
Aum... Aum.... Aum.....
Tiga ekor harimau belang nampak duduk bersimpuh di depan pagar rumah Pak Haji Kardi dengan satu orang pemuda di depanya sambil berteriak-teriak.
“Woi Jaka, Dava, keluar kalian hadapi aku. Aku adalah Waluyo panglima semua macan jadi-jadian di seluruh kota ini. Jangan menjadi pengecut dengan bersembunyi di dalam rumah atau akan kubakar rumah ini,” teriak Waluyo menantang Jaka dan Dava.
“Kalian telah menghabisi saudara sepeguruan ku Sis. Kalian tak akan kuampuni keluarlah hai pengecut,” teriak Waluyo sekali lagi.
Dava yang sedari tadi tengah merawat Sari yang masih lemah dan sakit di kamar tengah berlari kedepan hendak menjawab tantangan Waluyo namun sampai di ruang tamu di cegah Jaka yang tengah berdiri pas di depan pintu depan.
“Ada apa Dava? Kau hendak kemana ?,” ucap Jaka menghentikan langkah Dava.
“Akan kuhajar Si Waluyo itu Mas biarkan aku keluar,” kata Dava nampak menggigit giginya mengerut-ngerutkannya tanda bahwa ia tengah emosi.
“Jangan Dava tidak baik berkelahi dengan emosi, karena itu bisa mencelakakan diri kita sendiri,” kata Jaka.
“Kau memang sudah membangkitkan keahlian unik dari dalam jiwamu, tetapi menghadapi kaum siluman kau belum sanggup Dik,” ujar Jaka menuturkan.
“Terus kita harus bagaimana Mas?,” tanya Jaka mulai khawatir.
“Ternyata rasamu belum terasah benar belum begitu peka. Tengoklah di belakangmu ada siapa?,” kata Jaka.
“Siapa?,” Ucap Dava seraya menoleh ke belakang.
“Assallamualaikum Mas Jaka, Mas Dava,” ucap sesosok orang tua memakai baju adat kuno daerah Sumatra berwarna hitam-hitam.
“Waalaikumsalam Datuk,” sahut Jaka.
“Waallaikumsalam kek,” jawab Dava.
“Siapa beliau ini Mas? Aura beliau nampak sangat angker,” tanya Dava penasaran.
“Biar beliau sendiri yang memperkenalkan diri,” kata Jaka mempersilahkan sosok tersebut memperkenalkan diri pada Dava.
“Nama saya Datuk Panglima Kumbang Mas Dava, saya juga sesosok Harimau yang mampu merubah diri menjadi manusia, karena saya telah bertapa ratusan tahun lamanya,” kata Datuk Panglima Kumbang menjelaskan.
“Lah harimau..?,” kata Jaka terperangah mendengarkan penjelasan dari Datuk Panglima Kumbang.
“Benar Mas Dava saya memang termasuk dalam golongan jin namun saya adalah jin muslim yang kapanpun para jawara Allah membutuhkan bantuan saya. Saya pasti akan datang seberapa jauh pun jaraknya,” ucap Datuk Panglima Kumbang.
“Mas Jaka izinkan saya yang melawan Waluyo, biar saya tunjukkan apa itu manusia harimau?,” ujar Datuk Panglima Kumbang.
“Silahkan Datuk?,” ucap Jaka seraya membuka pintu depan rumah Pak Haji Kardi.
__ADS_1
“Maaf Datuk jadi merepotkan,” ujar Jaka.
“Tidak apa mas sudah tugas saya. Mas Jaka dan Mas Dava tidurlah beristirahat biar saya yang mengatasi Waluyo tenanglah Mas Jaka dan Mas Dava tinggal tunggu hasilnya besok,” kata Datuk Panglima Kumbang
Dan tiba-tiba Datuk Panglima Kumbang berubah menjadi seekor macan hitam meraung-raung berlari menuju ke pekarangan depan.
“Hati-hati Datuk,” teriak Jaka.
“Sudah ayo masuk tidur,” kata Jaka menutup pintu depan sambil menguncinya dari dalam lalu merangkul Dava mengajaknya kembali beristirahat.
“Beneran tidak apa-apa Mas musuh ada empat loh,” kata Dava.
“Kamu ini kok ngeyel tidak apa-apa sudah ilmu macan kumbang itu lebih sakti dari macan belang,” sahut Jaka.
“Bentar deh Mas kok punya kenalan sesosok Jin bagaimana ceritanya?,” tanya Dava penasaran.
“Sudah kamu ini jadi kepo ya orangnya pingin tahu saja kayak kakakmu Putri lama-lama,” sahut Jaka.
“Besok saja ceritanya ngantuk ini Dava soalnya ceritanya panjang kali lebar kali tinggi. Harus naik angkot dulu terus naik ojol dulu, hehe...,” celetuk Jaka bercanda.
“Ladalah dalam suasana seperti ini masih sempat-sempatnya Mas Jaka bercanda ya,” ucap Dava heran.
“Yang jelas Ki Datuk Panglima Kumbang adalah sesosok manusia harimau dari Sumatra beliau kawan lama Mas mu ini. Dan banyak lagi makhluk yang serupa beliau namun aku hanya mampu memanggil satu dari sekian banyak makhluk seperti beliau. Yang mampu memanggil hingga puluhan sosok manusia harimau ya Mas mu Bagus Effendik itu,” kata Jaka menerangkan.
“Waduh.., jadi seram sama Mas Bagus hebat sekali dia ya,” kata Dava kaget mendengarkan ucapan Jaka.
“Kesempitan dalam kelonggaran kayak ada yang salah Mas dari kata-kata mu barusan,” kata Dava sambil menatap Jaka yang tertawa geli karena kepolosan Dava.
“Oalah kesempatan dalam kesempitan dalam kelonggaran perumpamaan macam apa itu,” kata Dava.
“Halah sudah sana masuk kamar begitu saja dibahas,” jawab Jaka.
“Tapi Mas apa tidak apa-apa Datuk tadi?,” tanya Dava memastikan.
“Etdah..., ini bocah susah benar kalau dibilangi. Wes angel, angel, angel temen kendanamu (sudah susah, susah sekali kalau diberitahu),” kata Jaka mendorong Dava agar masuk ke dalam kamar lalu menutup kembali pintu kamar dimana Sari dirawat.
Jaka pun mulai masuk ke kamar yang berada pas di depan kamar tempat Dava merawat Sari.
Kretek... Kriek...
Suara pintu yang Jaka tutup secara perlahan agar tidak mengganggu Putri yang tengah tertidur.
Cetek...
__ADS_1
Sakelar lampu di samping pintu kamar ia tekan agar lampu yang sedari tadi masih menyala dapat dimatikan.
“Sudah pulas rupanya Putri, bobok ah.., eh bentar kenapa Putri pakek daster warna Putih ini Putri bukan ya? Hem jadi curiga jangan-jangan mbak Kunti lagi. Kan enggak lucu kalau pas berbaring di sisi ku Si Kuntilanak,” gumam Jaka melihat Putri yang tengah terbaring pulas diatas kasur.
Jaka mulai menaiki kasur dengan hati-hati dan perasaan was-was. Karena Putri yang tengah terbaring pulas menghadap tembok. Jaka mencoba membalikkan posisi Putri agar bisa melihat wajahnya.
“Huwaaa...., Kunti...,” teriak Jaka yang tengah melihat wajah Putri hitam, karena memang tadi sore Putri tengah memakai masker dan langsung tertidur menunggu Jaka yang lama tidak masuk ke kamar.
“Jaka, Jaka, ada apa sayang?,” ucap Putri yang terbangun kaget karena teriakan Jaka. Menatap Jaka heran.
“Apasih kamu ini Jaka ini aku Putrimu. Kamu kira aku kuntilanak apa?,” kata Putri.
“Eh Putri ya, bukan Kunti?,” Kata Jaka tertawa lirih menggoda Putri.
“Mulai nakal ya rasakan ini,” kata Putri mencubiti pinggang Jaka.
“Aduh, aduh, sudah-sudah ampun, ampun sakit loh,” teriak Jaka kesakitan.
“Bodok..., pacar sendiri dibilang Kunti?,” kata Putri memanyunkan bibirnya kesal.
“Habis kamu sih tidur pakek masker warna hitam lagi bukanya cuci muka dulu sana,” kata Jaka.
“Ini namanya perawatan Jakaku sayang, kalau Putri cantik kan buat kamu Jakaku,” kata Putri sekarang ganti menjewer telinga Jaka.
“Ia, ia, ampun sakit Put, udah sana cuci muka,” kata Jaka.
“Anterin takut aku,” kata Putri mulai manja pada Jaka.
“Halah akhirnya mintak anter juga,” kata Jaka
“Mau anter atau tidak, nanti bobok enggak aku peluk nih,” kata Putri mengancam Jaka.
“Iya, ia, permaisuriku bobok tidak dipeluk kan dingin ya,” ucap Jaka sambil tertawa lirih menampakkan wajah nakalnya.
“Nah, nah kan, mulai nakal lagi, wajahnya jadi mupeng gitu alias muka pengen,” kata Putri kembali mencubit Jaka kali ini di lengan.
“Ia, Ayuk aku anterin lama-lama biru semua badan ini kamu cubiti Put,” celetuk Jaka mulai turun dari kasur lalu berjalan ke arah kamar mandi bersama Putri.
Sementara di area pekarangan depan rumah Pak Haji Kardi. Datuk Panglima Kumbang yang telah membinasakan musuh-musuhnya tersenyum melihat kelakuan Jaka yang masih sempat-sempatnya bercanda di dalam suasana yang tengah genting akibat perang.
“Mas Jaka, Mas Jaka, dari dulu tidak pernah berubah. Mau keadaan segawat apapun masih saja bisa bercanda, ya sudah aku pamit mas tugasku sudah selesai Assalamualaikum,” ucap Datuk Panglima Kumbang menghilang dengan sekejap.
Jaka yang mendengar perkataan Datuk Panglima Kumbang nampak tersenyum dan menyahut salamnya, “Waalaikumsalam,”
__ADS_1
“Kenapa senyum-senyum? awas ya kalau sampai mengintip,” celetuk Putri menutup pintu kamar mandi.
“Jahatnya Bu Bos, siap Bu Bos, hehehe..., tapi aku suka,” celetuk Jaka sambil tertawa geli melihat tingkah Putri.