan dan permohonan namun sosok tersebut terpenggal jua.


“Bukankah itu yang tadi memakai jaket hitam bertulis T O H di punggung lalu membinasakan sang tengkorak yang meminta tolong padaku. Kenapa sekarang iya yang dipenggal lalu siapa yang memenggal kepalanya?,” gerutu Hendrik tak begitu keras karena rasa takut yang memburu di dadanya sehingga membuat suaranya agak tenggelam.


Iya mencoba memberanikan diri agak mendekat di balik pekarangan sebuah rumah yang atapnya pun telah runtuh dan separuh dindingnya ambruk. Betapa sangat hati-hati iya melangkah agar tak ketahuan sang pemenggal teramat hati-hati iya terus mengawasi siapa dan makhluk apa yang membunuh.


Kali ini iya begitu syok betapa tidak makhluk bertubuh tinggi besar berbulu seluruh badan lebat bertaring tajam dan berkuku serta mata yang lebar tengah menikmati kemenangannya dengan cara merobek tenggorokan sampai lehernya lawan terputus lalu di buang begitu saja lalu meloncat terbang ke arah hutan Wonosalam sebelah timur kota.


Siapa yang salah, siapa yang benar, siapa yang dibunuh dan membunuh, Hendrik semakin bingung hampir gila otaknya yang masih kecil tak mampu menerima keadaan dan mencerna kondisi sekitar.

__ADS_1


Lalu sebuah suara memanggilnya dengan lantang, di sebutlah namanya dengan jelas, “Hendrik Wijaya Kusuma ikutlah denganku ke alam gelap akan kutempa kau bak Gatut kaca dan suatu hari kau akan membalaskan kekalahan kami para setan,” terdengar jelas sosok di belakang iya tertegun.


Sesosok tanpa wajah bertanduk tiga kaki seperti kaki keledai badan seperti unta dan telinga seperti gajah ekor serupa ular membawa tongkat trisula membawanya terbang jauh ke udara antah berantah dan Hendrik tak tahu lagi.


__ADS_2