T O H

T O H
Pesan Orang Gila


__ADS_3

Pagi gelisah tergambar pada raut wajah Halilintar. Iya masih terpikir seraut wajah dengan senyum anggun. Seorang ibu muda di dalam sebuah mobil warna merah marun dimana sang ibu muda tengah di sopiri seorang yang gagah rupawan. Entah itu sopirnya atau sang suami Halilintar tak mau berpikir jauh ke arah sana.


Wajah Si Ibu muda membuatnya semakin gelisah. Otaknya semakin pening terpikir siapakah Si Ibu muda tersebut kenapa iya begitu baik dan yang paling membuatnya bingung seorang bapak-bapak yang juga masih muda yang menyopiri Si Ibu muda tersebut sempat memanggil namanya. Padahal iya sangat yakin tak pernah bertemu walau sekejap.


Pagi ini Halilintar semakin resah duduk di atas trotoar lampu merah pas perempatan sebelah utara kebun raja. Matanya memang menatap beberapa kendaraan yang berhenti saat lampu tengah menyala merah namun seluruh badan serasa kaku tak ingin beranjak dari lamunan.


Ada apa denganku ujarnya dalam benak, seharusnya aku berdiri memainkan gitar yang kupegang lalu bernyanyi dari pintu ke pintu mobil atau dari satu pengendara motor ke pengendara motor yang lain. Tapi kali ini hatiku serasa enggan bergerak begitu kaku.


Halilintar masih terduduk diam begitu saja melewatkan beberapa kesempatan mengamen dari beberapa lampu merah yang menyala. Senja yang mengetahui Ikhwal kegalauan sang Halilintar mencoba mendekat dan duduk di sampingnya. Mencoba memperhatikan gelagat aneh kawannya itu, karena tak seperti biasanya halilintar murung.


Halilintar yang biasanya sangat bersemangat hari ini tiba-tiba hanya duduk diam di atas trotoar melamun sambil menghabiskan berbatang-batang rokok ditangannya.


“Woi Brow!, ada apa diam-diam saja belum ngopi loh, ngopi apa, ngopi,” celetuk Senja dengan nada menggoda, mencoba menyadarkan Halilintar dari lamunan panjang.


“Eh kamu Senja ada apa?,” tanya Halilintar dengan gestur gelagapan karena kaget.


“Eh, Eh, wes angel, angel, angel temen tuturanmu, dia yang bengong dia yang bertanya. Ngelamun apa sih jorok ya hayo ngaku kebiasaan,” cetus Senja memegang wajah Halilintar sambil memeriksanya sambil mengacak-acak.


“Apaan sih ngawur kamu mana sempat aku melamun jorok kan ada kamu bisa jadi pelampiasan, hahaha,” sahut Halilintar sambil menggoda Senja yang memang satu-satunya teman cewek yang ada di hidup Halilintar sambil mencolek-colek pinggul Senja.


“Ah malas apaan jangan aku gelai. Hentikan Bang aku masih sekolah, huwahahaha,” tawa senja melengking menghiasi raut wajahnya yang memang manis dan sedap dipandang sayangnya penampilannya yang kucel menutupi ayu wajahnya sehingga tampak tak menarik.


“ngelamunin apaan sih cewek ya?,” ucap senja agak cemberut ada getir rasa cemburu tergambar di raut mata Senja seraya menatap Halilintar agak melotot namun seketika berubah menjadi raut wajah sedih dan berpaling muka pada Halilintar.


“Yah memang sih aku ini tak pintar berdandan dan bersolek seperti gadis-gadis lain. Ya memang sih aku ini hanya anak jalanan, pengamen jalanan jelek lagi. Wajarlah kalau kamu melamunkan gadis lain yang lebih cantik lebih wah dan hanya anggap aku sebagai teman saja,” ucap Senja murung.


“Ets dah, ini bocah kenapa ya tiba-tiba baper begini, bukan soal cewek Senja ini soal Ibu muda yang kemarin saat aku menjual koran dan Si Ibu muda tersebut memborong semua koran yang aku bawa malah uangnya lebih ada kembaliannya saat aku kan tidak ada uang kembalian eh dia malah enggak mau kembaliannya. Malah aku dikasih kartu nama, beliau bilang kalau mau mengembalikan uang kembalian disuruh datang ke rumahnya haru ini. Anehkan Ibu-ibu seperti itu,” ucap Halilintar menjelaskan.

__ADS_1


“Hayo loh, jangan-jangan ibu itu suka lagi sama kau Hal, terus si ibu berniat menjadikanmu simpanannya, wah, wah, hati-hati loh jaman sekarang banyak ibu-ibu pejabat seperti itu, yah pasti ibu itu, ibu-ibu pejabat aku yakin pasti,” kata Senja mencoba mempengaruhi Halilintar agar mengurungkan niatnya datang ke rumah si ibu muda.


“Apa lagi ini anak, mana ada seperti itu jangan makin ngaco kamu ini,” timpal Halilintar agak kesal.


“Coba mana lihat kartu namanya barangkali aku tahu dan mengenalnya,” pinta Senja mengulurkan tangan meminta kartu nama yang dikatakan Halilintar.


“Ini coba baca akukan tak sekolah jadi tak bisa membaca,” kata Halilintar mengulurkan kartu nama warna merah muda.


“Nyonya Bagus Effendik S.Pd., hem sebentar sepertinya aku pernah dengar nama Bagus Effendik dimana ya, Eh kan benar itu nama Pak Bupati kita, kan, kan benar dia ibu-ibu pejabat. Saranku sih jangan pergi gaswat ini nanti kamu dijadikan simpanan lagi. Tapi sih terserah kamu halah paling kamu juga mau jadi simpanan tante-tante. Lah wong kamu kan muka mesum,” cetus Senja agak ketus.


“Apa kata loh, suka-suka loh ngomong saja Sen bodoh amat, aku tetap akan pergi ke rumahnya penasaran barang kali beliau tahu tentang kedua orang tuaku yang tak pernah diceritakan oleh almarhum nenekku,” ucap Halilintar semakin yakin akan ada titik terang tentang kedua orang tuanya.


Sementara itu di sebuah pertigaan selatan perempatan dimana Halilintar dan Senja sedang duduk mengobrol. Ada sosok orang gila tengah menari-nari di tengah jalan sambil mengoceh tak karuan.


“Hei penduduk kotaku tersayang ingatlah yang lima, ingatlah kalimat yang dua yang utama, ingatlah yang lima yang paling pokok, Woi anak muda kota Jombang bersiaplah untuk perang terakhir yang akan datang sebentar lagi saat azan sudah tak dikumandangkan lagi, ingatlah hari ini hari dimana kita akan dihadapkan dengan dua pilihan dimana keduanya adalah jawaban benar,” teriak orang gila tersebut terus menari dan mengoceh di tengah jalan.


“Woi orang gila pergi kau, Woi!!,” teriak para beberapa polisi pengatur lalu lintas yang kebetulan sedang berada di sana mengatur jalannya lalu lintas kota yang masih padat akibat para pekerja dan para pelajar yang pergi ke arah tujuan masing-masing.


“Gila ini orang gila benaran atau bukan sih larinya cepat sekali. Aneh seperti hilang tapi ada lagi,” ucap Pak Polisi yang ngos-ngosan mengejar si orang gila.


“Ke mana tadi dia nah itu, woi jangan lari?!,” teriak polisi terus mengejar orang gila tersebut.


“Eh loh, ada apa ini?, bapak siapa?,” ucap Halilintar saat melihat si orang gila yang tengah dikejar polisi bersembunyi dengan cara berjongkok di depannya.


“Sutz...,” ucap si orang gila dengan telunjuk ditempelkan di bibirnya yang pucat dan keriput karena usianya yang sudah tua.


“Allahuakbar, hi takut Halilintar usir dong orang gila ini,” teriak Senja yang kaget karena ada orang gila di depannya.

__ADS_1


“Sutz...,” sekali lagi si orang gila mengisyaratkan agar Halilintar dan Senja untuk diam kali ini menatap Senja yang berada di belakang Halilintar bersembunyi karena takut pada si orang gila.


“Biarlah Sen kasihan orang gila juga manusia beliau ini juga makhluk ciptaan Allah sama seperti kita, tapi ngomong-ngomong kagetmu kok telat ya Senja ah sudahlah ” ucap Halilintar.


“Eh Nak apa kau tahu orang gila yang lari ke arah sini?,” tanya Pak Polisi yang tiba- datang berdiri pas di belakang si orang gila namun tak bisa melihat si orang gila yang tengah berjongkok di bawahnya.


Dalam hati Halilintar merasa ada yang aneh dan berkata kenapa Pak Polisi ini tak melihat bapak gila ini padahal jelas-jelas ada di bawahnya sedang berjongkok. Lalu Halilintar memandang ke belakang pada Senja yang jua ikut keheranan. Kembali pandangannya ia alihkan pada si orang gila dan si orang gila kembali menempelkan telunjuk tangannya ke arah bibir mengisyaratkan agar Halilintar dan Senja diam saja.


“Ah sudahlah mungkin sudah pergi, eh kau kan yang dagang koran kan Nak kenapa hari ini mengamen?,” ujar Pak Polisi.


“Oh anu Pak Polisi aku sehari dagang koran sehari mengamen biar tidak jenuh,” jawab Halilintar.


“Baiklah kalau begitu Bapak pergi dulu, kalau kalian melihat orang gila tua yang tadi menari di ujung jalan sana bilang sama Bapak ya, meresahkan itu orang gila,” ucap Pak Polisi berlalu pergi.


“Baik Pak,” jawab serempak Halilintar dan Senja.


“Pak, Bapak Polisinya sudah pergi berdirilah. Sebenarnya Bapak ini siapa?,” ucap Halilintar penasaran melihat si orang gila yang masih berjongkok sambil menatap mata Halilintar tajam.


“Kau Halilintar kan, ia kan, kau memiliki banyak saudara Nak. Baiklah sesuai mandat Ayah dan Ibumu agar aku memberimu pengetahuan dan ilmu kebatinan akan kusalurkan seluruh kemampuanku yang kudapat selama sepuluh tahun bertapa,” terang si orang gila tiba-tiba menyentil kening Halilintar.


Seketika tubuh halilintar seakan bergetar seperti ada sebuah energi besar yang masuk ke dalam tubuhnya. Halilintar semakin merasa kaku dan kejang lalu kembali berangsur normal.


“Loh Bapak ini siapa kok Bapak berkata seakan sangat mengenal siapa kedua orang tuaku?,” tanya Halilintar.


“Takdir jalanmu ada pada selembar kartu nama yang dipegang cewek ini,” ucap si orang gila seraya melonjak kegirangan selayaknya seorang yang lega karena telah menyelesaikan satu tanggung jawab.


“Hore-hore, berhasil, berhasil hore,” teriak si orang gila berlalu pergi.

__ADS_1


“Pak, Bapak, siapa namamu?,” teriak Halilintar.


“Panggil saja aku Eyang Raji Nak suatu saat kita pasti akan bertemu kembali di barisan terdepan medan perang selanjutnya sepuluh tahu lagi. Di sana nanti kau akan tahu siapa kau dan siapa orang tuamu dan kau akan tahu di sana sebenarnya Kau memiliki saudara yang begitu banyaknya,” ujar si orang gila.


__ADS_2